My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 166 Grebek Masal


__ADS_3

''Pah, apa yang putra kita lakukan?'' tanya Nyonya Sofi pada suaminya.


''Mah, Papa tidak tahu. Kenapa mereka bisa tidur satu ranjang begini?'' ucap Tuan Darwin.


''Pah, kenapa putri kita mau tidur satu ranjang dengan seorang pria?'' sahut Nyonya Dira yang giliran bertanya pada suaminya.


''Papa pikir, Belinda hanya menumpang. Lalu kenapa mereka bisa tidur satu ranjang begini?'' ucap Tuan Keenan. Kedua orang tua Arthur dan Belinda, dengan kompak sudah berada di kamar Arthur. Pagi ini mereka di kejutkan dengan pemandangan yang sungguh di luar dugaan. Dimana Arthur dan Belinda tidur satu ranjang dengan saling berpelukan. Belinda begitu tampak nyaman dalam dekapan Arthur. Bahkan jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Hujan semalam, mampu membuat keduanya saling menghangatkan meskipun tanpa sadar.


''Keenan, apa yang akan kita lakukan?'' tanya Tuan Darwin.


''Kita tunggu saja sampai mereka bangun. Bukan kah ini yang kita inginkan?'' ucap Tuan Keenan dengan senyum penuh arti.


''Karena menyatukan Belinda dengan Arthur lebih sulit dibandingkan dengan Sheena dan Arsen.'' Sambung Nyonya Dira.


''Betul sekali Dira. Baiklah kita tunggu sampai mereka bangun saja. Sepertinya ini menjadi weekend yang menyenangkan untuk mereka.'' Kata Nyonya Sofi.


Belinda akhirnya terbangun. Perlahan ia membuka matanya. Matanya seketika membulat sempurna saat melihat wajah Arthur ada di hadapannya. Tangannya sendiri masih memeluk tubuh Arthur begitu pula dengan Arthur, tangannya masih memeluk Belinda.


''Tidak salah! Kita tidur satu ranjang dan berpelukan. Dia pasti semalam modus.'' Gumam Belinda dalam hati. Belinda lalu memencet hidung Arthur supaya Arthur bangun. Dan Arthur pun terbangun karena merasa tidak bisa bernafas.


''Hei bangun tukang modus!" kata Belinda. Mendengar suara Belinda, Arthur perlahan membuka matanya. Ia sangat terkejut melihat Belinda ada di depan matanya. Bahkan jarak wajah keduanya hanya beberapa senti saja.


''Lho-lho, kenapa kamu ada disini? Modus kan?'' ketus Arthur.


''Hei, lihat tanganmu! Tanganmu memeluk tubuhku. Semalam pasti Kakak bangun terus memelukku kan? Guling pembatasnya saja tidak ada.''


''Enak saja siapa juga. Kamu kali yang sok-sokan ketakutan tapi ternyata modus.'' Ucap Arthur yang tak mau kalah. Mereka masih belum menyadari kehadiran kedua orang tua mereka. Mereka kemudian dengan kompak bangun. Mereka semakin terkejut saat kedua orang tua mereka sudah duduk di sofa menatap serius kearah mereka berdua.


''Mama-Papa!" seru Arthur dan Belinda dengan kompak. Mereka dengan kompak segera turun dari tempat tidur.


''Arthur, apa yang kamu lakukan pada Belinda? Papa tidak mengajarimu menjadi pria kurang ajar.'' Tegas Tuan Darwin.


''Belinda, Papa juga tidak mengajarimu menjadi seorang wanita murahan seperti itu.'' Sahut Tuan Keenan yang tak kalah galak.


''Pah-Om, ini tidak sesuai yang kalian pikirkan. Kami tidak melakukan apa-apa.'' Arthur mencoba menjelaskan.

__ADS_1


''Iya Pah-Om, kami tidak melakukan apa-apa. Pakaian kami saja masih utuh. Semalam Belinda ketakutan saja karena hujan deras, terus di kamar tamu ada hantu. Jadi Belinda memaksa tidur di kamar Kak Arthur. Tadinya Belinda mau tidur di sofa, eh tiba-tiba ada petir terus Belidna reflek naik ke kasur Arthur,'' jelas Belinda dengan polosnya.


''Karena Arthur kasihan, akhirnya Arthur mau berbagi tempat tidur. Tadinya Arthur mau tidur di sofa tapi Belinda tidak mau di tinggal. Akhirnya kita buat sekat guling tapi tidak tahu kenapa malah jadi seperti ini,'' imbuh Arthur.


''Dan kalian tahu ini jam berapa?'' tanya Nyonya Sofi.


''Memang jam berapa Mah?'' tanya Arthur dengan polosnya.


''Jam 9. Itu artinya kalian menikmatinya, iya kan?'' desai Nyonya Sofi.


''Apa? Jam 9? Tidak mungkin.'' Ucap Arthur. Arthur lalu mengambil ponsel yang ada di atas nakas dan ternyata benar jam 9.


''Mama kok bisa masuk?'' tanya Arthur gugup.


''Kunci serep rumah ini kan Mama yang pegang.''


''Apa kita nikahkan saja mereka?'' celetuk Nyonya Dira.


''Apa? Nikah? No!" jawab Belinda dan Arthur dengan kompak.


