My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 137 BERKUMPUL


__ADS_3

BAB 137


 


Waktu pun terus berjalan, hingga tiba hari yang dinanti oleh Nyonya Dira yaitu menyambut kedatangan anak, cucu dan menantunya. Nyonya Dira disibukkan dengan pesta penyambutan putri pertamanya, menantu sekaligus kedua cucunya. Nyonya Dira pun sudah menyiapkan semua bahan makanan yang akan ia olah untuk memasakan makanan kesukaan anak, cucu dan menantunya. Arsen dan Sheena juga sudah berada di rumah Nyonya Dira. Sheena juga ikut membantu Nyonya Dira di dapur untuk mempersiapkan semua bahan makanan. Sheena tentu saja sangat antusias menyambut kedatangan Queen dan Raja. Karena sudah bertahun-tahun mereka tidak berjumpa.


“Mama ini heboh sekali, seperti sedang menyambut presiden saja.” Protes Belinda.


“Heboh bagaimana sih? Mereka kan sudah lama tidak pulang, Bel. Tentu saja permintaan pertama Kakakmu itu adalah meminta dimasakin oleh Mama.”


“Kemarin Belinda pulang kenapa tidak ada pesta?”


“Bagaimana mau pesta? Kamu saja pulang tidak memberi kabar. Lagi pula ini kan Kakakmu pulang bersama suami dan kedua anaknya. Jadi wajarlah Mama membuat pesta karena Brian kan juga ikut pulang. Kalian semua juga berkumpul disini jadi kita pesta kecil-kecilan saja, sebelum pesta besar pernikahan Oppa mu itu. Sudah besar, masih saja iri.”


“Hehehe bukan iri sih, Mah.’’


“Lalu apa?”


“Jealous, hehehe.”


“Kamu saja begitu sampai, Mama masakin macam-macam masih saja jealous.” Ucap Nyonya Dira. Belinda nyengir sambil memeluk Mamanya.


“Daripada kamu cuma diam, mending kamu bantu kupas bawang nih.” Sambung Nyonya Dira.


“Sorry Mom, aku habis many cure nanti kuku aku rusak. Kan sudah ada eonni Sheena yang membantu. Aku ke kamar dulu deh.” Ucapnya seraya berlalu setelah memberi kecupan di pipi Mamanya.


“Sheena, begitulah sikap adik iparmu yang satu itu. Mama merasa gagal mendidiknya menjadi wanita yang mandiri.” Keluh Nyonya Dira pada Sheena.


“Mama tidak gagal kok. Menurut Sheena, Belinda gadis yang berani, Mah. Namanya juga anak gadis, Mah.”


“Ya sudahlah lupakan Belinda, dia memang 11-12 dengan Arsen. Mama senang sekali akhirnya kamu dan Arsen menginap disini. Pertama kalinya pengantin baru menginap di rumah Mama dan Papa. Mama juga bahagia karena semua anak Mama akan berkumpul.”


“Kira-kira Kak Queen tiba di sini kapan, Mah?”


“Dari jadwal penerbangan, dipastikan jam 11 siang mereka sampai. Semoga perjalanan mereka lancar ya.”


“Amin, Mah. Sheena juga sudah tidak sabar menunggu Kak Queen dan juga Kak Raja.”


“Mama juga apalagi cucu Mama, kangen sekali dengan mereka. Covid benar-benar memisahkan kami. Kami hanya bisa video call saja. Tapi Mama juga senang akhirnya kamu dan Arsen sudah melakukan itu. Bagaimana cara kamu membuat Arsen membuang rasa berlebihan pada kuman dan bakteri Sheena?”


“Justru Arsen Mah yang memulai duluan. Aku tidak menyangka justru dia yang mengajak Sheena melakukan itu,” jawab Sheena malu-malu.


“Akhirnya putraku menjadi pria sejati juga. Terima kasih ya Sheena, kamu sudah membantu Arsen melewati masa sulit itu. Arsen menjadi berani seperti ini, sungguh membuat Mama merasa bahagia sekali. Cinta tulus kamu mampu merubah Arsen. Banyak sekali perubahan pada diri Arsen.”


“Justru sikap Arsen itu juga menyadarkan Sheena Mah, kalau menjaga kebersihan dan menjaga pola makan yang sehat itu sangat penting. Paska operasi, Arsen benar-benar mengatur pola makan Sheena dan Sheena merasakan betul manfaatnya. Sheena merasa lebih segar dan tubuh Sheena merasa enteng walaupun menu makanan itu ingin membuat Sheena muntah, Mah.” Cerita Sheena diiringi tawa kecilnya.

__ADS_1


“Papa Keenan dulu juga begitu, Sheena. Tapi tidak separah Arsen juga. Kamu tahu sendirilah kalau sejak kecil dia sudah seperti itu. Pokoknya Mama terima kasih sekali kamu sudah sabar mendampingi Arsen.”


“Mah, Sheena juga berterima kasih karena Mama sudah mendidik Arsen menjadi seorang pria yang sungguh luar biasa. Mama adalah Ibu terbaik dan terhebat di dunia.”


