
Seperti yang dikatakan Afif tadi sore, dia memang pulang larut malam. Rasanya sudah tidak sabar melihat apa yang sedang dilakukan oleh si Koala Bunting sekarang. Kotak putih berisi kue coklat pesanan Naynay sudah ada di tangannya.
Sebelum sampai di tangga, Afif berpapasan dengan Qiara. Gadis itu tampak berbinar melihat kedatangannya.
"Kakak baru pulang? Itu apa?" tanya gadis itu sambil tersenyum dan menunjuk kotak kue yang dipegang Afif.
"Hhmm, kembalilah ke kamar!" ucap Afif singkat dan berjalan menaiki tangga, tidak menanggapi pertanyaan dari Qiara. "Pak Hen, antarkan piring dan segelas jus mangga ke kamar!" perintah Afif kepada Pak Hen.
Qiara memandang punggung tegap Afif yang terus berjalan hingga hilang dari pandangannya. Tangannya mengepal mengingat Afif tidak pernah menghabiskan waktu bersamanya. Sejak kematian orang tua mereka, Qiara tidak punya tempat untuk bercerita tentang kesehariannya lagi.
"Kau membuat aku dan kakakku semakin menjauh, Hanaya!!" gumam Qiara geram dan pergi menuju kamarnya.
Di lantai atas, Afif baru saja memasuki kamar. Tapi si Koala Bunting tidak terlihat di sana. Baru saja dia duduk di atas sofa, terdengar suara bersin dari kamar mandi yang pintunya mulai terbuka. Naynay keluar sambil menggosok-gosok hidungnya yang terlihat memerah, rambutnya juga berantakan.
"Kakak udah pulang." Naynay mendekat dan mencium tangan Afif sebelum duduk di samping suaminya itu.
"Kau sakit, hhmm?" Punggung tangan Afif menempel di kening Naynay. Memeriksa apakah suhu tubuh istrinya tinggi.
"Enggak, Kak. Nay sehat kok." Bumil itu merapikan rambutnya yang berantakan.
"Seharusnya kau sudah tidur sekarang," ujar Afif membantu Naynay merapikan rambutnya.
"Nay nggak bisa tidur, pengin makan kuenya dulu."
Pintu diketuk dan Pak Hen masuk sambil membawa apa yang Afif minta tadi. Setelah meletakkannya di atas meja, dia langsung pamit keluar. Sudah waktunya bagi pria tua itu untuk istirahat karena kewajibannya sudah selesai akhir ini.
"Ini kue pesananmu, yakin mau makan sekarang?" Kotak kue itu kini berpindah ke pangkuan Naynay.
Koala Bunting tampak sangat senang ketika membuka kotak itu, pasalnya dia sudah lama menginginkan kue dari toko berlogo AFK tersebut. Tapi toko itu hanya buka pada malam hari saja, dari jam 07pm-01am. Walaupun jam bukanya terhitung hanya tujuh jam, tapi mereka selalu kehabisan bahan baku sebelum waktunya tutup karena saking ramainya pelanggan.
"Makasih, ya, Kak!" ucap Naynay dengan senyum mengembang. Senang sekali ketika apa yang dia mau dikabulkan oleh Afif.
Afif tersenyum dan mengambil kesempatan untuk mencium pipi koala buntingnya. "Aku mandi dulu," ucapnya melepas jasnya sambil berjalan masuk ke kamar mandi. Seperti biasa, Naynay selalu melayani Afif dengan baik. Air hangat sudah dia siapkan di dalam bathtub.
__ADS_1
Menghabiskan waktu sekitar lima belas menit untuk mandi, Afif sudah memakai piyamanya dan keluar melalui ruang ganti. Dilihatnya Naynay sedang duduk selonjor di atas sofa panjang sambil fokus dengan hpnya. Tangan kanannya mengelus pelan perutnya dengan senyum manis terukir di bibirnya.
"Kenapa kau senyum-senyum begitu?" tanya Afif yang langsung membuat Naynay terkejut hingga hpnya jatuh ke lantai.
Bumil itu mengelus dadanya dan mengambil hpnya yang untungnya tidak tewas karena terjatuh tadi. "Nggak ada, Kak."
