
Dan ditengah perjalanan, turunlah hujan. Gea sempat berhenti sesaat namun ia melajukan kembali motornya menuju rumah sakit. Tidak peduli lagi rasa dingin yang menusuk tubuhnya, tidak lagi peduli guyuran hujan yang membuat tubuhnya basah kuyup. Yang ia tahu saat ini adalah bertemu dengan Brian. Bulir air mata penyesalan bercampur dengan tetesan air hujan yang membasahi seisi bumi. Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya Gea sampai juga dirumah sakit. Dengan basah kuyup, ia berlari menyusuri lorong rumah sakit. Sampai akhirnya ia melihat kedua orang tua Brian berdiri di depan bangsal.
"Gea, kamu basah begini?" tanya Nyonya Dira dengan tatapan sedih.
"Tante, dimana Brian?" tangis Gea sambil menggenggam tangan Nyonya Dira.
"Ad-ada di dalam Gea. Masuklah." Ucap Nyonya Dira dengan mata sembab. Gea bergegas masuk. Tubuhnya langsung lemas, mendapati Brian berbaring dengan seluruh tubuh yang sudah tertutup selimut. Gea langsung memeluk Brian. Tangis Gea pecah saat memeluk raga yang sudah tak bernyawa itu. Hiks.. hiks.. hiks...
"Brian! Kenapa kamu tinggalkan aku? Kamu jahat Brian. Maafkan aku, Brian. Maafkan aku. Aku terlalu bodoh dan naif. Bibirku berkata tidak tapi hatiku berkata lain Brian. Dada ini juga terasa sesak. Maafkan aku. Aku mencintaimu, Brian. Aku mohon, bangunlah. Berikan aku kesempatan sekali lagi. Seandainya waktu dapat diputar kembali, aku akan menerima lamaranmu. Maafkan aku. Maafkan aku menyia-nyiakan cintamu begitu saja. Maafkan aku, Brian. Aku mencintaimu." Ucap Gea dengan sesenggukan tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh Brian yang sudah terbujur kaku. Gea melepaskan pelukannya, membelai wajah tampan dihadapannya itu. Gea dengan tubuh yang gemetar menahan dingin, mengecup kening Biran dengan lembut. Kemudian, Gea memberikan kecupan di bibir Brian untuk terkahir kalinya. Namun tiba-tiba saja, Gea merasakan tengkuknya di tekan dan bibirnya di lum..at. Gea yang memejamkan matanya, berpikir itu adalah mimpi dan khayalannya namun semua itu terasa sangat nyata. Gea membuka matanya, terbelalak melihat pria dihadapannya masih bernyawa. Gea menyadari bahwa ini hanyalah akal-akalan Brian saja. Namun Brian justru memperat pelukannya, mengangkat tubuh Gea keatas brankar tempatnya berbaring. Dan Gea menikmati ciuman dan luma..tan yang diberikan oleh Brian. Brian semakin bersemangat karena Gea tidak marah atau menolaknya. Hampir sepuluh menit bibir dan lidah keduanya bergulat didalam sana. Keduanya saling melepaskan pagutan.
"Kamu masih hidup?"
"Iya."
"Dasar jahat!" Gea memukul dada Brian. Brian mendekapnya erat.
"Kamu masih saja membohongiku."
"Aku tadi memang kecelakaan Gea. Lihat saja kaki ku terluka."
"Aku tidak suka dengan caramu begini, Brian. Kamu hampir membuatku mati."
"Hanya ini cara yang bisa aku lakukan untuk mendapatkan mu kembali. Sepertinya kematian ku juga yang hanya bisa membawamu kembali."
"Sssstttt jangan katakan itu." Gea menutup bibir Brian dengan telunjuknya.
"Kamu tidak marah?"
__ADS_1
"Sangat ingin marah. Tapi aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk kedua kalinya. Aku takut kamu benar-benar akan pergi meninggalkan aku." Gea semakin mengeratkan pelukannya. Brian tersenyum penuh kemenangan karena rencanya berhasil. Sebenarnya Brian memang kecelakaan. Kecelakaan karena kecerobohannya sendiri. Ia yang melamun hampir saja menabrak seorang pengendara. Akhirnya Brian banting stir untuk menghindari semua itu. Brian memanfaatkan kesempatan itu untuk membuat Gea kembali ke dalam pelukannya. Dengan mengajak orang tuanya bekerja sama. Namun ternyata, cara itu benar-benar bisa membuat Gea kembali.
''Brian!" Nyonya Dira mengetuk pintu. Ya, takut akan menganggu keduanya.
