My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 119 Menunda


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Sheena terkejut melihat Ayahnya berdiri di depan pintu gerbang dengan motor bututnya.


“Arsen, itu kan Ayah. Aku turun dulu ya.”


“Iya Sheena.” Sheena kemudian turun terlebih dahulu, sementara Arsen segera memasukkan mobilnya di pelataran rumah.


“Ayah, sedang apa disini?”


“Sheena, Ayah ingin bertemu kamu, nak.”


“Kenapa Ayah tidak menelepon Sheena? Ayah sudah lama disini?”


“Sudah satu jam yang lalu.”


“Ya Allah, Ayah ini. Ya sudah masuk yuk, Yah.” Ucap Sheena seraya mengajak Ayahnya masuk. Pekarangan rumah Arsen bergitu luas, Pak Damar pun terkesiap melihatnya.


“Sheena, ini rumah suami kamu?”


“Ini Ayah, ini rumah Arsen. Kita ngobrol di dalam aja ya, Yah.”


Setelah memarkir mobilnya, Arsen segera turun dari mobil dan langsung menyapa Pak Damar.


“Ayah, apa kabar?”


“Baik Nak Arsen. Rumah kamu besar sekali ya. Jalan dari gerbang menuju pintu rumah saja Ayah sudah capek. Mungkin faktor usia juga,” seloroh Pak Damar dengan tawa kecilnya.


“Ya sudah, kita masuk saja dulu, Yah.” Arsen dan Sheena lalu mengajak Pak Damar masuk kedalam rumah. Pandangan Pak Damar mengedar melihat rumah yang begitu mewah itu. Sheena mengajak Pak Damar untuk menuju ruang tengah.


“Ayah, kita makan siang sama-sama yuk. Sheena masak dulu sebentar.”


“Tidak usah repot-repot Nak.”


“Tidak repot kok, Yah. Sheena senang sekali Ayah datang kemari.”


“Arsen, tolong temani Ayah ya. Aku akan menyiapkan makan siang.” Sambung Sheena.


“Iya Sheena.” Sheena terlebih dahulu membuatkan dua cangkir teh untuk Ayahnya dan juga Arsen. Setelah itu Sheena kembali ke dapur dan memasak untuk makan siang. Hampir satu jam Sheena berkutat di dapur untuk menyiapkan makan siang. Setelah semuanya selesai, Sheena memanggil Arsen dan Pak Damar untuk makan bersama.


“Ayah, Arsen, ayo kita makan. Sudah siap nih.” Seru Sheena dari arah dapur. Mendengar suara Sheena, Arsen lalu mengajak Pak Damar untuk menuju ruang makan.


“Ayah  jadi merepotkan kalian.”


“Tidak apa-apa, Yah. Sheena samma sekali tidak merasa direpotkan.” Kata Sheena sambil menuangkan nasi, sayur dan lauk kedalam piring Pak Damar.


“Arsen, maaf ya aku masak nasi putih saja takut kelamaan.” Kata Sheena.


“Iya tidak apa-apa.” Kata Arsen. Sheena lalu bergantian melayani Arsen. Setelah itu mereka menikmati makan siang bersama sembari berbincang santai.


“Sheena, sebenarnya tadi Ayah habis dari rumah orang tua kamu. Ayah ingin mengembalikan apa yang sudah kalian berikan kepada Ayah tapi mereka menolaknya. Akhirnya Ayah minta alamat rumah kamu, siapa tahu kamu mau meerimanya, Nak.”


“Ayah, kenapa mesti di kembalikan? Itu semua hak-nya Ayah kok. Kami semua ikhlas Ayah.” Kata Sheena.

__ADS_1


“Iya Ayah, apa yang Sheena katakan benar. Semua itu milik Ayah.” Sahut Arsen.


“Ayah ini tidak tahan dengan sikap Ibu dan adikmu itu. Nak, cinta dan kasih sayang itu tidak bisa di tukar dengan apapun. Mana ada seorang Ayah yang meminta ganti rugi biaya merawat putrinya sendiri?”


