My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 177 Gadis Tangguh


__ADS_3

Arthur lalu berbaring di kursi. Belinda tersenyum karena Arthur akan menemaninya disini. Belinda dengan senang hati mengambilkan bantal dan guling untuk Arthur.


''Ini untukmu, Kak. Terima kasih ya sudah menemaniku.'' Belinda mengeluarkan jurus seribu sikap maninsnya. Namun sepertinya tidak berpengaruh pada Arthur.


''Jangan cerewet! Tidur sana di kamarmu atau aku pulang.''


''Iya-iya, aku tidur. Hobimu itu selalu mengancam dan juga marah-marah.'' Belinda mengehentakkan kakinya kesal, ia lalu pergi ke kamarnya.


''Emang dasar si Arthur. Di baikin salah, di judesin apalagi. Aku selalu saja salah di mata dia. Tidak bisa apa bersikap sedikit manis. Siapa coba yang tahan punya suami seperti itu.'' Belinda mendumel dalam hati.


-


Brian akhirnya pulang dari kantor dengan naik ojek. Ia lupa bertanya pada Gea tentang motornya. Di tambah Brian juga belum punya nomor ponsel Gea.


Di tengah perjalanan, dari kejauhan, Brian melihat ada segerombolan geng motor yang sedang mengadakan balap liar di jalanan. Saat jaraknya semakin dekat dengan gerombolan motor itu, Brian melihat Gea.


''Lho lho, itu kan Gea,'' gumam Brian.


''Bang-bang, berhenti disini saja.'' Kata Brian sambil menepuk pundak tukang ojek. Setelah membayar, Brian mendekat kearah area gerombolan motor sambil mengendap. Setidaknya jangan sampai Gea melihatnya.


Dari balik pohon besar, Brian melihat Gea menunggangi motor miliknya, bersiap untuk bertempur diarena balap liar itu.


''Bener-bener nih cewek ya. Dari ribuan gadis yang dekat denganku, cuka Gea yang berbeda. Keren juga dia.''


Saat balapan dimulai dan motor Gea melaju, Brian mendekat kearah kerumunan itu. Mereka yang ada disana, menyerukan nama Gea dengan lantangnya. Semua bersorak sorai untuk mendukung Gea.


''Ayo Ge!" seru Brian yang ikut bersorak untuk Gea. Brian terbawa suasana yang sangat seru malam itu. Dan sampai akhirnya Gea berhasil mencapai garis finish. Setelah melepas helmnya, Gea melihat Brian di tengah-tengah kerumunan.


''Lah, tuh anak ngapain disini.'' Gumam Gea dalam hati. Gea lalu mendapatkan selamat dan sejumlah uang pun sudah berada ditangan Gea.


''Makasih ya, Bang.''


''Oke Ge, next time gue calling.''


''Siip Bang!" kata Gea seraya adu tos dengan temannya. Dan semuanya pun bubar, sebelum ada patroli polisi.


''GEA!" panggil Brian.


''Aduh, ngapain elo disini?'' tanya Gea.


''Tadi aku habis pulang kerja kebetulan lewat sini dan lihat kamu, jadinya aku mampir.''


''Gue cabut ya!"


''Eh jangan dulu.''


''Ada apalagi? Itu motor elo udah bisa di pakai.''


''Makasih ya sudah membantuku. Tapi aku nebeng pulang ya.''


''Gue sibuk, ini masih jam berapa? Gue ada balapan lagi.''

__ADS_1


''Hah? Balapan lagi?''


''Iyalah. Ini baru pertandingan pertama. Gue masih ada job di tempat lain.''


''Ya-ya udah deh, aku ikut.''


''Ikut? Serius lo ikut? Gue bisa sampai tengah malam.''


''Tidak masalah! Ya sekalian supaya aku tahu di sini ada apa saja. Maklum anak kampung.''


''Ya udah deh, berhubung wajah elo itu melas banget, jadi elo boleh ikut. Ya udah naik.''


''Tapi pelan-pelan ya.''


''Gue nggak bisa pelan. Sudah jangan cerewet dan buruan naik.''


''Iya-iya.'' Akhirnya Brian naik juga ke motor Gea.


Malam itu setidaknya ada tiga tempat yang Gea datangi untuk balap liar. Dan semua pertandingan itu dimenangkan oleh Gea.


''Brian, boncengin gue ya?'' pinta Gea.


''Oke, tidak masalah.''


''Elo udah makan malam?''


''Hehehe kebetulan belum.''


''Oke lah, gratisan sudah pasti gue mau.'' Seloroh Brian dengan tawanya.


