My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 171 Berita Duka


__ADS_3

Sesampainya di rumah tanpa banyak bicara, Arsen langsung menuju ruang kerjanya.


''Arsen, kamu kenapa?'' tanya Sheena sambil membuntuti Arsen menuju ruang kerjanya.


''Menurutmu?'' ketusnya.


''Astaga, kenapa sih kamu mendadak aneh? Ini hari libur, aku ingin liburan, pingin seneng-seneng, eh kamu malah begitu,'' kesal Sheena.


''Aku mau menyelesaikan pekerjaanku.''


Sheena hanya bisa mendengus dan membiarkan Arsen menenangkan diri terlebih dahulu. Saat Sheena hendak ke kamarnya, ponselnya berdering. Ada nama Lila disana.


''Halo Lila, ada apa?'' tanya Sheena. Bukannya menjawab tapi Lila menangis meraung-meraung.


''Lila, elo kenapa? Jangan bikin khawatir dong.''


''Sheena, Mas Yoga....,''


''Iya, Mas Yoga kenapa?''


''Mas Yoga kecelakaan dan sekarang kondisinya kritis, Sheena. Aku sekarang di rumah sakit.''


''Ya Allah, Lila, kamu tenang ya. Aku sekarang kesana. Kamu WA aja di rumah sakit mana. Please, tenang ya. Semoga Mas Yoga baik-baik saja.''


''Iya Sheena.'' Panggilan pun berakhir. Sheena segera kembali ke ruang kerja Arsen.


''Arsen, aku mau ke rumah sakit.''


''Siapa yang sakit?''


''Itu pacarnya Lila kecelakaan dan sekarang kondisinya kritis.'' Kata Sheena dengan suara gemetar. Melihat wajah panik Sheena, membuat marah Arsen seketika mereda.


''Aku akan mengantarmu.'' Ucap Arsen. Akhirnya Arsen dan Sheena segera pergi kerumah sakit tempat Yoga di rawat. Sesampainya di rumah sakit, Sheena segera menuju ruang IGD. Tampak Lila mondar-mandir di depan pintu ruang IGD.


''Lila!" panggil Sheena. Lila menoleh saat mendengar suara Sheena. Sheena kemudian memeluk erat Lila.

__ADS_1


''Lila, bagaimana bisa terjadi?''


''Tadi pagi Mas Yoga kecelakaan saat perjalanan menuju kontrakan ku, Sheena. Mas Yoga mengalami kecelakaan beruntun karena ada truk yang remnya blong, bahkan beritanya sudah masuk televisi. Dan di mobil Mas Yoga aku menemukan ini.'' Cerita Lila dengan sesenggukan. Lila menunjukkan sebuah kotak kecil yang berisi dua cincin. Melihat itu, Sheena pun tak kuasan menahan tangisnya. Kejadian ini, malah membuatnya teringat dengan kecelakaan yang menimpa Fandi dulu.


''Jadi hari ini gue dan Mas Yoga berencana menemui Ayah dan Ibu. Mas Yoga ingin meminta ijin pada Ayah dan Ibu mengenai kelanjutan hubungan kami. Tapi ternyata di tengah jalan Mas Yoga mengalami kecelakaan beruntun dan ternyata Mas Yoga sudah menyiapkan cincin itu.''


''Lila, aku sama sekali tidak tahu kecelakaan itu. Karena aku tadi mengantar Kakak iparku ke bandara. Kita berdoa semoga Mas Yoga baik-baik saja.'' Sheena kembali memeluk sahabatnya itu.


Akhirnya dokter pun keluar.


''Dokter bagaimana keadaan pasien?'' tanya Lila.


''Maafkan kami Nona. Pasien tidak bisa diselamatkan, melihat kondisinya yang mengalami patah tulang dibagian rusuk dan itu melukai organ dalam pasien. Kepalanya juga mengalami benturan yang sangat hebat, sehingga pendarahan tidak bisa di hentikan. Pasien juga mengalami patah tulang di kaki dan juga leher. Sekali lagi maafkan kami Nona, kami sudah berusaha tapi semua ini sudah menjadi kehendak Tuhan. Yang tabah ya, Nona.''


''Tidak mungkin, Dokter. Mas Yoga pasti selamat!" tangis Lila sambil mencengkeram kuat lengan Dokter. Sheena berusaha melepaskan tangan Lila dan lengan dokter dan memeluknya.


''Sheena, tidak mungkin Mas Yoga meninggal. Mas Yoga.'' Tangis Lila meraung-meraung. Tidak bisa menahan rasa sedihnya kehilangan calon suaminya. Sheena tidak bisa berkata apapun selain memeluk Lila dengan erat.


''Lila, dimana orang tua calon suamimu?'' tanya Arsen terbata.


''Arsen, Mas Yoga itu yatim piatu. Kamu tolong bantu urus semuanya ya.'' Pinta Sheena.


Hari itu juga, Yoga segera dimakamkan. Orang tua Lila baru saja tiba dan langsung menuju pemakaman. Lila menangis dalam pelukan Ibunya.


