
Pagi hari yang sejuk dengan sinar matahari yang menyehatkan kembali menyapa. Butiran embun di dedaunan dan kaca memberikan ketenangan sendiri ketika melihatnya.
Mata Naynay terbuka ketika suara kicauan burung mengusik gendang telinganya. Yang pertama dia lihat adalah dada bidang dan lengan kekar Afif yang memeluknya. Tercetak jelas beberapa bekas cakaran di lengan putih itu yang membuat Naynay malu. Dia melakukannya secara refleks karena perlakuan Afif yang membuatnya terhanyut.
Naynay mendongak dan dapat melihat wajah tampan Afif yang begitu tenang ketika tidur. Mata tajam yang tertutup dan bibir sexy itu kembali mengingatkan Naynay tentang aktivitas mereka malam tadi. Bagaimana mata itu menatapnya penuh cinta dan bibir yang mengerang panjang ketika menggapai puncak kenikmatan itu.
Naynay memukul pelan kepalanya yang diisi adegan-adegan panas mereka tadi malam. Dia memindahkan tangan Afif yang memeluknya dengan perlahan. Naynay tidak mau Afif terbangun dan kembali memakannya. Naynay turun dari tempat tidur dan meraih handuk milik Afif tadi malam. Dia memakainya walaupun kekecilan, daripada tidak memakai apapun.
Setelah handuk terpakai, Naynay memungut pakaian tidurnya di lantai dan berjalan masuk ke kamar mandi. Di kaca, Naynay memperhatikan pantulan tubuhnya. Ada beberapa tanda kemerahan yang ditinggalkan Afif di bagian tubuhnya. Naynay tidak lagi takut, traumanya sembuh total karena Afif.
Setelah mandi, Naynay segera berpakaian dan menyiapkan pakaian kerja Afif. Dia keluar dan melihat Afif ternyata sudah bangun dan sedang duduk sambil meregangkan ototnya yang pastinya kaku setelah dijadikan Naynay bantal semalaman.
Mata Naynay membelalak melihat punggung Afif dipenuhi bekas cakarannya. Dia tidak menyangka dia bisa seganas itu mencakar Afif dua malam ini.
"Nay, apa yang kau pikirkan?" tanya Afif membuyarkan lamunan Naynay yang sudah jauh ke mana-mana.
"Nggak ada," jawabnya gugup sambil berjalan mendekati Afif yang membelakanginya. "Air mandi Kakak udah Nay siapin."
Afif menarik tangan Naynay dan memeluk pinggang istrinya itu. Wajahnya mendusel di bagian atas perut Naynay seperti anak kucing yang bermanja pada ibunya.
"Ayo, nanti Kakak telat." Naynay menangkup wajah Afif yang menciumi perutnya.
"Aku tidak bilang akan pergi bekerja hari ini," balas Afif santai dan menatap Naynay sebentar.
"Padahal Nay mau ikut," ujar Naynay murung karena dia ingin ikut ke kantor bersama Afif.
Afif melepaskan pelukannya dan berdiri dengan tegap, tak peduli dengan tubuhnya yang tidak tertutupi apa pun. Naynay terkejut dan mengalihkan pandangannya, tidak mau menatap sesuatu yang semalam memasukinya itu.
"Tidak usah malu, sini pegang!" Afif meraih tangan Naynay dan mengarahknnya ke bagian tubuh bawahnya. Naynay berteriak ketika merasakan tangannya bersentuhan dengan sesuatu itu.
"Aku akan mandi, tunggu di sini!" ucap Afif sambil tertawa dan berjalan memasuki kamar mandi dengan tubuh polosnya.
__ADS_1
Sepeninggalan Afif, Naynay memegang dadanya dan duduk di pinggir ranjang. Sifat mesum Afif tampaknya naik beberapa level setelah hasratnya tersalurkan.
Naynay selalu melayani Afif dengan baik, dia selalu berkaca dari bagaimana cara Yasmin melayani Hendrayan. Mulai dari menyiapkan air mandi sampai menyiapkan segala keperluan Afif, semuanya Naynay lakukan.
Seperti sekarang ini, Naynay tengah memasangkan dasi suaminya itu. Seharusnya hanya butuh dua menit, tapi sudah lebih dari lima menit dan dasi itu masih belum selesai.
"Kakak diam dulu, Nay susah pasanginnya." Naynay sudah jengah dengan kelakuan Afif yang sejak tadi tidak bisa diam. Cium-cium, cubit-cubit, sampe gigit-gigit.
"Jangan pakai kalau begitu," balas Afif sambil melempar dasi yang dia tarik dari lehernya.
