My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 164 Kita tidur bersama?


__ADS_3

''Sudah lama sekali kita tidak duduk berdua sambil minum kopi seperti ini.'' Ucap Arthur seraya mencecap secangkir kopinya.


''Iya juga. Kita biasanya setiap weekend duduk bersama di cafe, meskipun selalu berujung adu mulut.'' Ucap Arsen yang kini tengah duduk bersama dengan Arthur di ruang tengah.


''Tapi ngomong-ngomong kenapa mereka lama sekali ya?'' tanya Arthur.


''Apa kamu mulai mengkhawatirkan Belinda?'' goda Arsen.


''Tentu saja. Ini semua karena Om Keenan tahunya Belinda bersamaku, kalau sampai ada apa-apa kamu juga akan menyalahkan aku.''


''Tenang saja, mereka juga pergi dengan Pak Roni. Memangnya mereka pamit kemana?''


''Sheena katanya mengajak Belinda untuk ke salon.''


''Kalau soal urusan wanita, mereka pasti akan lama. Bagaimana Belinda akhirnya bisa kalian bujuk?'' tanya Arsen.


''Aku dan Sheena mengerjainya. Aku membuat Belinda ketakutan.'' Cerita Arthur seraya tertawa.


''Dasar! Kalian memang sama-sama jahil,'' ucap Arsen dengan senyum tipisnya.


''Nah, itu mereka sampai.'' Kata Arthur saat mendengar suara mobil Sheena. Pak Roni sampai kuwalahan membawa paperbag belanjaan keduanya, sekalipun Sheena dan Belinda berusaha membantunya.


''Ayo Pak masuk!'' ajak Belinda sambil melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Arsen dan Arthur melongo melihat belanjaan Belinda dan Sheena yang sangat banyak.


''Sayang, kamu belanja banyak sekali.'' Kata Arsen.


''Milikku ada di mobil dan hanya beberapa saja, Arsen. Ini semua milik Belinda.'' Jelas Sheena.


''Hehehe iya oppa, ini semua milikku.'' Jawab Belinda dengan senyum lebarnya.


''Darimana kamu mendapat uang untuk belanja sebanyak ini? Semua fasilitas kamu di cabut oleh Papa.''


''Eonni yang membelanjakan aku.''


''Sheena, kenapa kamu membelanjakannya sebanyak ini? Dia ini sedang dalam pengawasan Papa.'' Kata Arsen.


''Arsen, tidak apa-apa. Anggap saja ini hadiah dari kakak ipar. Lagi pula Belinda sedang bersedih dan dia butuh hiburan.''


''Nah, hanya eonni yang bisa mengerti perasaanku.''


''Sudahlah, kamu jangan marah-marah dia juga adik kamu sendiri.'' Ucap Sheena yang berusaha menenangkan Arsen.


''Oppa, setelah ini Papa akan menyuruhku tinggal di tempat lain. Aku hanya berusaha memenuhi kebutuhanku selama aku tidak tinggal di rumah.''


''Iya tapi ini berlebihan sekali, Bel.'' Bantah Arsen.


''Arsen, sudahlah jangan marah lagi. Kasihan Belinda. Nanti kalau moodnya balik seperti tadi dan dia jadi sakit, malah kita juga yang sedih,'' bisik Sheena. Arsen hanya bisa terdiam dan mendengsu mendengar ucapan Sheena.


''Sudah-sudah jangan ribut, lebih baik kita makan malam saja bagaimana? Namanya anak manja, di apa-apain tetap manja.'' Sahut Arthur.


''Kenapa sih syirik saja kalau aku bahagia?'' ketus Belinda.


''Lebih baik, bantu aku masak sekarang. Kita kan Tuan rumah yang sedang menyambut ipar.''


''Kita? Elo aja kali.'' Kata Belinda.


''Heh, sama orang tua pakai elo-elo? Kalau tidak mau disini, keluar sana.'' Ketus Arthur.


''Eh jangan Kak. Iya deh aku bantu masak. Tapi aku tidak bisa masak.''

__ADS_1


''Makanya belajar. Nanti kalau kamu hidup di luaran sana, apa-apa harus sendiri.''


''Iya-iya.''


''Arsen, Sheena, sebaiknya kalian disini saja. Biar aku dan Belinda yang memasak.''


''Oke, baiklah.'' Jawab Arsen. Arthur lalu menarik tangan Belinda dan mengajaknya ke dapur.


''Ambilkan aku panci!" pinta Arthur.


''Panci? Mmmm panci yang mana?'' tanya Belinda dengan gugup. Arthur menatap kesal Belinda.


''Panci saja tidak tahu? Keterlaluan sekali,'' kesal Arthur.


''Yang mana memang? Aku sungguh tidak tahu.''


Arthur hanya bisa menggeleng. Ia lalu mengambil semua peralatan masak yang ia butuhkan.


''Memang tidak pernah memasak?''


''Tidak pernah sama sekali.''


''Memasak air?''


''Kan ada teko listrik. Jadi semuanya serba listrik.'' Jawab Belinda dengan entengnya.


''Dasar bodoh!" gumam Arthur.


''Iya aku bodoh, bahkan sangat bodoh dan dirimu lah yang paling pintar.''


''Jangan banyak mengoceh! Perhatikan cara ku masak. Kita akan membuat mie udon untuk makan malam ini dengan cincangan daging sapi.'' Jelas Arthur. Belinda hanya mengangguk. Arthur pun mulai memasak, Belinda benar-benar memperhatikan cara Arthur mengupan dan mencincang bawang seperti seorang chef profesional. Tangan Arthur begitu lincah memasukkan semua bahan makanan, bahkan pekerjaannya sangat rapi daj bersih.


