
Afif sedang duduk di sofa, memperhatikan istrinya yang sibuk merekam perutnya yang bergerak, anak mereka aktif sekali hari ini. Bumil itu hanya memakai crop top hitam tanpa lengan dan celana pendek senada. Sudah banyak mirror selfie di hpnya.
"Nay gendut banget, ya, Kak?" tanya Naynay sambil memutar-mutar tubuhnya di depan cermin.
"Tidak, kau semakin sexy, Sayang." Afif tersenyum, dia sudah kebal dengan pertanyaan menjebak itu. Pernah sekali Naynay ngambek karena dia salah menjawab, berakibat tidak bisa tidur memeluk bumil itu semalaman.
Walaupun dulu Naynay pernah mengatakan tidak masalah dengan bentuk tubuhnya, tapi siapa yang tahu isi hati dan sikap ibu hamil. Sekarang dia bisa ngamuk jika dikatakan gemuk, tapi hanya pada Afif saja. Naynay merasa kalau Afif mengatakannya gendut, sama saja suaminya itu tidak menghargainya yang tengah mengandung anaknya.
Naynay berjalan mendekati Afif sambil tersenyum manis, kemudian duduk tepat di samping suaminya tersebut. "Hhmm... Mau main, boleh?" tanyanya pelan.
Wahhh... Senyum cerah Afif langsung terbit dari bibirnya. Dia memutar tubuhnya menghadap sang istri dengan sebelah tangan bertengger di paha mulus itu. "Ayo, mau berapa ronde?"
"Ehh.. Bu-bukan main itu, Nay mau main keluar. Udah dua hari di sini dan kita belum pernah keluar rumah," balas Naynay sambil menurunkan tangan Afif dari pahanya.
Hembusan napas kasar terdengar dari bibir Afif, dia memijit pangkal hidungnya. Efek samping dari meniduri Naynay ternyata sepuluh kali lebih membuatnya ketagihan daripada menonton video dewasa. Virtual memang membuat ketagihan dan merusak otak, tapi yang nyata ternyata lebih membuat ketagihan. Bukan otak lagi yang rusak, langsung tremor.
"Kau mau ke mana?" tanya Afif seraya mengusap rambut istrinya yang sudah kembali tersenyum.
"Nay baru kali ini ke sini, jadi Kakak aja yang nentuin ke mana."
Afif berpikir sejenak, ke mana bagusnya dia membawa istrinya ini. "Bagaimana kalau kita pergi makan malam bersama, ada restoran beefsteak yang sangat terkenal di dekat sini." Afif memberikan usulannya.
Naynay mengangguk setuju dan mengirim pesan kepada yang lainnya agar bersiap-siap untuk pergi ke restoran tersebut. Setelah memastikan semua orang membaca pesan tersebut, Naynay dan Afif pun masuk ke ruang ganti untuk mengganti pakaian mereka.
Setelah siap, mereka keluar dari kamar. Afif membimbing Naynay menuruni tangga. Mereka segera berangkat karena yang lain sudah masuk ke dalam mobil terlebih dahulu. Untuk mobil yang ditumpangi Afif dan Naynay, yang akan jadi sopir pastilah Ryan. Di depan dan belakang tiga mobil tersebut, ada satu mobil yang masing-masing berisi 8 orang bodyguard.
Setibanya di restoran yang dimaksud, mereka disambut langsung oleh ownernya. Satu restoran sudah dikosongkan sebelumnya karena Afif menelepon menjelang mereka berangkat tadi. Privasi yang terpenting, Afif akan melakukan apapun asalkan keluarganya aman dari berbagai kemungkinan.
"Silakan, Tuan Muda." Pemilik restoran tersebut membukakan pintu ruangan biasanya Afif makan jika datang ke sini. Bisa dibilang, restoran ini adalah langganannya di negara ini.
Afif menarik kursi untuk Naynay, setelah itu dia duduk di samping istrinya itu. Araa duduk di samping Qiara di strollernya yang memang dibawa oleh Yasmin.
"Mau pesan yang mana?" tanya Afif memperlihatkan menu pada buku menu kepada Naynay.
"Kakak aja yang pesan," balas Naynay menyerahkan keputusan pada Afif. Dia akan memakan apa yang dipesankan oleh suaminya nanti.
Afif meminta pelayan untuk membawakan makanan yang biasanya dia pesan. Setelah semua orang di sana menentukan pesannya masing-masing, pelayan segera keluar untuk menyiapkan pesanan keluarga berpengaruh itu.
