My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 152 Obat Nyamuk


__ADS_3

''Kak, beliin pop corn ya?'' pinta Belinda.


''Banyak kalorinya. Bukannya setiap makan mempertimbangkan itu.''


''Sudah jangan cerewet. Untuk kali ini saja.''


''Ya sudah beli saja sana.''


''Aku tidak bawa uang. Dan sebenarnya kartu kreditku di sita Papa.'' Kata Belinda. Arthur menghela dan akhirnya ia membayar dua pop corn dan dua sofr drink.


''Sumpah ni anak nyusahin. Pusing kalau punya istri seperti Belinda,'' gerutu Arthur dalam hati.


Arthur dan Belinda kemudian masuk ke dalam bioskop. Arthur sangat terkejut karena di dalam sana, sudah ada Dave.


''Jadi kamu memanfaatkanku?'' bisik Arthur.


''Hehehe iya. Sorry Kak Arthur. Kakak jauh-jauh deh. Aku mau duduk sama pacar aku.'' Ucap Belinda seraya berlalu untuk duduk di sebelah Dave.


''Dasar bocah tengik!" Arthur merutuk dalam hati. Untung saja film yang di putar adalah film action jadi tidak sia-sia Arthur ikut menonton.


''Bel, kamu pergi dengan dia?'' tanya Dave berbisik.


''Iya itu pun terpaksa. Kamu tahu kan sejak semalam kamu ke rumah, Mama dan Papa tidak mengijinkan aku keluar. Aku hanya boleh keluar dengan Arthur. Jadi aku harap kamu tidak marah.''


''Its okay baby, asalkan kita selalu sama-sama.'' Kata Dave.


''Of course, Dave.'' Ucap Belinda seraya memeluk lengan Dave. Arthur mendecih, melihat sikap Belinda yang begitu memuakkan.


''Memang dia tidak tahu apa? Siapa pria yang dijadikan kekasihnya itu?'' gumam Arthur dalam hati.


Setelah selesai menonton, Belinda mengajak Dave makan siang. Belinda pun memaksa Athur untuk ikut dengannya. Arthur ikut saja karena yang orang tua Belinda tahu kalau Belinda pergi bersamanya. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Belinda, tentu saja ia yang akan di salahkan. Belinda meminta Arthur untuk duduk agak jauh dari dirinya. Supaya ia dan Dave tidak merasa terganggu.


''Dave, bagaimana bisnismu?''


''Semuanya lancar dan itu berkat kamu.''


''Memangnya kamu membuka bisnis jasa apa sih? Kamu juga belum memberitahu dimana kantor kamu.''


''Aku kan sudah memberitahumu kalau aku membuka bisnis di jasa pengiriman barang dan property. Aku tidak perlu datang setiap hari ke kantor. Paling aku bergantian mengecek kantor cabang. Makanya aku jarang ada waktu untuk kamu.''

__ADS_1


''Oh ya aku boleh tanya sesuatu?''


''Iya tanyakan saja Bel.''


''Untuk uang yang aku pinjamkan, apa sudah bisa kamu kembalikan? Bukannya apa-apa, aku takut kalau orang tua aku mengecek semua pengeluaran ku. Aku paham kalau bisnis kamu sedang merosot.''


Dave kemudian menggenggam tangan Belinda. ''Maafkan aku ya, aku akan secepatnya mengembalikan uang kamu. Kamu sendiri di tipu mentah-mentah seperti itu rasanya membuatku frustasi. Tapi aku bersyukur karena ada kamu yang membantuku saat itu. Dan aku sekarang mencoba bangkit lagi. Aku janji kalau semuanya sudah membaik, aku pasti kembalikan.''


''Ya sudah tidak apa-apa kalau begitu, Dave. Semoga bisnis kamu segera pulih ya.''


''Iya honey, thank you. Kamu memang terbaik. I love you.''


''I love you too.''


Rupanya Arthur mendengar percakapan antara Belinda dan Dave. Sejak melihat Dave di bar semalam, membuat Arthur merasa harus mengawasi pria itu.


''Apa? Belinda meminjamkan uangnya pada pria itu? Dia ini baik atau bodoh sih. Apa dia tidak tahu, kalau di hadapannya itu bukanlah pria yang baik.'' Gumam Arthur dalam hati.


Setelah selesai makan siang, Dave pun memilih pergi terlebih dahulu. Sedangkan Belinda segera menghampiri Arthur.


''Ayo Kak, kita pulang udah sore juga.'' Kata Belinda. Arthur hanya diam dan berlalu begitu saja.


