
''Seharusnya kamu tidak terpancing ucapan Sinta, Bel.''
''Bagaimana aku tidak terpancing? Melihat wajahnya saja aku sudah muak. Apalagi kalau aku mendengar dia dan Ibunya sangat jahat pada Eonni.''
''Aku terima kasih karena kamu peduli pada Sheena. Tapi tadi kamu sudah membuat keributan disana, Bel.''
''Ya, terus? Biar semua orang tahu sekalian dia itu penjilat. Sudahlah Kak, jangan bahas itu. Aku benar-benar malas membahasnya. Bela saja terus dia!"
''Hmmmm jadi serba salah.'' Gumam Arthur.
Sesampainya di kantor, Belinda segera masuk ke ruangannya. Ia langsung menuju meja kerjanya dan mengerjakan semua hasil pengecekan di bank sampah, sekaligus hasil rapat disana. Sekalipun tampak sibuk, bibir Belinda sedari tadi masih tetap mengerucut. Arthur sesekali memperhatikan Belinda, siapa tahu bibir mengerucut itu berubah menjadi senyum. Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu.
Tok tok tok tok!
"Masuk!" sahut Arthur. Arthur terkejut melihat siapa yang datang, termasuk Belinda. Seorang wanita berambut pirang, berwajah bule dengan make up menyala dan tubuhnya tinggi semampai, memasuki ruangan Arthur.
''GRACE!" seru Arthur dengan sorot matanya yang berbinar.
''Yes, iam Grace.'' Ucap Grace. Arthur kemudian beranjak dari duduknya dan menyambut Grace dengan sebuah pelukan.
''Arthur, i miss you co much.'' Ucap Grace yang mendekap erat Arthur.
''I miss you too, Grace. Kamu kemana saja selama ini?''
''Siapa lagi dia? Oh sungguh menyebalkan. Kak Arthur benar-benar menjengkelkan. Berpelukan di hadapanku tanpa rasa bersalah.'' Kedatangan Grace semakin membuat Belinda kesal. Belinda mengepalkan tangannya dengan kesal melihat Arthur dan Graca begitu akrab.
''Bagaimana kabarmu Grace? Kenapa saat itu kamu pergi begitu saja? Antony benar-benar membuatmu meninggalkan asrama ya.'' Ucap Arthur sembari mengambil minuman di kulkas untuk Grace.
''Iam fine, Arthur. Ya, aku belum cerita apapun padamu.''
''Bukan hanya belum cerita tapi sama sekali tidak ada kabar. Bagaimana kabar Antony?''
Grace menunduk sedih. ''Antony sudah damai bersama Tuhan. Dia pergi delapan bulan yang lalu.''
''Maksudmu apa Grace?''
''Jadi saat itu Antony tiba-tiba memutuskan aku ternyata dia sedang sakit keras. Ia terkena kanker hati stadium akhir. Dia tidak ingin aku bersedih jadi dia melakukan itu, supaya aku membencinya dan melupakannya. Jadi aku kabur saat tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan setelah itu aku benar-benar fokus untuk merawatnya dan menghabiskan hari-hariku bersamanya, Arthur.''
''Ya ampun, ternyata Antony diam-diam menyimpan semua itu sendiri. Meskipun baru beberapa kali bertemu tapi sepertinya dia pria yang sangat baik. Aku saat itu datang ke kampusmu tapi kamu tidak ada, lalu aku ke asrama mu, temanmu bilang kamu kabur dari asrama demi mengejar cinta.'' Ucap Arthur dengan senyum kecilnya.
''Sulit sekali bagiku untuk bangkit lagi. Tapi aku bersemangat saat aku mendapatkan tawaran pekerjaan dari perusahaanmu. Aku senang sekali bisa bertemu denganmu, Arthur.''
__ADS_1
''Oh ya? Jadi bintang iklannya kamu ya?''
''Iya Arthur.''
''Ya, aku memang meminta tim ku untuk mencari influencer. Aku tidak menyangka itu kamu.''
''Iya, selain melanjutkan menjadi model, aku punya akun youtube yang pengikutnya lumayan lah, meskipun aku sempat vakum. Akhirnya aku membuat tutorial make up, sedikit aksi sosial, merancang desain pakaian dan face painting.''
''Maafkan aku karena tidak tahu kalau kamu berkembang sejauh itu. Aku pikir kamu sudah menikah dan bahagia bersama Antony. Jadi ya wajar saja kamu melupakan aku. Apalagi nomor ponselmu sudah tidak aktif lagi.''
''Tidak mungkin aku melupakanmu, Arthur. Aku sangat antusias menjadi bintang utama di iklan yang akan kamu buat. Apalagi itu iklan tentang lingkungan dan daur ulang. Aku sudah membaca artikel tentang bank sampah milikmu. Itu suatu ide yang sangat brillian, Arthur. Secara tidak langsung kamu membantu menyelamatkan lingkungan.''
''Jadi kamu sangat antusias?''
''Yes of course.''
''Tidak jijik?''
''No Arthur! Untuk apa jijik. Ini bisa menjadi kampanye supaya kita lebih peduli dengan lingkungan dan alam.''
''Ya, nanti kamu buat daily vlog saja di akun yutub milikmu. Kamu bisa mengajak penggemarmu juga untuk lebih menjaga lingkungan.''