“Ayah tidak meminta tapi kami yang memberi. Anggap saja itu hadiah kecil dari kami. Kalau sampai Ayah menolaknya, Sheena tidak mau bertemu Ayah lagi.” Sheena mengancam Ayahnya.


“Sheena, ucapan kamu membuat Ayah sedih.”


Sheena lalu beranjak dari duduknya dan memeluk Ayahnya dari belakang.  “Makanya Ayah terima ya. Jangan di kembalikan. Menolak rezeki itu tidak baik, Yah. Kalau Ibu dan Sinta mau dengan sikap sombongnya ya terserah mereka. Yang jelas semua itu kami atas namakan nama Ayah jadi Ayah yang berhak memiliki semuanya.”


“Ayah, apa yang Sheena katakana itu benar. Kami ikhlas dan tulus memberikannya pada Ayah seperti Ayah yang tulus dan ikhlas mencintai serta merawat Sheena selama ini.” Sahut Arsen.


“Itu semua untuk hari tua Ayah. Ayah tidak usah capek-capek kerja lagi. Nikmati hari tua Ayah dengan tenang.” Imbuh Sheena.


“Melihat keadaan kamu sekarang, Ayah masih saja di hinggapi rasa bersalah. Seharusnya saat itu Ayah segera mengembalikan kamu, Sheena. Tidak seharusnya kamu menderita selama bertahun-tahun.”


“Sudahlah Ayah, jangan bicara seperti itu lagi. Sheena sayang Ayah dan Ayah tetaplah Ayah Sheena. Sebaiknya kita lanjutkan makan dulu ya.”


“Sekali terima kasih ya, Nak. Ayah bahagia dan beruntung memiliki kamu.”


“Begitu juga dengan Sheena, Ayah.”


Setelah selesai makan siang dan berbincang, Pak Damar pun pamit pulang.


“Ayah sering-sering kemari ya.” Kata Sheena.


“Iya, Nak. Ayah pulang dulu ya. Kalian jaga kesehatan.”


“Iya, kamu jangan khawatir.”


“Ayah yakin tidak mau di antar?” sahut Arsen.


“Iya tidak usah. Ayah juga bawa motor.”


“Ayah besok beli motor baru ya, kan sudah ada uang. Motor itu sudah tua dan sering mogok, Sheena kasihan sama Ayah.”


“Iya-iya, kamu jangan khawatir Sheena.” Pak Damar kemudian bergantian memeluk Sheena dan Arsen. Setelah itu Pak Damar pamit dan meninggalkan rumah Arsen.


Setelah Pak Damar pulang, Sheena kembali ke dapur untuk membereskan sisa makan siang. Arsen pun mengekor dari belakang.


“Sheena, aku ingin bicara.” Kata Arsen.


“Katakanlah Arsen.” Kata Sheena sambil membereskan meja makan.


“Duduklah dulu. Biar nanti aku yang membereskannya.” Kata Arsen. Sheena lalu menghentikan aktivitasnya dan duduk di samping Arsen.


“Baiklah, aku akan dengarkan.”


“Aku akan mengundur hari pernikahan kita. Aku ingin setelah acara syukuran besok, kamu harus segera di operasi. Aku nanti malam akan mengundang orang tua kita untuk membicarakan tentang ini semua. Kamu tidak keberatan kan?”


“Aku tidak masalah, Arsen. Tapi kamu akan menemani aku kan nanti?”

__ADS_1


“Iya aku pasti akan menemani kamu Sheena. Aku ingin kamu segera sembuh dan sehat.”


“Iya aku mengerti. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. Nanti aku masak apa?”


“Kamu tidak usah memasak. Aku akan memesan makanan dari restoran. Sebaiknya sekarang kamu istirahat saja, biar aku yang membreskannya. Jangan membantah.” Kata Arsen.


