
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ekor mata Arthur melihat Belinda tampak memegangi perutnya.
''Kapan kita pulang?'' tanya Belinda lirih.
''Baiklah, ayo kita pulang sekarang. Sekaligus kita makan malam. Biarkan motormu disini, aku akan mengantarmu pulang.''
''Oke. Jadi aku tidak perlu kedinginan terkena angin malam karena kamu mengajakku lembur.'' Ucap Belinda sembari memberesjan mejanya, begitu pula dengan Arthur.
Kini keduanya sedang dalam perjalanan menuju sebuah restoran. Sesampainya disana, Belinda segera memesan makanan yang ia inginkan, begitu pula dengan Arthur. Beberapa menit kemudian pelayan datang membawa makanan yang sudah dipesab oleh keduanya. Tanpa banyak bicara, Belinda segera makan dengan lahapnya. Sesekali Arthur melihat Belinda yang makan seperti orang kelaparan. Setelah saling diam dan fokus pada makanan masing-masing, Arthur dan Belinda memutuskan pulang. Namun tiba-tiba pandangan Belinda tertuju pada seseorang di seberang jalan sana. Dave masuk ke dalam sebuah diskotik bersama seorang wanita. Karena kebetulan diseberang restoran itu adalah sebuah diskotik.
''Aku mau kesana." Kata Belinda pada Arthur sesaat belum keduanya naik mobil.
''Mau kemana Bel?''
''Ke diskotik itu. Ayo antar aku kesana, Kak.''
''Untuk apa Bel? Kamu mau dugem? Nanti orang tuamu bisa marah.''
''Ayolah! Aku tadi melihat Dave masuk kesana.''
''Oh kekasihmu masuk kesana? Baguslah.''
''Kok bagus sih? Sudah ayo.'' Belinda lalu menarik paksa lengan Arthur. Mereka lalu menyeberang jalan menuju diskotik. Tentu saja di dalam sangat bising, mata Belinda mencari-cari Dave. Berharap ia salah mengenali seseorang namun saat ini perasaannya sungguh gelisah. Namun mata Arthur lebih tajam, ia melihat Dave menuju lantai atas VIP room. Arthur masih membiarkan Belinda untuk mencari disetiap sudut kursi dan juga lantai dansa.
''Kemana sih? Tadi aku melihatnya.'' Kata Belinda pada Arthur.
''Kita coba naik keatas. Disana masih ada ruangan lagi.'' Kata Arthur. Belinda mengangguk dan ia segera berlari menaiki anak tangga menuju VIP room. Belinda sempat khawatir ruangan itu dijaga ketat oleh penjaga. Hanya yang memiliki member card saja yang bisa masuk. Akhirnya Arthur harus menyogok penjaga yang berusaha menghalanginya memeriksa ruangan itu. Tentu saja sebuah member card kalah dengan lembaran-lembaran rupiah yang Arthur berikan. Akhirnya Arthur dan Belinda memeriksa satu persatu ruangan itu. Sungguh menjijikkan apa yang mereka lihat disetiap kamar yang mereka buka, apalagi yang di lakukan seseorang dalam ruangan itu selain berbuat mesum. Hingga akhirnya Belinda dan Arthur sampai di kamar paling ujung.
''Tersisa kamar ini Bel, kamu buka saja.'' Kata Arthur yang mempersilahkan Belinda untuk membukanya. Antara gelisah dan sedih, Belinda seolah tidak siap jika harus sakit hati apabila hal itu memang benar.
__ADS_1
Belinda kemudian memberanikan diri untuk membuka pintu terakhir itu. Perlahan Belinda membuka pintu kamar itu. Hal yang mengejutkan ada di depan matanya. Belinda melihat Dave bermesraan dengan seorang wanita. Wanita itu ada di pangkuan Dave. Wanita itu dan Dave saling berciuman sementara tangan Dave mere...mas buah dada wanita itu. Air mata Belinda pun lolos begitu saja.
''Dave!" panggil Belinda lirih. Mendengar suara Belinda, Dave sangat terkejut. Ia segera menurunkan wanita itu dari pangkuannya. Bukan seorang gadis muda, melainkan seorang wanita yang pantas di panggil Ibu oleh Dave. Lebih tepatnya seorang tante kesepian.
''Bel-Belinda. Kamu untuk apa disini?'' tanya Dave terbata.
''Siapa dia Dave?''
''Di-dia kekasihku.'' Jawab Dave gugup.
''Dave, aku tidak peduli kamu memiliki kekasih ataupun tidak. Yang jelas aku sudah membayarmu full dan kamu harus melayaniku sesuai kesepakatn kita.'' Ujar Wanita itu pada Dave. Arthur tidak ingin ikut campur jadi ia menunggu Belinda di luar ruangan itu.
''Apa maksudnya Dave? Membayar apa maksudnya?'' Belinda berjalan mendekat sambil memukul dada Dave.
''Nona, pria bule ini adalah teman tidurku. Dia menyewakan jasa memuaskan diatas ranjang. Apa Nona sudah mencobanya juga?''
''Aku bahkan tidak ingin mencobanya.'' Kata Belinda.
''Jadi selama ini usaha jasa yang kamu katakan adalah ini, Dave? Apa ini pekerjaanmu yang sebenarnya?'' ucap Belinda terisak dalam tangisnya.
