
“Aku pulang!” seru Arsen saat memasuki rumah. Sheena yang sedang menata makanan di ruang makan, mendengar suara Arsen segera mendekat ke arah ruang tamu. Sheena ingin menyambut suaminya. Arsen terkejut melihat penampilan Sheena yang lebih feminim dari biasanya. Apalagi dengan dress yang Sheena kenakan, semakin membuatnya cantik. Jepit rambut di sisi kiri rambutnya, semakin membuatnya terlihat manis.
“Hei, sudah pulang.” Ucap Sheena yang mendadak gugup.
“I-iya.” Arsen pun menjadi gugup.
“Apa yang kamu sembunyikan di belakangmu Arsen?” tanya Sheena penasaran.
“Ini untukmu Sheena.”
“Bunga?” wajah Sheena merona mendapat mawar merah dari Arsen.
“Masih ada lagi,” kata Arsen sambil memberikan paperbag berisi coklat dan ice cream pada Sheena.
“Apa ini?”
“Coklat dan ice cream. Apa kamu menyukainya?” tanya Arsen. Sheena mengangguk lalu memeluk Arsen.
“Terima kasih ya. Tumben kamu membelikan aku ini?”
“Supaya kamu cepat sembuh.” Kata Arsen sambil membalas pelukan Sheena. Sheena merasa bahagia sekali, begitu juga Arsen. Lagi-lagi gelang keduanya berbunyi. Sheena lalu melepaskan pelukannya dan menunjukan gelangnya pada Arsen.
“Lihatlah dia berbunyi.” Ucap Sheena.
“Punyaku juga berbunyi,” kata Arsen sambil menunjukkan gelangnya pada Sheena. Keduanya lalu saling senyum dengan tatapan penuh cinta.
“Umm kenapa kamu memesan makanan dari restoran?”
“Kamu sedang sakit jadi aku tidak mau menyusahkanmu.”
“Aku sudah membaik. Rasa ngilunya sudah berkurang.”
“Sebaiknya kamu mandi dulu, aku sudah menyiapkan air panas. Setelah ini kita makan bersama.”
“Iya, aku ke kamar dulu tapi…,” tiba-tiba Arsen mencuri kecupan di bibir Sheena. Sheena sedikit terkejut tapi ia menyukainya. Arsen kemudian berlalu begitu saja. Sheena senyum sendiri sambil memeluk buket bunga itu. Sheena lalu meletakkan ice cream dan coklat itu di dalam kulkas terlebih dahulu. Beberapa saat kemudian, Arsen turun dari kamarnya, menyusul Sheena menuju ruang makan.
“Tumben mandinya tidak sampai satu jam?” tanya Sheena.
“Nanti kamu menungguku terlalu lama.” Jawab Arsen dengan senyum hangatnya.
“Baiklah, selamat makan!” kata Sheena.
“Selamat makan!” sahut Arsen. Setelah selesai makan bersama, Arsen mengambil alih tugas untuk mencuci piring dan merapikan meja makan.
__ADS_1
“Arsen, aku ambilkan ice cream ya?” kata Sheena.
“Tidak usah, untukmu saja.”
“Pasti memikirkan kalori. Sedikit saja ya,” paksa Sheena.
“Baiklah,” kali ini Arsen mengalah. Setelah urusan dapur beres, Arsen dan Sheena duduk di tepian kolam renang di bawah sinar bulan sembari menikmati ice cream.
“Oh ya ada angin apa memberiku bunga?”
“Ingin membuatmu bahagia saja.”
“Sekali lagi terima kasih ya.”
“Sama-sama. Oh ya besok aku akan menemui dokter.”
“Dokter? Untuk apa? Apa kamu sakit?”
“Sebenarnya aku terkena mysophobia, gejalanya terlihat saat aku masih kecil dan aku menyadari itu. Aku pernah pergi ke dokter psikiater tapi saat itu aku justru marah-marah karena tidak terima dengan diagnosa dokter. Aku bahkan tidak pernah kembali saat itu. Pantas saja Flora memanfaatkan semua yang aku berikan padanya. Karena aku memang tidak normal dan sakit.” Arsen menunduk sedih.
“Bukan seperti itu Arsen, memang Nona Flora saja yang tidak bisa mengerti dan memahami dirimu. Lagi pula dalam sebuah hubungan tidak melulu tentang bermesraan, ciuman, pelukan atau bahkan hubungan badan. Karena mencintai itu harus dengan hati. Tentang menyatunya dua hati, bukan semata menyatunya dua kulit yang saling bersentuhan. Kalau memang dia tulus denganmu, seharusnya dia membantumu bukan malah memanfaatkanmu apalagi sampai mencari kepuasan dengan pria lain. Sudah jelas itu adalah hal yang salah.”
“Aku tidak ingin pasanganku menderita karena aku.”