''Bel, sejak kapan kamu dan pria itu berhubungan?'' tanya Arthur. Kini keduanya sedang dalam perjalanan pulang.


''Memang kamu sudah tahu betul siapa dia? Terus kamu kenalnya dimana?''


''Ya sudahlah. Aku kenal dia waktu di London. Aku bertemu dia di perpustakaan. Yang jelas dia tipikal aku banget. Bersih, pintar, hidupnya teratur, gaya hidupnya juga sehat, baik, dewasa, pengertian, pokoknya dia tipe aku banget lah.''


Arthur tersenyum meledek mendengar alasan Belinda.


''Kenapa? Senyum kamu itu menyebalkan.'' Ketus Belinda.


''Bukan apa-apa sih. Aneh saja mendengar alasanmu memilih dia. Padahal cinta itu tidak butuh alasan.''


''Kenapa sih sinis banget?''


''Bagaimana kalau dia bukan pria baik-baik?''


''Apa maksud kamu? Jangan sok kenal deh. Dia itu cinta pertama aku. Jangan berharap aku akan menerima perjodohan ini ya.''

__ADS_1


''Buktinya kamu memanfaatkan aku untuk kepentingan kamu kan? Atau aku bilang saja pada orang tua kamu tentang pertemuan rahasiamu ini.''


Belinda sungguh sangat kesal dengan sikap Arthur. ''Jangan semakin membuat aku membencimu, Kak Arthur. Masih bagus aku menghargaimu memanggilmu Kakak ya. Jadi jangan merasa sok penting deh.''


''Ya sudah panggil aku nama saja. Aku tidak keberatan sama sekali. Dan aku sama sekali tidak merasa sok penting. Bahkan aku tidak mau dianggap penting. Jangan ge-er ya, aku mau menemanimu karena Mama kamu sudah menitipkan kamu padaku. Kalau sampai kamu kenapa-kenapa atau meninggalkanmu, orang tua aku juga pasti akan marah. Jadi apa yang aku lakukan hanya sebuah tanggung jawab. Kalau kamu ingin bertemu dengan kekasihmu, silahkan urus saja sendiri. Aku masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan daripada mengurus orang pacaran.'' Ucap Arthur penuh dengan penekanan.


''Yahh gitu aja marah.'' Belinda berusaha membuat suasana hati Arthur membaik. Karena jujur saja saat ini yang bisa membantunya hanyalah Arthur.


''Tenang, Bel. Redam dulu rasa kesal kamu sama dia. Ingat ya, kamu butuh dia sekarang. Cuma Kak Arthur yang bisa membantumu menghabiskan waktu bersama Dave. Jadi bersikaplah baik padanya, sekalipun kamu merasa begitu muak.'' Gumam Belinda dalam hati.


''Sudahlah jangan banyak bicara, sebaiknya aku segera mengantarmu pulang. Aku banyak pekerjaan.''


''Iya-iya. Apapun itu terima kasih sudah membantuku bertemu dengan Dave.''


''Aku dengar tadi kamu meminjamkan uangmu pada Dave, apa orang tuamu tahu?''


''Kok denger sih? Nguping ya?'' kesal Belinda.


''Sudah, jawab saja.''


''Dia meminta bantuanku. Dan aku memberinya dua milyar karena bisnisnya butuh suntikan dana karena ada masalah.''


''Sejak kapan dia meminjam uang?''


''Sejak satu bulan setelah jadian.''


''Hmmm Belinda-Belinda, kenapa kamu bodoh sekali? Kalau Om Keenan tahu, dia pasti marah besar.'' Gumam Arthur dalam hati.


''Baru pacaran sudah pinjam duit.'' Sinis Arthur.


''Dia cuma pinjam kali dan nanti juga di balikin. Namanya cinta saling berkorban dan memberi itu wajarlah. Sudah, jangan ikut campur urusanku. Kita juga tidak ada hubungan apa-apa juga selain iparan.''


''Iya aku tidak akan ikut campur. Tapi jangan pernah memanfaatkan aku lagi.''


''Yahh kok gitu sih. Dia disini juga nggak lama kok, Kak. Bantulah dikit-dikit.''


''Jangan merayuku atau aku mengadu pada Om Keenan dan Tante Dira.''


''Jangan-jangan, Kak. Sorry-sorry.'' Kata Belinda.

__ADS_1


''Sumpah nyebelin banget. Sekarang aku memohon padanya. Dia benar-benar memengang kartu As-ku. Awas ya kamu Arthur!" Belinda merutuk dalam hati.


Bersambung....


__ADS_2