My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 218 Makan Siang


__ADS_3

“Akhirnya pekerjaanku selesai juga,” ucap Belinda sambil merentangkan kedua tangannya ke samping.


“Kamu boleh makan siang dulu, Bel.” Kata Arthur tanpa memalingkan pandangannya dari layar laptopnya. Belinda lalu beranjak dari duduknya. Ia berjalan mendekati Arthur, lalu memeluk Arthur dari belakang. Arthur sangat terkejut saat Belinda memeluknya seperti itu.


“Bel, bagaimana kalau ada yang masuk?”


“Memangnya kenapa? Paling mereka ketuk pintu dulu. AKu tidak mau makan tanpamu.” Kata Belinda. Arthur tersenyum, tidak ada pilihan lain selain mematikan layar laptopnya. Belinda puas, akhirnya Arthur menyudahi pekerjaannya.


“Baiklah, ayo kita makan siang. Kamu mau makan siang dimana?”


“Terserah kamu saja.” Jawab Belinda.


“Oke tapi singkirkan dulu tanganmu ini, Bel. Aku tidak bisa berdiri.”


“Hehehe, iya. Sepertinya menyenangkan sekali pacaran sambil bekerja.” Celetuk Belinda.


“Iya menyenangkan tapi kamu hari ini sangat sulit membuatku fokus.”


“Aku memang akan membuatmu selalu kehilangan fokus.” Ucap Belinda. Keduanya kemudian meninggalkan ruangan. Namun baru saja keluar dari ruangan, Arthur dan Belinda dikejutkan dengan kedatangan Grace.


“Arthur!” sapa Grace. Arthur melempar senyumnya pada Grace. Seperti biasa Grace menyapa Arthur dengan kecupan di pipi kiri dan kanan. Tentu saja itu membuat Belinda kesal setengah mati. Belinda menghentakkan kakinya kasar, lalu pergi berlalu.


“Bel, tunggu di mobil!” teriak Arthur, untuk meredam kemarahan Belinda. Tidak mungkin juga Arthur bersikap acuh pada Grace.


“Ada apa Grace?”


“Aku mau mengajakmu makan siang. Memangnya kamu mau kemana dengan sekretarismu?”


“Oh, kami ada pertemuan bersama klien, sekaligus makan siang bersama klien.”


“Yahhh sayang sekali. Padahal aku ingin mentraktirmu makan siang.”


“Maafkan aku ya, Grace.”


“Its okay. Ya sudah, kamu pergi saja.”


“Terima kasih ya. Aku khawatir jika terlambat, klien ku bisa marah. Bye.” Arthur kemudian berlalu meninggalkan Grace dan segera menyusul Belinda ke mobil. Sesuai dugaan Arthur, wajah Belinda sudah merengut.


“Maafkan aku ya, Bel. Aku tidak tahu kalau Grace dakan datang.”


“Lagian, Grace ganjen banget sih. Sudah tahu kalau kamu punya tunangan tapi kenapa dia masih saja mendekati kamu. Sepertinya dia menyukaimu.” Kesal Belinda.


“Dia tidka menyukai ku, Bel. Hubungaan kami murni sahabat, tidak ada cinta di dalamnya. Sudahlah, sebaiknya kita jalan ya. Kamu bebas memilih makan dimana saja.”


“Selera makan ku sudah hilang.” Belinda memalingkan wajahnya. Arthur kemudian meraih tengkuk Belinda, supaya Belinda tidak memalingkan wajahnya. Arthur pun berhasil membuat Belinda kembali menatapnya.

__ADS_1


“Kamu selalu menggemaskan saat marah.”


“Ah, bodoh ah! Rayuanmu tidak mempan.” Kesal Belinda. Bukan Arthur namanya kalau tidak bisa meredakan amarah Belinda. Sebuah ciuman mendarat di bibir Belinda begitu saja. Tentu saja lu..matan lembut itu membuat Belinda membalasnya. Belinda mengalungkan kedua tangannya pada leher Arthur. Ciuman itu semakin panas, membuat tangan Arthur untuk menurunkan bangku yang di duduki Belinda dan direbahkannya tubuh Belinda. (Vitamin sebelum makan siang, hehehe) Setelah cukup puas saling melu..mat, Arthur menaikkan kembali bangku Belinda. Lalu, diusapnya lembut bibir Belinda yang bsah karena ulahnya.


“Bagiamana? Apa sudah hilang marahnya?” tanya Arthur. Belinda hanya mengangguk dengan senyum malu-malu.


“Baiklah, kita pergi sekarang?” sambung Arthur.


“I-iya.”


Arthur kemudian melajukan mobilnya menuju sebuah restoran. Belinda dan Arthur tidak sadar, jika ada sepasang mata sempat melihat adegan ciuman panas itu. Siapa lagi kalau bukan Erick. Erick yang hendak menjemput Belinda untuk makan siang, justru melihat Belinda masuk ke dalam mobil Arthur. Arthur yang terbawa suasana, lupa kalau kaca mobilnya bisa dilihat dari luar. Sedangkan kaca mobil Erick berwarna hitam yang tidak bisa terlihat dari luar. Dan tentu saja itu memudahkan Erick melihat apa yang telah Arthur dan Belinda lakukan. Apalagi mobil Erick terparkir tidak jauh dari mobil Arthur.


