My Perfect Husband

My Perfect Husband
Penjelasan Afif


__ADS_3

Naynay menggeliat pelan sebelum membuka matanya, tapi dia merasa pergerakannya ditahan. Naynay langsung membuka matanya dan terkejut mendapati Afif tidur sambil memeluknya. Bumil itu segera melepaskan diri dari pelukan Afif dan menyambar tasnya sebelum berjalan cepat menuju pintu keluar.


Baru saja dia membuka pintu, Naynay kembali terkejut ketika melihat sepuluh pria berpakaian hitam berjaga di depan pintu. Naynay berusaha menerobos mereka, tapi sepuluh orang itu mengepungnya hingga tak ada celah untuknya kabur.


"Kau mau pergi ke mana? Mau kabur lagi, hmm?" Afif sudah berdiri di samping pintu dengan tangan terlipat di depan dada. Matanya begitu tajam menatap istrinya.


Naynay tidak mau menatap Afif, dia mendekat ke arah salah satu bodyguard itu dan memegang bahunya. Hal itu sontak membuat Afif cemburu dan menarik tangan Naynay, membawa istrinya itu kembali masuk ke dalam kamar. Lalu masuk ke kamar mandi dan mencuci tangan Naynay di wastafel dengan sabun yang lumayan banyak.


"Jangan coba-coba untuk menyentuh laki-laki selain aku!" ucap Afif menatap tajam mata Naynay.


Naynay menarik kasar tangannya dari genggaman Afif dan segera keluar dari kamar mandi. Dia kembali berjalan menuju pintu agar segera pergi dari sini. Tapi sebelum Naynay mencapai pintu, Afif kembali mencekal tangannya hingga langkahnya terhenti.


"Lepas!!" teriak Naynay menghempaskan tangannya hingga cekalan tangan Afif terlepas. Bumil itu meringsut menjauh dari Afif sambil memegangi perutnya, seolah melindungi calon anaknya.


Afif mengusap kasar wajahnya melihat istrinya mulai menangis, dia sedikit mendekat tapi Naynay juga bergerak menjauh.


"Jangan ambil anak Nay!" pekik Naynay ketakutan ketika Afif terus bergerak mendekatinya.


Langkah Afif terhenti, dia terdiam dengan mata tak lepas menatap Naynay yang terlihat menyedihkan. Entah dia menyesali atau tidak keputusannya dulu untuk menunda menjelaskan semuanya pada istrinya itu.


"Nay nggak butuh pertanggungjawaban Kakak, Nay bisa besarin dia sendiri." Menghapus air matanya dengan kasar.


"Kita cerai aja," imbuh Naynay yang membuat tangan Afif mengepal marah. Tidak, tidak akan ada yang namanya perceraian.


Afif dengan tatapan tajamnya berjalan dan berdiri di depan Naynay dengan jarak yang begitu dekat. Dia memegang bahu Naynay yang ingin mundur menjauhinya.


"Cerai? Beraninya bibirmu mengucapkan kata menjengkelkan itu." Afif mengusap bibir Naynay yang bergetar dengan ibu jarinya.


"Dia anakku, kau sudah mengetahuinya kan?" tanya Afif tersenyum miring. "Dan aku tidak akan membiarkannya memanggil ayah pada laki-laki lain!"


Naynay mendorong tubuh Afif menjauh darinya. "Kakak nikahin Nay karena Nay hamil kan? Itu berarti jika Nay nggak hamil, Kakak nggak akan tanggung jawab, begitu?" Tangis Naynay mengeras seiring dengan perutnya yang terasa tidak nyaman.


"Kakak udah hancurin hidup Nay, semua yang udah Nay rencanain hancur!! Perjuangan Nay untuk kuliah juga sia-sia, semua karena Kakak! Nay nyesel udah percaya sama semua omongan Kakak, belum cukup bikin Nay hancur dan Kakak mau ambil anak Nay?" marah Naynay menyalahkan Afif atas semuanya.


Ya begitulah manusia. Terkadang mereka menyalahkan seseorang sebagai pelampiasan untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Nay nggak kuat kayak gini, lebih baik kita pisah. Nggak usah pikirin tanggung jawab, Nay bisa rawat dia sendiri." Dengan isakan yang membuat dadanya naik-turun, Naynay menatap Afif yang menatap datar padanya.

__ADS_1


"Sudah? Ada lagi yang ingin kau katakan?" tanya Afif sambil mendekati Naynay kembali. Sebenarnya dia tidak menyangka bahwa Naynay yang biasanya lembut bisa marah seperti itu.


"Biasakan mendengar penjelasan orang lain dulu agar kau tahu dan dapat menyimpulkan apa yang benar!" ucap Afif sambil mengelus perut Naynay dengan lembut.


"Nanti Kakak bohong... Hiks.." balas Naynay menepis pelan tangan Afif dari perutnya.


"Dasar, Koala." Afif menggendong Naynay dan membawanya duduk di sofa, dipeluknya istrinya itu agar tidak macam-macam.


