
Gea dibuat senyum-senyum sendiri oleh tingkah Brian. Brian merasa sangat bahagia akhirnya perasaannya terbalaskan. Namun ada satu hal yang membuatnya takut, bagaimana jika Gea tahu siapa dirinya yang sebenarnya.
-
''Sayang, bagaimana Brian dan Gea?'' tanya Sheena pagi itu saat keduanya menikmati sarapan bersama.
''Kamu jangan khawatir sayang, semuanya membaik. Aku hampir di buat gila oleh anak itu. Menyusahkan sekali.'' Ucapnya dengan kesal.
''Untung saja Brian datang tepat waktu kalau tidak? Bagaimana dengan Gea?''
''Dasar anak muda ini. Sama sekali tidak bisa di kontrol. Gea juga, sudah tahu bahaya nekat datang. Sepertinya hidup Brian selalu bermasalah saat dengan Gea.''
''Sayang, kamu tidak ada niat untuk menghalangi hubungan mereka kan?'' Sheena menatap curiga kearah suaminya.
''Entahlah!"
''Sayang, kamu jangan begitu. Kasihan Brian. Dia sedang memperjuangkan cintanya. Meskipun aku tahu kalau kamu mengkhawatirkannya.''
Arsen tersenyum melihat wajah istrinya yang tampak khawatir. ''Tidak sayang. Mereka berdua memang merepotkan tapi aku baru kali melihat Brian memperjuangkan seorang wanita, yang mana dia itu belum tahu asal-usulnya.''
''Cinta tidak perlu tahu asal-usul, sayang. Aku yakin pilihan Brian sudah tepat.''
''Ya, aku harap begitu.''
''Papa dan Mama tahu masalah ini?''
''Tidak. Aku tidak mau membuat mereka khawatir.''
''Kamu memang Kakak yang sangat baik. Makin cinta deh.''
''Masa sih?''
''Iya dong, hehehe. Sayang, aku ingin makan malam diluar nanti. Kamu mau kan?''
''Boleh. Mau makan dimana? Biar aku reservasi tempat dulu.''
''Mmmm western food, sayang.''
''Oke baiklah. Oh ya ajak Kak Arthur sama Belinda ya. Sudah lama kita tidak berkumpul bersama.''
''Iya sayang.''
-
__ADS_1
''Eonni! Kangen,'' peluk Belinda begitu bertemu dengan kakak iparnya.
''Masa sih?'' goda Sheena yang juga membalas pelukan Belinda.
''Ihh nggak percaya.''
''Pengantin baru, lagi hangat-hangatnya masa iya sempat merindukan orang lain.'' Kekeh Sheena.
''Dia hanya basa-basi, sayang.'' Sahut Arsen.
''Ih ini lagi malah ngomporin.'' Kesal Belinda. Walaupun pada akhirnya Arsen memeluk adiknya yang manja itu.
''Bagaimana kabarmu Bel? Tidak ingin bulan madu?''
''Pingin oppa tapi nunggu Kak Arthur nih.''
''Kakak belum mengajak Belinda bulan madu?'' Sheena menyahut.
''Belum Sheena. Menyelesaikan pekerjaan dulu.''
''Arthur, sebaiknya kalian pergi bulan madu. Biar aku yang mengurus semuanya. Aku juga ingin punya keponakan.'' Goda Arsen.
''Aku juga!" sahut Sheena.
''Aku ingin ke Paris dan Turki.'' Jawab Belinda dengan semangat.
''Lusa kalian berangkat. Aku akan meminta Soni untuk mengurusnya. Aku yang sibuk saja bisa menyempatkan bulan madu.'' Arsen sengaja memancing kekesalan adiknya.
''Iya nih Oppa, dia lebih sayang pekerjannya.'' Belinda cemberut.
''Sudah-sudah selesaikan masalah rumah tangga kalian di rumah. Sebaiknya kita pesan makanan.'' Sheena berusaha menengahi.
''Sheena, bagaimana kehamilanmu? Apa Arsen membuatmu kesal?''
''Sama sekali tidak, Kak. Dia suami yang sangat baik. Sejauh ini hanya selera makan kita yang tertukar.''
''Tertukar? Maksudnya Eonni?''
''Kamu tahu sendiri kan, Oppa mu ini seperti apa. Dia berubah menjadi aku dan aku berubah menjadi dia. Lucu bukan?'' ucap Sheena seraya tertawa.
''Kehamilan yang sangat seru. Bagaimana oppa? Merasakan makan tanpa memikirkan kandungan kalori di dalamnya?''
''Seperti yang kamu lihat, pipi dan perutku menggemuk.'' Ucap Arsen tertawa.
__ADS_1
''Mau gemuk atau kurus, aku tetap cinta sayang. Kamu makin gemoy dan bikin gemes.'' Kata Sheena sambil mencubit pipi suaminya.
''Kamu hebat Sheena, bisa menghilangkan kejijikannya.'' Celetuk Arthur.
