
Sesampainya di kantor, Belinda lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Sementara Arthur pergi ke atap gedung untuk menelepon Arsen.
''Halo Arsen, sedang apa?'' tanya Arthur basa-basi.
''Ada apa Arthur? To the point saja, tidak usah basa-basi.''
''Ketus banget. Aku hanya ingin bertanya, apa kamu sudah mengirim vidio si Dave pada Belinda? Terus Om Keenan sudah tahu belum?''
''Iya, Papa sudah tahu. Aku sudah memberitahu Papa tapi aku belum memberitahu Belinda. Memangnya kenapa?''
''Belinda sepertinya sudah cinta buta sama tuh cowok. Aku hari ini menghalanginya untuk bertemu Dave. Ya intinya aku mewanti-wanti dia untuk hati-hati tapi dia justru marah. Dia bilang kalau saat ini semua orang sedang berusaha menjatuhkan Dave supaya dia dan Dave berpisah.''
''Apa mungkin Belinda sudah tahu vidio itu dari Papa ya?'' ucap Arsen.
''Kalaupun iya kenapa Belinda sangat percaya pada Dave. Itu bukti nyata lho, kenapa dia keras kepala sekali. Bahkan tadi dia bilang, sekalipun orang tuaku, aku tidak akan percaya.'' Kata Arthur menirukan ucapan Belinda.
''Anak itu kalau sudah punya kemauan susah sekali untuk di cegah. Arthur, aku mohon awasi Belinda. Aku justru khawatir pria brengsek itu akan memanfaatkannya. Kalau kita menangkap pria itu berdasarkan vidio itu, Belinda akan tetap memberontak dan itu pasti akan lebih menyakitinya. Kamu tahu bagaimana watak Belinda. Kita harus memberitahunya perlahan. Dan yang pasti kita harus tetatp mengawasinya.'' Jelas Arsen.
''Iya kamu benar, Arsen. Mendengar ultimatum darinya saja, membuatku kehilangan akal. Bagaimana mungkin dia bisa secinta itu pada Dave? Bisa jadi Dave sudah mencuci otak Belinda.''
''Bisa jadi seperti itu, Arthur. Maafkan aku kalau harus merepotkanmu dan justru melibatkanmu. Karena saat ini yang bisa memantau langsung Belinda hanya lah kamu.''
''Aku tidak masalah Arsen. Aku melakukan ini juga atas permintaan Om Keenan.''
''Baiklah, aku titip Belinda padamu dan kalau ada apa-apa segera hubungi aku.''
''Iya Pasti.'' Arthur pun mengakhiri panggilannya.
''Anak ini sungguh membuat semua orang khawatir. Sepertinya aku harus mengajaknya lembur malam ini.'' Gumam Arthur. Arthur kemudian segera kembali ke ruangannya. Ia melihat Belinda tampak sibuk di depan layar komputernya. Bahkan Belinda tidak menghiraukan kehadirannya.
__ADS_1
''Oh ya Bel, hari ini kita lembur ya. Ada proyek yang harus kita tangani dan juga beberapa dokumen yang mangkrak, pasca sekretaris lamaku resign.'' Jelas Arthur.
Belinda mengernyitkan dahinya.
''Apa? Lembur? Aku tidak bisa. Aku ada janji makan malam dengan Dave.'' Ketus Belinda.
''Kenapa tidak bisa? Aku atasanmu jadi tidak boleh menolak. Aku juga ikut lembur, kamu pikir aku akan duduk manis. Hampir sebagian besar perusahaan, Papa limpahkan padaku. Apalagi aku baru mengurus perusahaan lagi setelah aku mengurus rumah sakit dan juga sekolah. Kamu pikir aku tidak lelah apa? Bagaimana kamu mau mandiri, mental kamu saja tidak pernah di gembleng. Yang kamu tahu itu semuanya serba ada tanpa mau belajar bagaimana cara kita mendapatkan sesuatu. Terlebih mendapatkan sesuatu dengan jerih payah dan keringat kita sendiri. Kamu rasakan suatu saat nanti, kalau kamu bisa membeli sesuatu dengan keringatmu sendiri, kamu akan lebih bangga. Semakin dewasa usiamu, semakin besar tanggung jawab kamu, bukannya malah semakin manja.'' Arthur pun menggunakan suara sedikit keras untuk menggertak Belinda. Semua ini ia lakukan untuk melindungi Belinda.
''Kenapa sih sekarang semakin galak? Hobinya marah-marah dan suka membentak? Bisa kan bicara pelan-pelan. Aku tidak tuli!"
