My Perfect Husband

My Perfect Husband
Babymoon (2)


__ADS_3

Malam sekitar jam delapan, Naynay terbangun dan tidak mendapati Afif di kamar itu. Dia turun dari tempat tidur dan memutuskan untuk mandi. Tubuhnya terasa gerah dan tidak nyaman.


Melihat bathtub yang sudah terisi dan dengan taburan kelopak bunga mawar merah, Naynay memasukkan tangannya untuk merasakan apa air itu hangat atau sudah dingin. Ternyata masih hangat, itu berarti air ini baru saja disiapkan.


"Mari berendam!" gumam Naynay sambil membuka bajunya dan langsung masuk ke dalam bathtub dengan semangat.


Tubuh yang tadinya gerah, sekarang sudah terasa nyaman. Naynay mengelus perutnya yang tertutupi oleh ratusan kelopak mawar yang mengambang di atas air itu. Matanya menatap dinding kaca yang menampilkan lautan yang sedikit bersinar karena cahaya bulan. Suara ombak juga sangat jelas terdengar.


Merasa cukup dengan acara berendamnya, Naynay keluar dari bathtub dan membilas tubuhnya di bawah shower. Setelah itu dia memakai kimono handuk dan keluar dari kamar mandi. Dia masuk ke ruangan lainnya dan tampak kosong, kopernya juga tak terlihat. Lalu apa yang akan dia pakai?


Mendengar suara pintu yang sepertinya ditutup, Naynay keluar dan melihat Afif baru saja duduk di sofa yang ada tak jauh dari tempat tidur. Naynay mendekat karena ingin menanyakan di mana koper mereka berada.


"Kak, koper mana?" tanya Naynay setelah berdiri tepat di depan suaminya.


Afif mendongakkan kepalanya dan tersenyum miring, kemudian menarik tubuh istrinya itu hingga terduduk di pangkuannya. "Aku lupa mengatakannya padamu, koper kita akan sampai tengah malam nanti bersama Pak Hen dan pelayan lainnya."


Oke, Naynay paham sekarang. Dia bergerak pelan turun dari pangkuan Afif, namun percuma karena tangan kekar sudah melilit ke pinggang bagian belakangnya.


"Makan dulu, kau butuh tenaga." Sebelah tangan Afif meraih piring yang sudah lengkap dengan lauk-pauk di atasnya.


Naynay membuka mulutnya menerima suapan dari Afif, jantungnya juga sudah berdetak lebih kencang. Kalau seperti ini, dia sudah tahu bagaimana nasibnya malam ini. Naynay hanya diam seraya menerima suapan itu sampai makanan di piring habis dan Afif memberikannya air putih.


Afif menahan tawanya melihat wajah pucat Naynay, dia yakin istrinya itu sudah tahu apa yang akan mereka lakukan setelah ini. Tapi Afif tidak ingin terburu-buru, istrinya itu baru saja selesai makan. Tidak mungkin dia langsung menggempurnya, kan?


"Kau semakin berat, ya!" ucap Afif sambil mengelus paha Naynay yang tidak tertutupi jubah mandi yang dipakainya.


"Nay turun aja," balas Naynay yang terasa mendapat celah untuk menghindar sebentar dari suaminya.


Afif membiarkan Naynay turun dari pangkuannya, tapi dia tidak membiarkan Naynay pergi. Afif menarik tangan Naynay dan menyuruhnya duduk di sampingnya. "Aku mau tidur di pangkuanmu." Kemudian merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di atas paha Naynay.

__ADS_1


"Kakak yakin kita bakalan seminggu di sini?" tanya Naynay menatap Afif yang wajahnya mengarah pada perutnya.


"Serius, kenapa?" Afif balik bertanya sambil menempelkan sebelah tangannya di perut istrinya itu.


"Bosan pasti seminggu di pulau doang," balas Naynay yang baru terfikirkan hal ini ketika sedang mandi tadi.


"Tidak akan, aku jamin kau akan betah di sini. Aku juga tidak akan bosan karena bisa menjenguk anak kita lebih sering sekarang." Afif mengulas senyum mesumnya yang langsung membuat wajah Naynay memerah.


