
Pesanan makanan mereka semua akhirnya datang. Belinda sungguh kesal melihat Arthur dan Grace begitu akrab. Belinda merasa diabaikan dan tidak anggap oleh Arthur. Belinda hanya memainkan garpu dan pisaunya saja, sambil sesekali melihat kearah Arthur dan Grace. Erick memperhatikan Belinda yang sepertinya bingung dengan cara memakan hidangan itu.
''None Belinda, kenapa tidak makan?'' suara teguran Erick, membuat Belinda tercekat.
''Eh iya. Kenapa?'' ucapnya gugup.
''Itu kenapa tidak di makan?'' Erick bertanya kembali.
''Mmmm aku tidak tahu bagaimana cara makannya? Apa langsung di gigit seperti makan roti ya?'' ucap Belinda yang berlagak sok polos. Lagi-lagi telinga Arthur merasa risih mendengar apa yang Belinda ucapkan. Ia tidak percaya jika gadis itu sangat pandai berakting dan mencari perhatian.
''Oh itu masalahnya. Baiklah, aku akan membantumu memotongnya.'' Ucap Erick. Belinda tersenyum, ia lalu memberikan piringnya pada Erick. Erick dengan tenang, memotong beef milik Belinda.
''Nah, sudah. Kamu tinggal makan saja.''
''Terima kasih.'' Kata Belinda.
''Iya sama-sama.''
''Arthur, kamu seharusnya mengajari Nona Belinda table manner juga. Bagaimana nanti kalau kamu menghadapi klien penting, sedangkan dia seperti itu? Pasti itu akan menurunkan kualitasnya sebagai seorang sekretaris. Latar belakang pendidikannya, sudah sesuai kriteriamu kan?'' ucap Grace. Belinda sungguh kesal mendengar ucapan Grace.
''Wah, dia menghinaku? Aku benar-benar tersinggung. Dia tidak tahu saja siapa aku? Sombong sekali ucapannya. Sok hebat banget sih. Modal wajah bule dan tubuh saja sombong.'' Belinda merutuk dalam hati, sambil menatap kesal Arthur. Arthur melihat ekspresi marah Belinda.
''Kamu tenang saja, Grace. Dia sangat pintar. Namanya juga dia orang yang sederhana dan lugu, jadi tentu saja ini hal baru untuknya.'' Jelas Arthur.
''Oh ya, Nona Belinda dulu kuliah dimana?'' tanya Erick. Lagi-lagi Belinda dibuat tercekat oleh Erick. Ia bingung bagaimana cara menjawabnya.
''Mmmmm aku..., aku....,''
''Dia kuliah di universitas terbaik di kota ini, Erick. Dia lulus dengan nilai cumlaude. Usia 22 tahun bisa lulus S2, hebat bukan? Kalau masalah table manner, itu hanya butuh pembiasaan saja.'' Sela Arthur dengan segala kebohongannya. Karena tidak mungkin juga Arthur berkata jujur siapa Belinda.
__ADS_1
''Wah, hebat sekali. Aku saja S1 tidak selesai-selesai. Iya Tuan, anda benar sekali. Nanti Nona Belinda juga akan terbiasa dengan semua ini.'' Ucap Erick penuh rasa kagum. Belinda berusaha menahan amarahnya supaya ia bisa mengendalikan diri untuk tidak menghiraukan ucapan Grace.
''Tapi kenapa kamu tidak mencari lulusan luar negeri Arthur? Bukankah mereka lebih berkompeten?'' sambung Grace. Belinda naik pitam mendengar ucapan Grace. Belinda mengepalkan tangannya. Arthur tahu Belinda marah dan tersinggung dengan ucapan Grace jadi Arthur berusaha tenang menyikapi itu.
''Kenapa harus mencari lulusan luar negeri kalau yang di dalam negeri banyak yang berkompeten Grace? Bukannya bagus, kalau kita membuka lowongan pekerjaan untuk warga negaraku sendiri? Jadi aku tidak terlalu memusingkan soal lulusan luar ataupun dalam. Kamu juga tahu di pabrik pengolahan sampahku, aku tidak mematok kriteria pendidikan mereka. Aku justru memilih mereka yang mempunyai keterbatasan untuk bekerja. Bagi aku, yang penting mereka jujur dan bertanggung jawab. Kemampuan mereka seiring berjalannya waktu juga akan berkembang karena secara tidak langsung selalu diasah setiap hari. Dan menurutku belajar tidak melulu harus sekolah ataupun di bangku kuliah. Belajar bisa dimanapun dan kapanpun. Jaman sekarang banyak kok mereka yang hanya tamatan SD bisa sukses. Itu karena mereka punya skill dan kreativitas yang tinggi.'' Jelas Arthur dengan tetap tenang bahkan dengan senyum ramahnya. Belinda merasa puas dengan jawaban Arthur.