“Oh, Mama terharu sekali mendengarnya.” Menantu dan mertua itupun lalu berpelukan.


...****************...


Keesokkan harinya Queen, Raja, Brian, Rania dan Reiner akhirnya mereka tiba di Indonesia. Queen menghela nafas panjang begitu sampai di bandara.


“Sudah bertahun-tahun aku tidak menghirup udara disini.” Gumam Queen.


“Sayang, kembali ke Indonesia selalu mengingatkan ku dengan kisah cinta kita.” Ucap Raja seraya merangkul erat istrinya.


“Noona-Hyung, bukan waktunya bermesraan.” Sahut Brian.


“Dasar sirik aja,” sahut Queen.


“Mommy, aku rasanya tidak sabar bertemu dengan Grandma dan Granpa.” Sahut Rania.


“Mommy juga sayang.”


“Sepertinya mencari gadis Indonesia menyenangkan. Aku bosan melihat bule,” celetuk Brian.


“Masih kurang banyak juga koleksimu disana, Brian?” sahut Queen.


“Jangan banyak membual dan bermain-main karena ujung-ujungnya kamu juga akan di jodohkan.”


“Justru itu Noon, karena aku tahu akan di jodohkan, makanya aku mau memuaskan diriku dulu.”


“But don’t have *** berfore marriage!” pesan Queen dengan tegas.


“Yes Noona! Aku selalu ingat itu.” Ucap Brian sambil mengacungkan dua jarinya pada Kakaknya itu.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam dari bandara, akhirnya mereka semua tiba di rumah.


“Grandma-Grandpa!” seru Rania dan Reiner dengan kompak begitu tiba dirumah. Kebetulan mereka semua sedang berkumpul di ruang tengah kecuali Sheena yang masih berada di kamar.


“Rania-Reiner!” seru Tuan Keenan. Mereka berdua lalu memeluk Nyonya Dira dan Tuan Keena seraya bergantian.


“Hyung!” seru Brian seraya memeluk Arsen.


“I miss you so much hyung. Kenapa hyung jahat sekali, menikah diam-diam dibelakangku? Hyung sungguh tidak menganggapku adikmu.” Cerocos Brian.


“Untuk apa aku meminta ijin darimu? Kontribusi apa yang ingin kamu berikan padaku, Brian?”

__ADS_1


“Menyebalkan sekali. Oppa masih saja kaku.” Kata Brian seraya melepas pelukannya. Arsen tersenyum kecil lalu menyentil kening adiknya itu.


“Kamu selalu saja cerewet dan menghebohkan.” Ucap Arsen. Brian kemudain bergantian memeluk Papa dan Mamanya.


“Mama-Papa, I miss you. Aku sangat merindukan masakan Mama.”


“Oh Brianku tampan sekali. Mama juga merindukan kamu sayang.” Ucap Nyonya Dira seraya mengecup wajah putranya itu.


“Aku memang selalu tampan, Mah. Aku kan anaknya Papa.” Celoteh Brian.


“Bagaimana kuliahmu Brian?” tanya Tuan Keenan.


“Everything its okay, Pah. Don’t worry.” Ucap Brian dengan santai. Queen dan Raja kemudian bergantian memeluk Nyonya Dira dan Tuan Keenan.


“Bagaimana kabar Papa dan Mama?” tanya Raja.


“Kami sehat Raja. Bagaimana denganmu? Dan perusahaan mu di London?” tanya Tuan Keenan.


“Semuanya berjalan lancar, Pah. Kendala dan masalah pasti ada tapi masih bisa teratasi.”


“Syukurlah kalau semuanya membaik.” Ucap Tuan Keenan.


“Mama juga sehatkan?” sahut Queen.


“Seperti yang kamu lihat, Queen. Mama semakin bahagia.”


“Terlihat sekali dari raut wajah Mama.”


“Hyung, mana Kakak iparku? Apakah dia cantik? Gadis mana yang bisa menaklukan manusia aneh sepertimu?” ceplos Brian.


“Jaga ucapanmu!” kata Arsen dengan sedikit kesal.


“Iya Arsen, mana Sheena? Aku daritadi tidak melihatnya?” sahut Queen.


“Iya uncle, aku ingin bertemu dan berkenalan dengan aunty.” Sahut Rania.


“Sebentar lagi dia turun, tadi kepalanya sempat pusing mungkin kelelahan.” Jawab Arsen.


“Itu bukan pusing kelelahan tapi pusing kebanyakn begadang. Pasti kamu mengajaknya lembur sampai pagi ya?” goda Queen yang membuat Arsen malu.


“Apaan sih, Kak.”


“Wah daebak! Hyung ku ternyata normal. Aku pikir dia hompimpa,” seloroh Brian dengan tawanya.


“Brian! Jaga ucapanmu!” sahut Nyonya Dira dengan suara meninggi.

__ADS_1


“Ups sorry Mom. Just kidding, hehehe.”


Bersambung....


__ADS_2