My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 134 Making Love ++


__ADS_3

Arsen mulai mendekat merapatkan tubuhnya pada Sheena. Kini Sheena bisa merasakan betul si junior menyentuh area terlarang miliknya. Sangat keras! Itulah yang Sheena rasakan. Arsen lalu meraih pinggang Sheena dan menempelkannya pada tubuhnya. Arsen kali ini harus memberanikan diri untuk melakukan itu. Jangan sampai Fandi merebut Sheena kembali. Arsen lalu mengecup leher jenjang Sheena, membuat Sheena mendesis. Terlebih junior dibawah yang mengeras, terasa mendesaknya padahal mereka baru saja bersentuhan. Arsen lalu menggiring tubuh Sheena hingga Sheena terjatuh diatas tempat tidur dengan kaki yang masih menggantung di bawah, sungguh posisi yang pas, membuat lembah mulus milik Sheena terlihat jelas. Lembah itu mulus seperti milik bayi. Arsen menelan ludahnya melihat pemandangan itu. Arsen kemudian memberikan kecupan di bibir Sheena. Arsen bisa merasakan juniornya menyentuh lembah Sheena. Arsen merasakan ujung kepala juniornya basah saat bersentuhan dengan bibir lembah milik Sheena. Sembari me..lu..mat bibir Sheena, tangan Arsen bergerak aktif mer..e..mas dua bukit kenyal milik Sheena. Sementara tangan Sheena mere...mas kapala Arsen, merasakan nikmat yang luar biasa. Arsen melepaskan pagutannya lalu beralih menelusur di dada Sheena. Menghisapnya, mere...masnya dan memilinnya, membuat Sheena menggeliat. Sheena menggigit bibir bawahnya berusaha menahan desahannya.


Arsen yang penasaran, menyentuh lembah bawah milik Sheena dengan lembut.


''Arsen, ahhh." De...sah Sheena saat tangan Arsen sampai disana. Kini tidak ada rasa jijik dalam pikirannya, hanya ada bahwa tubuh Sheena kini harus menjadi miliknya bahkan untuk setiap inchinya. Perlahan Arsen menelusupkan jemarinya membuka pintu lembah itu dan mengusapnya dengan halus.


''Ahhhh," itulah yang keluar dari bibir Sheena saat area sensitifnya terjamah oleh tangan Arsen.


''Sheena, apa aku boleh melakukannya? Seperti dalam adegan film itu?'' tanya Arsen dengan polosnya.


''Lakukan saja Arsen. Aku milikmu!" ucap Sheena di sela-sela kenikmatan yang Arsen berikan. Arsen tersenyum, mempercemat gerakan jemarinya. De..sahan Sheena semakin tak terkendali. Lembah itu benar-benar basah. Sheena hanya bisa menggeliat, mendesah, menggigit bibir bawahnya dan mencengkeram sprei untuk mengekspresikan rasa nikmatnya.


Arsen kemudian mengangkat kaki Sheena yang masih menggantung dan menekuknya. Ia lalu berlutut untuk melihat dengan jelas bentuk lembah itu. Perlahan tangan Arsen membuka lembah itu dan terlihat masih berwarna pink. Arsen tersenyum melihat itu. Ia kemudian menjulurkan lidahnya dan menjilatnya perlahan. De...sahan yang cukup panjang dari bibir Sheena.


''Arsen, teruskan!" ucap Sheena di sela-sela desahannya. Mendengar aba-aba dari Sheena, membuat Arsen meneruskan aksinya itu.


''Ahhh...ssshhh, uhhh.'' De..sah Sheena kini tak tertahankan lagi. Arsen kini tak canggung lagi untuk bermain di liang senggama itu. Mendengar Sheena mende..sah nikmat, justru membuatnya semakin bersemangat. Arsen kemudian bangun dari posisi berlututnya. Diangkatnya tubuh Sheena lebih keatas. Ia lalu merangkak naik keatas tubuh Sheena.


''Sheena, apa kamu menyukainya?''


''Iya, aku sangat menyukainya Arsen. Kamu ternyata nakal ya. Dalam diam dan protesmu, kamu menyerap semua adegan dalam film itu.''


Arsen tersenyum. ''Sudah aku lihat, mau tidak mau otomatis terserap dalam otakku, Sheena. Apa kamu siap?''


''Iya aku siap menyerahkan kesucianku untuk dirimu.''

__ADS_1


''Kamu sungguh masih virgin?'' tanya Arsen seolah tak percaya.


''Coba saja," ucap Sheena dengan tatapan menggoda. Arsen tersenyum dan kembali mendaratkan bibirnya pada Sheena. Arsen melepaskan pagutannya. Lalu ia menggesekkan ujung juniornya di liang senggama Sheena untuk melakukan pemanasan. Tubuh Sheena semakin memanas tidak karuan begitu juga dengan Arsen. Keduanya tenggelam dalam cinta, gairah dan naf...su.


Arsen perlahan menelusupkan juniornya ke dalam liang senggama namun Arsen merasakan begitu sesak dan sempit.


''Arsen, sakit!" rintih Sheena.


''Tahan Sheena, aku sedang berusaha. Rasanya sempit sekali.'' Ucap Arsen dengan nafas terengahnya. Arsen kemudian mengambil sebuah bantal untuk mengganjal bo...kong Sheena. Ia kemudian berusaha memasukkan kembali juniornya kedalam liang senggama itu.


