
Sementara itu Fandi tampak sedang melamun di teras balkon rumahnya. Mengingat pertengkaran antara Mamanya dan juga Sheena.
''Pasti Olivia tahu sesuatu.'' Gumam Fandi dalam hati.
''Fan, aku membawakanmu teh.'' Ucap Olivia begitu masuk ke kamar Fandi. Melihat Fandi berada di teras balkon, Olivia menyusulnya.
''Fandi, aku memanggilmu!" ucap Olivia sambil menepuk punggung Fandi. Fandi terkesiap dan tersadar dari lamunannya.
''Eh maaf Liv,'' ucapnya tergagap.
''Kamu kenapa Fan? Sepertinya ada yang menganggu pikiranmu?'' tanya Olivia. Padahal Olivia sendiri sudah tahu apa yang terjadi antara Ibu mertuanya, Sheena dan juga Fandi.
''Olivia, bisa jelaskan padaku, apa Sheena benar-benar temanmu?''
''Iya Fan. Kami memang teman tapi tidak yang terlalu dekat. Kenapa kamu bertanya tentang itu?''
Fandi kemudian menceritakan masalah yang terjadi saat di supermarket tadi pada Olivia.
__ADS_1
''Fandi, Sheena sebenarnya hanya mengincar harta kamu saja. Dia tidak tulus denganmu, Fan. Buktinya dia akan menikah dengan pria yang lebih kaya darimu.''
''Tapi dia putri seorang konglomerat juga kan, Liv?'' ucap Fandi yang tidak percaya dengan ucapan Olivia.
''Kita tidak tahu yang sebenarnya bagaimana, Fan? Bisa saja dia hanya pura-pura untuk merasakan kehidupan menjadi orang yang kaya. Karena setahuku, dia dari keluarga miskin. Maaf ya Fan, bukan maksud ku menghina. Jadi wajar saja kalau Mama sangat tidak suka pada Sheena. Sudahlah untuk apa kamu memikirkan Sheena lagi. Aku istrimu, Fan.''
''Kamu yakin? Kamu sedang tidak membodohi aku kan?'' Fandi masih ragu dengan apa yang dikatakan oleh Olivia.
Olivia kemudian mendekat dan memeluk Fandi. ''Fandi, kita ini sahabatan sudah lama. Jadi kamu tahu kalau aku tidak bisa berbohong. Fan, bukalah hatimu untukku. Aku juga ingin merasakan cinta darimu, Fan. Apa yang membuatmu sulit sekali membuka hati untukku?''
Sungguh sakit hati Olivia mendengar apa yang Fandi katakan. Bagi Olivia Fandi bukan hanya sahabat tapi Fandi adalah cinta pertamanya. Menikah dengan Fandi adalah tujuan hidupnya. Namun dari dulu Fandi hanya menganggapnya sahabat. Olivia pikir, amnesia Fandi bisa ia manfaatkan untuk merebut hati Fandi. Tapi nyatanya hati Fandi tetap sulit untuk terbuka. Sepertinya Fandi bersedia menikahinya juga merasa kasihan pada dirinya. Tak terasa air mata membasahi wajah Olivia. Sesak sekali mendengar kalimat terkahir Fandi. Seolah apa yang selama ini ia lakukan pada Fandi sangatlah sia-sia. Olivia lalu melepaskan pelukan Fandi dan berlalu menuju kamar mandi. Didalam kamar mandi, olivia menyalakan shower dan menangis sesenggukan di dalam Sheena.
''Sampai kapan kamu akan sadar dengan semua ketulusan ku, Fan?'' gumam Olivia dalam isak tangisnya.
-
Malam pun semakin larut. Dirumah, Sheena merasa kesepian karena Arsen harus lembur malam ini. Ia hanya menghabiskan waktu untuk menonton film di kamar. Sampai akhirnya ia tertidur dengan televisi masih menyala. Tepat jam 11 malam, Arsen akhirnya tiba di rumah. Ia lelah sekali. Ia kemudian melangkah menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, Arsen melihat Sheena sudah terlelap dengan televisi yang masih menyala.
__ADS_1
''Sheena, Sheena, sudah tidur, kenapa televisi masih menyala?'' gumam Arsen. Arsen lalu mematikan televisi. Membenarkan posisi tidur Sheena dan memakaikan selimut yang benar pada tubuh Sheena. Tak lupa ia memberi kecupan di kening Sheena.
''Tidur yang nyenyak Sheena-ku.'' Ucap Arsen dengan suara pelan. Saat Arsen hendak beranjak menuju kamar mandi, ia mendengar ponsel Sheena berbunyi. Tanda pesan masuk di ponsel Sheena. Arsen yang penasaran, menengok ponsel Sheena yang ada di nakas samping tempat tidur. Ada pesan masuk dari nomor tak di kenal. Arsen yang penasaran pun membukanya.
Sheena, ini aku Fandi. Aku mendapat nomorku dari ponsel Olivia. Maaf jika aku mengganggumu. Sheena, apakah benar dengan apa yang kamu katakan bahwa kita cuma teman biasa? Sheena, aku memang tidak mengingat apapun tentang dirimu. Bahkan aku tidak tahu siapa kamu dan latar belakangmu. Sejak pertemuan pertama setelah aku sadar, sejak saat itu aku ada sesuatu yang berbeda di hatiku tentang dirimu. Bahkan setelah aku kembali dari LA dan kembali bertemu denganmu, perasaan ini semakin aneh ketika kembali bertemu denganmu. Aku tahu kamu juga sudah mempunyai calon suami, sedangkan aku sendiri sudah mempunyai istri. Aku tahu apa yang aku lakukan ini tidak sopan. Kamu tahu, betapa banyak tanda tanya dalam pikiran ku saat ini. Dan entah kenapa, semua ucapan buruk tentang kamu dari Mama ataupun Olivia, sangat tidak mempengaruhi pikiranku. Kalaupun kamu bersedia, aku ingin bertemu denganmu, Sheena. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan. Sekali lagi maafkan aku karena mengganggumu.
Arsen mengepalkan tangannya mendapati pesan dari Fandi. Hatinya kini di kuasai rasa cemburu.
"Kenapa Sheena tidak jujur denganku kalau kamu tadi bertemu dengan Fandi di supermarket." Gumam Arsen. Arsen meletakkan ponsel Sheena dan segera menuju kamar mandi.
Arsen menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya. Mengingat kembali bagaimana perlakuan buruk Nyonya Citra pada Sheena dan sungguh itu sangat menyakitkan bagi Arsen juga.
"Apa aku harus menanyakannya pada Sheena dulu? Aku tidak boleh menaruh curiga padanya. Dia juga tidak mungkin akan mempermainkan pernikahan ini. Sedangkan dia juga sudah mau menerima ciumanku dan melakukan level 3 denganku. Apa aku harus segera mengajak Sheena untuk melakukan itu? Memasuki level 4. Kalau aku menghamilinya, dia juga tidak akan bisa pergi dari ku. Tapi kehadiran Fandi benar-benar menggangu pikiranku. Aku sangat khawatir kalau ingatan Fandi pulih dan dia kembali mempengaruhi hati Sheena. Aku harus mengisi hati Sheena hanya dengan namaku dan aku harus segera menjadikan Sheena milikku seutuhnya. Aku tidak akan membiarkan Fandi merebutnya dariku.'' Arsen yang tadinya bersedih kini kembali mendapatkan semangat.
''Semangat Arsen, buang rasa jijikmu. Jadikan Sheena milikmu seutuhnya.''
Bersambung
__ADS_1