
Bacanya pas udah taraweh aja, ya.
-----
Setelah serangkaian adegan dewasa di kamar mandi tadi selesai karena celotehan Araa, Naynay sekarang sedang mengeringkan rambut Afif dengan handuk kecil. Suaminya itu tidak suka memakai hair dryer.
Si kecil Araa sedang bersama Yasmin. Mamanya itu langsung pulang ketika mendapat telepon dari Hendrayan kalau bayi gembul gemoy itu ada di rumah. Kalau bukan karena Araa, bisa dipastikan bahwa Yasmin akan pulang beberapa jam kemudian karena keasyikan ngobrol sama Chef handsome.
Kembali lagi dengan pasutri yang tadi sempat uwu-uwu di kamar mandi. Setelah mengeringkan rambut suaminya itu, Naynay berniat turun dari tempat tidur. Tapi Afif menahan tangannya dan menariknya hingga terduduk di depan suaminya itu.
"Lanjut yang tadi yuk, Nay!" Enteng sekali dia mengatakan itu, tidak memedulikan wajah malu istrinya yang masih memakai handuk.
Sambil memegangi handuknya di bagian dada, Naynay menggeser duduknya sedikit ke belakang. "Hhmm, itu.... Anu.." tergagap karena tidak tahu mau bilang apa.
"Apa?" tangan kanan Afif sudah mendarat di atas paha Naynay.
"Mau pakai baju dulu, Nay udah kedinginan." Memberikan alasan disertai wajah memelas.
Afif tersenyum miring membuat Naynay mulai berfirasat tidak enak. Laki-laki itu menarik selimut dan menubruk tubuh Naynay hingga berbaring dengan posisi dia di atas. Selimut yang dia tarik menutupi seluruh tubuh mereka, hanya tersisa bagian kepala.
"Buka handukmu!" titah Afif santai yang membuat Naynay mempererat pegangannya di handuk yang dia pakai.
"Kakak mau ngapain?" Bumil itu gugup dan mulai berkeringat dingin.
"Mau jadi bayi," jawab Afif dengan tangan yang mulai bergerak nakal di leher Naynay hingga istrinya itu menggeliat geli.
Afif merebahkan tubuhnya dan memeluk Naynay. Kepalanya mendusel di bagian dada Naynay yang masih tertutupi handuk. "Tadi subuh Araa bangun dan tidak tidur lagi. Aku mengantuk sekarang." Alasan.
Dengan pelan, Afif membuka lilitan handuk Naynay dengan cara menggigitnya agar istrinya itu tidak sadar. Dia meraih sebelah tangan Naynay dan meletakkannya di atas kepalanya, pengin dielus.
"Akh...." pekik Naynay terkejut ketika merasakan sesuatu yang dingin dan basah di dadanya. Dia juga baru sadar kalau handuknya sudah terlepas dari sebagian tubuhnya.
"Aaaaa... Kakak ngapain?" teriak Naynay histeris karena bibir Afif mulai nakal dan mencium semua yang dia mau.
"Kan sudah aku bilang, aku mau jadi bayi hari ini." Mengecup bibir Naynay sebelum melanjutkan kembali kegiatan enaknya.
Naynay mati-matian menahan geli, beberapa kali terdengar suara erangan dari bibirnya. Entah itu erangan karena geli atau karena sensasi nikmat yang baru pertama kali dia rasakan. Naynay seolah lupa dengan traumanya sekarang, tidak ada gurat ketakutan terlihat di wajahnya.
__ADS_1
Tangan Afif juga tak mau diam, menyusuri semua lekuk tubuh Naynay yang menggoda. Handuk yang tadi dipakai Naynay sudah terlepas sempurna dari tubuhnya. Sekarang hanya selimut lah yang menutupi tubuh mereka sampai pinggang karena melorot akibat ulah nakal si Beruang Tampan.
Aktivitas nakal Afif berhasil membuat Naynay tertidur karena lelah. Hanya karena bibir dan gerakan tangan nakal, bumil itu mencapai pelepasan dan tertidur setelahnya. Ini memang tujuan Afif, dia ingin Naynay terbiasa. Hingga nanti tiba waktunya dia meminta haknya, istrinya itu tidak terkejut dan kembali terjebak dalam traumanya.
Satu kecupan hangat mendarat di kening Naynay. Afif menarik tubuh istrinya hingga wajah imut itu tenggelam di dada bidangnya. Walaupun nafsunya sedang bangkit, tapi dia bisa menahannya karena tidak mau bertindak gegabah.
Di luar kamar, Yasmin menutup mulutnya yang menganga karena sempat mendengar suara desahan Naynay. Dia ingin menyuruh anak dan menantunya itu untuk sarapan yang sudah super telat, tapi malah mendengar suara yang aneh-aneh.
