
Begitu sampai di kontrakannya, Brian lagi-lagi dibuat mabuk darat. Brian benar-benar lemas dan sudah tidak punya tenaga. Kepalanya sangat pusing dan entah berapa kali dia muntah. Gea dan Pak supir memapah, membantu Brian berbaring diatas tempat tidurnya.
''Kamu istirahat dulu ya. Aku buatkan minuman hangat.'' Ucap Gea.
''Iya.'' Jawabnya lirih.
''Tuan muda tidak apa-apa? Apa perlu saya panggilkan dokter?'' ucap Pak Supir setelah Gea keluar dari kamar.
''Tidak usah. Kamu pulang saja.''
''Baik Tuan muda, kalau begitu saya permisi.''
''Iya, terima kasih.'' Pak supir pun pamit meninggalkan Brian yang terkulai lemas di kamarnya. Beberapa menit kemudian, Gea kembali dengan secangkir teh panas.
''Brian, minumlah.''
''Iya Ge, nanti ya. Aku lemas sekali.''
''Aku kerokin ya. Supaya kamu tidak masuk angin.''
''Hah? Kerok? Apa itu kerokan?'' tanyanya dalam hati.
''Ah, tidak usah Gea. Kamu istirahat saja.''
''Sudahlah, menurut saja. Sekarang lepas bajumu.'' Perintah Gea.
''Hah? Lepas baju? Ma-mau apa?''
''Sudah, jangan berpikir aneh-aneh ya. Mesum saja pikiranmu ini.'' Kesal Gea. Brian dengan sisa tenaganya, melepaskan sweater dan kaos yang membalut tubuhnya. Untuk sesaat, Gea dibuat takjub dan terpesona melihat perut Brian yang six pack. Membuat jantungnya berdegup kencang, melihat seorang pria bertelanjang dada dihadapannya.
''Tengkurap!" perintah Gea dengan segala rasa gugupnya. Brian mengangguk lalu tengkurap. Gea lalu ngambil koin dan minyak angin.
''Aduh Gea!" teriak Brian dengan kencang.
''Kamu tidak pernah kerokan?''
''Tidak!" jawabnya sambil meringis menahan sakit.
''Kamu mau membunuhku ya, Ge. Ini seperti digaruk pakai cangkul, tau.'' Ocehnya dengan kesal.
''Tahan! Nanti juga enakan.'' Gea tidak bisa menahan tawa melihat Brian menggeliat sambil berteriak kesakitan. Namun Brian yang sudah cinta mati pada Gea, sesakit apapun akan ia tahan. Apapun yang di minta oleh Gea, pasti akan di turutinya. Akhirnya terbentuklah goresan-goresan koin di punggung Brian.
''Gea, apa punggungku lecet?'' tanya Brian dengan suara lemas.
__ADS_1
''Sebentar, aku foto dulu.'' Kekeh Gea. CEKREK!
"Nih, lihat sendiri.''
''Hah? Jadi seperti di cambuk begini.''
''Itu namanya kerokan. Ya sudah sekarang pakai bajumu dan istirahat.''
''Tolong ambilkan baju yang lain, Ge.''
''Iya.'' Gea lalu mengambilkan Brian kaos.
''Nih,'' ucap Gea. Brian kemudian berusaha untuk bangun dan duduk di tepi ranjang, disamping Gea.
''Aduh, rasanya,'' keluhnya meringis menahan sakit.
''Udah mendingan kan?''
''Kamu sepertinya melakukan penuh dendam ya, Ge.''
''Ih memang begitu Brian. Ya sudah, aku pulang ya. Besok kita harus kerja.'' Gea pun beranjak dari duduknya namun tiba-tiba Brian menarik tangan Gea. Membuat Gea terjatuh di atas pangkuan Brian dengan posisi menyamping.
''Brian, jangan macam-macam ya.'' Ancam Gea dengan tubuh yang sudah di kunci oleh Brian.
''Brian,'' lirih Gea.
''Hmmmm?''
''Aku-aku...''
''Kenapa Gea?''
''Aku merasa ada sesuatu yang keras yang sedang aku duduki.'' Ucap Gea dengan tatapan polosnya. Brian mengerutkan keningnya mendengar ucapan Gea.
''Abaikan saja.'' Jawabnya asal.
''Gea, boleh aku menciummu? Seperti yang kamu lakukan saat itu.''
''Hah?'' Gea terbengong. Sesuatu itu makin keras menusuk pantatnya. Brian yang masih bertelanjang dada, membuat Gea semakin salah tingkah. Apalagi kulit tangannya bersentuhan dengan kulit tubuh Brian. Brian mengangkat dagu Gea dan mengecup bibir Gea. Kecupan itu tidak membuat Gea marah dan berteriak seperti biasanya. Lagi, Brian mengecup untuk kedua kalinya. Keduanya saling menatap lalu tersenyum. Ketiga kalinya, mereka berciuman kembali dengan kesadaran penuh. Tangan Gea langsung melingkar di leher Brian. Ciuman keduanya semakin dalam dan semakin intens. Hingga membuat lidah keduanya bertemu dan saling bertaut di dalam sana. Menimbulkan suara kecapan pada kedua bibir yang saling bertaut itu. Nafas keduanya memburu. Gea merasakan tubuhnya terasa panas, begitu pula Brian. Gairah keduanya semakin meninggi. Seakan ingin melakukan lebih dari sekedar ciuman. Membuat pasokan oksigen di antara keduanya berkurang karena ciuman dan sesapan bibir Brian yang begitu panas. Membuat bibir Gea memerah. Gea semakin bisa merasakan benda keras yang ia duduki. Gea akhirnya sadar bahwa benda keras itu adalah benda pusaka milik Brian. Hampir sepuluh menit bibir keduanya bertaut sampai Brian melepaskan pagutannya. Brian menempelkan keningnya pada kening Gea. Nafas yang memburu itupun beradu.