''Sabar ya, Nak. Kamu doakan Yoga, supaya dia tenang disana.'' Ibu Lila sendiri tidak kuasa menahan tangisnya karena Yoga sudah mereka anggap anak sendiri. Arsen dan Sheena juga berada disana untuk menemani Lila.


''Tuan Arsen, terima kasih untuk bantuan anda. Maaf kalau saya harus mengambil cuti dulu.''


''Tidak apa-apa Lila. Tenangkanlah dirimu dulu. Kembalilah bekerja saat suasana hatimu kembali membaik.'' Ucap Arsen.


''Sekali lagi terima kasih Tuan Arsen. Sheena, terima kasih ya.''


''Tidak perlu berterima kasih, Lila. Kamu harus kuat ya, Lila. Mas Yoga pasti mendapat tempat terbaik disana.''


''Amin.'' Sheena kemudian memeluk Lila, sebelum ia dan Arsen pamit.

__ADS_1


Dan setelah pemakaman Yoga, Lila memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya untuk menenangkan diri. Terlalu banyak kenangan yang Lila lewati bersama Yoga disini.


Apalagi dengan nasib Yoga yang seorang yatim piatu. Yoga dan Lila sendiri sudah bersama sejak mereka kuliah. Yoga yang memang pintar mendapat beasiswa untuk kuliah. Mereka memutuskan untuk meniti karir bersama. Hingga akhirnya setelah lulus, Yoga di terima disebuah perusahaan IT terbesar di Indonesia. Begitu juga dengan Lila yang diterima bekerja di perusahaan Arsen. Mereka melewati susah dan senang bersama. Mereka saling menguatkan satu sama lain.


Sampai akhirnya Yoga berhasil membeli rumah dan mobil yang ia siapkan untuk meniti masa depan bersama Lila. Namun hari ini takdir berkata lain, Yoga harus pergi kehadapan sang pencipta, disaat ia dan Lila ingin melangkah ke jenjang yang lebih serius. Kini Lila hanya bisa mengenang Yoga dan menyimpan cinta Yoga di dalam lubuk hatinya yang terdalam.


...****************...


Sepulang dari pemakaman Yoga, Arsen memperhatikan Sheena tampak murung. Bahkan Sheena tidak banyak bicara. Sheena lebih memilih menghabiskan waktu di kamar. Arsen berusaha memahami kalau Sheena pasti merasa kehilangan juga.


''Sheena, sayang. Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita.''


''Aku tidak lapar.''


''Kamu jangan begitu Sheena, nanti kamu bisa sakit.''


''Aku sedih saja, Arsen. Aku sudah mengenal Mas Yoga sejak lama. Kenapa dia meninggal dengan cara tragis seperti itu? Kasihan Lila juga. Mereka sama-sama memulainya dari nol. Mas Yoga itu sangat baik, dia juga sangat baik denganku. Bahkan saat aku sedang dalam kesulitan, Mas Yoga dan Lila selalu membantuku. Kebaikannya itu yang membuatku merasa sedih dan ikut merasa kehilangan.'' Cerita Sheena sambil menahan tangisnya. Arsen kemudian memeluk Sheena dan mengelus lembut kepalanya.


''Iya aku tahu dan mengerti perasaan kamu. Tapi seharusnya kamu juga ingat, kalau suami mu ini juga butuh perhatian. Bagaimana kalau aku bernasib seperti itu? Apa kamu akan sedih juga?''


''Sssstttt!" Sheena menutup mulut Arsen dengan telapak tangannya. Sheena kemudian malah menangis.


''Apa yang kamu katakan? Aku juga tidak mau kehilangan kamu. Makanya kamu kalau kemana-kemana harus memberiku kabar ya? Kamu nyetirnya juga pelan-pelan ya? Kalau perlu bersama Pak Roni saja. Terus kalau di lampu merah, perhatikan jalanan, takut kalau ada mobil yang remnya blong terus nabrak seperti kejadian itu. Jadi sebenarnya aku juga mengkhawatirkan kamu, Arsen.''


''Kok kamu malah jadi menangis begini? Kamu terlalu overthinking, Sheena. Aku akan baik-baik saja dan pasti akan baik-baik saja. Aku juga akan selalu memberiku kabar dimanapun aku berada. Sudah ya jangan bersedih lagi, kamu bisa membalas kebaikan Mas Yoga itu dengan mengirimkan doa untuknya. Karena saat ini hanya itu yang dia butuhkan.''


''Iya. Terima kasih ya, kamu juga sudah membantu mengurus semuanya bahkan sampai ke peristirahatan terakhirnya.''


''Iya sama-sama. Sudah ya jangan sedih, sebaiknya sekarang kita makan.''


''Kamu sudah tidak marah dengan ku lagi?''


''Tidak! Aku sudah tidak marah lagi.'' Ucap Arsen. Sheena tersenyum lalu memberikan kecupan sekilas di bibir Arsen. Arsen tersenyum lalu membalas kecupan Sheena.


''Gendong ya,'' pinta Sheena.

__ADS_1


''Oke.'' Jawab Arsen. Sheena kemudian naik ke punggung Arsen. Mereka lalu turun kebawah menuju ruang makan dan menikmati makan malam bersama.


Bersambung... Yukkk like, komen dan votenya ya, makasih 🙏❤️


__ADS_2