Naynay tersenyum menatap Ryan dan Silla yang duduk bersebelahan, sedangkan Qiara merengut masam karena duduk sendiri tanpa pasangan seperti yang lainnya. Naynay dengan Afif, Silla dengan Ryan, Yasmin dengan Hendrayan, dan dia sendiri. Sepertinya dia memikirkan untuk punya pacar setelah ini.
"Kak, dia nendang terus." Naynay meraih sebelah tangan Afif dan meletakkannya di atas perutnya.
"Mungkin karena dia kesal tidak bisa melihatmu yang begitu cantik malam ini," balas Afif tersenyum dan mengecup pipi Naynay gemas.
__ADS_1
"Ada anak kecil di sini!" kesal Hendrayan menatap jengah menantunya tersebut.
Afif tidak perduli, dia tetap membucin di depan orang-orang di sana. Naynay yang sudah kesal pun mendorong wajah suaminya itu agar menjauh darinya.
"Terusin aja kalau Kakak mau tidur sendiri malam ini," ancam Naynay berbisik. Afif langsung berhenti dan mengerlingkan sebelah matanya pada istrinya itu.
Pelayan datang dan segera menyusun makanan di atas meja besar tersebut. Mereka bekerja dengan hati-hati agar tidak ada kesalahan dan berujung memberikan masalah pada restoran ini. Setelah semuanya tersusun rapi, mereka segera keluar dengan senyum bangga.
"Istri tuan muda Afif sangat imut, aku merasa senang karena bisa melayani mereka." Pelayan-pelayan tersebut mulai membicarakan tentang Naynay yang misterius tersebut. Mereka bisa pamer pada rekannya yang lain nantinya, bahwa mereka sudah melihat wajah istri seorang Afif.
Di dalam ruangan, semua orang memulai makan malam mereka dengan sesekali bercanda. Bumil tersenyum ketika steak yang sudah dipotongkan oleh Afif masuk ke dalam mulutnya. Biasanya dia akan melepehkan daging sapi yang dimakannya, tapi sekarang tidak. Steak di sini memang enak.
"Aku juga mau disuapi," ucap Silla pada Ryan karena melihat Afif menyuapi Naynay.
Ryan memutar sedikit duduknya dan memotong steak itu kecil-kecil. Dia menyuapi gadisnya itu seperti yang dimintanya tadi.
Qiara lebih memilih menyuapi Araa bubur bayinya daripada melihat tiga pasang manusia di sana saling menyuapi. Untungnya Araa bisa diajak kompromi, bayi itu berceloteh menanggapi ucapan Qiara.
"Nay mau ke toilet," ucap Naynay setelah meminum air putih.
"Aku antar," ucap Afif sambil mengelap bibirnya yang sedikit berminyak.
"Nggak usah, Nay cuma sebentar." Naynay menolak dan segera berjalan keluar menuju toilet.
Karena telah selesai, Naynay keluar dan berkaca untuk memperbaiki poninya yang mulai berantakan. Dari pantulan kaca tersebut, dia melihat pintu toilet si sampingnya tadi terbuka. Naynay terkejut karena yang keluar dari sana adalah seorang laki-laki yang menatap tajam padanya.
Naynay memutar tubuhnya dan bertambah terkejut melihat laki-laki itu memegang pisau yang begitu mengkilap di tangannya. Kakinya tidak bisa digerakkan, dia begitu takut ketika laki-laki itu tersenyum jahat sambil berjalan mendekatinya. Ditambah pintu keluar berada lumayan jauh darinya.
"Mati kau!!" teriak orang itu seraya mengayunkan pisau hendak menusuk perut Naynay.
"Akkkhhhh....." teriak Naynay nyaring dengan mata menatap kosong ke depan.
Para bodyguard yang mendengar teriakan itupun berlari menuju toilet dan melihat salah seorang rekan mereka mencengkram tangan seorang laki-laki. Sedangkan Naynay, istri majikan mereka itu menatap kosong ke arah perut rekan mereka yang berdarah dengan pisau masih tertancap disana.
Dengan cepat, para bodyguard itu membantu rekan mereka tersebut. Sedangkan laki-laki itu dipukul dengan keras hingga terjatuh ke lantai dan lengannya ditahan di belakang tubuhnya.
