
''Hai Kak!" sapa Sheena saat Arthur membuka pintu utama untuknya.
''Hai juga adikku. Mana suamimu?'' tanya Arthur sambil mengelus kepala Sheena.
''Arsen langsung berangkat ke kantor. Sebelum resepsi, dia ingin menuntaskan pekerjaannya. Oh ya ini nasi goreng request untuk Kak Arthur.''
''Terima kasih, Sheena.''
''Oh ya Belinda bagaimana?''
''Masih di kamar. Aku sudah menyiapkan sarapan untuknya tapi dia tidak mau keluar juga. Pintu kamarnya di kunci.''
''Dia ada di kamar mana?''
''Ada di kamar tamu. Kamu susul saja dia.'' Kata Arthur.
''Ya sudah, aku temuin Belinda dulu ya. Nasi gorengnya jangan lupa dimakan. Oh ya, sekalian aku bawa sarapannya Belinda.''
''Oke sebentar aku ambilkan.'' Arthur segera menuju dapur. Seporsi sandwich dan susu full cream sudah tersaji di atas nampan.
''Ini Sheena. Tolong bujuk dia ya. Aku khawatir kalau dia berlarut dalam kesedihannya.''
''Iya, Kakak tenang saja. Sepertinya kita harus membuat rencana untuk memaksa Belinda keluar.'' Kata Sheena.
''Apa itu?'' tanya Arthur. Sheena kemudian membisikkan sesuatu pada Arthur. Arthur mengangguk dengan senyum sumringahnya. Tentu saja mengerjai Belinda adalah hobinya. Sheena kemudian menuju kamar tamu sambil membawa nampan berisi sarapan.
''Belinda, ini eonni! Ayo buka pintunya.'' Kata Sheena sambil mengetuk pintu kamarnya. Belinda sendiri masih duduk diatas tempat tidurnya sambil memeluk kakinya.
''Aku ingin sendiri eonni!" sahut Belinda dari dalam.
''Kamu sudah terlalu lama sendiri, Bel. Kamu tahu kalau orang sendirian di kamar, melamun, bisa mudah kemasukan lho. Kamu tidak takut di kamar sendirian? Sesuatu yang tak kasat mata pasti sedang memperhatikan kamu yang sedang sedih. Kamu tahu kan kalau makhluk astral suka sekali menganggu orang yang pikirannya kosong, sedih dan banyak melamun?''
''Biarkan eonni! Aku ingin sendiri.'' Bantah Sheena. Namun tiba-tiba terdengar suara aneh di dalam kamar itu. Belinda mulai merasa merinding. Dan tiba-tiba shower di dalam kamar mandi menyala sendiri.
''Eonni! Apa eonni masih di luar?'' teriak Belinda.
''Iya Bel, makanya buka pintunya. Eonni bawa sarapan untuk kamu.'' Sahut Sheena dsri luar. Dengan tiba-tiba pula shower pun mati sendiri. Belinda semakin merinding. Belinda lalu melompat dari tidurnya dan segera membuka kunci pintu kamarnya.
''Bel, kenapa wajah kamu seperti ketakutan?'' tebak Sheena. Padahal Sheena dan Arthur sengaja menakut-nakuti Belinda supaya Belinda mau keluar.
__ADS_1
''Ti-tidak apa-apa.''
''Ya sudah ayo kita ke ruang makan. Kak Arthur sudah membuatkan sarapan untuk kamu.'' Ucap Sheena. Belinda kemudian mengekot Sheena menuju ruang makan.
''Kak Arthur mana, eonni?'' tanya Belinda.
''Dia sedang di kamar. Ya sudah kamu makan dulu.''
Namun Belinda hanya diam sambil menatap makanan yang ada di hadapannya.
''Kenapa? Masih sedih juga?''
''Bukan hanya sedih, eonni. Aku kecewa, sakit hati, hancur dan merasa di permainkan. Eonni pasti tidak pernah merasakan sakit hati kan? Karena hubungan eonni dan oppa mulus-mulus saja.''
''Siapa bilang Belinda, eonni pernah merasakan sakit hati sebelum bersama oppa Arsen. Percayalah, menjalin cinta tanpa restu itu lebih menyakitkan. Apalagi restu itu terhalang oleh status sosial. Meskipun di hianati juga sakit tapi setidaknya Tuhan sudah menunjukkan pada kita kalau dia bukanlah pasangan yang terbaik untuk kita. Sekarang, Tuhan sedang menunjukkan sama kamu bahwa Dave bukanlah pria yang baik dan bukan pria yang tepat untuk kamu. Dia saja tidak sedih dengan perpisahan ini, lalu kenapa kamu harus berlarut dengan kesedihan? Bahkan setelah berpisah kemarin, dia sudah bersenang-senang dengan wanita lain, sedangkan kamu menangisi dia. Pria yang tidak pantas mendapat ketulusan dari kamu. Kamu boleh kok sedih, menangis, kecewa tapi jangan berlarut-larut ya. Karena orang yang kamu tangisi, sama sekali tidak memikirkan perasaan kamu. Sudah saatnya move on!" Sheena kemudian membelai wajah cantik Belinda yang tampak sendu itu.