''Aku mencintaimu, Gea.''
''Aku juga mencintaimu, Brian.'' Ucap Gea dengan senyuman manisnya. Kini giliran Gea yang memagut bibir Brian. Brian terkejut karena Gea berinisiatif. Tanpa ragu, Brian langsung membalasnya. Brian mengangkat tubuh Gea lalu direbahkannya tubuh Gea diatas tempat tidur tanpa melepaskan pagutannya. Brian menggenggam tangan Gea, mengangkatnya sejajar dengan kepala Gea. Gea berusaha mengimbangi ciuman Brian yang sangat hebat. Tentu saja Brian sudah sangat berpengalaman untuk urusan itu. Brian melepaskan pagutannya, lalu menghujani wajah Gea dengan ciuman. Sampai ciuman itu turun di leher Gea.
__ADS_1
''Mmmhhhh,'' desah kecil Gea. Brian terkejut, kecupan di lehernya membuat Gea bereaksi seperti itu. Brian senang, Gea tidak memberontak. Itu artinya Gea sudah sepenuhnya mencintainya. Brian segera mengakhirinya, teringat ucapan Ayah Gea dan juga Papanya. Brian langsung merebahkan tubuhnya disamping Gea sembari mengatur nafasnya yang sudah memburu sejak tadi. Gea terkejut karena Brian mengakhirinya tiba-tiba.
''Gea, jangan bodoh! Jangan meminta lebih.'' Gea merutuk dalam hati.
''Maafkan aku, Gea.''
''Untuk apa?''
''Untuk apa yang aku lakukan barusan. Aku hampir saja kebablasan. Kamu pasti masih trauma.''
''Tidak Brian. Kamu yang membuatku sembuh dari trauma. Kalau aku masih trauma, aku mungkin akan menolakmu.'' Ucap Gea. Brian lalu menarik Gea dalam dekapannya.
''Tidur disini saja ya, temani aku.'' Pinta Brian. Oh, wajah Gea tepat didepan dada Brian yang sedari tadi belum mengenakan baju. Gea lalu membalas dengan melingkarkan tangannya pada tubuh Brian.
''Iya. Aku akan tidur disini. Kapan kamu membawaku ke tempat orang tuamu?''
''Secepatnya Gea. Aku ingin segera menikahimu.''
''Kita masih terlalu muda, Brian. Tidak bisa ya menunggu saat usia kita 27 tahun? Aku masih belum bisa membahagiakan orang tua ku? Bahkan belum ada satupun mimpi yang bisa aku wujudkan.''
''Terlalu lama, Gea. Aku takut tidak bisa menahan diri lagi. Kamu juga tahu kalau juniorku masih mengeras kan. Bagaimana dia bisa menahan diri kalau setiap hari kita bertemu seperti ini? Untuk mimpi, aku akan mewujudkan semua mimpimu. Aku juga akan membantumu membahagiakan orang tuamu.''
''Kamu memang pandai merayu, Brian. Memang juniormu tidak bisa ya di suruh tidur apa? Dia mengenai perutku.''
''Tidak bisa. Dia tidak akan tidur sebelum dia bersin. Apalagi saat berdekatan denganmu begini. Sudah, nikmati saja.''
''Bersin bagaimana?''
''Kamu mau membuatnya bersin? Supaya dia bisa tidur nyenyak.'' Goda Brian.
''Ah, sudah ah. Malah mesum. Sebaiknya aku pulang saja.'' Gea berusaha melepaskan diri dari dekapan Brian.
''Sssttt tidurlah. Nanti dia akan tertidur sendiri. Atau aku akan....'' Gea langsung menutup mulut Brian. Tentu saja Gea pasti akan tergoda dengan Brian tapi Gea juga berusaha menjaga kehormatannya.
''Brian, tahukah kamu kalau aku juga berusaha menahan. Munafik kalau aku tidak ingin lebih. Tapi... ah sudahlah Gea, sebaiknya kamu tidur.'' Gea bergumam dalam hati dengan dirinya sendiri.
''Huft tahan, Brian. Tahan! Anggap saja ini sebagai latihan menahan hawa naf...su. Ingat, untuk menjaga Gea. Tapi aku tidak akan bisa tidur kalau terus tegang begini.'' Brian pun memberontak dalam hati.
''Mmmm aku ke kamar mandi dulu ya, Ge. Jangan kemana-kemana dan tidurlah. Perutku tiba-tiba sakit.''
''Iya, aku akan disini.'' Brian beranjak dari tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi. Dan akhirnya Brian menuntaskan hasratnya disana.
''Oh sial! Apa aku bisa tahan jika harus seperti ini.'' Gumamnya dalam hati saat Brian berhasil mencapai pelepasannya. Dengan membayangkan wajah Gea.
__ADS_1