"Nay!!" teriak Afif panik dan menghampiri istrinya itu. Dia begitu terkejut ketika salah satu bodyguardnya memberitahukan kejadian itu.
"Dia.. Dia mau nusuk perut Nay..." lirih Naynay gemetar menunjuk laki-laki yang meringis kesakitan di lantai. Mata laki-laki itu masih menatap tajam padanya.
Afif langsung menggendong Naynay keluar dari toilet dan membawanya ke ruangan mereka tadi. Ada sofa juga disana, jadi Afif mendudukkan tubuhnya disana dengan memangku istrinya itu.
Isak tangis mulai terdengar dari bibir Naynay yang pucat, dia memeluk Afif dengan erat. Terkejut dan takut, itulah yang sedang dialami bumil itu. Dia baru saja mengalami percobaan pembunuhan, tubuhnya gemetar karena takut.
__ADS_1
Yasmin menenangkan Araa yang juga menangis, tampaknya dia juga merasakan ketakutan Naynay. Silla dan Qiara berdiri di samping sofa, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi melihat kakak ipar mereka yang menangis ketakutan tersebut, mereka memutuskan untuk diam dulu.
Ryan dan Hendrayan yang tadi ikut keluar bersama Afif, sekarang sedang mengurus laki-laki yang mencoba menusuk Naynay tadi. Pasti ada motif dibalik percobaan pembunuhan tersebut, jadi mereka akan mencari tahu.
Afif mengusap punggung Naynay, berharap istrinya itu tenang. Dia takut jika ini membuat kesehatan mental istrinya itu kembali memburuk dan juga berimbas pada anak mereka. Araa yang tidak ada hubungan darah saja bisa merasakan ketakutan Naynay, apalagi anak mereka yang masih di dalam perut tersebut.
Yasmin memutuskan untuk membawa Araa keluar, Silla dan Qiara juga ikut agar Naynay bisa segera tenang.
"Kau sudah aman, Sayang." Afif berbisik sambil terus mengusap punggung Naynay.
"Dia mau bunuh anak kita, Nay takut...." isak Naynay yang mulai sesegukan hingga napasnya tidak beraturan. Baju bagian bahu Afif sudah basah karena air matanya.
Naynay masih terbayang-bayangan kilau dari pisau yang tadi dibawa laki-laki itu. Bagaimana tatapan kebencian dan ayunan pisau itu hendak menusuknya. Kalau tidak ada bodyguard tadi, mungkin calon bayi mereka sudah tidak ada.
"Ada aku di sini, Ryan sudah mengurusnya." Afif mengangkat kepala Naynay agar bisa melihat wajah istrinya itu.
Melihat bagaimana pucatnya dan ketakutan yang terpancar dari mata Naynay membuat Afif menggeram kesal dalam hati. Jangan harap bisa hidup tenang setelah membuat istrinya menjadi seperti ini.
"Nay mau pulang," ucap Naynay dengan tubuh yang masih bergetar hebat.
"Ayo kita pulang." Afif menghapus air mata di pipi Naynay. Dia berdiri dan menggendong istrinya itu menuju mobil.
Ryan dan Hendrayan yang masih mengurus orang tadi pun membuat Afif memanggil salah satu bodyguardnya untuk menjadi sopir. Tiga mobil melaju kembali menuju ke rumah, dua mobil lagi tinggal.
Setibanya di rumah, Yasmin segera membawa Araa yang sudah tertidur karena lelah menangis ke dalam kamar. Silla dan Qiara juga pergi ke kamar mereka masing-masing. Puluhan bodyguard berlalu-lalang di luar karena sudah mendapat laporan kejadian tadi. Mereka berkeliling memastikan keadaan aman.
Di dalam kamar, Afif membaringkan Naynay di atas tempat tidur. Dia membuka flat shoes yang dipakai Naynay sebelum ikut berbaring memeluk sang istri.
"Jangan menangis lagi, anak kita pasti juga menangis sekarang karena mamanya nangis." Afif mengusap perut Naynay, bibirnya juga memberikan ciuman hangat di jidat istrinya itu.
Tangis Naynay berhenti ketika mendengar ucapan Afif. Benar, anaknya pasti juga menangis jika dia menangis. Naynay semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Afif, pelukan juga dia pererat. Dia mencoba untuk tidur agar ketakutannya hilang.
.
.
Vote, yaaaa....
Bentar lagi ini cerita mahh...
.
.
__ADS_1