Naynay merengut masam dan menyandarkan dahinya di dada Afif. Dipukul-pukulnya dengan pelan dada bidang itu hingga empunya tertawa nyaring karena berhasil mengerjainya. Lima menitnya terbuang sia-sia.
"Ayo pergi, katanya kau ikut." Afif memegang bahu Naynay dan mencium dahi istrinya itu.
"Jasnya," tunjuk Naynay pada jas yang dia letakkan di atas meja kaca.
"Tidak usah, aku tidak butuh." Langsung menarik tangan Naynay keluar dari ruang ganti, tak lupa membawa tas kerjanya.
Naynay menyambar hpnya sebelum ditarik kembali ke luar kamar oleh Afif. Ketika sarapan, Naynay pun disuapi hingga mendapat godaan dari Qiara dan Silla yang duduk di depannya. Kedua gadis itu pura-pura terbatuk dan tersedak hingga mendapat tatapan tajam dari Naynay. Bukannya seram, tapi dia terlihat begitu imut.
"Nay nggak bisa napas...." ucap Naynay ketika Afif mendekap kepalanya terlalu erat hingga napasnya tersenggal.
"Maaf," ujar Afif sambil menurunkan tangannya memeluk pinggang Naynay.
'Cinta memang hebat, Anda berubah dari singa menjadi kucing karenanya.'
Ryan tersenyum menatap keuwuan dua orang yang duduk di belakang itu. Walaupun kadang kesal dengan Afif yang bucin tidak tahu tempat, tapi dia senang bisa melihat Tuan Mudanya itu berubah menjadi orang yang lebih hangat karena Naynay.
Sesampainya di kantor, Afif keluar lebih dulu dan membukakan pintu untuk Naynay.
"Tunggu, Nay lupa bawa masker!" ujar bumil itu panik. Dia lupa membawa maskernya.
__ADS_1
"Ini, Nona." Ryan menyodorkan masker hitam yang dia ambil dari dashboard mobil. Ternyata di sana sudah tersedia sekotak masker warna hitam.
"Makasih, Kak Iyan." Naynay segera memakai masker itu dan keluar menyambut ukuran tangan Afif.
Pasutri itu berjalan bergandengan masuk ke lobi yang begitu ramai, hari ini ada jadwal wawancara karyawan baru. Mata orang-orang, baik yang laki-laki maupun perempuan, terpusat pada mereka berdua. Tapi ada yang beda, para kaum hawa memandang Afif dengan pandangan lapar hingga membuat Naynay kesal.
Naynay menatap ke arah Afif dan tahu apa yang membuat mata wanita-wanita itu melotot. Tiga kancing teratas kemeja suaminya itu ternyata belum dipasang hingga memperlihatkan sedikit dada bidangnya. Naynay yang kesal dengan pandangan wanita-wanita itu langsung saja mencengkram bagian baju Afif yang terbuka.
Afif sendiri terkejut mendapati Naynay bersikap demikian, tapi saat menyadari apa yang terjadi, dia tersenyum dan pasrah ketika ditarik kasar oleh istrinya itu menuju lift. Ryan hanya mengikuti dari belakang, tapi sebelum itu dia memberi peringatan pada wanita-wanita itu agar tidak menatap Afif terang-terangan.
"Kau kenapa?" tanya Afif pura-pura tidak tahu ketika mereka sudah berada di dalam lift.
"Nggak ada yang boleh lihat, kecuali Nay!" balas bumil itu sambil memeluk Afif dan menempelkan pipinya di dada Afif. Sama seperti di dalam mobil.
"Kau cemburu?" tanya Afif lagi dengan hati berbunga mendengar balasan Naynay tadi.
"Iya....eh.. Enggak, Nay kesel aja!" Bumil itu salah tingkah dan memeluk Afif lebih erat. Menggesek-gesekkan pipinya pada dada Afif agar malunya hilang.
Afif tersenyum sambil membalas pelukan Naynay. Dia tahu kalau Naynay cemburu pada wanita-wanita yang tadi menatapnya. Secantik dan sesempurna apa pun wanita-wanita itu, Afif tidak akan meliriknya sama sekali.
Sekali lagi, Ryan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat dua orang itu.
Ketika lift berhenti, Afif segera menarik tangan Naynay masuk ke ruangannya. Dia memberikan laptop dan hpnya pada istrinya itu agar tidak bosan di sana. Kerjaan Naynay hanya itu-itu saja di sana. Kalau nggak nonton drakor, ya pake hp Afif buat main game. Padahal di hpnya sendiri ada banyak sekali game, tapi dia selalu memakai hp Afif.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Aku capek, kapan-kapan lagi...