My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 188 Cemburu Ya??


__ADS_3

Setelah seharuan Arthur mengajak Belinda berkeliling bank sampah, Arthur mengajak Belinda untuk istirahat sejenak di kantin.


''Ada kantinnya juga, Kak?''


''Iyalah. Mereka bisa makan hanya dengan membayar sepuluh ribu saja. Sudah mendapat nasi, lauk dan minuman juga. Kamu mau makan apa?''


''Terserah saja lah. Aku juga tidak bisa memilih.'' Ucap Belinda. Arthur lalu memesan dua porsi sup sayur, dengan ayam goreng dan tahu tempe. Tak lupa dua gelas es teh manis sudah ia pesan. Arthur lalu menyusul Belinda yang sudah mendapatkan tempat duduk.


''Sudah cuci tangan?'' tanya Arthur.


''Sudahlah, itu wajib!" ketus Belinda. Tak lama kemudian pesanan pun datang.


Belinda menaikkan alisnya. ''Ini Kak makan siangnya?''


''Iya Bel, memang kenap? Semua gizinya sudah terpenuhi. Karbohidrat, proten dan lemaknya juga seimbang.''


''Tapi aku tidak habis. Nasinya terlalu banyak. Aku juga tidak suka tahu dan tempe.''


Arthur benar-benar dibuat kesal oleh Belinda. Ia lalu memindahkan tahu dan tempe ke dalam piringnya.


''Sudah, aku pindahkan ke piringku. Sekarang makanlah.''


''Oke, terima kasih.'' Ucap Belinda dengan senyum lebarnya. Saat sedang menikmati maka siang, datanglah Sinta menyapa Arthur.


''Kak Arthur!"


"Sinta,'' Arthur terkejut melihat Sinta ada disana.


''Boleh aku duduk Kak?'' tanya Sinta. Sinta benar-benar mengabaikan kehadiran Belinda.


''Silahkan.'' Singkat Arthur.


''Sedang apa disini?'' tanya Belinda ketus.


''Oh aku disini sedang ada tugas kampus dengan tema menjaga lingkungan. Aku mendapat rekomendasi tempat ini. Aku tidak menyangka kalau perusahaan ini milik Kak Arthur.'' Jawab Sinta sambil sesekali melirik Arthur yang sibuk dengan makanan dihadapannya.


''Kamu sudah makan?'' tanya Arthur.


''Sudah pesan kok, Kak.'' Ucap Sinta.


''Ish, untuk apa Kak Arthur perhatian padanya?'' gerutu Belinda dalam hati.


''Lalu tugasmu sudah selesai?''

__ADS_1


''Sudah Kak. Kalau boleh aku ingin Kakak jadi narasumberku juga, sekaligus aku ingin minta foto bersama.''


''Oke tidak masalah. Tapi setelah makan siang ya.''


''Iya Kak. Kak Arthur memang sangat hebat ya. Masih muda tapi memiliki segudang prestasi. Apalahi setelah berkeliling di bank sampah ini. Ini adalah sebuah gagasan yang sangat luar biasa. Selain bisa menyelamatkan lingkungan, bisa juga membuka lapangan pekerjaan. Bukan hanya itu, Kak Arthur juga mempunyai sekolah seni untuk mereka yang berkebutuhan khusus. Itu sangat hebat! Wajah tampan dan hati yang begitu dermawan. Aku sangat kagum dengan Kak Arthur.''


''Terima kasih Sinta,'' singkat Arthur dengan senyum kecilnya.


''Ada penjilat!" celetuk Belinda.


''Maksudmu apa? Aku bicara sesuai fakta.'' Sanggah Sinta.


''Ups, merasa ya!" ketus Belinda.


''Bel, habiskan makananmu! Jangan banyak bicara.'' Ucap Arthur pada Belinda. Sinta merasa puas karena Arthur membelanya. Padahal Arthur hanya ingin berusaha meredam amarah Belinda supaya tidak terpancing dengan Sinta.


''Oh ya Tuan putri ini kenapa ada disini Kak? Sungguh mustahil seorang tuan putri mau datang kemari.''


''Dia bekerja di perusahaanku, Sinta. Belinda bekerja sebeagi sekretarisku.''


''Apa? Sekretaris?'' Sinta terkejut.


''Iya! Memangnya kenapa? Ada. masalah?'' sahut Belinda yang tak kalah judes.


''Hei, jaga ucapanmu penjilat! Aku hanya bosan dirumah dan ingin mencari kesibukan. Memang ada yang salah?''


''Kenapa tidak di perusahaan keluargamu sendiri?'' sambung Sinta.


Arthur menghela. Ia berusaha sabar dengan perdebatan dua wanita itu. ''Sinta, aku yang meminta Belinda bekerja di perusahaanku. Kebetulan aku sedang butuh sekretaris. Sekaligus melatihnya untuk lebih mandiri. Kalau di dia bekerja denganku, aku bisa memerrintahnya. Kalau di perusahannya sendiri, tentu dia akan menjadi bosnya.'' Jelas Arthur.


''Benar juga ya, Kak. Supaya dia tidak manja. Tuan putri seperti dia mana tahu rasanya bekerja keras.'' Kata Sinta yang membuat suasana semakin panas.


