
Sejak bangun tidur, Naynay sudah merasa aneh dengan sikap Afif yang berubah dingin. Yang biasanya akan cium-cium dulu, sekarang hanya cuek saja. Naynay bingung sendiri, apa ucapannya tadi malam menyinggung Afif? Apa Afif tidak nyaman ketika dia membicarakan tentang anak yang dia kandung?
Di dalam mobil pun Afif hanya duduk diam dengan kacamata hitam bertengger di atas hidungnya. Ketika Naynay mencium tangannya sebelum keluar dari mobil, laki-laki itu tidak menoleh sedikit pun.
Ketika akan masuk ke dalam kelas, Naynay merasakan pusing yang luar biasa. Kepalanya terasa sangat berat, semua yang dilihatnya sudah tidak jelas lagi. Seperti berputar-putar.
"Astaga, Nay!!" Rania yang baru saja datang begitu panik melihat Naynay terhuyung. Dia memegangi tubuh sahabatnya itu agar tidak terjatuh.
"Kamu pucat banget, kita ke rumah sakit aja, ya!!" Wajah khawatir Rania begitu kentara.
Naynay memegangi kepalanya yang masih terasa sedikit berdenyut. "Nggak usah, Ran. Aku nggak apa-apa."
"Gimana aku bisa percaya kalau wajah kamu udah kayak mayat?!!" geram Rania sambil memapah Naynay menuju ke UKS.
Setibanya di UKS, Rania membantu membaringkan tubuh Naynay di atas bankar. Ditutupnya tirai agar tidak ada yang tahu mereka ada di sana. Rania benar-benar khawatir, wajah Naynay masih pucat dan banyak titik keringat di pelipisnya.
"Aduhhh, aku harus gimana, ya? Kalau panggil suster sekolah, nanti ketahuan. Harus gimana dong??" Gadis perawan itu mondar-mandir, Naynay yang melihatnya semakin merasa pusing.
"Ambilin air putih dong, Ran."
Dengan cepat Rania mengambil air dari dispenser yang ada di sana dan memberikannya pada Naynay. Wajah bumil itu sudah tidak sepucat tadi lagi.
"Kamu kenapa sampai kayak gini sih, Nay? Aku takut kamu pingsan lagi kayak dulu." Rania meletakkan gelas yang baru saja diberikan Naynay ke atas nakas di samping bankar.
"Nggak tahu juga, tiba-tiba pusing aja." Bumil itu memejamkan matanya dengan posisi tidur menyamping.
"Tadi pagi muntah?" tanya Rania yang masih khawatir. Naynay hanya membalas dengan anggukan kepalanya. Dedek bayi di perutnya kembali rewel karena tidak mendapat pelukan dari Afif semalam.
"Aku telepon suami kamu aja, ya."
Naynay langsung duduk mendengar Rania akan menghubungi Afif. "Jangan, nanti heboh lagi gara-gara dia datang ke sini. Kamu mau kalau semuanya terbongkar?"
"Yaudah, om Hendrayan aja, ya. Atau nggak tante Yasmin!" Rania sudah menyalakan hpnya, tapi direbut oleh Naynay.
"Nggak usah, aku udah ngerasa lebih baik. Kita ke kelas yuk!" Naynay turun dari bankarnya dan meraih tasnya.
"Kamu yakin?"
"Ayo, Ran. Kamu makin hari makin cerewet aja..." ujar Naynay sambil mencubit keras pipi Rania hingga gadis perawan itu meringis.
Mereka akhirnya kembali ke kelas. Dari pagi sampai sore itu, Naynay tetap berusaha agar kepalanya yang pusing bisa menyerap pelajaran yang dijelaskan guru.
Untungnya ketika dia keluar dari gerbang, sopir sudah menunggunya hingga dia bisa cepat pulang. Kepalanya terasa semakin sakit.
__ADS_1
"Anda terlihat tidak sehat, kita ke rumah sakit saja, Nona." Sopir itu juga khawatir melihat Naynay yang lemas dan pucat.
"Kita langsung pulang aja, Pak." Naynay mengulas senyumnya agar sopir itu tidak khawatir lagi. Akhirnya pria paruh baya itu mengikuti kemauan nona mudanya untuk langsung pulang.
Sesampainya di rumah, Pak Hen sudah menunggu di depan pintu masuk. Sejak tadi pagi dia sudah melihat gelagat tidak biasa dari Naynay. Mulai dari wajah yang pucat, sampai sarapan yang hanya dimakan sedikit sekali.
"Nona, saya akan meminta Dokter Nathan untuk mengirim dokter ke sini. Anda...."
Belum sempat Pak Hen menyelesaikan ucapannya, Naynay sudah jatuh pingsan. Untungnya salah satu pengawal di sana bergerak cepat menahan tubuh nona mudanya itu agar tidak jatuh ke lantai.
"Panggil pengawal wanita!!" perintah Pak Hen pada pengawal lainnya. Dia sudah diberi ancaman kalau Naynay tidak boleh disentuh laki-laki lain. Siapa lagi yang bilang begitu kalau bukan Afif. Pengawal laki-laki yang menahan tubuh Naynay juga tidak punya pilihan lain, kalau dibiarkan, nona mudanya akan jatuh dan Afif akan semakin marah lagi.