Afif menghempaskan tubuhnya di sofa dan menjadikan paha Naynay sebagai bantalnya. "Kenapa kau belum memakan kuenya? Apa kau ingin makan sesuatu yang lain?" tanya Afif ketika melihat kue itu masih utuh.
Naynay menggeleng kecil. "Nay nungguin Kakak, kita makan bareng. Kata mama, nggak sopan kalau seorang istri makan terlebih dahulu jika suami sedang di rumah. Dan juga makan bareng lebih menyenangkan."
Suami, Afif hanya fokus pada kata itu. Rasanya dia ingin berteriak karena rasa senang yang sudah tidak terbendung lagi di hatinya. Mungkin kata itu sederhana, tapi bagi Afif begitu bermakna. Dia merasa benar-benar sudah diterima di hati wanita itu. Kata itu sangat langka, buktinya Naynay hanya menyebutnya dua kali sejak mereka menikah.
"Baiklah, tapi kau harus menyuapiku!" Afif menatap wajah Naynay dari posisinya sekarang, istrinya itu terlihat semakin menggemaskan.
"Tapi Kakak duduk dulu, Nay nggak bisa gerak kalau gini."
Afif duduk rapi seperti anak TK yang patuh terhadap guru yang menurutnya cantik. Biasalah!!! Sedangkan Naynay memotong dan memindahkan kue itu ke piring. Karena si Beruang Tampan minta disuapi, jadi Naynay mengambil dengan potongan yang lumayan besar.
Setelah menyuapi Beruang Tampan, Naynay menyuap sesendok potongan besar ke dalam mulutnya. Pencinta semua makanan manis yang sedang hamil ini begitu senang saat mengunyah kue itu. Dia berniat menyuapi Afif lagi, tapi suaminya itu menolak.
"Aku sebenarnya kurang suka dengan coklat," ucapnya seraya mengambil piring itu dan sekarang dialah yang menyuapi Naynay.
"Kau suka?"
Naynay mengangguk imut. "Suka banget," ujarnya semangat.
"Aku yang membuatnya sendiri, khusus untukmu." Afif tersenyum sambil mengusap bibir Naynay yang terdapat sisa coklat leleh.
Naynay begitu terkejut mendengar kalau kue ini dibuat oleh Afif sendiri. Laki-laki sempurna ini mau berkecimpung di dapur toko hanya untuk memenuhi ngidamnya? Aaaaa.... Naynay tiba-tiba merasa sangat senang.
"Ini Kakak yang buat sendiri?" tanya Naynay sebelum sepotong kue lagi masuk ke dalam mulutnya.
"Dibantu juga oleh pemilik tokonya, dia yang memberi arahan dan aku yang membuat adonan sampai menghiasnya sendiri." Gaya bicaranya sudah mulai songong kembali, tapi itu tidak membuat Naynay kesal seperti biasa.
__ADS_1
"Makasih, ya. Kakak selalu memberikan apa yang Naynay minta. Maaf juga karena udah ngerepotin Kakak yang nggak ada hubungan apapun sama anak yang Naynay kandung." Bumil itu menunduk sambil memainkan jemarinya yang saling bertaut.
Rasanya Afif terlalu baik untuknya. Walaupun lamaran laki-laki itu sama sekali tidak mirip lamaran, tapi dia selalu memperlakukan Naynay dengan baik. Bumil itu jadi takut sekarang, takut jika hati yang sudah dia bentengi akan runtuh juga karena perlakuan baik laki-laki itu. Naynay tidak mau jika nanti mereka berpisah, hatinya hancur harus melepas apa yang sudah dicintai hatinya.
Afif meletakkan piring tadi di atas meja agak kasar. Dia benar-benar tidak suka mendengar ucapan Naynay tadi. Itu memang bukan salah Koala Bunting, dia tidak tahu kalau anak yang dia kandung adalah anak Afif. Jadi laki-laki itu menyuruh Naynay untuk meminum jusnya. Tanpa menunggu Naynay, dia lebih dahulu merebahkan dirinya di tempat tidur.
.
.
.
.
.
Dukung Beruang Tampan dan Koala Bunting dengan
like, Rate, Favorite, dan Vote.... ♡
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1