Belinda mendengus kesal. ''Memangnya kamu pernah bekerja? Bukankah hidupmu juga bergantung pada eonni Sheena? Seharusnya sebelum bicara, bercermin SINTA. Kamu lupa, siapa yang kamu ajak bicara? Dia adalah Kakak kandung dari Eonni Sheena. Tidak malu kamu menjadi penjilat setelah apa yang kamu dan ibumu lakukan pada eonni Sheena, hah? Tentu sekarang kamu sangat senang kan? Mendapatkan uang, rumah dan mobil dari kami. Iya kan? Itu yang namanya kerja keras? IYA? Lebih baik tutup mulutmu atau aku sumpal mulutmu dengan sepatuku.'' Belinda sudah tidak bisa lagi membendung amarahnya. Ia melepaskan amarahnya, sampai membuat orang-orang yang ada di kantin menatap kearahnya. Namun Belinda tidak peduli itu.


Sinta pun terdiam dan tidak bisa membalas kemarahan Belinda.


''Sekali lagi ya jangan sok kamu! Seharusnya kamu tahu dimana posisi kamu. Kalau bukan karena Eonni Sheena, kamu tidak akan pernah memiliki semua itu. Kami masih baik ya, mau balas budi. Padahal selama dua puluh empat tahun, kamu dan ibumu menyiksa batin Eonni Sheena.'' Sambung Belinda. Sinta benar-benar merasa di permalukan oleh Belinda. Semua yang ada di kantin mendengar pertengkaran keduanya. Sinta kemudian memilih pergi dari sana.


Arthur hanya terdiam dan membiarkan Belinda melepaskan amarahnya. Arthur sangat hafal betul bagaimana sikap Belinda, ketika kemarahannya sudah seperti itu.


''Aku mau pulang!" ketus Belinda. Belinda lalu beranjak dari duduknya dan segera pergi menuju mobil. Arthur hanya bisa mengehla nafas kasar, melihat apa saja yang baru terjadi.


Belinda merutuk dalam hati. ''Sumpah ya Kak Arthur nyebelin banget. Bisa-bisanya marahin aku di depan penjilat itu.''

__ADS_1


Arthur pun menyudahi makannya dan segera menyusul Belinda. Namun tiba-tiba ia di hadang oleh Sinta. Sinta menangis lalu tiba-tiba memeluk Arthur. Arthur sangat terkejut dengan apa yang di lakukan Sinta.


''Sinta, lepaskan aku!" Arthur berusaha melepaskan pelukan Sinta.


''Kak Arthur, maafkan aku. Maaf kalau aku sudah melukai hati Kak Sheena. Aku menyesal pernah jahat pada Kak Sheena.''


''Sudahlah lupakan itu Sinta.''


''Kak Arthur tapi aku juga menyukaimu Kak. Mungkin bisa dibilang aku cinta denganmu, Kak. Cinta pada pandangan pertama.''


''Terima kasih untuk perasaanmu itu Sinta. Tapi maaf, aku tidak bisa membalasnya. Lagi pula aku dan Belinda juga sudah di jodohkan.''


''Tapi Kakak tidak mencintainya kan? Jadi untuk apa Kakak lanjutkan. Cobalah buka hati Kakak untukku.''


''Sekali lagi maafkan aku, Sinta.'' Kali ini Arthur berhasil melepaskan diri dari pelukan Sinta.


''Tapi Kak, ijinkan aku mewawancaraimu sebentar.''


''Sepuluh menit ya. Belinda sudah menungguku.''


''Iya.''


''Kenapa sih hidup si Belinda itu sangat beruntung. Dia memang seperti tuan putri. Dia cantik, berasal dari keluarga kaya raya, berbeda sekali dengan kehidupanku ini. Untung saja keluarga kandung Kak Sheena orang kaya, jadi kami bisa punya rumah dan mobil. Coba kalau miskin, hidupku akan tetap miskin juga. Aku ingin merasakan berada di posisi Belinda yang memiliki segalanya, fisik dan materi yang sempurna. Sungguh menyebalkan menajdi diriku.'' Sinta mendumel dalam hati. Akhirnya setelah meluangkan waktu wawancara untuk Sinta, Arthur segera kembali kemobil.


Di dalam mobil, wajah Belinda sangat masam.


''Darimana saja sih Kak, lama sekali,'' ketus Belinda.


''Tadi Sinta tiba-tiba menghadang dan minta wawancara.'' Ucap Artjur sembari menghidupkan mobilnya.


''Apa? Kakak sudah tahu dia jahat tapi masih saja baik padanya. Apa kamu sudah termakan rayuannya? Atau kamu diam-diam menyukainya?''


Arthur tertawa mendengar ocehan Belinda. ''Astaga, aku hanya berusaha profesional saja. Itu juga untuk tugas kampus. Masa iya aku sebagai narasumber dan pemilik perusahaan, menolaknya. Yang ada dia bisa menuliskan artikel buruk tentang diriku dan juga perusahaan. Jangan bilang kamu cemburu?''


''Hah? Cemburu? Ya tidaklah.'' Belinda menyangkalnya dengan gugup.


''Bilang saja kalau cemburu. Lagi pula wanita mana yang bisa menolak pesonaku? Hah?''


''Ish, pede sekali ya Tuan satu ini? Aku benar-benar badmood.''


Arthur hanya bisa menggelengkan kepala dengan sikap Belinda yang sungguh kekanak-kanakan. Tapi justru itu yang membuat Arthur menjadi gemas pada Belinda.


''Cemburu? Ah tidak mungkin. Apa aku menyukai dia?'' gumam Belinda dalam hati.

__ADS_1


Bersambung.... Yukkk like, komen dan votenya ya yg banyak, makasih 🙏😍


__ADS_2