My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 191 Saling Cemburu?


__ADS_3

Namun karena ia terburu dan tidak hati-hati, Belinda akhirnya terjatuh karena terbelit kakinya sendiri. Arthur yang melihat ada seseorang jatuh segera menolongnya.


''Kamu tidak apa-apa?'' ucap Arthur seraya membantu Belinda untuk bangun. Tanpa Arthur tahu jika itu adalah Belinda. Belinda memalingkan wajahnya dan menunduk, untuk saja ia mengenaka jaket dan masker.


''Ti-tidak apa-apa.'' Ucap Belinda menyamarkan suaranya. Belinda kemudian pergi begitu saja dan kembali ke dalam taksi.


''Aneh banget sih tuh orang.'' Gumam Arthur dengan heran. Arthur kemudian juga segera pulang.


''Huh, untung tidak ketahuan.'' Gumam Belinda saat ia berhasil kabur dari Arthur.


Keesokan harinya di kantor, senyum ceria Belinda seketika pudar saat melihat Grace baru saja turun dari mobilnya.


''Ngapain sih tuh cewek balik lagi,'' gerutu Belinda. Belinda mempercepat langkahnya menuju ruangan Arthur. Namun Arthur ternyata belum datang. Sembari menunggu Arthur, Belinda merapikan meja kerja Arthur dan juga meja kerjanya.


''Arthur!" suara Grace seraya mengetuk pintu. Belinda berjalan membuka pintu.


Grace memberikan senyumnya untuk Belinda. ''Pagi, apa Arthur sudah datang? Dan kamu siapa?''


''Tuan Arthur belum datang, Nona. Masa Nona lupa, aku ini sekretarisnya Arthur.''


''Oh maaf-maaf. Kemarin aku lupa menyapamu karena terlalu asyik mengobrol dengan Arthur. Kalau begitu kita kenalan dulu. Aku Grace Nathalia dan kamu?'' Grace dengan ramah mengulurkan tangannya pada Belinda.


''Belinda.''


''Kamu sepertinya masih muda ya? Kamu terlihat sangat imut. Oh ya aku akan menunggu Arthur disini. Apa kamu bisa memberiku secangkir cappucino panas less sugar.''


''Iya.'' Jawab Belinda. Belinda lalu keluar ruangan Arthur menuju pantry dengan menahan rasa kesalnya.


''Sebenarnya aku ini sekretaris apa pembantu? Sudah dandan cantik begini masa iya disuruh buat cappucino. Yang mana lagi cappucino? Tidak ada yang instan apa? Meraciknya juga bagaimana? Aku tidak paham.'' Belinda benar-benar bingung.


''Apa aku kasih teh saja ya. Bilang saja cappucinonya habis.'' Gumam Belinda.


''Sepertinya ide bagus,'' gumamnya lagi. Akhirnya Belinda menyeduh teh tanpa gula untuk Grace. Saat sampai diruangan, ternyata Arthur sudah datang. Arthur sedang mengobrol dengan Grace.


''Nona, maaf cappucinonya habis. Aku membuat teh untukmu.'' Kata Belinda sambil meletakkan secangkir teh dihadapan Belinda.


''Belinda, Grace tidak suka teh. Minuman kesukaannya itu cappucino less sugar. Masa iya habis?'' sahut Arthur.


''Iya habis.'' Ketus Belinda.


''Maaf ya Grace, biar aku yang membuatkanmu. Maklum dia masih baru disini. Tunggu disini! I don't want to disappoint you.''

__ADS_1


''Don't worry Arthur.'' Jawab Grace. Arthur lalu beranjak dari duduknya. Ia lalu menarik Belinda dan mengajaknya kembali ke pantry.


''Aku tidak percaya cappucinonya habis. Pasti kamu tidak bisa membuatnya kan?'' marah Athur begitu mereka sudah ada di pantry.


Belinda mendengus. ''Iya, aku tidak tahu cara membuatnya. Memangnya kenapa? Daripada tidak bisa, aku buat minuman sebisaku saja. Lagi pula, aku ini sekretaris bukan pembantu.'' Ketus Belinda.


''Kamu ini di kasih tahu menjawab saja. Sekarang lihat caraku membuatnya.''


''Memang sepenting apa sih wanita itu? Sampai kamu sendiri bela-belain bikinin dia minuman. Dia mantan kekasihmu? Atau memang kekasihmu?''


''Aku malas berdebat denganmu. Sebaiknya setelah inu ikut aku ke bank sampah lagi. Grace akan syuting iklan hari ini. Jadi jangan membantahku. Ingat, selama jam kerja kamu adalah bawahanku daj aku adalah atasanmu. Jadi kamu wajib menghormati aku.'' Tegas Arthur. Belinda hanya bisa merengut tanpa bisa membantah ucapan Arthur.


Setelah selesai membuat minuman untuk Grace, Arthur dan Belinda kembali ke ruangan.


''Silahkan Noba Grace. Ini pelayanan VIP dari direktur disini.'' Ucap Arthur dengan senyum ramahnya.


''Kamu bisa saja, Arthur.''


