My Perfect Husband

My Perfect Husband
Akhir


__ADS_3

Naynay mengelus lembut tangan Afif yang dia letakkan di atas pahanya. Aiko masih belum bersuara semenjak Afif bertanya tadi.


"Cepat bicara dan keluar dari rumah ini!" ujar Afif tanpa menatap Aiko. Rasa benci dan takut yang sudah tertanam sejak kecil membuatnya enggan menatap wanita berstatus neneknya itu.


Aiko menarik napas panjang dan memperbaiki duduknya. "Nenek minta maaf atas kesalahan sembilan belas tahun lalu, Afif. Nenek benar-benar menyesal...."


Afif berdecih, namun dia masih tidak mau menatap Aiko. "Aku tidak punya nenek! Kau hanya orang asing yang dengan tidak tahu malunya mencoba merusak rumah tangga kedua orang tuaku!" balas Afif emosi.


Naynay menggaruk tengkuknya karena tidak tahu harus berbuat apa. Dia juga tidak bisa ikut dalam permasalahan kedua orang ini, apalagi dia tidak terlalu paham akan semua yang terjadi.


Tiba-tiba saja, Aiko berdiri dan berlutut di depan Afif. Naynay terkejut, namun Afif hanya diam dan mengalihkan pandangannya ke arah Naynay. Laki-laki itu juga menahan tubuh Naynay yang hendak menghampiri Aiko yang berlutut sambil menangis itu.


"Afif, saya benar-benar minta maaf. Tolong maafkan semua kesalahan saya dulu. Selama sembilan belas tahun ini, saya tidak bisa hidup tenang karena kesalahan yang saya perbuat...." jelas Aiko dengan mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Air matanya begitu deras mengalir di pipinya yang enggan dihinggapi kerutan.


"Lalu? Menurutmu aku bisa hidup tenang setelah mengalami percobaan pembunuhan, huh?..." serang Afif semakin emosi. Dadanya naik-turun menahan diri agar tidak bertindak kasar di depan istrinya.


'Kak Afif marah banget, persis seperti malam itu.' Naynay mengingat ketika Afif marah dulu, di mana akhirnya laki-laki itu meminta haknya sebagai seorang suami.


Aiko tak tahu harus berbuat apa, Afif bersikeras menolak kehadirannya. Permintaan maafnya pun ditolak juga.


"Aku memaafkanmu, sekarang keluar!!" ucap Afif sambil menunjuk pintu yang terbuka lebar.

__ADS_1


Aiko mengangkat kepalanya yang tadi tertunduk. Dia tersenyum lebar mendengar Afif memaafkannya. "Bisakah kita hidup bersama?"


"Kau pikir setelah aku memaafkanmu, aku akan melupakan kejadian itu? Bermimpilah! Sekarang keluar!!" bentak Afif emosi dan menarik tangan Naynay kembali ke kamar mereka yang di atas. Dia tidak mau Gamaliel yang masih kecil itu mendengar luapan amarahnya.


Aiko berdiri dengan susah payah dan berjalan gontai keluar dari rumah. Dia memberi isyarat pada semua bodyguardnya untuk kembali ke mobil. Setidaknya Afif sudah memaafkannya, dia bersyukur untuk itu.


Sedangkan di kamar, Afif langsung menghambur ke pelukan Naynay hingga mereka terbaring di atas tempat tidur. Naynay mengusap punggung Afif yang sekarang berada di atas tubuhnya.


"Aduh.... Nay nggak bisa napas kalau gini." Naynay mendorong tubuh Afif ke samping karena dia sudah merasa sesak.


"Wpa menurutmu keputusanku memaafkannya sudah benar?" tanya Afif sambil menciumi telapak tangan kanan Naynay.


"Sangat benar! Semua orang pastinya pernah membuat kesalahan, dan mereka pastinya juga berhak mendapat kata maaf. Rasa sakit yang mereka sebabkan memang akan sulit dilupakan. Tapi Nay yakin Kakak bisa melupakan kenangan buruk itu dan menggantinya dengan kenangan yang luar biasa." Naynay dengan semangatnya membalas ucapan Afif, tak lupa dengan senyum imut khasnya yang selalu bisa membuat Afif luluh.


Tapi itu tidak akan terjadi. Wanita bernama Aiko itu benar-benar sudah menyesali semua perbuatannya di masa lalu.


Naynay yang paham kalau Afif sedang nethink pun mengelus rahang Afif. "Nggak apa-apa, yang penting Kakak nggak mikirin itu terus."


"Nay, cium!" Afif mengerucutkan bibirnya tepat di depan bibir Naynay.


Tanpa diminta dua kali, Naynay langsung mencium bibir suaminya itu. Suara cecapan mereka mengisi keheningan kamar yang sudah beberapa bulan tak ditempati itu.

__ADS_1


Dan beginilah cerita ini berakhir. Naynay melalui semua ujian hidupnya dengan kesabaran luar biasa. Kebahagiannya sudah lengkap dengan adanya Afif dan Gamaliel yang begitu menggemaskan.


Tidak ada yang spesial di akhir cerita. Namun sebuah pesan singkat aku tujukan untuk kalian, Para Pembaca.


Terima kasih sudah mendukung Naynay dan Afif sejak Desember 2020 lalu. Karena kalianlah, aku bisa menamatkan cerita ini di awal bulan Juli 2021.


Maraknya kasus hamil di luar nikah, seharusnya mendapat perhatian khusus. Semua wanita itu adalah korban, tapi bukan berarti mereka tidak bersalah dalam hal itu. Ada yang merupakan korban pemerkosaan, dan ada juga yang merupakan korban nafsunya sendiri. *** education sangat penting diberikan pada usia remaja agar hal-hal seperti ini tidak terjadi.


Terima kasih, aku pamit. Mungkin akan ada cerita-cerita baru yang akan aku publish. Namun ada juga novel-novelku yang hiatus, akan aku pindahkan ke lapak orange. Jadi, sekian.


Sampai jumpa di cerita selanjutnya.....


Ainuru Fitori


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2