Dengan cepat dia turun ke bawah kembali untuk bermain dengan Araa. Wajah memerahnya membuat Hendrayan yang ada di sampingnya heran.
"Mama kenapa?" tanya Hendrayan sambil memberikan roti bayi kepada Araa yang tengkurap di atas karpet.
"Pa, Mama habis denger suara laknat." Yasmin mengusap kedua telinganya.
"Suara apa?" Kening Hendrayan berkerut.
"Anak sama menantu kita lagi main perang-perangan, Mama nggak sengaja denger pas mau panggil mereka."
"Mereka bertengkar? Papa lihat dulu." Hendrayan yang salah paham itu berdiri, tapi segera ditahan oleh Yasmin.
Mata Hendrayan membelalak sempurna mendengarnya, benarkah Naynay melakukan itu? Apa traumanya sudah hilang? Begitulah isi pikiran Hendrayan. Sedangkan Araa, bayi itu berubah posisi menjadi terlentang menyaksikan kakek dan neneknya itu membicarakan hal tabu di depannya.
"Mama yakin kalau mereka perang?" tanya Hendrayan yang masih ragu.
Yasmin berdecak kesal. "Yakin lah, Pa. Mama denger tadi suara Naynay yang parau lagi desah-desah, masih terngiang nih di telinga Mama."
Ya ampun, pengen tabok nih pasutri. Mulutnya ceplas-ceplos semua, di depan bayi bicarain yang bikin tegang..
"Pa, Mama pengen juga." Yasmin menautkan jarinya di depan dada.
*****
Siang harinya, Naynay sudah selesai mandi kedua setelah dibawa terbang oleh Afif tadi. Perutnya sudah berbunyi pertanda minta diisi. Sedangkan Afif masih tidur dengan handuk yang masih melilit bagian pinggang.
Mengingat yang terjadi tadi, wajah Naynay memerah. Dia segera turun ke bawah untuk makan. Kasihan si dedek bayi yang ada di dalam perutnya belum dikasih makan. Tiba di bawah, Naynay menemukan Araa yang sedang bermain dengan salah satu pelayan.
"Bi, mama sama papa mana?" tanya Naynay sambil clingak-clinguk.
__ADS_1
"Katanya ada urusan, Nona. Mereka di kamar dan tidak boleh diganggu katanya."
Wahhh, tampaknya Hendrayan mengabulkan permintaan Yasmin tadi, ya. Sampai siang pun mereka masih belum selesai.
"Ya udah, Araa sama Nay aja." Naynay menggendong Araa dan membawanya ke meja makan.
"Temenin Bubu makan, ya, Sayang." sambil memangku Araa, Naynay menyantap makanannya yang diambilkan oleh pelayan. Sedangkan Araa diberi biskuit bayi kesukaannya.
Setelah menghabiskan makanannya, Naynay meminta pelayan untuk mengantarkan makanan juga ke kamarnya. Dia naik terlebih dahulu dengan masih menggendong Araa. Di rumah ini juga ada pelayan yang akan mengawasi Naynay ketika naik-turun tangga.
Setelah masuk ke kamar, Naynay mendekati ranjang dan meletakkan Araa di samping Afif yang masih tertidur. "Bangunin ayah yuk."
Araa menepuk-nepuk wajah Afif diiringi dengan gelak tawanya,Naynay memegangi tubuh mungilnya dari belakang.
"Yahhh..." celoteh bayi itu dengan suara keras.
Afif mengerjap-ngerjapkan matanya. Setelah matanya terbuka sempurna, Araa menghadiahinya kecupan di pipinya. Afif tertawa dan mencubit lembut pipi bayi itu.
"Bubu nggak ngasih ciuman nih?" goda Afif membuat wajah Naynay merona malu. Masih mengingat kegiatan yang tadi.
"Baju Kakak udah Nay siapin, makanan juga udah diantar pelayan." Naynay mengalihkan pembicaraan dan menggendong Araa kembali. Dia membawa bayi itu ke balkon kamarnya.
Afif tersenyum lebar melihat Naynay malu. Dia segera menuju ruang ganti untuk berpakaian. Perutnya juga sudah berbunyi karena belum terisi apapun dari pagi. Setelah ini dia akan menggoda Naynay kembali. Wajah merona Naynay membuatnya ketagihan untuk selalu menggoda bumil yang merupakan istrinya itu.
.
.
.
.
.
Ingatt... Baca pas udah buka puasa!!
The Story of Azora Habelino rilis tanggal 15 April jam 12.00 WIB yaa....
__ADS_1