''Kalau soal begini, kamu memang tidak bisa di kalahkan.'' Ucap Grace terkekeh.
''Tuan, anda sangat hebat dan sangat bijak sekali.'' Sahut Erick.
''Baiklah untuk kerja sama ini, mari kita cheers.'' Sahut Grace sambil mengangkat gelas berisi wine. Namun saat Belinda ingin ikut mengangkat gelas, Arthur menahan tangan Belinda. Belinda memicingkan matanya dengan sikap Arthur itu.
''Kamu tidak terbiasa minum itu, Bel. Jadi jus lebih baik untukmu.'' Kata Arthur sambil mengganti gelas berisi wine dengan segelas jus jeruk. Belinda tidak bisa berkutik karena dia sedang dalam mode penyamaran.
''Apa yang dikatakan Tuan Arthur benar, Nona Belinda. Sebaiknya anda minum jus saja. Dan aku akan menemani anda untuk minum jus juga.'' Sahut Erick sambil kembali meletakkan gelas berisi winenya.
''Terima kasih.''
''Kalau begitu panggil aku Belinda saja.''
''Oke baiklah, Belinda.'' Ucap Erick.
''Erick, gerakanmu terlalu cepat." Sahut Grace dengan senyum lebarnya.
''Apa-apaan sih Erick? Dia tidak tahu apa kalau Belinda itu calon istriku. Belinda juga kenapa malah menanggapi,'' gerutu Arthur dalam hati.
''Baiklah, mari kita angkat gelasnya! Semua semuanya sukses dan berjalan lancar!" ucap Grace dengan penuh semangat sambil mengangkat gelasnya. Mereka semua lalu mengangkat gelas dan bersulang.
Setelah selesai makan, Arthur dan Belinda lalu kembali ke kantor. Namun selama perjalanan, Arthur selalu mengoceh.
__ADS_1
''Kamu ini apa-apaan sih? Dengan mudahnya berkenalan dengan pria asing, tidak kapok juga.''
''Apaan sih, sewot amat! Lagi pula cuma kenalan, memang apa salahnya? Dia sopan.''
''Darimana kamu tahu dia sopan? Hah? Kamu saja salah menilai mantan kekasihmu itu.''
''Kenapa sih harus menyinggung masa lalu? Yang sudah ya sudah.'' Kesal Belinda.
''Aku hanya mengingatkanmu supaya kamu tidak jatuh ke dalam lubang yang sama. Lagi pula mudah sekali di rayu seperti itu.''
''Memangnya kenapa? Kamu saja dengan Grace seenak jidatmu. Seolah kalian itu pasangan kekasih yang begitu kompak dan tidak bisa di pisahkan.''
''Memangnya kenapa? Kami memang berteman baik sejak dulu.''
''Halah bulshit! Seorang pria dan wanita tidak ada yanga namanya pertemanan murni. Pasti salah satunya ada rasa. Kamu bahkan tahu semua yang dia suka, begitu juga sebaliknya. Yakin, hanya seorang teman?''
''Kami memang pure teman. Bilang saja kamu cemburu, iya kan? Kamu sudah mulai jatuh cinta padaku kan?'' kata Arthur.
''Tidak! Kamu mungkin yang mulai jatuh cinta padaku. Kamu cemburu kan saat Erick berusaha mendekatiku? Iya kan?'' balas Belinda.
''Aku? Cemburu? Ya tidaklah, untuk apa aku cemburu. Coba nanti Erick tahu bagaimana kamu? Yakin dia bisa menerima kamu. Menerima semua kebawelan dan sikap manjamu itu. Apalagi untuk menjadi seorang istri. Kamu benar-benar siap jika diajak hidup susah? Tidak ada pembantu dan semuanya bekerja sendiri?''
''Memang aku sebegitu buruknya di mata kamu ya? Apa aku tidak ada nilai plus di mata kamu, Arthur? Aku akan buktikan kalau aku bisa menjadi wanita mandiri dan tidak manja. Lebih baik, sekarang turunkan aku.''
''Ini masih jauh dari kantor.''
''Biarin! Turunkan aku disini. Aku bisa buktikan kalau aku mandiri dan tidak manja. Cepat turunkan aku!" teriak Belinda. Belinda benar-benar kesal dengan semua ucapan Arthur. Arthur lalu mengerem mendadak mobilnya.
''Ya sudah kalau itu kenginanmu. Turun sana! Awas saja kalau ada orang jahat yang menganggumu.'' Ketus Arthur. Belinda lalu turun dari mobil Arthur dan membanting pintunya. Arthur lalu melajuka kembali mobilnya dan meninggalkan Belinda.
__ADS_1
''Dasar raja tega! Manusia tidak berperasaan, meninggalkan seorang wanita dijalanan.'' Teriak Belinda dengan rasa kesalnya.
Bersambung... Akankah Arthur kembali atau tetap meninggalkan Belinda????