“Aku juga sadar kalau aku begitu menyebalkan. Tapi bagaimana lagi, itulah aku. Tapi sejak aku lewati tiga bulan terakhir denganmu, aku merasa diriku tidak seperti dulu. Benar kata Mama, kalau hanya kamu yang bisa mengerti dan memahami kondisi ku. Ciuman pertamaku pun, aku berikan padamu Sheena. Bahkan pertama kali aku memeluk wanita seperti ini hanya denganmu. Aku tidur satu ranjang dengan wanita juga hanya denganmu, kamulah yang pertama Sheena. Kamu yang bisa merubahku dan membuatku merasa nyaman saat aku berada di dekatmu. Hanya kamu yang bisa dan sabar menerima semua kekuranganku disaat semua orang menganggapku sempurna. Hanya kamu, Sheena. Dan sepertinya aku sudah jatuh cinta padamu.” Ucap Arsen dengan tulus dari lubuk hati yang terdiam. Sheena masih mematung, tidak percaya Arsen akan mengatakan semua itu padanya. Namun Sheena bisa merasakan ketulusan Arsen.
“Aku tidak berharap kamu menjawab dan merasakan yang sama. Maafkan aku kalau aku selalu marah-marah bahkan selalu mengejekmu seenakku. Tapi entah kenapa aku senang sekali melihatmu kesal dan marah karena saat kamu marah, kamu sangat lucu. Terima kasih Sheena karena kamu membuat hidupku penuh warna seperti pelangi.''
“Aku tidak percaya kalau kamu akan mengatakan semua itu padaku. Apalagi seorang Arsen yang sempurna mencintai seoranh Sheena. Apa kamu yakin dengan perasaanmu?”
“Kamu mana pernah percaya dengan ucapanku. Bahkan ucapanku selalu kamu anggap bercanda.”
Sheena terkekeh mendengar ucapan Arsen. Sheena lalu melepaskan pelukan Arsen. Di genggamnya kedua tangan Arsen, Mereka lalu salin menatap satu sama lain.
“Sheena, kamu cantik.”
“Bukan si dekil lagi?” Sheena terkekeh.
“Tidak. Kamu adalah si cantik. Si cantiknya Tuan sempurna.”
Sheena tersipu malu mendengar apa yang Arsen ucapkan. “Tapi panggilan si dekil, sepertinya aku lebih menyukainya.”
Arsen lalu membelai wajah Sheena. “Bukan hanya cantik fisik tapi kecantikan hatimu, membuat wajahmu semakin cantik.”
__ADS_1
“Apa aku cantik dan cocok pakai baju seperti ini?”
“Apapun yang kamu pakai, selalu cantik. Kamu juga sudah mulai pintar berdandan.”
“Itu semua karena kamu, Arsen. Besok aku akan menemanimu periksa. Mama juga meminta kita untuk periksa kandungan dan kesuburan.”
“Untuk apa?” tanya Arsen.
“Ya kan kita mau menikah jadi kita juga harus kontrol itu juga. Setidaknya kita berjaga-jaga jika ada sesuatu yang tidak diinginkan.”
“Oke baiklah, aku setuju saja. Memang sudah ada rencana ingin memiliki anak berapa?” goda Arsen.
“Belum tahu.” Jawab Sheena malu-malu.
“Maafkan aku ya Sheena kalau aku belum siap memberikan nafkah batin itu untukmu. Karena aku rasa kamu juga belum siap.”
“Aku tidak masalah Arsen. Aku ingin kita pacaran dulu. Bukankah lebih seru pacaran setelah menikah?”
“Iya, benar katamu. Berarti kamu saat ini sedang menembakku? Kamu mengajakku pacaran?”
“Iya. Ingat ya ini hari jadi kita.”
“Apa itu artinya kalau kamu mencintaiku juga?”
“Iya,” jawab Sheena malu-malu.
“Kamu serius Sheena? Kamu serius mencintaiku?”
“Iya, Arsen.”
“Katakan aku mencintaimu Arsen. Aku tidak akan percaya kalau kamu tidak mengatakannya.” Paksa Arsen.
“Bukankah ucapan tadi sudah cukup mewakili?”
“Belum. Ayo katakan, Sheena.”
“Ak-aku menintaimu Arsen.” Ucap Sheena malu-malu. Arsen lalu memeluk Sheena dengan sangat erat.
“Aku bahagia sekali malam ini, Sheena. Aku akan mengingat hari ini dalam hidupku.”
Sheena juga merasa bahagia karena ia bisa mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya pada Arsen, suami yang menyebalkan sekaligus suami yang sempurna juga.
Bersambung.... Aku penuhi permintaan kalian buat up sekarang ya, like, komen dan votenya di gaspol yaaa, hehehe makasih 🙏❤️
__ADS_1