''Eh Mama kamu. Aku turun ya. Aku juga basah kuyup.'' Ucap Gea bergegas turun dari brankar. Brian mengangguk.
''Masuk, Mah.'' Sahut Brian. Tuan Keenan dan Nyonya Dira kemudian masuk ke dalam kamar.
''Gea, Tante membawakan baju ganti untukmu. Sebaiknya ganti baju dulu ya nanti kamu bisa sakit.'' Ucap Nyonya Dira penuh dengan rasa perhatian.
''Iya Tante, terima kasih.'' Gea kemudian pergi menuju toilet untuk ganti baju.
''Dasar licik!'' celetuk Tuan Keenan sambil mengacak rambut putranya.
''Tidak ada pilihan, Pah. Aku tidak mau kehilangan Gea.'' Ucap Brian.
''Tapi tidak harus membuat Papa dan Mama panik juga kan? Kami sampai harus putar balik demi kamu.'' Ucap Tuan Keenan yang ikut merasa di bohongi oleh ulah putranya itu.
''Mah, dia kan pembalap motor jadi sudah biasa kayak gitu.''
''Kamu tahu penolakan Gea justru membuat Mama senang.''
''Hah? Kok bisa sih Mah. Seneng ya anaknya galau berkepanjangan.''
''Bukan itu. Justru penolakan mereka menunjukkan bahwa mereka mempunyai harga diri yang tinggi. Menunjukkan kalau Gea memang tulus mencintai kamu, sayang. Kalau dia matre, dia pasti akan meneriman kamu dengan senang hati. Iya kan?''
Brian menghela. ''Iya juga sih, Mah.'' Beberapa menit kemudian, Gea kembali dari toilet.
__ADS_1
''Ah syukurlah pakaiannya pas untukmu, Gea.'' Ucap Nyonya Dira yang senang melihat Gea mengenakan dress darinya.
''Terima kasih, Tante. Tapi ini bajunya mahal sekali, masih ada bandrol harganya.'' Ucap Gea dengan polosnya.
''Kebetulan tadi diseberang ada butik. Jadi pas kamu sampai Tante dan Om pergi kesana. Karena kamu basah kuyup. Harga itu terlalu kecil jika dibandingkan dengan berartinya hidup kamu untuk Brian, Gea.''
''Maafkan kami, Gea. Om dan Tante tidak bermaksud membohongimu. Tadi Om juga tertipu. Saat dalam perjalanan, kami mendapati telepon dari Brian. Dia bilang kecelakaan. Kami panik dan segera pergi kerumah sakit.'' Jelas Tuan Keenan.
''Dan anak bandel ini nih, yang meminta kami untuk menelepon kamu. Dia mengancam mau mati sekalian kalau sampai tidak bisa hidup bersama kamu.'' Sambung Nyonya Dira sambil menjewer telinga putra bungsunya.
''Ampun Mah! Sakit.'' Rengek Brian seperti anak kecil. Gea tertawa kecil melihat Brian merengek.
''Gea, jangan ragu pada Brian dan kami. Kami sangat tulus. Kalaupun ditengah jalan Brian macam-macam atau menyakiti kamu, kami yang akan memiskinkannya langsung. Biar dia tahu rasa.'' Ancam Nyonya Dira sambil melirik kesal kearah putranya.
''Tante, maafkan Gea. Om, maafkan Gea juga.''
''Kamu tidak perlu meminta maaf Gea. Dengan begini Brian bisa belajar untuk lebih menghargai perasaan wanita.'' Ucap Tuan Keenan dengan bijak. Nyonya Dira kemudian memeluk erat Gea.
''Iya Gea, kamu tidak salah. Kami juga tidak marah kok. Terima kasih ya sudah mendewasakan Brian. Kalau dia macam-macam katakan saja sama Om dan Tante.''
''Terima kasih Tante.''
''Pah, aku mau tunangan sama Gea secepatnya.'' Sahut Brian dengan semangat.
''Papa merestui kalian tapi khusus untukmu Brian, tunjukkan kerja kerasmu dulu pada Papa. Tunjukkan kalau kamu siap memimpin perusahaan. Baru Papa akan memenuhi permintaanmu.''
''Oke Pah, tidak masalah. Asalkan Gea selalu ada disampingku.''
__ADS_1
''Gea, ini misi kamu dan Brian. Bantu dia ya.'' Pinta Tuan Keenan.
''Iya Om, pasti.'' Jawab Gea penuh dengan keyakinan.