
''Terpaksa membabu nih. Seumur-umur, belum pernah aku mencuci piring seperti ini. Apalagi membersihkan dapur. Kalau bukan karena butuh, aku ogah melakukan ini semua. Ini menjijikkan! Aku tidak bisa membayangkan nanti bagaimana hidupku di rumah kontrakan yang Papa siapkan. Sumpah, Arthur teg sekali.'' Belinda terus saja mendumel sejak tadi. Karena tidak hati-hati dan tidak terbiasa, Belinda tidak sengaja menjatuhkan mangkok yang sedang ia cuci. Mengkok itupun pecah.
''GAWAT! Aduh, Kak Arthur bisa marah nih,'' gumam Belinda. Arthur yang sedang di kamarnya, segera turun kebawah begitu mendengar suara sesuatu yang pecah dari bawah. Belinda panik, ia bingung harus membersihkannya dengan apa. Kepanikan membuat pikirannya buntu. Akhirnya Belinda mengambil mangkok baru untuk memungut pecahan mangkok yang berserakan.
''Ada apa Bel?'' teriak Arthur.
''Tidak ada apa-apa, Kak.'' Sahur Belinda. Namun Arthur terburu sampai di dapur. Ia berkacak pinggang melihat Belinda meringis memungut mangkok yang pecah.
''Astaga Bel, kamu memecahkan mangkok milikku?''
''Maaf Kak, aku tidak sengaja.''
''Aku akan minta ganti rugi ya? Kamu tahu kan ini mangkok mahal. Cepat bereskan!" kata Arthur dengan suara meninggi.
''Iya-iya. Kenapa sih galak banget.''
''Soalnya kalau kamu di baikin, pasti nglunjak.'' Kesal Arthur. Belinda menggigit bibir bawahnya menahan kesal karena sikap Arthur yang semakin menjengkelkan.
''Oh Tuhan, aku tidak mau menikah dengan pria ini. Belum jadi istri saja galaknya minta ampun. Gimana kalau jadi istri? Aku pasti akan di siksa dan di suruh kerja rodi siang malam. Dia ongkang-ongkang kaki, sedangkan aku menjadi babu disini. Amit-amit." Batin Belinda sambil terus memungut sisa mangkon itu.
''Auw!" rintih Belinda. Arthur hampir saja bereaksi berlebihan, saat melihat tangan Belinda terkena pecahan mangkok itu.
''Kenapa?'' tanya Arthur sok jutek.
''Tidak lihat apa?'' ketus Belinda sambil menunjukkan tangannya yang berdarah.
''Minggir, duduk sana! Biar aku bereskan. Memang ya cewek manja, tidak akan bisa mengerjakan pekerjaan sepele seperti ini. Apa-apa tidak bisa, mau jadi apa kamu, Bel? Iya kalau kamu dapat suami kaya, kalau dapat suami benalu kayak Dave, mau apa kamu?'' Arthur mendumel seperti emak-emak yang sedang memarahi anak gadisnya. Belinda lalu menyingkir dan duduk di kursi. Sementara Arthur segera membersihkan pecahan mangkok itu. Setelah semuanya bersih, Arthur segera mengambil kotak P3K.
''Sini tanganmu,'' kata Arthur. Belinda lalu mengulurkan tangannya pada Arthur.
''Kenapa menyinggung Dave?''
''Memangnya kenapa? Dengarkan aku, sekalipun kamu menikah dengan pria kaya, setidaknya kamu harus tahu dunia perdapuran. Kamu harus tahu dasar-dasar pekerjaan rumah, Bel. Jangan jadi anak manja. Tidak ada salahnya kik kamu belajar mengurus rumah, memasak, bersih-bersih atau apalah.''
''Aku kan mau jadi istri bukan mau jadi babu.''
''Iya tahu. Semua itu kan tergantung suami mu nanti. Sekalipun saat menikah nanti suamimu memperlakukanmu seperti ratu tapi tetap kamu harus bisa melakukan itu semua. Terkadang suami juga ingin merasakan masakan istri daripada masakan di luar atau masakan Bibi di rumah. Lihat Mama Dira, sekalipun ada pembantu di rumah, Mama Dira tetap rajin. Aku heran kenapa kamu tidak bisa seperti itu ya? Kamu terlalu manja dan pemalas karena kamu takut kotor.''
__ADS_1
''Kalau mau ngobatin, ngobatin aja, jangan banyak bicara. Kamu tidak tahu aku menahan perih.''
''Cengeng! Luka begini saja perih, dasar manja.''
''Terus saja menyebutku manja. Aku memang selalu buruk di matamu.''
''Memangnya kamu tidak memperlakukan aku buruk juga, hah? Sekarang saja baik karena kamu butuh aku kan? Iya kan? Dasar licik! Ini sudah aku plester lukamu. Sebaiknya pergi tidur sana.''
''IYA!"
''Ingat untuk tidur di sofa.''
''Iya bawel,'' ketus Belinda seraya berlalu menuju kamar Arthur.