“Iya-iya. Oh ya tadi dvd apa ya dari dokter Gery?” tanya Sheena.


“Entahlah, sebaiknya kita menontonnya nanti malam. Sekarang kamu istirahat saja.”


“Baiklah kalau begitu.”


####


Malam harinya setelah menjamu kedua orang tua masing-masing makan malam, Arsen mengajak mereka semua berkumpul di ruang tengah.


“Ada apa kalian mengumpulkan kami disini, Arsen?” tanya Tuan Keenan.


“Jadi begini Pah-Mah. Arsen dan Sheena ingin mengundur hari pernikahan kini menjadi bulan depan saja.”


“Apa maksud kalian? Kami sudah mempersiapkan semuanya Arsen-Sheena?” kata Nyonya Dira dengan suara sedikit meninggi.


“Iya kalian ini kenapa? Jangan main-main lagi ya, Mama tidak suka,” timpal Nyonya Sofi.


“Mah-Pah, ini demi kesehatan Sheena.”


“Sayang, kamu baik-baik saja kan, Nak?” sahut Tuan Darwin.


“Sheena baik-baik saja kok, Pah. Hanya saja tadi saat kami periksa ke dokter obgyn, ada kista di ovarium kiri Sheena. Karena kista Sheena sudah membesar jadi harus segera dilakukan operasi pengangkatan operasi.” Jelas Arsen. Mendengar penjelasn menantunya, Nyonya Sofi menjadi lemas. Nyonya Sofi lalu memeluk Sheena yang duduk disampingnya itu.


“Ya Allah, Nak. Kenapa harus ada hal seperti ini? Baru saja kamu akan bahagia tapi kenapa selalu saja ada ujian.” Ucap Nyonya Sofi sambil menangis.


“Mama tenang saja, kista itu tidak berbahaya kok. Setelah operasi pengangkatan kami masih bisa ikut program kehamilan. Karena kandungan Sheena juga subur.” Sambung Arsen.


“Iya Sofi, apa yang dikatakan Arsen benar. Dulu Mela, istri dari Kakak sambungku juga seperti itu tapi setelah operasi pengangkatan kista mereka juga ikut promil. Dan tidak sampai menunggu lama, akhirnya Mela juga hamil.” Sahut Nyonya Dira.


“Iya Mah, Sheena tidak apa-apa. Awalnya Sheena juga sedih tapi akhirnya ya Sheena berusaha membuatnya santai.” Kata Sheena yang berusaha menenangkan Mamanya, meskipun Sheena sendiri sebenarnya merasakan sedih.


“Lalu kapan jadwal operasinya, Arsen?” tanya Tuan Darwin.


“Lusa Pah. Jadi acara yang Papa buat besok akan tetap berjalan. Sekaligus besok kita bisa membuat pengumuman tanggal pernikahan Arsen dan Sheena.”


“Papa lega sekali memili menantu dan besan yang saling mendukung seperti ini. Kalian sama sekali tidak memojokkan Sheena atau menuntut Sheena.” Ucap Tuan Darwin.


“Papa ini bicara apa, sudah seharusnya kami semua seperti itu. Papa tidak usah khawatir, apapun yang terjadi Arsen tidak akan pernah meninggalkan Sheena.”


“Kamu juga tidak usah memikirkan sesuatu yang terlalu jauh Darwin karena kami tulus menyayangi Sheena. Kami akan mendukung Sheena sampai dia sembuh karena Shena juga anakku,” ucap Tuan Keenan.


“Terima kasih untuk kebaikan kalian.” Nyonya Sofi pun merasa terharu.


“Sofi, sudahlah jangan menangis lagi. Tangisanmu justru akan semakin membuat Sheena sedih dan stress. Kita harus mendukungnya dan membuatnya bahagia,” sahut Nyonya Dira sambil mengusap-usap lengan Nyonya Sofi. Nyonya Sofi hanya mengangguk sambil menyeka air matanya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2