''Sebaiknya kamu habiskan dulu, setelah ini kita berangkat.''


''Oke.''


''Belinda, siapkan semuanya.'' Perintah Arthur pada Belinda.


Pemotretan di pabrik daur ulang Arthur berjalan lancar. Grace dan timnya juga berkesempatan membuat daily vlog yang mana bisa menambah pengetahuan untuk subscribenya. Grace juga di beri kesempatan untuk melihat proses, wawancara para pekerja dan yang jelas wawancara Arthur juga.


''Oke, akui Grace hebat. Dia sama sekali tidak merasa jijik. Bukan hanya cantik tapi dia menginspirasi. Belinda! Sadar! Kenapa kamu memujinya? Eh tapi, apa tipe wanita seperti Grace idaman Kak Arthur. Apalagi Kak Arthur sangat ramah pada Grace. Sementara denganku, dia sangat judes dan ketus. Coba aku tidak sedang menyamar, aku tidak kalah dari dia. Paling dia juga cuma akting. Paling dia aslinya juga merasa jijik.'' Gumam Belinda dalam hati.


Setelah semua agenda hari itu selesai, Arthur mengajak Grace daj timnya untuk makan bersama di sebuah restoran.


''Ayo kalian silahkan pesan dan makan sepuasnya.'' Ucap Arthur dengan penuh semangat.


''Terima kasih Tuan Arthur. Kami senang sekali bekerja sama dengan anda yang begitu ramah.'' Ucap salah satu tim Grace.


''Semoga kita nanti bisa bekerja sama kembali.'' Sahut kru yang lain.


''Kalian juga tim yang solid dan kompak. Grace beruntung memiliki tim seperti kalian.'' Ucap Arthur.


''Apalagi ada Nona Belinda yang membuat kami semangat kerja.'' Sahut salah satu tim pria yang masih muda. Pria itu menatap Belinda penuh kagum.


Belinda tersenyum. ''Ini pengalaman pertamaku bekerja seperti ini. Aku juga senang karena kalian semua mau membantuku juga.''

__ADS_1


''Sama-sama Nona.'' Ucap pria itu. Arthur melirik kesal Belinda, ia tidak suka melihat ekspresi Belinda yang berlebihan.


''Ah sudah-sudah, kalau begitu cepat kalian pesan ya.''


''Iya Tuan.'' Jawab mereka semua dengan kompak.


''Grace, kamu mau makan apa?'' tanya Arthur.


''Kamu tentu masih ingat apa makanan kesukaanku, Arthur.''


''Oke baiklah. Aku akan benar-benar menjamu bintang iklan ku.'' Seloroh Arthur dengan tawanya. Belinda merasa sangat kesal karena merasa di abaikan oleh Arthur. Ia hanya membolak-balik buku menu tanpa tahu apa yang ingin ia pesan.


''Nona, sepertinya anda sedang bingung.'' Ucap tim pria Grace yang bernama Erik dengan wajah bulenya.


''Ah iya, aku bingung ingin memilih apa.'' Ucap Belinda dengan memaksa senyumnya.


''Bagaimana kalau aku bantu memilih?'' tanya Erick yang berpindah tempat duduk di samping Belinda. Belinda terkejut dan merasa kurang nyaman sebenarnya.


''Erick, kamu jangan mencoba menganggu Nona Belinda ya.'' Tegur Grace.


''Tenang Nona, aku hanya membantunya memilih makanan saja.'' Jawab Erick.


''Apa Nona suka western food?'' tanya Erick.


''Mmmm sebenarnya aku bingung dengan semua menu makanan ini. Ini menurutku asing. Maklum aku hanya orang biasa.'' Kata Belinda. Arthur menaikkan alisnya mendengar apa yang di katakan oleh Belinda. Ia bahkan merasa kesal saat Erick mencoba mendekatinya.


''Bagaimana kalau Beef wellington? Aku sangat menyukainya.'' Ucap Erick.


''Baiklah aku akan mencobanya. Tapi itu terbuat dari apa?'' tanya Belinda dengan polosnya. Akhirnya Belinda mempunyai ide untuk menguji Erick dan juga Arthur. Menguji apakah Erick pria yang tulus padanya dengan keadaannya menjadi orang biasa atau malah sebaliknya. Begitu juga dengan Arthur, Belinda ingin tahu bagaimana reaksi Arthur saat ada yang mendekatinya.


''Yang jelas bahan utamanya adalah daging, Nona. Makanan ini terbuat dari fillet steik dan dilapisi oleh pâté dan duxelles. Selanjutnya, steik dibungkus puff pastry, baru dipanggang.'' Jelas Erick.


''Kulit luarnya seperti roti ya?''


''Ah, iya. Memang itu lebih tepatnya.''


''Baiklah aku mau coba.''


''Aku yakin Nona pasti akan menyukainya.'' Ucap Erick.


''Apa-apaan Belinda? Pakai acara sok tidak tahu makanan itu? Ganjen juga merespon pria itu. Tidak kapok ya sama bule lagi,'' gerutu Arthur dalam hati.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2