''Kasihan juga dia, tidak pernah hidup susah,'' gumam Arthur sambil menahan tawanya. Akhirnya Arthur melanjutkan membersihkan dapur. Setelah semuanya beres, tak lupa Arthur mengunci pintu dan mematikan lampu yang sudah tidak di butuhkan. Dan tiba-tiba saja hujan turun begitu saja.
''Wah, hujan rupanya. Apa tadi mendung ya?'' gumamnya. Arthur kemudian segera kembali ke kamarnya. Ia melihat Belinda masih duduk di atas sofa sambil memeluk kakinya.
''Kenapa belum tidur?''
''Belum bisa. Ini kok tiba-tiba hujan.''
''Kak, jangan matikan lampunya.''
''Memangnya kenapa?''
''Aku tidak bisa tidur kalau lampunya padam.''
''Sedangkan aku tidak bisa tidur dengan lampu menyala. Apa kamu pindah saja ke kamar tamu daripada kamu menggangguku tidur.''
''Iya-iya deh, matikan saja,'' jawab Belinda pasrah. Belinda lalu segera berbaring dan segera memakai selimutnya. Arthur lalu mulai mematikan lampu kamarnya. Hujan turun semakin derasnya, suara petir menyambar dengan kerasnya membuat Belinda semakin takut dan tidak bisa tidur. Sementara Arthur, dengan mudahnya terlelap.
''Aduh, aku tidak bisa tidur. Bagaimana ini?'' gumam Belinda. Belinda kemudian beranjak dari tidurnya dan ia mengendap untuk menyalakan lampu. Belinda menghela nafas lega akhirnya lampu bisa menyala. Baru juga berjalan beberapa langkah, Belinda di kagetkan dengan suara petir dengan kilatan yang menelusup ke dalam kamar. Seketika Belinda melompat ke atas kasur dan reflek memeluk Arthur.
''Kak aku takut!" ucap Belinda dengan suara gemetar.
''Asatag Bel, kamu mengagetkanku saja.'' Kata Arthur dengan suara malasnya.
__ADS_1
''Kak, aku tidur disini ya. Kita tidur satu ranjang. Aku janji tidak akan macam-macam.'' Ucap Belinda dengan segala kepanikannya. Arthur lalu berusaha membuka matanya. Ia melihat tangan Belinda melingkar di pinggangnya karena posisi Belinda yang memeluk Arthur dari belakang.
''Kenapa lampunya kamu nyalakan?''
''Aku tidak bisa tidur, Kak. Aku takut.'' Kata Belinda yang masih meringkuk di memeluk punggung Arthur. Saat Arthur hendak melepaskan tangan Belinda, Arthur merasakan tangan Belinda sangat dingin dan berkeringat.
''Bel, kamu serius takut?''
''Iya lah. Memang bisa takut bohongan,'' ketus Belinda dengan suara gemetar. Arthur kemudian berbalik menghadap Belinda. Tampak Belinda memejamkan matanya kuat-kuat dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya.
''Bodoh!" Arthur menyentil kening Belinda. Belinda lalu membuka matanya dan mihat wajah Arthur begitu dengan dengannya.
''Ya sudah, kamu tidur disini saja. Aku yang tidur di sofa.''
''Kak, jangan tinggalkan aku. Tidur disini saja ya sama-sama. Kita beri sekat guling saja. Aku takut.''
''Tapi Bel....,''
''Please aku mohon. Dengar kan suara petirnya. Hujannya juga deras sekali nanti kalau tiba-tiba mati lampau bagaimana?''
Arthur menghela. ''Baiklah, awas ya macam-macam.''
''Kakak seharusnya yang jangan macam-macam.''
''Ihhh siapa yang mau macam-macam. Kamu sebelah sana dan aku sebelah sini. Ini guling sebagai pembatas ya.''
''Tapi jangan jauh-jauh ya, Kak. Aku mau pegang ujung bajumu saja.''
''Untuk apa?'' Arthur menatap heran.
''Supaya aku tidak takut.''
''Tapi kan aku ada di sebelahmu, Bel. Jangan modus ya.''
''Idihh siapa yang modus, amit-amit.''
''Iya-iya,'' Arthur pun mengalah. Ia tidak tega melihat wajah pucat Belinda. Athur lalu berbaring membelakangi Belinda, sementara Belinda menghadap punggung Arthur. Ia benar-benar merasa takut. Sambil memejamkan matanya, tangan Belinda meraih ujung baju Arthur. Karena lampu menyala, akhirnya Arthur mengalah dengan menutup matanya dengan penutup mata. Perlahan Belinda mulai bisa memejamkan matanya. Saat petir menyambar, Arthur bisa merasakan tangan Belinda memegang kuat ujung bajunya. Arthur kemudian menoleh dan melihat Belinda sudah tertdiru. Keringat dingin di wajahnya perlahan hilang dan wajahnya tidak pucat lagi.
__ADS_1
''Dia benar-benar ketakutan rupanya.'' Gumam Arthur. Dan Arthur pun kembali tidur.
Bersambung....