"Aku tidak pernah berbohong padamu, semua yang aku ucapkan padamu itu serius." Mencium pucuk kepala Naynay dengan sayang


"Soal kejadian itu, kita berdua dijebak. Aku tak sengaja meminum minuman yang tercampur obat hingga tidak bisa mengendalikan diri. Tiba di kamar hotel, aku melihatmu ada di atas ranjang. Dosis obatnya terlalu tinggi hingga aku tidak sengaja memperkosamu," jelas Afif dengan tangan yang mendorong kepala Naynay hingga mereka saling tatap.


Afif hanya menjelaskan intinya saja tanpa mengatakan alasan mereka dijebak, dia tidak mau kalau Naynay menyalahkan Hendrayan nantinya. Padahal Naynay tidak akan berbuat demikian, dia sudah tahu resiko menjadi anak pengusaha besar seperti apa.


"Jadi Kakak nggak sengaja lakuin itu, kan?" tanya Naynay dengan suara pelan.


"Nay, maaf kalau ketidakjujuranku membuatmu salah paham. Aku serius, sangat serius ketika mengatakan aku mencintaimu. Bahkan sejak hari itu, cinta itu sudah ada. Ada atau tidaknya dia, aku akan tetap menikahimu." Afif mengusap perut Naynay sambil mencium pipi istrinya itu.


"Kau mudah sekali meminta cerai, apa kau tidak mencintaiku?" tanya Afif serius menatap mata Naynay.


"Hey... Setiap malam aku menidurimu dan kau masih ragu aku mencintaimu?" tanya Afif tidak percaya sambil mengacak rambut Naynay.


"Itu nafsu, bukan cinta!" balas Naynay tak mau kalah.


"Sadar, Nay! Aku melakukannya 90% karena cinta, selebihnya memang nafsu."


Naynay menepis tangan Afif yang sudah naik ke dadanya. Belum baikan dan mesumnya kumat lagi.


"Nay, percayalah bahwa aku dan kedua orang tuamu sangat menyayangimu. Kami menyembunyikan ini karena mentalmu sempat terganggu, itu demi kebaikan dirimu. Jangan menyimpulkan yang tidak-tidak lagi!" Afif memberi peringatan pada Naynay dengan mata tajamnya.


Naynay hanya diam, kemudian berdiri dan meninggalkan Afif menuju kamar mandi, dia mengingat belum cuci muka dan gosok gigi. Afif yang takut Naynay kabur langsung saja menyusulnya. Melihat Naynay sedang gosok gigi, dia memeluknya dari belakang.


"Jangan pegang!" ucap Naynay menatap tajam Afif melalui cermin, tangan suaminya itu sudah masuk ke dalam bajunya.


"Aku merindukanmu," balas Afif berbisik dan menggigit telinga Naynay.


Naynay menyalakan kran air dan mencipratkan air ke wajah Afif dengan tangannya. Dan barulah Afif berhenti menganggunya.

__ADS_1


"Tunggu aku sebentar!" ucap Afif mengambil pasta gigi dan mulai menggosok giginya. Sebelah tangannya menahan tangan Naynay agar tidak meninggalkannya.


Setelah selesai, Afif membawa Naynay ke tempat tidur. Tapi Naynay yang sudah paham dengan pikiran suaminya itupun menghentikan langkahnya sebelum sampai di sisi tempat tidur.


"Nay masih marah, kita belum baikan!" ucap Naynay ketus membuat Afif mengelus dadanya sabar.


'Demi jatah, sabar!'


Afif tersenyum konyol dan mengapit pipi Naynay dengan kedua telapak tangannya. "Sayang..." rayunya dengan suara berat yang dibuat begitu menggoda.


Naynay masih diam, itu berarti rayuan Afif tidak mempan. Afif pun belum menyerah, dia kembali menggoda Naynay.


"Dia merindukanmu juga." Meraih tangan Naynay dan mengarahkannya ke kepemilikannya. Naynay sudah pasti terkejut dan menarik tangannya dengan wajah yang merona.


Afif yang melihat reaksi Naynay pun tersenyum senang, dia menarik tubuh Naynay dan memeluknya. "Kau tidak merindukanku, hhmm?" tanyanya sambil berusaha membuka kancing piyama Naynay.


"Enggak, Nay tiap hari ketemu sama Kakak," balas Naynay polos dan jujur seratus persen.


Afif menggigit pelan leher Naynay karena gemas, dia sudah selesai membuka kancing piyama Naynay. Perlahan, Afif menggiring Naynay ke tepi tempat tidur dan merebahkannya.


"Sekali saja, ya?" pinta Afif penuh harap sambil membuka bajunya hingga tubuh berotot menggoda itu memanjakan mata Naynay.


"Tapi nanti masakin Nay nasi goreng," ujar Naynay yang langsung diangguki Afif.


Afif langsung membuka seluruh pakaian Naynay sebelum akhirnya menerkam istrinya yang membuatnya panik setengah mati tadi malam. Dia melampiaskan rasa kesalnya dengan membuat Naynay menggelinjang hebat di bawah kungkungannya.


.


.


.


.


.


Nggak capek apa, bercinta terus?

__ADS_1


__ADS_2