''Dave sayang, selesaikan dulu masalahmu ya. Aku tunggu kamu di mobil.'' Ucap wanita itu seraya berlalu meninggalkan ruangan itu.
''Iya, ini pekerjaan sampinganku. Dan aku menikmatinya. Aku bisa have fun sekaligus mendapatkan uang. Kamu saja yang bodoh, sangat mudah di tipu. Tenang saja, aku akan mengembalikan uangmu. Aku sendiri sudah muak denganmu, Bel. Kamu terlalu naif untuk melakukan hubungan itu. Dan sekarang tidak ada lagi yang bisa aku manfaatkan darimu. Maafkan aku, terima kasih dan selamat tinggal.'' Ucap Dave dengan begitu fasihnya tanpa rasa bersalah ataupun berdosa sedikitpun pada Belinda. Dave kemudian pergi meninggalkan ruangan itu dan kembali menemui wanitanya. Belinda hanya bisa tertegun dan menangis sejadinya. Belinda tidak percaya jika Dave yang selama ini begitu ia banggakan ternyata hanya pria sewaan untuk memuaskan hasrat para wanita kesepian.
Arthur kemudian masuk ke ruangan itu, melihat Belinda menangis membuatnya merasa iba. Arthur kemudian memeluk Belinda.
''Ayo kita pulang, Bel. Tidak ada gunanya kamu menangis disini.''
''Aku tidak sanggup berjalan, Kak. Kakiku rasanya lemas. Sekarang kamu puas kan? Kamu sekarang bisa mentertawakan aku. Silahkan tertawa sepuasmu! Kalau perlu kamu bisa menyiarkannya di infotainment untuk mentertawakan aku.'' Ucap Belinda dengan tersedu-sedu.
__ADS_1
''Sudah, jangan banyak bicara. Kita tinggalkan tempat ini dan pulang. Naiklah ke punggungku.'' Kata Arthur sambil menyodorkan punggungnya. Belinda sambil terus menangis naik ke punggung Arthur. Arthur kemudian menggendong Belinda dan segera membawanya menuju mobil. Di dalam mobil pun Belinda tidak berhenti menangis.
''Aku antar kamu pulang ya.''
''Aku tidak mau pulang. Nanti Papa dan Mama pasti akan menginterogasiku. Mereka pasti akan menyalahkan dan mentertawakan aku setelah tahu bahwa aku mencintai orang salah. Bawa aku pulang ke rumahmu saja.'' Kata Belinda.
''Oke baiklah." Arthur kemudian melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan, Belinda terus menangis. Arthur hanya bisa diam dan membiarkan gadis disampingnya menumpahkan segala kesedihannya dengan cara menangis.
''Turunlah, kita sudah sampai dirumahku.'' Kata Arthur.
''Aku bahkan tidak mampu berjalan, Kak. Kakiku lemas, aku syok melihat yang baru saja terjadi.''
''Astaga, sedih saja masih bisa manja. Memang dia ini aneh.'' Gerutu Arthur dalam hati. Arthur kemudian keluar dari mobilnya dan ia menawarkan kembali punggungnya untuk Belinda. Belinda yang masih terus saja menangis, segera naik ke punggung Arthur. Arthur lalu membawa Belinda ke kamar tamu. Arthur lalu mendudukkan Belinda di bibir kasur.
''Sudahlah jangan menangis lagi. Air matamu terlalu berharga untuk menangisi pria seperti itu. Sekarang kamu tahu kan kenapa aku menyuruhmu hati-hati? Sejujurnya aku tidak masalah jika kamu membatalkan perjodohan ini karena kamu sudah memiliki kekasih tapi itu jika pilihanmu sudah tepat, Bel. Tapi kalau tidak tepat seperti itu, kamu akan tersakiti. Kalau kamu sedih, orang pertama yang sedih adalah kedua orang tuamu. Kalau terjadi sesuatu denganmu, orang pertama yabg paling sedih dan terpukul adalah orang tuamu. Kalaupun pilihanmu adalah pria baik-baik, aku pasti akan mendukungmu dan aku akan membantumu untuk mendapatkan restu.'' Jelas Arthur. Belinda hanya bisa menangis mendengar ucapan Arthur. Arthur kemudian menunjukkan vidio kebusukan Dave pada Belinda.
''Lihat vidio ini. Aku diam-diam merekam ini. Aku pun terkejut karena pria yang kamu cintai adalah pria seperti itu. Makanya aku memintamu hati-hati.''
''Kenapa kamu baru bilang sekarang?'' tanya Belinda.
''Kalaupun aku menunjukkan langsung padamu, apa kamu percaya? Kamu pasti menuduhku hanya merekayasa, iya kan? Tapi hari ini mulut pria itu mengatakan kebenarannya sendiri di hadapanmu.'' Ucap Arthur. Tangis Belinda semakin menjadi setelah melihat isi vidio itu.
''Dasar berengsek!'' umpatnya pada Dave.
''Sudah jangan menangis, lebih baik kamu istirahat. Nanti matamu bisa bengkak kalau terlalu banyak menangis.'' Arthur lalu membantu menyeka air mata Belinda.
''Nanti bagaimana dengan Papa dan Mama?''
''Nanti biar aku yang bicara. Sekarang mandi, lalu istirahat. Aku ke kamar dulu.'' Ucap Arthur seraya berlalu meninggalkan kamar tamu itu.
__ADS_1
Berasambung.....