''Sudahlah jangan membahas itu,'' kesal Arsen. Siapa yang tidak tahu Arsen? Sikap sok bersih dan begitu perfeksionisnya, membuat orang hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Selesai makan malam, Arthur dan Belinda pamit pulang terlebih dahulu. Belinda yang begitu antusias untuk berangkat bulan madu, ingin segera berkemas. Sementara Sheena dan Arsen pergi menonton film.
Sesampainya di rumah, Belinda dan Arthur segera menuju kamar.
''Maaf ya aku belum bisa mengajakmu bulan madu.'' Ucap Arthur.
''Tidak apa-apa Kak. Kamu kan sibuk.'' Ucap Belinda yang sebenarnya memang sedikit kesal dengan Arthur. Belinda merasa terabaikan. Bahkan semalam Arthur begitu sibuk di ruang kerjanya sampai pagi. Arthur merasa bersalah pada Belinda. Karena terlalu sibuk dan mengabaikan istrinya. Arthur mendekat lalu memeluk Belinda dari belakang.
''Maaf ya. Lusa kita akan pergi ke Turki dan Paris. Kamu tahu sendiri, aku lah yang mengelola perusahaan saat ini. Semua beban ada di pundakku. Maafkan aku, sayang.''
Belinda tersenyum membalas memeluk tangan Arthur melingkar ditubuhnya. ''Iya tidak apa-apa.''
''Maaf, aku mengabaikanmu. Kamu boleh marah dan kesal padaku.''
''Aku tidak akan marah untuk apa?''
''Rupanya si gadis kecil ini sudah semakin dewasa.'' Arthur mengecup pucuk kepala Belinda. Belinda lalu berbalik menatap Arthur. Mata keduanya saling bertemu.
''Aku mencintaimu, Bel.'' Arthur mengangkat dagu Belinda dan mencium bibir istrinya dengan lembut. Ditariknya oleh Arthur tengkuk dan pinggang Belinda untuk memperdalam ciumannya. Belinda pun membalas ciuman suaminya. Ciuman yang berubah menjadi luma...tan yang semakin panas dan tak terkendali. Rasa rindu tak dibelai oleh Arthur seharian, sudah membuat Belinda rindu. Begitu pula Arthur yang mengabaikan kecantikan dan keindahan tubuh istrinya. Tangan Arthur menurunkan resleting dress Belinda tanpa melepaskan pagutannya sampai dress itu benar-benar lepas dari tubuh Belinda. Tinggalah bra berwarna cream dan celana segitiga berenda warna senada. Tangan Belinda lalu membuka satu persatu kancing kemeja Arthur dengan nafas memburu. Lalu dibukanya ikat pinggang Arthur dan di turunkannya celana milik Arthur, hingga tersisa boxer saja. Arthur lalu menuntun Belinda menuju sofa.
''Aku akan memuaskanmu sayang.'' Ucap Arthur sesaat setelah melepaskan pagutannya. Belinda hanya mengangguk manja. Dilepasnya pengait bra dan celana segitiga milik Belinda. Arthur langsung meraup kedua bukit kenyal milik Belinda. Menjilatnya dan menghisapnya dengan rakus.
''Akhhhh... sayang.'' Desah Belinda akhirnya lolos juga. Belinda mendekap kepala Arthur, meminta Arthur untuk melakukan lebih, lebih dan lebih. Arthur meninggalkan jejak merah disana. Arthur merasa rugi melewatkan satu hari tanpa menjamah istrinya yang masih ranum dan seksi itu. Lidah Arthur kini telah sampai pada area sensitif milik Belinda. Lagi, Arthur menjilat dan menghisapnya seperti orang kelaparan.
''Akhhh....'' teriak manja Belinda kala lidah Arthur menusuk dibagian bawah sana. Belinda merasakan nikmat yang luar biasa.
''Lagi sayang, lebih dalam....akhhh...,'' pinta Belinda dengan ******* manjanya. Membuat Arthur begitu semangat. Arthur memasukkan jarinya, mengoyak isi di dalamnya sambil mere...mas bukit kenyal Belinda secara bergantian. Ekspresi terangsang Belinda, membuat Arthur sangat semangat.
''Sayang, aku... mau... keluar... akhhh.''
''Keluarkan saja, sayang.'' Kata Arthur sambil terus memainkan jarinya di dalam sana. Arthur lalu menghisapnya lagi sampai ia merasakan tubuh Belinda mengejang mencapai pelepasan pertamanya.
''Arrghhhhh......,'' lenguh panjang Belinda sambil menjambak rambut Arthur. Lagi, Arthur tak memberi ampun. Ia menghisap cairan kenikmatan itu dengan menggila. Membuat Belinda menjerit nikmat.
''Sayang, aku akan membayar waktuku yang terlewatkan untukmu.'' Ucap Arthur disela-sela nafas memburunya. Masih posisi di sofa, Arthur membaringkan tubuh Belinda. Meminta Belinda menungging dan Arthur menjilat kembali milik Belinda.
''Sayang, oughhh... Aku suka.'' Desah Belinda.
__ADS_1
''Kamu sangat nikmat, sayang.'' Ucpa Arthur. Malam itu keduanya menyatu dalam hasrat, cinta dan gairah yang membara. Saling merasa haus dan saling membayar rasa haus itu, hingga membuat keduanya melewati malam yang menggila.