Mereka mengobrol sampai jam sepuluh waktu setempat, Afif yang sudah menunggu waktu yang tepat pun langsung menggendong Naynay menuju tempat tidur. Suasana begitu mendukung, villa begitu sunyi dan hanya terdengar suara deburan ombak yang menenangkan.


"Siap untuk bermain, Sayang?" tanya Afif menggoda Naynay sambil membuka bajunya sendiri.


Wajah Naynay selalu saja memerah jika Afif memanggilnya dengan sebutan "Sayang". Ditambah dengan pemandangan Hot perut kotak-kotak dan tubuh putih bersih berotot di depannya, membuat Naynay susah meneguk salivanya sendiri.


Naynay dengan cepat menarik tengkuk Afif dan mencium suaminya itu terlebih dahulu. Sudah beberapa hari Afif selalu lembur dan tidak menyentuhnya. Jujur, Naynay merindukan setiap sentuhan Afif pada tubuhnya.


Membalas ciuman itu sambil membuka jubah mandi Naynay, tangan Afif sudah bergerak nakal dan menyentuh semua yang dia suka. Kulit halus dan lembut itu selalu saja membuatnya ketagihan untuk dia nikmati layaknya makanan kesukaan. Namun jelas, yang ini lebih enak.


Suasana yang tadinya hening, sekarang terasa ramai dengan suara-suara laknat mereka yang beradu dengan suara ombak. Di bawah selimut, mereka saling memberi kehangatan dengan tubuh yang sudah dibasahi keringat.


Afif mengusap keringat di pelipis Naynay dengan ibu jarinya. Melihat Naynay yang menggigit bibir bawahnya, membuat Afif mempercepat gerakan tubuhnya. Hingga erangan panjang dari mereka berdua menjadi tanda ronde pertama selesai.


"Kak, mau minum!" pinta Naynay setelah Afif menyingkir dari atasnya.


Afif meraih jubah mandi Naynay yang tergeletak di atas tempat tidur dan memakainya. Dia mencium jidat Naynay sebelum berjalan mengambil air putih di atas meja.


"Duduk dulu," ucap Afif yang sudah berdiri di samping tempat tidur dengan segelas air putih di tangan kanannya.


Naynay duduk dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga dada. Dia meraih gelas dari tangan Afif dan meminumnya. Tenggorokan yang tadinya kering sekarang sudah basah kembali. Naynay memberikan gelas kosong itu pada Afif dan menyandarkan punggungnya.

__ADS_1


Afif mendudukan tubuhnya di depan Naynay dan mengusap rambut istrinya itu. Dia bisa melihat kalau Naynay kelelahan akibat ulahnya barusan.


"Mau ke luar?" tanya Afif kemudian.


"Baju?" tanya Naynay yang mengingat koper mereka masih dalam perjalanan.


Afif pergi ke kamar mandi dan keluar dengan membawa jubah mandi. "Pakai ini saja, tidak ada orang lain di sini selain kita bertiga."


Naynay mengangguk dan membiarkan Afif memakaikan jubah mandi tersebut pada tubuhnya. Afif juga membantu Naynay berdiri dan merapikan rambut Naynay yang berantakan.


"Ayo," ajak Afif dan menggandeng Naynay keluar kamar.


Ketika pintu utama villa terbuka, rambut Naynay yang tergerai langsung diterpa oleh angin yang sejuk. Mereka berjalan menyusuri bibir pantai dengan diterangi cahaya bulan. Afif bisa melihat senyum lebar istrinya ketika kakinya menginjak pasir putih yang lembut itu.


"Makasih udah ngajak Nay ke sini." Naynay memeluk Afif dengan senyum manis yang mengembang.


"Hhmm... Terima kasih juga karena mau aku ajak ke sini," balas Afif tertawa sambil membelai rambut Naynay yang diterpa angin. Angin di sana tidak dingin yang sampai membuat menggigil, tapi sejuk yang membuat tubuh nyaman.


Dari jauh, Ryan tersenyum melihat momen itu. Matanya kini beralih menatap layar hpnya yang menampilkan foto seorang gadis dengan wajah judes namun begitu cantik. Ingin melupakan, tapi dia berharap juga bisa menikmati yang namanya bulan madu dan babymoon dengan gadis tersebut seperti pasangan yang sedang berciuman di bawah sinar bulan itu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Hi, aku butuh vote dari kalian semua...


__ADS_2