
Sesuai janjinya pada Sheena, setelah launching produk, Arsen dan Sheena pergi ke Swiss selama satu minggu. Sebuah negara yang sangat ingin Sheena kunjungi. Kini keduanya telah berada di dalam pesawat menuju Swiss.
''Akhirnya aku bisa pergi kesana. Terima kasih ya sayang telah mengabulkan keinginanku.''
''Apapun keinginanmu selagi aku mampu, pasti aku kabulkan sayang.''
''Aku biasanya hanya bisa melihat keindahan Swiss dari layar ponsel saja tapi sekarang aku bisa melihatnya secara langsung.''
''Iya sayang. Aku juga bahagia bisa mewujudkan keinginanmu. Swiss memang telah lama dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki pemandangan luar biasa. Hampir di setiap sudut negara Swiss pasti dikelilingi dengan gunung-gunung yang membuat pemandangan di sekitarnya menjadi begitu indah. Dan ada beberapa wilayah di Swiss yang dikenal memiliki pemandangan paling indah. Salah satunya adalah desa Grindelwald dan aku akan membawamu kesana.''
''Grindelwald, sayang?''
''Iya sayang, disana indah sekali. Untuk kamu ibu hamil, suasana disana sangat pas karena begitu menenangkan. Grindelwald merupakan salah satu desa yang masuk dalam wilayatah administratif Interlaken-Oberhasli, Swiss. Memiliki luas wilayah 171,3 km², desa itu dihuni lebih dari 3.800 penduduk. Desa cantik di Swiss ini terletak di kaki Gunung Eiger yang membuatnya memiliki pemandangan begitu cantik. Walaupun desa, tapi Grindelwald sudah punya fasilitas publik yang sudah modern lho sayang. Terus sayang, desa itu tidak hanya dikelilingi oleh pegunungan tetapi ada juga laut biru yang semakin mempercantik pemandangan Grindelwald. Saat tiba disana, kamu pasti akan sangat menyukainya. Kita bisa naik speedboat disana nanti."
"Mendengar cerita kamu saja, aku sudah bisa membayangkan betapa indahnya disana. Kamu ini memang pintar sekali ya, detail sekali menjelaskannya. Lalu keindahan apalagi disana sayang? " tanya Sheena yang begitu antusias.
"Ketika musim dingin tiba, rumah-rumah di desa ini akan tertutup salju yang membuatnya tampak menggemaskan. Dan saat malam tiba, lampu-lampu akan menyala dan membuat Grindelwald terlihat bak negeri dongeng. Jika di Grindelwald saat musim dingin, kita tidak boleh melewatkan kesempatan untuk bermain ski di sana. Tapi sayangnya kamu sedang hamil sayang jadi kamu tidak boleh bermain ski."
"Yahh, padahal aku ingin mencobanya sayang."
"Nanti setelah kamu melahirkan kita pergi kesana membawa anak-anak kita ya. Kamu sabar dulu."
"Iya sayang, aku akan sabar kok. Kamu ini seperti pemandu wisata saja ya. Rasanya ingin segera sampai disana. Aku ingin naik kereta dan gondola juga nanti. Ini adalah pengalaman pertamaku pergi ke luar negeri dan melihat salju adalah salah satu mimpi aku."
"Sayang, akhirnya kebahagiaanmu datang juga."
"Dan kamu adalah sumber kebahagiaanku, Arsen."
"Begitu juga denganmu, Sheena. Sekarang istirahatlah karena perjalanan kita masih sangat panjang."
"Iya suamiku."
...****************...
Sementara itu Gea dan Brian baru saja keluar dari rumah sakit. Brian menemani Gea untuk melepas gips di kakinya.
__ADS_1
''Lega sekali akhirnya aku bisa berjalan normal, Brian.'' Ucap Gea sambil menggerak-gerakkan kakinya dengan lincah.
''Aku juga senang bisa melihatmu berjalan normal. Aku harap, kamu berhenti balap lagi ya. Apalagi kaki kamu sudah cedera seperti ini.''
''Aku rasa kemampuan balapku juga sudah tidak seperti dulu lagi.''
''Baiklah, sekarang kita belanja.''
''Belanja? Belanja apa?''
''Belanja pakaianlah untuk ke kantor besok.'' Kata Brian.
''Brian, aku sudah tidak ada uang.''
''Tenang, aku masih ada kok.''
''Uang kamu tidak habis-habis juga ya. Memang berapa uang yang kamu pinjam?''
''Kamu tidak perlu tahu, yang jelas atasan aku baik sekali. Tapi kita belinya di toko biasa ya yang ada di pasar. Kalau belinya di mall, uangku tidak cukup.'' Ucap Brian meringis.
''Ya iyalah Brian. Aku juga biasa pakai baju pasar kok.''
''Iya Brian, tidak masalah.'' Dan keduanya lalu menyusuri jalanan kota dengan penuh canda tawa. Brian kini mulai menyadari kalau ia sudah jatuh cinta dengan Gea. Jatuh cinta dengan segala kesederhanaan dan sikap Gea yang apa adanya.