''Sekarang cicipi.'' Kata Arthur.


''Dari aromanya terbayang kelezatannya.'' Ucap Belinda.


''Terdengar seperti jingle iklan,'' ucap Arthur. Belinda hanya bisa meringis sambil mencicipi masakan Arthur.


''Hmmmm ini sangat, sangat, sangat lezat.'' Puji Belinda.


''Hinaan atau pujian?'' kata Arthur.


''Pujian lah.''


''Pujian bukan karena aku sudah memberimu tumpangan kan?''


''Tidak juga.''


''Lalu sampai kapan menumpang disini?'' tanya Arthur.


''Mmmmm sampai suasana hatiku membaik. Sebaiknya aku panggil Oppa dan Eonni untuk makan.'' Kata Belinda seraya berlalu. Belinda juga berusaha mengalihkan perhatian karena untuk saat ini ia masih ingin berada di rumah Arthur. Ia belum siap jika harus tinggal di kontrakan sempit.


''Hmmmm masakan Kakak enak juga ya. Ini baru pertama kali aku makan masakan Kakak.'' Ucap Sheena.


''Iya dong, aku spesial membuatkannya untukmu. Kamu tadi sudah membuatkan ku nasi goreng jadi sekarang giliranku masak untukmu.''


''Bagaimana dengan masakanku Sheena?'' sahut Arsen.


''Masakan mu juga sangat enak. Sudah tidak di ragukan lagi. Kalian para pria pintar sekali memasak.'' Ucap Sheena.

__ADS_1


''Itu karena kami sudah terbiasa mandiri,'' sahut Arthur.


''Oh ya Bel, sampai kapan kamu mau menginap disini? Kenapa tidak pulang saja?'' tanya Arsen.


''Mmmm aku masih takut kalau Papa dan Marah akan marah denganku.''


''Kenapa haris takut? Ada masalah harusnya di hadapi, bukan malah menghindar. Kalau kamu seperti ini terus, yang ada Papa dan Mama akan semakin marah.'' Kata Arsen.


''Iya-iya. Besok aku akan pulang.'' Jawab Belinda memelas. Setelah selesai makan malam, Arsen dan Sheena akhirnya memutuskan untuk pulang.


Belinda dan Arthur beridiri di ruang tengan melihat belanjaan Belinda yang sangat banyak.


''Jadi, kamu memeras adikku untuk mendapatkan semua ini?'' ucap Arthur dengan suara meninggi.


''Siapa sih yang memeras? Eonni Sheena memintaku untuk mengambil apapun yang aku ingin kan. Aku butuh semuanya. Skin care ku juga sudah menipis, shampo, sabun, lotion, parfum, semuanya juga menipis jadi sekalian saja belanja untuk beberapa bulan. Setidaknya aku bisa menghemat pengeluaranku untuk beberapa bulan.''


''Menghemat tapi kamu memeras orang lain kan? Lalu apa bedanya. Dan sekarang semua belanjaan ini mau kamu taruh dimana?''


''Ummm aku nitip ya, Kak. Nanti kalau aku pindah, aku ambil semua deh. Kalau aku bawa pulang, bisa di sita. Ayolah aku mohon! Aku kan sedang belajar, kalau langsung di tekan seperti itu, aku bisa stres.''


''Memang dasar menyusahkan sekali. Ya sudah masukkan sana ke kamar kamu.'' Kesal Arsen.


''Oh ya aku malam ini tidak mau tidur di kamar tamu.''


''Kenapa?''


''Sepertinya rumah mu horor terutama di kamar tamu.'' Kata Belinda dengan raut wajah takutnya. Arthur berusaha menahan tawanya mendengar ucapan Sheena.


''Ya sudah tidur di kamar lain saja.''


''Tidak mau! Rumah mu kan jarang di tempati pasti ruangannya ada penghuninya.''


''Lalu, apa yang kamu inginkan?''


''Aku tidur di kamarmu saja ya, Kak. Kamu yang pindah ke kamar lain.''


''Apa? Enak saja. Aku ini pemilik rumah, sedangkan kamu hanya penumpang. Enak saja mau mengatur pemilik rumah.''


''Ya sudah kalau begitu kita tidur di kamar yang sama aja.''


''Maksudmu?'' Arthur menaikkan satu alisnya.


''Jangan salah paham dulu. Kakak tidur di ranjang, aku tidur di sofa tidak masalah, asalkan aku tidak tidur sendiri. Please aku mohon,'' ucap Belinda sambil mengatupkan kedua tangannya.


''Oke baiklah tapi ada syaratnya?''


''Apa?''


''Cuci semua mangkok tadi dan bersihkan dapur juga ruang makan, setelah itu kamu baru boleh tidur di kamarku.''


''Apa tidak ada syarat yang lain?''


''Kalau tidak mau ya sudah.'' Jawab Arthur seraya berlalu. Namun Belinda buru-buru menarik lengan Arthur.


''I-iya deh aku bersihkan tapi jangan di kunci ya kamarnya. Nanti Kakak mengerjaiku lagi.''


''Iya bawel! Sudah kerjakan sana.''


''Oke siap!" jawab Belinda dengan penuh semangat. Arthur tersenyum kecil bisa memberi pelajaran kecil untuk Belinda.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2