Setelah dua orang pengawal wanita datang, mereka segera membawa tubuh Naynay ke kamar.
*****
Ryan yang sedang berdiri di samping Afif yang memimpin rapat mendapat informasi dari Pak Hen kalau Naynay pingsan. Dia membisikkan tentang keadaan Naynay kepada Afif. Beruang Tampan itu langsung berdiri dan meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata.
"Rapat diundur!" ucap Ryan singkat sebelum menyusul Afif, tapi bedanya dia tetap menjaga image-nya. Tidak seperti Afif yang sampai berlari.
"Bagaimana keadaannya?!" tanya Afif sedikit membentak ketika panggilannya sudah tersambung.
"Nona belum sadar, Tuan. Dokter sedang dalam perjalanan," lapor Pak Hen yang merinding mendengar suara menyeramkan Afif.
Ryan tersenyum tipis dan menjalankan mobil keluar dari parkiran. Jalanan yang lumayan padat tidak membuat Ryan kesusahan sama sekali, walaupun dia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Sudah lama sekali dia tidak membawa mobil seperti ini, tapi kali ini tuan mudanya sedang membutuhkannya.
Bunyi decitan ban mobil terdengar nyaring saat Ryan mengerem. Afif keluar dari mobil tanpa dibukakan pintu dan berlari menaiki tangga. Dia membuka pintu dengan kasar dan mendekati Naynay yang masih tidak sadarkan diri di atas tempat tidur.
"Nay," panggil Afif sambil menepuk-nepuk pelan pipi Naynay, tapi istrinya itu tidak merespon sedikit pun.
Pak Hen masuk bersama dokter wanita berhijab, Dokter Melisa. Dia dihubungi oleh Nathan yang juga merupakan rekannya tapi beda rumah sakit.
"Permisi, Tuan. Saya akan memeriksa nona Naynay." Dokter Melisa memulai pemeriksaannya terhadap Naynay.
Afif memperhatikan setiap pergerakan dokter berhijab tersebut. Dia berharap Naynay baik-baik saja, beserta darah dagingnya.
"Nona Nay baik-baik saja, dia hanya kelelahan. Tolong pastikan dia selalu mengkonsumsi vitaminnya. Nona juga sepertinya tertekan karena banyak pikiran. Dan juga jangan singgung tentang kejadian yang membuat dia trauma." Dokter Melisa menjelaskan sembari menyimpan kembali peralatannya.
"Saya pamit, Tuan Muda." Dokter Melisa keluar dari kamar itu bersama Pak Hen.
Afif membuka jasnya dan melemparnya sembarangan, mendaratlah jas mahal itu di lantai. Dia duduk di pinggir ranjang, memperhatikan wajah istrinya yang masih pucat.
"Kelelahan, tertekan, banyak pikiran." Poin dari pemeriksaan Dokter Melisa tadi terus berputar di kepalanya, Afif sampai mengusap kasar wajah tampannya.
__ADS_1
Afif pindah ke sisi ranjang lainnya dan berbaring di samping Naynay dan memeluk Koala Buntingnya itu. Dipandanginya wajah pucat yang biasanya tersenyum manis itu secara intens.
"Ayo bangun, kau sudah pingsan sejak kemaren." Afif mencubit hidung mancung Naynay yang mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Beneran Nay pingsan dua hari?" tanya Naynay dengan suara lemas, matanya mencari-cari di mana hpnya. Dia ingin melihat hari dan tanggal berapa sekarang.
"Bercanda, Nay. Kau terlalu serius menyikapi setiap perkataanku."
Naynay menatap Afif sebentar sebelum beranjak duduk. Kepalanya masih tersa pusing.
"Dokter bilang kalau kau harus istirahat, sini." Afif menarik tubuh Naynay hingga kembali berbaring dan memeluknya.
"Kakak nggak kerja?" tanya Naynay sambil menahan geli karena bibir Afif yang mengecup semua bagian wajahnya.
"Bagaimana aku bisa kerja kalau istriku ini sedang sakit, hhmm?" Afif yang gemas mulai gigit-gigit.
Naynay tidak membalas, dia hanya mengusap pipinya yang memerah akibat digigit Afif.
"Ingin sesuatu?" tanya Afif sambil mencuri kecupan di bibir Naynay.
Naynay mengangguk pelan, tapi tidak juga mengutarakan apa yang dia inginkan.
"Mau apa?"
"Mau dipeluk Kakak sampai Naynay tidur," jawab Naynay dengan wajah memerah malu. Jarinya sudah bertaut gugup.
"Bilang dong dari tadi." Afif langsung mempererat pelukannya pada Naynay. Dia juga menuntun tangan Naynay agar membalas pelukannya.
Pandangan Afif kini terpusat pada bibir mungil Naynay. Perlahan tapi pasti, bibirnya mendekat dan mulai merasakan kelembutan bibir pucat Naynay. Digigitnya bibir itu agar terbuka, lidahnya mulai beraksi merasakan rasa manis dari bibir Naynay.
Bagaimana Naynay bisa tidur kalau dicium seperti itu?
.
.
.
.
.
Kalian udah mulai bosan, ya... Aku sedih banget pas lihat pembacanya mulai menurun.
__ADS_1
Jangan sungkan untuk komen, ya. Walaupun nggak aku balas, tapi aku baca kok. Aku seneng bacanya...