''Mama dulu usia segitu sudah menikah, kenapa kamu tidak? Eonni Queen juga menikah muda.''


''Ya tapi kan Belinda tidak mau, Mah.''


''Arthur juga belum siap, Tante. Apalagi kalau memiliki istri yang manja. Panci saja tidak tahu,'' kata Arthur sambil melirik ke arah Belinda.


''Arthur, urusan itu biar Mama yang mengajari Belinda. Belinda akan Mama privat untuk urusan rumah tangga,'' sahut Nyonya Sofi.


''Nah setuju, supaya menantu dan mertua saling akrab.'' Sambung Nyonya Dira.


''Kalau memang tidak terjadi sesuatu, lalu kenapa jam segini baru bangun? Kalian pasti nyaman kan? Sudahlah kita nikahkan saja mereka. Bagaimana Keenan?'' kata Tuan Darwin.


''Setuju saja. Kita cari hari baik.'' Ucap Tuan Keenan tanpa basa-basi.


''Lagi pula sekarang kamu sudah tahu kan Bel, siapa Dave itu sebenarnya? Masih mau kamu dengannya? Papa dan Mama sudah tahu semuanya. Papa dan Mama menahan ingin marah sama kamu tetapi kamu malah kabur ke rumah Arthur.'' Tuan Keenan tiba-tiba meluapkan amarahnya yang sudah ia tahan sejak beberapa hari lalu.

__ADS_1


''Iya Bel. Makanya nurut kalau sama orang tua. Untung saja kamu tidak di apa-apain. Untung saja ada Arthur yang menjaga kamu. Pria seperti itu kamu pertahankan, kamu tangisi. Sekarang? Ini akibat dari menentang orang tua. Membuat malu saja.'' Imbuh Nyonya Dira.


''Dira, Keenan, sudah-sudah kasihan Belinda. Jangan dimarahi lagi ya, dia juga pasti menyesal.'' Kata Tuan Darwin yang berusaha menenangkan Nyonya Dira dan Tuan Keenan.


''Aku malu denganmu, Darwin. Rasanya mau di taruh mana muka ini. Untung saja kalian tidak membatalkan perjodohan ini. Ternyata pria itu adalah pria yang sungguh menjijikkan.'' Imbuh Tuan Keenan. Mendengar ucapan Papa dan Mamanya, Belinda hanya bisa menunduk sambil menangis.


''Maafkan Belinda Pah-Mah. Belinda memang salah.'' Sesal Belinda.


''Sekarang kamu menyesal, menangis, kemarin-kemarin? Kamu menentang Mama dan Papa. Membuat keputusan tanpa diskusi dengan Papa dan Mama. Papa dan Mama menentang pasti ada alasannya.'' Kata Nyonya Dira yang tak kalah.


''Sssttt sudah-sudah, kalian jangan marah-marah lagi. Lagi pula sekarang semuanya sudah membaik kan.'' Kata Nyonya Sofi.


''Kami sudah menahan untuk tidak marah, Sofi. Tapi mengingat kebodohan putriku ini, kita langsung naik darah.'' Kesal Nyonya Dira.


''Aku heran, kenapa anak-anakku ini bodoh soal cinta. Hanya Queen yang benar memilih pasangan. Semoga saja Brian tidak seperi Belinda ataupun Arsen.'' Kesal Tuan Keenan.


''Pah, kamu dulu juga bodoh kan? Menikah dengan wanita yang ternyata menginginkan hartamu saja. Bibit bodohnya dari kamu sih.'' Bisik Nyonya Dira mengingatkan masa lalu suaminya.


''Sssttt jangan bahas itu disini. Kamu ini menjatuhkan wibawaku saja, Mah.'' Bisik Tuan Keenan. Nyonya Dira hanya bisa menahan senyum mendengar ucapan suaminya itu.


Melihat Belinda menangis sesenggukan, Arthur merangkul bahu Belinda untuk menenangkannya. Belinda terkejut dengan reaksi Arthur padanya.


''Sudah, sekarang kalian mandi. Mama dan Papa tunggu di bawah ya. Kita sarapan sama-sama.'' Kata Nyonya Sofi.


''Iya Mah.''


''Belinda sayang, jangan menangis lagi ya. Terkadang kita perlu jatuh untuk merasakan sakit, setelah itu kita tahu rasanya sebuah penyesalan dan tahu bagaimana cara untuk bangkit.'' Ucap Nyonya Sofa seraya menyeka air mata Belinda.


''Iya Tante. Maafkan Belinda ya.''


''Tidak ada yang perlu di maafkan, sayang. Sudah jangan menangis lagi, kita tunggu di bawah.'' Mereka berempat kemudian pergi meninggalkan kamar Arthur.


''Sudah jangan menangis lagi. Penyesalan selalu datang terlambat. Mandi sana!" kata Arthur sambil mengelus kepala Belinda. Belinda hanya bisa diam namun ia bisa merasakan kehangatan sikap Arthur.


Bersambung.... Yukkk gasss like, komen dan votenya. Mampir juga ke karya baru author ya "Takdir Cinta Aruna" Awalnya emang bikin jengkel tapi lama-lama semakin seruuu banget 🙏💃❤️

__ADS_1


__ADS_2