''Arrggghhhh," de...sah Arsen saat berusaha keras menerobos liang itu. Sheena dan Arsen kemudian saling berpegangan dengan kuat. Teriakan memekik dari bibir keduanya, saat junior milik Arsen berhasil menerobos dan tenggelam di dalam liang senggama milik Sheena. Saking kuatnya cengkaraman Sheena, ia meninggalkan goresan kukunya di tangan Arsen. Air mata keluar dari ujung mata Sheena.


''Sakit Arsen. Hiks...hiks...!" ucap Sheena yang mendadak menagis. Ia merasakan liang senggamanya terasa penuh di dalam. Dengan junior yang masih menancap di dalam, Arsen lalu memeluk Sheena. Ia merasa bersalah membuat Sheena menangis.


''Maafkan aku ya. Maafkan aku karena menyakitimu. Apa sungguh sakit?'' tanyanya dengan nafas terengah.


''Akupun juga sakit. Milikku terasa terjipit dan tergigit oleh milikmu di dalam sana. Tenanglah, pasti nanti tidak sakit lagi. Hanya awal-awal saja yang terasa sakit, setelah itu akan terasa nikmat. Itu yang aku baca dari sebuah artikel.''


''Astaga, sempat-sempatnya kamu membaca artikel.''


''Aku tidak mau menyakitimu Sheena. Sekarang bersiaplah untuk merasakan kenikmatan yang tiada duanya.'' Ucap Arsen meenyeringai. Dan memang benar, malam itu setelah membaca pesan dari Fandi, Arsen membuka sebuah artikel bagaimana rasanya bercinta. Ia bahkan menonton film sendiri malam itu di ruang kerjanya. Melihat dan mempelajari setiap gerakan yang di lakukan si pria untuk menyenangkan si wanitanya. Bukan tokoh wanita yang Arsen perhatikan tapi tokoh si pria.


Arsen kemudian mengecup kening Sheena dalam-dalam, sebelum ia melakukan aksi selanjutnya. Arsen lalu mencabut pelan juniornya dari dalam liang senggama itu.


''Oouughhh," de..sah keduanya saat junior tercabut dari tempatnya. Terlihat jelas bercak merah yang keluar dari liang senggama Sheena. Arsen kemudian menyingkirkan bantal yang ia gunakan untuk mengganjal bo...kong Sheena. Setelah itu Arsen kembali memasukkan juniornya perlahan. Arsen lalu melingkarkan kedua kaki Sheena pada pinggangnya. Ia kemudian memegang kuat pinggul Sheena. Dan Arsen memulai pergerakan maju, mundur dengan lembut. Kali ini Sheena merasakan nikmat yang luar biasa. Keduanya saling memejamkan mata, merasakan kenikmatan seperti melayang di atas awan. De...sahan nikmat pun lolos dari bibir keduanya. Arsen kemudian menambah kecepatan pergerakan, hingga suara decapan khas bercinta menyeruak ke dalam seisi ruangan. (Cepak, cepak, jeder gitu kali ya, hahahaha).

__ADS_1


Tangan Arsen lalu meremas kedua bukit kenyal sambil terus melakukan pergerakan maju mundur. Sementara bibirnya terus memagut bibir Sheena. Tangan Sheena mencengkeram erat punggung Arsen, sampai meninggalkan bekas sayatan kukunya.


"Ahhh, ugghhh." De...sah Arsen dengan nafas terengahnya. Pergerakan itu semakin keras dan beberapa kali Arsen memberikan hentakan, hingga juniornya terasa mentok di dalam sana.


"Arsen, aku rasanya mau sampai." Ucap Sheena di sela-sela de...sahnya.


"Tunggu sebentar," ucap Arsen yang semakin menambah kecepatannya. Dan akhirnya Arsen mencapai pelepasannya. tubuh keduanya bergetar hebat saat keduanya mencapai titik puncak dalam bercinta. Sheena merasakan semburan dan denyutan di dalam rahimnya. Arsen pun merasakan juniornya terjepit oleh otot-otot rahim Sheena. terasa sangat nikmat meskipun sedikit sakit. Peluh keduanya bercucuran, nafas keduanya pun tak beraturan. Mereka lalu saling berpelukan. Kini tidak ada lagi rasa jijik, risih, kuman atau apapun dalam benak Arsen. Yang ada dalam pikirannya, ia berhasil membuat Sheena menjadi miliknya seutuhnya. Dan Arsen pun kini bisa merasakan bahwa bercinta itu sangat nikmat. Bisa menghilangkan semua stress yang melebihi dari sekedar berciuman.


" Kamu sangat hebat sebagai pemula, Arsen." Bisik Sheena.


"Apa kamu puas?"


"Sangat puas, Arsen."


"Apa kamu mau lagi?"


"Boleh-boleh saja. Lalu bagaimana dengamu?"


"Sangat nikmat. Apalagi saat kamu menjepit juniorku. Oh, rasanya sungguh luar biasa. Aku mencintaimu Sheena."


"Aku juga mencintaimu Arsen."


"Terima kasih untuk kenikmatan ini dan terima kasih membuatku merasakan bagaimana rasanya seorang perawan," ucap Arsen dengan terkekeh.


"Sama-sama Arsen. Terima kasih telah menjadikan aku yang pertama juga."

__ADS_1


Hari itu Arsen dan Sheena menghabiskan waktu untuk bercinta. Hari itupun keduanya kompak mematikan ponsel, mengunci gerbang dan pintu rumah. Bahkan semua tirai rumah, mereka tutup rapat. Hari itu juga mereka benar-benar tidak mau di ganggu.


Bersambung....


__ADS_2