''Lihat deh mata kamu bengkak dan sembab karena kebanyakan nangis. Terus ini ada mata pandanya juga. Bagaimana kalau setelah ini kita ke salon?'' hibur Sheena.
''Tapi aku harus ke kantor, eonni. Nanti Kak Arthur marah.''
''Nanti eonni yang minta ijin.'' Kata Sheena. Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki Arthur menuruni anak tangga.
''Iya boleh saja tapi hanya sehari ya.''
''Iya Kak. Kasihan kan tuh matanya bengkak gitu.''
''Tapi makan dulu, Bel. Aku mau berangkat ke kantor sekarang.'' Kata Arthur.
''Iya-iya,'' jawab Belinda.
''Makanya jangan berlarut dalam kesedihan. Pria brengsek itu saja senang-senang dengan wanita itu, eh kamu malah meraung-meraung. Kalau aku jadi kamu, setetes air mata pantang aku tumpahkan.'' Kata Arthur dengan rasa jengkelnya.
''Sudah deh jangan ceramah.'' Sahut Belinda.
''Kamu di ceramahin saja tidak mempan.'' Kesal Arthur.
''Oh ya Sheena, nasi gorengnya aku makan di kantor ya.''
''Iya Kak. Kakak hati-hati ya.''
__ADS_1
''Iya, kamu jagain tuh anak manja.'' Ucap Arthur seraya berlalu.
''Ya sudah, kamu mandi ya.''
''Tapi aku takut mandi di kamar itu. Tadi ada suara-suara aneh.''
''Ya sudah, mandi di kamar Kak Arthur saja.i'
''Mmmm temani aku ya eonni.'' Kata Belinda dengan tatapan memelas.
''Iya-iya. Maklum ya rumah Kak Arthur ini kan sudah lama kosong dan baru di tempati lagi akhir-akhir ini. Jadi kita abaikan saja kalau ada sesuatu yang aneh.'' Goda Sheena.
''Eonni, jangan buat aku takut.''
''Maaf-maaf. Tapi ini di makan dulu.''
''Iya, lebih baik aku makan dulu.''
Sheena merasa lega, akhirnya ia bisa membujuk Belinda untuk keluar dan makan. Setelah menunggu Belinda mandi, Sheena dan Belinda segera pergi ke salon. Mereka berdua melakukan serangkaian perawatan yang tentunya membuat Belinda lebih rileks dari sebelumnya. Rasa lelah dan beban pikiran, seketika terhempas. Selepas menghabiskan waktu ke salon, Sheena mengajak Belinda ke bioskop. Sheena sengaja memilih film komedi untuk membuat senyun dan tawa Belinda mengembang kembali. Dan cara itu ampuh untuk membuat Belinda tertawa. Hari itu keduanya tampak cantik sekali, sehingga menjadi pusat perhatian. Setelah puas menonton film, keduanya pergi belanja. Dan belanja juga mampu mengembalikan mood Belinda yang sempat kacau.
''Eonni, tapi aku sungguh tidak punya uang. Papa kan sedang menyita semua fasilitasku.'' Kata Belinda yang teringat kembali kalau dirinya benar-benar NOL.
''Tidak apa-apa, kamu ambil saja yang kamu mau. Nanti eonni yang bayar ya.''
''Tapi kalau Papa marah bagaimana?''
''Biar eonni yang menjelaskannya nanti. Kamu letakkan belanjaan kamu di rumah Kak Arthur saja. Toh nanti kalian juga akan menikah kan?'' goda Sheena.
''Eonni, aku memang menyukaimu tapi Kakakmu terlalu menyebalkan.'' Kata Belinda dengan bibir manyunnya yang menggemaskan.
''Mungkin saat ini menyebalkan tapi nanti? Awas lho ya kalau kamu jatuh cinta.''
''Ahhh eonni, sudahlah jangan membahas itu. Aku mau ambil pakaian, tas, sepatu dan aksesoris boleh?''
''Boleh saja. Kamu ambil yang kamu mau.''
''Ohh eonni ku memang sangat baik.'' Belinda dengan manja memberikan pelukan dan kecupan di pipi Sheena. Sheena hari itu benar-benar membuat Belinda lupa akan kesedihannya. Dan hari itu pula, keduanya sampai lupa waktu kalau hari semakin gelap.
Bersambung....
__ADS_1