“Bel, aku tidak menyangka kamu punya affair dengan Tuan Arthur. Kalian berlagak professional tapi ternyata kalian sangat rendah. Kalau kamu tidak mau denganku? Kenapa kamu tidak bilang? Apa kamu sengaja melakukan itu untuk mengangkat derajatmu dan melepaskan dirimu dari kemiskinan? Aku sangat kecewa denganmu. Dan juga Tuan Arthur, dia mempunyai sikap yang sangat buruk. Berani-beraninya dia memanfaatkan kepolosan Belinda demi memuaskan hasratnya. Benar-benar atasan yang gila. Atau mungkin Belinda dipaksa melakukan itu karena diancam? Pasti begitu. Belinda tidak mungkin segampang itu di goda. Aku harus menyelamatkan Belinda.” Gumam Erick dengan penuh rasa kesal.


 


...****************...


 


“Akhirnya aku bisa bebas makan enak juga.” Kata Belinda dengan mulut penuh makanan.


“Sepertinya kamu soal makanan tidak secerewet dulu.”


“Dasar!”


“Aku juga sudah sangat merindukan kasurku yang empuk, semua pakaian, tas dan sepatuku. Mereka juga pasti sangat merindukanku.”


“Selamat ya kamu berhasil beradapatasi dengan dunia yang keras ini. Meskipun cuma sebentar.”


“Dunia yang aku hadapi memang sangat keras. Rasanya ingin menyerah saja. Karena hari ini adalah hari terakhirku bekerja jangan lupa berikan gajiku juga.”


“Tenang saja, aku akan mengirimkan gaji dan pesangon untukmu.” Artur kemudian meraih ponselnya dan mentransfer sejumlah uang kerekening Belinda.


“Sudah masuk! Coba cek.” Pinta Arthur. Belinda mengangguk. Dengan senang hati ia mengeceknya.


“Kok cuma satu digit?” protes Belinda.


“Memangnya kamu mau berapa digit? Apa 7 juta kurang banyak?”


“Aku kan beberapa kali lembur, masa iya cuma dapat segini. Kompensasi aku sakit juga tidak ada.”


“Hei, kamu saja saat sakit, aku yang merawatmu. Berapa kali kamu menginap dan makan gratis di rumahku? Bisa-bisanya kamu lupa itu. Uang lemburmu juga sudah aku berikan. Dan juga satu bulan asih dua hari. Sudah bagus aku memberikan full gajimu.”


“Ihh pelit banget sih, perhitungan.”

__ADS_1


“Bel, bersyukur. Aku ingin kamu belajar bersyukur dan kurangi mengeluh. Gajimu itu adalah gaji yang dinginkan oleh semua orang. Tidak semua orang menikmati gaji pertama mereka seperti gaji yang kamu dapat. Apa tidak ada rasa bangga dalam hatimu, ketika kamu bisa menghasilkan uang dengan keringatmu sendiri?”


“Iya-iya, maaf.”


“Dan kamu harus tahu, tidak semua orang memiliki kehidupan yang begitu beruntung sepertimu. Kamu dilahirkan dari keluarga yang berada, semua kebutuhanmu tercukupi dan tidak kurang suatu apapun. Mulai sekarang belajarlah untuk bersyukur, kamu mengerti kan?”


“Iya, aku mengerti. Kalau begitu, aku akan mendonasikan gajiku untuk anak-anak disekolahmu. Untuk mereka yang membutuhkan.”


Tentu saja Arthur dibuat terkejut oleh ucapan Belinda yang berniat ingin beramal.


“Kamu serius?”


“Iya aku serius. Karena mereka semua anak-anak yang hebat. Mereka selalu bersyukur dan selalu tersenyum meskipun fisik mereka tidak sempurna.”


“Aku bangga sekali denganmu, Bel. Kamu semakin dewasa sekarang.”


“Iya dong!” Ucap Belinda dengan sneyum lebarnya.


“Karena kebaikanmu, aku akan memberikanmu hadiah.”


“Hadiah apa?”


“Kamu ingin apa? Tas, sepatu, baju, perhiasan atau apa?”


“Ummm kalau diberi pilihan semua itu, tentu saja aku tidak menolak, hehehe.”


“Baiklah, selesai makan siang kita ke toko perhiasan. Aku ingin membeli cincin untuk pertunangan kita.”


“Bukannya Mama dan Tante Sofi sudah menyiapkannya?”


“Iya tapi aku ingin membelikan itu sesuai keinginanmu. Mereka membelikan untuk kita karena saat itu kita belum saling menyadari perasaan kita.”


“Iya, aku mau. Bagaimana kalau dengan sepatu dan gaun untuk pertunangan kita nanti?”


“Iya tidak masalah.”


“Oh kamu baik sekali. Terima kasih ya pacar.”


“Sama-sama pacar.”


 


... ...


......Bersambung..........

__ADS_1


__ADS_2