''Maafkan ya Gea kalau saat ini aku cuma bisa membelikanmu pakaian pasar karena aku juga sedang menyamar. Suatu saat nanti, aku akan membahagiakanmu.'' Gumam Brian dalam hati.
Sesampainya di pasar, Brian membantu Gea memilik pakaian dan juga sepatu ala kantoran. Sebuah pakaian dan sepatu heels yang begitu asing untuk Gea. Setelah puas berbelanja, keduanya lalu pergi makan siang di sebuah warteg. Menu makanan yang sederhana namun menikmatinya dengan seseorang yang begitu spesial.
''Bagaimana kalau setelah makan kita pergi ke danau naik perahu?'' ajak Brian.
''Boleh-boleh! Terkurung di dalam rumah karena sakit sungguh membuatku bosan.''
''Baiklah, sekarang habiskan makananmu.'' Kata Brian. Brian tersenyum melihat Gea namun Gea merasa tidak nyaman.
''Ada apa sih kok lihatnya begitu.'' Kata Gea.
''Mmmm sorry ya, kamu diam sebentar.'' Brian lalu mengambil bulir nasi yang berada di bawah bibir Gea. Gea tercekat, saat tangan lembut Brian menyentuh bibirnya. Gea merasa seperti tersengat aliran listrik. Untuk pertama kalinya merasakan sentuhan seperti itu dari seorang pria. Brian juga menyeka bibir Gea yang belepotan karena kuah gulai yang ia makan tanpa rasa jijik.
__ADS_1
''Sudah bersih.'' Kata Brian dengan senyum termanisnya. Gea benar-benar salah tingkah dan merasa ada yang aneh dalam dirinya.
Seusai makan siang, Brian melajukan kembali motornya menuju sebuah danau. Mereka dengan semangat naik keatas perahu untuk menyusuri indahnya danau itu.
''Tempat ini bagus sekali, Brian. Darimana kamu tahu ada tempat sebagus ini? Kamu sendiri kan juga pendatang.'' Tanya Gea.
Bingung!
Diam!
Berfikir!
''Eee...., aku mencari di google tentang tempat yang bagus di kunjungi di kota ini. Aku iseng-iseng saja dan mencoba mencarinya.
''Oh begitu tapi memang bagus sih, pemandangannya masih asri juga. Terima kasih ya hari ini sudah mengajakku jalan-jalan.''
''Sama-sama. Bagaimana kalau kita lanjutkan lagi sampai malam?''
''Hah? Serius? Kamu tidak lelah apa?''
''Tidak, asalkan itu denganmu, Gea.'' Brian kemudian meraih kedua tangan Gea. Brian lalu menatap dalam kedua manik mata Gea.
''Gea, jujur saja, setelah aku lewati banyak hari denganmu, aku merasa ada yang aneh di dalam hati aku. Aku mulai merasa nyaman denganmu bahkan selalu ingin bersamamu. Aku tidak tahu kapan rasa ini datang, Ge. Semuanya mengalir begitu saja seiring kebersamaan kita. Apalagi kamu satu-satunya wanita yang mau berteman tulus tanpa melihat status sosialku. Disaat banyak yang mencibirku, hanya kamu yang mau menerimaku. Mungkin perasaan ini terlalu cepat tapi inilah yang aku rasakan Gea. Aku tidak bisa membendung lagi perasaanku ini.''
Gea tentu saja terkejut dengan pengakuan Brian. Gea tidak menyangka jika Brian memiliki perasaan itu terhadapnya.
''Brian, sebelumnya aku terima kasih karena kamu sudah mempunyai perasaan lebih terhadapku. Tapi saat ini aku juga bingung harus bagaimana karena sejujurnya aku belum siap untuk memulai sebuah hubungan baru. Aku tahu kamu pria yang sangat baik tapi maaf aku belum siap.''
''Apa karena aku miskin Gea?''
''Tidak Brian, sama sekali tidak. Aku tidak pernah melihat semua itu. Aku hanya belum siap.''
''Lalu kapan kamu siap? Aku akan menunggumu sampai kapanpun Gea. Aku juga akan membuktikan kalau perasaanku tulus. Aku juga akan membuktikan kalau aku bisa sukses dan aku akan melamar mu nanti.''
Gea lalu tertawa. ''Memangnya siap menikah denganku? Aku galak lho.''
''Ahh Gea, kamu mengacaukan momen romantis ku. Sekalipun galak, perasaanku tidak akan pernah berubah padamu. Bukankah kalau kita mencintai harus siap menerima segala kekurangan dan kelebihannya? Jadi itu tidak masalah bagiku. Aku tidak akan memaksamu untuk membalas perasaanku. Yang jelas, aku sudah mengatakan semuanya.'' Kesal Brian. Gea hanya bisa tertawa melihat wajah Brian yang begitu menggemaskan ketika marah.
__ADS_1
...Bersambung... Akankah Gea membuka hatinya untuk Brian? Yukkkk ikuti terus ceritanya dengan like, komen dan vote sebanyak-banyaknya, makasih ,🙏🥰...