My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 154 Mulai Lagi


__ADS_3

''Gawat nih, Brian. Kita bener-bener jadi kere. Papa saja sudah menyita semua fasilitasku. Tahu seperti ini, ogah deh balik ke Indo.'' Kata Belinda. Keduanya kini kompak berbaring di atas tempat tidur sambil meratapi nasib.


''Noona masih mending jadi sekretaris, aku jadi staf biasa untung aja sih bukan OB. Jauh-jauh kuliah di London, eh jadi staf biasa. Sekarang kita tidak bisa kabur lagi. Aku pun juga tidak bisa kemanapun dengan bebas. Semuanya sudah disita Papa.''


''Papa juga aneh banget. Kenapa mendadak seperti ini? Sumpah deh pusing aku.'' Belinda frustasi sambil mengacak rambutnya.


''Apalagi aku? Pamorku sebagai casanova hilang gitu aja. Terus kabar si Dave bagaimana?''


''Dia baik. Memangnya kenapa?''


''Saranku, noona jangan berhubungan dengannya lagi. Dia bukan pria baik-baik.''


''Sudah, jangan ikut campur urusanku. Aku tidak akan percaya sebelum tahu kebenarannya di depan mata ku.''


''Ya terserahlah. Awas nanti nangis-nangis,'' ledek Brian.


Sementara itu Tuan Keenan sedang berbincang bersama Nyonya Dira di kamar.


''Pah, kita keterlaluan apa tidak ya dengan Brian dan Belinda?''


''Tentu tidak, Mah. Yang keterlaluan itu mereka. Mereka belum juga bisa berubah. Kamu lihat sendiri kan mutasi rekening Belinda 2 milyar itu tidak sedikit. Ini juga salah kita, terlalu memanjakan mereka. Papa tidak mau mengulang kisah lama Arsen dengan wanita itu. Itu sudah pilihan yang tepat, Mah. Sudah saatnya kita mendidik mereka lebih keras. Papa juga sudah bicara dengan Arthur dan Arthur sendiri yang meminta Belinda untuk menjadi sekretarisnya.''


''Lagian Belinda itu bodoh sekali, masa iya modalin pira asing itu tanpa pikir panjang. Untung saja Papa bisa tahan amarah, tidak melepaskan amarah Papa begitu saja.''


''Karena yang kita hadapi ini Belinda, Mah. Belinda juga pasti sudah sadar kalau dia melakukan kesalahan di belakang kita. Setelah resepsi selesai, kita cari rumah untuk mereka.''


''Tapi yang layak ya, Pah. Kasihan mereka juga.''


''Iya Mah, Mama tenang saja. Kalau Brian, sebelum dia salah pilih juga, Papa ingin tahu apakah ada wanita yang baik dan tulus dengannya tanpa ada embel-embel Dirgantara di belakang namanya. Lagi pula Brian dan Belinda termasuk anak-anak kita yang terekspose, berbebda dengan Arsen yang memang sudah menjadi ujung tombak perusahaan kita. Sekarang saatnya Belinda dan Brian untuk mencari jati diri. Mama tenang saja ya, Papa tetap akan mengawasi mereka berdua kok. Papa juga ingin tahu bagaimana reaksi si Dave kalau Belinda sudah tidak bisa di manfaatkan lagi. Dan juga hal ini bagus untuk membuat Arthur dan Belinda menjadi lebih dekat.''


''Iya juga sih, Pah. Ya sudah Pah, semoga mereka bisa belajar untuk menjadi anak yang mandiri.''


''Iya Mah. Kasihan Arsen kalau semua hal harus dia yang mengurusnya. Ini dia juga belum pulang dari Macau. Sedangkan sebentar lagi mereka akan mengadakan resepsi pernikahan.''

__ADS_1


''Ya semoga saja urusan disana cepat selesai. Tapi bagus juga sih Pah, mereka bisa menyempatkan waktu untuk bulan madu.''


''Iya juga sih, Mah. Ya sudah Mah, kita istirahat ya.''


''Iya Pah.''


-


''Sheena, kamu sudah berkemas?'' tanya Arsen.


''Kita beneran pulang besok ya?''


''Iya sayang. Semuanya juga sudah selesai. Kamu masih ingin jalan-jalan lagi?''


''Iya sih. Aku senang sekali disini. Apalagi untuk pertama kalinya aku pergi ke luar negeri.''