''Dasar cowok kere.''


''Pedes amat mulutmu, Ge.''


''Hehehe sorry, gue emang ceplas ceplos gini. Ya udah ayo kita makan. Elo mau makan dimana?''


''Terserah kamu saja, Gea.''


''Makan nasi goreng ya di warung pinggir jalan?''


''Oke.''


''Beneran nih mau di pinggir jalan? Nggak takut kegantengan elo hilang gitu? Nggak gengsi?''


''Ya nggak lah. Orang ganteng mau dimana aja tetap ganteng kali. Nggak ada hubungannya sama makan di pinggir jalan. Aku makan apa saja, ya ayo aja.''


''Baguslah! Biasanya cowok modelan elo banyak gengsi dan gaya tapi tongpes.''


''Tongpes? Apa itu?''


''Kantong kempes,'' kata Gea terkekeh.

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua sampai disebuah warung nasi goreng pinggir jalan. Gea memesan dua porsi nasi goreng dan dua gelas es teh manis.


''Lumayan, bisa hemat untuk makan malam.'' Gumam Brian dalam hati dengan mulut penuh makanan.


''Oh ya, elo sama sekali nggak ada keluarga disini?'' tanya Gea


''Tidak ada sama sekali. Aku disini mencoba mengadu nasib.''


''Mmmm pasti elo pinter. Nggak mungkin kan elo bisa masuk ke perusahaan itu kalau cuma modal ganteng doang.''


''Iyalah aku memang pintar. Di usia ku yang baru 20 tahun, aku sudah lulus S2 universitas terbaik di London.''


Mendengar ucapan Brian, Gea bukannya percaya tetapi malah tertawa terbahak. Bhuahahahha!


''Kenapa malah ketawa?''


''Gue kok nggak percaya ya? Kayaknya elo ngarang deh.''


Sejenak Brian terdiam, ia lupa kalau sedang menyamar.


''Hehehe iya sih aku bohong. Tapi aku bisa kuliah karena dapat beasiswa. Makanya aku merantau untuk mengubah nasib. Bersyukurnya aku diterima di perusahaan itu.'' Kata Brian dengan memasang wajah melasnya.


''Apa ucapan gue menyinggung ya? Gue becanda kok. Kalaupun elo beneran lulusan dari London, itu artinya elo memang hebat. Sorry ya, mulut gue emang suka nyablak.''


''Iya tidak apa-apa. Kamu sendiri kuliah juga?''


''Nggak. Gue cuma tamatan SMA aja. Gue juga sama sih disini merantau.''


''Elo pasti dari keluarga berada? Apalagi motor elo juga bagus.''


''Keluarga gue biasa-biasa aja. Motor ini itu beli bekas. Gue belinya juga nyicil. Jadi hasil dari balap gue pakai buat nyicil motor tapi bulan lalu kebetulan udah lunas. Jadi kalau pagi gue jaga di minimarket terus malamnya balap motor. Mau kerja apalagi secara gue cuma tamatan SMA. Keahlian gue ya balap motor itu, lumayan duitnya.''


''Orang tua kamu tahu kalau kamu balap liar seperti itu?''


''Mmmmm tahu sih. Dulu di kampung juga sering ikutan balap cuma duitnya kecil. Jadi gue pakai alasan merantau aja. Kalau disini kan duitnya gede soalnya kota besar.''


''Kalau orang tua elo tahu gimana?''


''Nggak bakalan lah. Soalnya gue bilang kalau gue kerja kantoran. Padahal gue kerjanya di minimarket.'' Seloroh Gea dengan tawa renyahnya.


''Astaga, kamu durhaka banget bohongin orang tua. Nanti kalau mereka tahu bagaimana?''


''Kalau udah kepepet dan ketahuan, aku ya tinggal ngaku aja kalau aku jadi kasir di mini market. Setiap gue menang balapan, gue juga langsung ngirim uang sama orang tua gue kok. Ya, mau gimana lagi? Hidup itu keras, Brian. Jadi apapun kerjaannya gas lah, asal nggak nyuri. Iya nggak?''


''Iya juga sih. Ngomong-ngomong makasih ya buat malam ini.''


''Gue yang bilang makasih, gue jadi ada temen sekarang. Disini agak susah nyari temen. Kalau nyari temen senasib kayak elo gini gampang banget.''


''Baru kali ini aku bertemu gadis tangguh seperti Gea. Di jaman sekarang gadis seperti Gea sudah sangat langka.'' Kata Brian dalam hati.


Yukkkk like, komen dan likenya ya yang banyakk, makasih 🙏❤️

__ADS_1


__ADS_2