My Perfect Husband

My Perfect Husband
Bertemu kolega


__ADS_3

Sesuai dengan apa yang Afif katakan tadi, pada jam makan siang, mereka menuju ke restoran tempat janji temu disetujui. Afif dan Naynay berjalan sejajar, sedangkan Ryan selangkah di belakang. Masker hitam juga sudah menutupi wajah imut bumil itu.


Puluhan pasang mata mencuri pandang saat ketiga orang itu berjalan melewati lobi. Afif dengan santainya menggandeng tangan Naynay, tidak memedulikan tatapan terkejut dari orang-orang yang ada di sana.


Pernikahan mereka hanya dihadiri orang tertentu saja, jadi wajar kalau banyak yang belum tahu tentang hubungan mereka. Kabar bahwa CEO Cavin Group ini sudah menikah memang sudah lama tersebar, tapi mereka sama sekali tidak mengetahui bagaimana rupa dari nona muda yang beruntung tersebut.


"Aku mau tidur sebentar" ucap Afif setelah mereka masuk ke dalam mobil dan merebahkan tubuh dengan kepala di paha istrinya.


"Silakan, Tuan Muda!" ucap Naynay formal dan mengusap rambut Afif.


"Kenapa kau memangilku seperti itu?" tanya Afif sedikit risih mendengar istrinya memanggilnya dengan sebutan formal itu.


"Sebagai sekretaris Anda, saya harus selalu bersikap profesional." Naynay masih berbicara formal hingga membuat Afif tergelak.


"Aku akan memberimu bonus nanti." Menyibak blazer Naynay dan mencium perut buncit itu bertubi-tubi.


"Terima kasih, Tuan Muda." Naynay tertawa sambil terus mengusap rambut Afif.


Ryan yang sedang mengemudikan mobil tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa lucu dengan sikap pasangan itu. Dia juga senang melihat Naynay tidak lagi merasa tertekan dan ketakutan saat berdekatan dengan Afif dan dirinya.


Menghabiskan sekitar tiga puluh menit perjalanan, mereka akhirnya tiba di tempat tujuan. Naynay mengernyit bingung, kenapa harus pergi ke restoran sejauh ini hanya untuk makan siang?


"Ayo!" Tangan Naynay digenggam dan dituntun masuk ke dalam. Mereka disambut langsung oleh manager restoran dan dibawa ke ruangan private.


"Silakan, Tuan dan Nona." Manager itu membukakan pintu dan pergi setelah tiga orang itu masuk.


Mata Naynay terbelalak melihat siapa yang berdiri dengan senyum mengembang di ruangan itu.


"Kak, itu suaminya Rosi." Naynay panik hingga keningnya alisnya menukik, dia berbisik pada suaminya.


Namun Afif hanya diam saja, malahan suaminya itu menarik tangannya mendekat ke arah laki-laki yang merupakan suami Rosi, yaitu Joan.


"Lama tak bertemu," ujar Joan dan Afif berjabat tangan dan saling tersenyum lebar.


"Hai, Nay!" Joan melambaikan tangannya kepada Naynay yang menundukkan kepala.


Terkejut, bumil itu langsung mengangkat kepalanya. Dia menggenggam kuat tangan besar Afif. Joan mengenalinya, bagaimana ini?


"Ayo duduk!" Suami Rosi itu mempersilakan Afif dan Naynay duduk.

__ADS_1


Afif mengajak Naynay duduk, diusapnya tangan istrinya yang terasa bergetar itu. Sebelah tangan Afif terangkat dan membuka masker hitam yang masih menutupi wajah imut istrinya. Setelah masker itu terlepas, Naynay kembali menundukkan kepalanya.


"Aku sudah memesankan makanan favorit di sini." Joan tersenyum sambil membuka jasnya, begutupun dengan Afif yang menyampirkan jasnya di sandaran kursi.


"Ryan, kau semakin gagah sekarang." Beralih ke Ryan yang duduk di samping ya, Joan menepuk-nepuk punggung Ryan.


"Terima kasih pujiannya, Tuan Joan."


Naynay bingung harus bagaimana, ini terlalu mengejutkan baginya. Tangan Afif yang masih bertaut dengan tangannya sudah dia remas-remas karena gugup.


Pintu ruangan terbuka dan beberapa pelayan masuk membawa begitu banyak menu. Joan sepertinya kesurupan pas memesan, satu meja terisi penuh dengan makanan yang dia pesan untuk makan siang kali ini. Kalau habis, tidak makan malam pun nggak masalah tuh.