''Setelah kita melangsungkan resepsi pernikahan, kita bulan madu lagi. Negara mana yang ingin kamu kunjungi?''


''Aku dari dulu ingin sekali pergi Switzerland. Aku sangat suka suasana alam pedesannya yang hijau, pegunungan yang indah dan air sungat yang sangat jernih. Aku ingin naik keretea menyusuri keindahan malam di sana dan gondola juga. Itu adalah negara impian yang ingin aku kunjungi. Aku hanya selama ini selalu melihatnya di ponselku saja.''


''Iya dong. Suasana keramaian sudah biasa jadi kita menyepi sejenak.''


''Bagus juga ide kamu Sheena. Kita bisa seharian nempel deh dan tidak ada yang menganggu kita.''


''Disini saja kamu selalu menempel, bahkan di rumah juga jadi tidak bisa di jadikan alasan juga,'' ucap Sheena terkekeh.


''Salahmu sendiri sudah membuatku merasakan candu yang luar biasa.'' Jawab Arsen sambil mendaratkan ciuman gemas di leher Sheena.


-


Keesokan harinya Belinda sedang bersiap menuju kantor. Hari pertamanya bekerja, Belinda ingin menunjukkan kepada Papanya kalau ia mampu, begitu pula dengan Brian.


''Pagi Pah-Mah,'' sapa Belinda dan Brian dengan kompak seraya memberikan kecupan di pipi Papa dan Mamanya.

__ADS_1


''Pagi juga sayang. Wah, sudah siap semua nih.'' Kata Nyonya Dira.


''Iya dong, Mah. Brian ingin membuktikan bahwa Brian bisa.''


''Begitu juga dengan Belinda.''


''Good! Kalian pasti bisa.'' Sahut Tuan Keenan dengan senyum penuh kepuasan.


''Karena ini hari pertama kalian bekerja, Mama membawakan bekal untuk kalian. Supaya kalian semangat.''


''Yeay! Makasih, Mah.'' Jawab Brian dan Belinda dengan kompak seperti anak kembar.


''Tapi Bel, itu pakaian kamu? Yakin seperti ini? Mana ada rok kamu kasih leging begitu.'' Kata Nyonya Dira yang baru ngeh dengan penampilan putrinya.


"Kan naik motor, Mah. Biar nggak hitam kena matahari. Nanti Belinda juga pakai jaket, masker, sarung tangan dan kacamata. Paparan sinar matahari disini sangat menyakitkan, Mah. Nanti sampai kantor, Belinda lepas."


"Kalau kamu tidak mau kepanasan bisa naik angkot, Bel." Sahut Tuan Keenan.


"Itu lebih parah, Pah. Aku tidak mau berdesakan di dalam angkot. Lebih baik seperti ini."


"Oke, kalau itu keputusan kamu. Ingat ya, Papa hanya akan memberikan kalian uang transport dan makan untuk bulan ini saja. Bulan depan kalian harus usaha cari sendiri."


"Iya Pah, kita ngerti. Tapi kita merasa di anak tirikan. Apa Brian dan Belinda bukan anak kandung Papa dan Mama," sahut Brian.


"Kamu maunya apa? Anak kandung atau pungut?" tanya Tuan Keenan.


"Ya ampun Papa ih, jahatnya sama anak sendiri." Timpal Belinda.


"Lagian kalian ini aneh-aneh saja. Sudah tahu anak kandung, masih saja ragu. Eonni dan Oppamu mereka itu penurut, sedangkan kalian ini tahunya hangout terus, foya-foya saja. Dulu eonni juga membantu Papa mengurus perusahaan dan sekarang semua tugas Oppa Arsen yang mengemban. Jadi jangan kalian pikir Oppa mu enak-enakkan. Sekarang saja dia dia Macau karena ada masalah dengan pabrik tekstil disana. Untuk itu kalian harus mulai belajar. Dan untuk kamu Bel, Papa tahu kemana larinya uangmu."


Belinda tercekat, ia hanya bisa terdiam mendengar ucapan Papanya.


"Akhirnya ketahuan juga oleh Papa. Makanya Papa menyita kartu kredit dan juga menarik semua fasilitasku. Pokoknya harus aku tagih uang di Dave. Setidaknya aku harus bisa mengembalikan kepercayaan, Papa. Aku juga ragu bisa bertahan hidup di luar tanpa fasilitas." Gumam Belinda dalam hati.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2