''Seorang model dan influencer Grace Nathalia, menjadi bintang iklan bank sampah." Seloroh Arthur dengan tawanya.
''Why not? Kamu sangat cerdas Arthur. Dan kamu selalu membuatku kagum.''
''Bagaimana kalau nanti kita makan malam? Aku ingin menyambut bintang utamaku, sekaligus menghiburmu supaya tidak sedih lagi. Apa kamu setuju?''
''Tentu saja aku setuju. Kita bisa membahas konsep iklannya seperti apa.''
''Yes, good idea.''
''Oke baiklah, aku permisi dulu ya. Sampai jumpa nanti malam. Aku mau pergi ke salon dulu. Karena nanti aku akan bertemu dengan Tuan Arthur.'' Kata Grace dengan senyum lebarnya.
''Hati-hati ya Grace.'' Arthur dan Grace kemudian saling berpelukan sebelum berpisah. Setelah Grace pergi, Belinda beranjak dari duduknya dan mendekat kearah Arthur.
''Siapa dia Kak?'' tanya Belinda penasaran.
''Mau tahu aja,'' ledek Arthur.
''Ihhh nyebelin banget. Dia siapa?''
__ADS_1
''Memang kenapa?''
''Ya pingin tahu lah. Apa ada hubungannya dengan perusahaan?'' tanya Belinda dengan perasaan gelisahnya.
''Dia Grace temanku saat di London. Perusahaanku akan bekerja sama dengannya.''
''Apa? Kenapa aku tidak tahu?''
''Ya aku juga tidak tahu. Aku kan meminta tim ku untuk mencari bintang iklan yang pas, eh ternyata itu Grace. Dia seorang model, influencer dan yutuber juga. Dia banyak melakukan aksi sosial, selain make up dan modeling. Jadi saat dihubungi oleh tim, dia sangat antusias. Apalagi dia tahu yang mengajak kerja sama adalah perusahaanku. Dia saja bule, mau kotor-kotoran lho.''
''Alah, kotor-kotoran begitu saja dibanggakan. Paling nanti juga bakal teriak-teriak manja dan jijik.'' Belinda tidak terima jika Arthur memuji Grace.
''Jangan salah, Bel. Dia dulu aktivis di kampus. Meskipun cantik, dia sama sekali tidak manja.''
Telinga dan dada Belinda mendadak terasa panas. ''Puji saja terus, awas saja kalau selingkuh!" Ancam Belinda.
Arthur tertawa. ''Selingkuh? Memang kita ada hubungan apa? Pacar buka, suami juga bukan. Jadi aku bebas dong!"
''Tap-tapi kan kita jodohkan.''
Arthur mendekatkan wajahnya tepat di depan Belinda. ''Kita kan sudah sepakat tidak setuju. Kamu sendiri juga tidak mau kan? Lalu kenapa bilang seperti itu? Oh jangan-jangan kamu mulai jatuh cinta padaku ya?''
Belinda menjadi gugup. Wajah Arthur hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Mata keduanya saling bertemu dengan sangat dekat.
''Sepertinya, jantungku mulai tidak aman.'' Gumam Belinda. Belinda lalu mendorong Arthur dengan sekuat tenaga, sampai Arthur terduduk di sofa.
''Jangan ge-er! Jatuh cinta apanya? Aku bicara seperti itu supaya orang tua kita tidak salah paham dengan hubunganmu dan wanita itu.'' Belinda tergagap karena ia mulai salah tingkah.
Arthur kemudian tertawa. ''Hahaha, untuk apa kamu pusing-pusing mengkhawatirkan itu, Bel. Papa dan Mama juga mengenal Grace kok.''
Belinda semakin terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Arthur. ''Ap-apa? Mengenal?''
''Iya. Memangnya kenapa? Kenapa kamu terkejut? Kenapa kamu jadi sensitif. Sudah, katakan saja kalau kamu menyukai ku?'' Arthur kembali menggoda Belinda. Pipi Belinda memerah dan terasa hangat.
''Ah, apaan sih!'' Belinda pun kesal dan dia pergi meninggalkan ruangan. Arthur tertawa melihat tingkah aneh Belinda itu. Arthur kemudian menuju meja kerja Belinda, melihat apakah pekerjannya sudah selesai. Namun Arthur dibuat terkejut dengan ketikan yang ada di layar komputer itu. Bukannya menulis laporan
''Dasar ganjen! Lihat bule, matanya ijo. Berasa kambing congek disini, mesra-mesraan dengan wanita lain di hadapanku. Pepet terus saja! Sok manis, sok perhatian. Tidak berperasaan! Sungguh menyebalkan! Dasar GANJEN! GANJEN! GANJEN! GANJEN!'' Bukannya menulis laporan, Belinda justru menuliskan kekesalannya di layar komputer itu saat melihat Arthur dan Grace mengobrol. Arthur kaget sekaligus tersenyum saat melihat apa yang Belinda tulis di layar itu.
''Astaga, dia marah beneran rupanya. Namanya juga ngobrol, apalagi dia sekretaris disini. Kalau dia pacarku atau calon istri, sudah pasti aku kenalkan. Dasar gadis kecil itu! Tingkahnya kadang suka membuatku pusing tapi juga menggemaskan.'' Gumam Arthur dengan tawa kecilnya.
Bersambung....
__ADS_1