''Karena orang sepertimu tidak bisa menggunakan cara harus. Aku pun sudah banyak mengalah dengan segala makian dan kemarahnmu tapi mendengarku marah saja kamu tersinggung. Padahal semua yang aku ucapkan itu nasihat.''
''Halah jangan sok bijak deh, Kak.''
''Terserah apa katamu, Bel. Yang jelas hari ini kita lembur! Kalau kamu menolak, aku akan memecatmu dan Om Keenan akan sangat kecewa padamu. Aku bahkan tidak yakin kamu bisa hidup di luar tanpa kemewahan. Apa kekasihmu bisa menyelamatkanmu?''
''Aku benar-benar tidak sudi memiliki suami galak sepertimu. Aku menolak perjodohan ini dan ingin membatalkannya.'' Ucap Belinda.
''Oh tidak masalah Belinda. Aku yakin tidak akan ada pria yang tahan memiliki seorang wanita sepertimu, kecuali pria itu hanya memanfaatkanmu saja. Sekalipun perjodohan ini batal tapi kamu tetap bekerja sebagai sekretarisku. Paham?''
''Sumpah manusia satu ini sungguh menyebalkan. Awas saja kau Arthur.'' Belinda merutuk dalam hati.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Namun pekerjaan Arthur masih belum selesai. Belinda juga tampak tenang duduk di kursinya. Drrttt, drrttt, suara ponsel Belinda bergetar diatas meja. Ada telepon dari Dave. Belinda lalu berjalan keluar untuk menerima telepon dari Dave.
''Halo Dave. Maaf ya kita batalkan saja acara makan malam ini.''
''Dibatalkan lagi, Bel. Aku sudah di restoran. Kenapa kamu tidak bilang daritadi?''
''Maafkan aku ya Dave. Ini di luar dugaan ku. Aku di ajak lembur.''
__ADS_1
''Kamu pasti mulai menyukai tunanganmu Arthur itu kan? Pasti dia yang memaksamu lembur? Aku khawatir kalau kamu semakin dekat dengannya, kamu akan menyukainya.''
''Tidak mungkin aku menyukainya, Dave. Aku saja membatalkan perjodohan ini.''
''Kalau kamu membatalkan perjodohan itu, kenapa kamu masih kerja dengannya?''
''Semua ini kan atas perintah Papa. Kamu tahu kan semua fasilitasku di cabut. Bahkan setelah pernikahan Kakakku, Papa menyuruhku meninggalkan rumah dan aku disuruh hidup mandiri di kontrakan. Dan semua ini karena uang 2 Milyar yang aku berikan padamu, Dave.''
''Oh jadi kamu menyalahkan aku atas semua ini? Kamu juga tahu kondisi aku kan, Bel. Aku pasti kembalikan uang kamu.''
''Kamu jangan salah paham dulu, Dave. Aku tidak bermaksud seperti itu. Lama-lama aku bisa di coret dari KK sama Papa. Jadi untuk sementara aku harus menuruti semua permintaan Papa. Aku mohon kamu mengerti ya. Disaat seperti ini justru kamu harus memberiku semangat. Oh ya bukankah bagus kalau aku tidak tinggal di rumah, kita bisa menghabiskan waktu bersama.''
''Wah, benar juga kata Belinda. Aku bisa bebas menemuinya bahkan aku bisa memperalatnya. Bayangkan saja menjadi menantu orang yang kaya raya. Tidak perlu kerja banting tulang, sudah mendapatkan uang, posisi di perusahaan dan juga jabatan. Kalau aku bisa memperdaya Belinda, lalu Belinda hamil, pasti mau tidak mau, aku dan Belinda akan di nikahkan. Wah, tambang emas nih.'' Gumam Dave dalam hati dengan segala khayalannya.
''Iya baby, maafkan aku. Aku termakan cemburu dengan keadaan ini. Aku harap, kamu bisa menjaga hatimu untukku.''
''Tenang my baby, aku pasti akan menjaga hatimu untukku. Sekali lagi maafkan aku ya karena tidak bisa makan malam denganmu.''
''Oke baiklah tidak apa-apa. Kamu jaga kesehatan ya jangan sampai sakit. Maafkan aku juga sudah marah-marah tadi.''
''Iya tidak apa-apa. Aku tutup teleponnya dan kamu langsung pulang ya.''
''Iya Bel, i love you.''
''I love you too.'' Panggilan pun berakhir.
''Dave sangat baik, bagaimana bisa Papa dan semuanya tidak merestui hubungan kami.'' Batin Belinda. Setelah menelepon Dave, Belinda kembali ke ruangannya.
Bersambung....
__ADS_1