Naynay menutup mulutnya, dia tiba-tiba merasa mual mencium bau dari sambal terasi yang tepat berada di depannya. Dia langsung berlari keluar dari ruangan itu dan menuju toilet yang tidak jauh dari sana. Memuntahkan nasi padang yang belum tercerna, tubuh Naynay menjadi lemas.


Setelah merasa lebih baik, Naynay keluar dari kamar mandi. Di depan pintu, Afif mondar-mandir sambil memegang dagunya. Ketika melihat Naynay keluar, dia segera menghampiri istrinya itu.


"Sudah lama kau tidak muntah, apa kau baik-baik saja?" tanya Afif khawatir sambil menangkup kedua pipi Naynay.


"Nay baik-baik aja, tadi tiba-tiba mual karena bau sambel terasi." Bumil itu mengusap air mata yang tadi sempat keluar karena muntah. Tenggorokannya terasa perih, sangat tidak nyaman.


Afif menelepon Ryan dan menyuruh sekretarisnya itu untuk membuang semua makanan yang memakai terasi. Setelah perintahnya terlaksana, Afif membawa Naynay kembali ke ruangan tadi.


"Nggak apa-apa, Kak." Naynay tersenyum sedikit agar Joan tidak merasa bersalah.


"Mau makan apa?" tanya Afif sambil mengelap keringat di dahi Naynay dengan tisu.


"Samain aja sama yang Kakak mau," ucap Naynay menoleh ke arah suaminya itu.


Afif mengambil makanan agak banyak ke piringnya. Menyendok makanan di piring dan menyodorkannya tepat di depan bibir istrinya.


"Buka mulutmu!" titah Afif membuat Naynay terkejut. Masa iya dia makan disuapi? Di depan koleganya pula.


"Nay.."


Naynay membuka mulutnya menerima suapan itu,menahan malu juga sebenarnya.


"Ryan, kau sudah pastikan dia memang Afif?" tanya Joan berbisik pada Ryan yang juga sudah mulai menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.


"Seribu persen saya jamin dia memang tuan muda Afif," balas Ryan santai.

__ADS_1


Joan menggeleng takjub melihat perubahan Afif yang begitu signifikan. Ditambah sahabatnya itu dulu sangat anti dengan wanita, tapi dia masih normal lho, ya. Dia tersenyum melihat wajah malu Naynay yang sedang disuapi.


"Santai saja, Nay. Aku sudah tahu semuanya."


Naynay menoleh menatap Joan, mulutnya yang tadi sibuk mengunyah, kini menelan paksa makanan yang di dalam mulutnya.


"Semuanya?" tanya Naynay dengan wajah konyolnya yang imut-imut menggemaskan.


"Komplit," ucap Joan sambil mengedipkan sebelah matanya. Laki-laki ini dasarnya memang humoris, cocok dengan Rosi yang sukanya ngambek.


Naynay menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. "Nay hamil"


"Aku tahu, semuanya."


"Lalu, Rosi?"


"Dia belum tahu, aku tidak akan mengatakan padanya jika kau tidak mengizinkan." Joan tertawa kecil.


"Nay sendiri yang bakal kasih tahu, tapi tunggu waktu yang tepat dulu." Helaan napas panjang terdengar lirih dari bumil itu.


Joan mengangguk dan memakan makanan yang sejak tadi dianggurinya. Setelah itu tidak ada lagi percakapan. Afif menyuapi Naynay dan sesekali menyuap ke mulutnya sendiri.


Setelah makan siang itu selesai, Joan meletakkan satu paper bag besar di atas meja. "Ini hadiah pernikahan dariku. Suamimu tidak mau menerimanya, jadi aku langsung memberikannya langsung padamu."


Naynay mengambil paper bag itu dan melihat isinya. Matanya langsung melebar melihat apa yang ada di dalam sana. "Nay sukaaa!! Makasih, ya, Kak!!"


Afif menatap kesal pada Joan yang tersenyum meledek padanya. Kalau Naynay merasa senang, dia pun tidak bisa menolak hadiah dari sahabatnya itu.


.


.


.


.


.


Yang kemaren pas aku minta 500 like, itu cuma gertakan aja, Gaesss. Aku akan tetap up karena itu sudah kewajibanku,berapapun like yang kalian kasih...

__ADS_1


__ADS_2