My Perfect Husband

My Perfect Husband
Sabar, demi istri dan anak


__ADS_3

"Nay, betah banget pingsannya." Telunjuk Afif mencolek-colek pipi chubby Naynay karena melihat mata istrinya itu mengerjap-ngerjap. Kebiasaan baru.


"Jangan bilang kalau Nay pingsan satu minggu!" ujar bumil itu dengan suara serak setelah sepenuhnya sadar sambil menatap suaminya itu.


"Ah, sayang sekali. Aku baru saja ingin mengatakan itu." Hidung mancung Naynay mendapat jawilan gemas dan bonus senyum lebar dari Afif.


Naynay memiringkan tubuhnya yang sedikit berisi itu menghadap Afif. "Mau dipeluk, boleh?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.


Tanpa membalas ucapan Naynay, Afif menarik tubuh mungil itu tidak ke dalam pelukannya. Ditepuk-tepuknya punggung istrinya dengan lembut, tentu dia paham apa yang dirasakan istrinya itu sekarang.


"Mau nangis?" Pertanyaan bodoh Afif meluncur begitu saja membuat Naynay mendongak.


"Emang boleh?" Naynay pun merespon dengan mengajukan pertanyaan bodoh pula.


"Tidak, awas kalau kau nangis!" ancam Afif tertawa dan menggigit pipi chubby istrinya itu. Tiada hari tanpa gigit pipi, Afif memang mempunyai banyak kebiasaan baru sejak menikahi anak SMA yang menggemaskan ini.


Naynay tertawa sebelum berubah menjadi isakan kecil yang disertai dengan air mata yang mengucur deras. Disingkirkannya beberapa helai rambutnya yang terasa menusuk matanya.


"Nggak tau kenapa, tapi Nay pengen nangis karena tadi Kakak tanyain." Terisak hingga ucapannya terputus-putus.


"Aku tidak mengizinkanmu nangis lho, Nay."


Naynay yang masih terisak mulai merasa kesal. Tadi ditanyain mau nangis, pas udah nangis dimarahin pula. Tapi bumil itu tidak menghentikan tangisannya.


Sekitar sepuluh menit bumil itu menangis dan membuat Afif kelabakan untuk menenangkannya. Sekarang hanya tersisa mata yang sembab dan hidung memerah yang menghiasi wajah imut Naynay.


"Udah?"


"Nay boleh nambah durasi nangisnya?" Hidung bumil itu kembang-kempis supaya ingusnya tidak meleber ke luar.


"Cobalah!" Nada bicaranya mengandung ancaman tak kasat mata.


Naynay menggeliat keluar dari pelukan Afif,dia ingin cuci muka. "Nay mau cuci muka, lepas dulu."


"Aku juga mau ke kamar mandi," ucap Afif dan susah payah bangun dari posisi tidur sambil memeluk istrinya itu.


"Susah jalan kalau begini, Kak." Naynay mencak-mencak karena pelukan Afif terlalu erat.


"Kau sedang hamil, jangan bergerak seperti itu!" Afif langsung menggendong Naynay ke kamar mandi. Naynay tidak meronta karena takut jatuh, lebih memilih melingkarkan kedua tangannya di leher Afif.

__ADS_1


Afif menurunkan Naynay di depan wastafel. Dia hanya diam sambil memperhatikan istrinya yang sibuk mengusapkan sabun cuci muka di wajahnya.


"Kakak mau ngapain di sini? Tadi katanya mau ke kamar mandi juga." Sambil memijit lembut wajahnya yang berbusa, Naynay menatap Afif dari pantulan cermin.


"Tidak ada, aku hanya ingin melihatmu dengan wajah berbusa seperti itu."


Naynay sudah tidak kaget lagi mendengar alasan tidak masuk akal Afif. Dia sudah hapal semua tentang kebiasaan si Beruang Tampan ini.


Setelah selesai mencuci wajahnya, Naynay keluar dari kamar mandi diikuti Afif di belakangnya. Rasanya sedikit tidak nyaman karena sejak tadi suaminya itu memandanginya terus.


Mata Naynay melirik sana-sini menyusuri setiap sudut kamar mewah itu, ada yang sesuatu yang dia cari. Tapi sayangnya, yang dia cari tidak ada di sana.


"Kakak lupa sesuatu" ucap Naynay berbalik menatap Afif yang sudah berbaring di tempat tidur dengan kaki masih menapak di lantai.


"Apa?" tanyanya sambil mendudukkan tubuhnya.


"Martabak telornya mana?"


Astaga... Afif terbelalak mendengarnya. Mendengar Naynay pingsan saja dia sampai membatalkan pertemuan dengan kolega bisnisnya, lantas dia ingat tentang martabak telor gitu?


"Aku panik mendengar kau pingsan, jadi lupa." Merebahkan tubuhnya kembali dan memejamkan matanya.


"Yaudah, besok saja." Masih santai, belum memprediksi istrinya itu akan ngambek.


"Nay maunya sekarang." Nah kan, kaki Naynay sudah menendang-nendang udara dengan kesal.


Afif menghela napas panjang dan mendudukkan kembali tubuhnya. Dicubitnya kedua pipi Naynay karena dia selalu saja tidak bisa membantah permintaan istrinya itu.


"Baiklah, kau tunggu di sini." Afif berdiri dan hendak berjalan, tapi tangannya ditahan.


"Nay ikut, ya..." Binar mata Naynay membuat Afif tidak bisa menolak, laki-laki itu membalas dengan anggukan kepalanya.


"Pakai jaketmu dulu!"


Naynay langsung berjalan cepat menuju ruang ganti dan memakai jaket. Sejurus kemudian, dia sudah berdiri di depan Afif yang tidur terlentang di tempat tidur.


"Ini jaket Kakak," ucapnya dan menyodorkan jaket yang dia bawa.


"Yakin mau belinya sekarang?" tanya Afif duduk dan menerima jaket yang disodorkan istrinya.

__ADS_1


"Iya," balas Naynay mengangguk semangat.


Afif memakai jaketnya dan menggandeng tangan Naynay keluar dari kamar. Tangan kecil Naynay itu terlihat imut jika digenggam erat seperti sekarang ini. Bagi Afif, semua yang ada pada istrinya itu, imut semua.


"Maaf mengganggu waktu istirahat Kak Iyan" ucap Naynay sebelum masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Ryan.


"Jangan sungkan, Nona." Sekretaris suaminya itu tersenyum tipis, senyum yang sama langkanya dengan senyuman Afif.


Ryan memang diperintahkan oleh Afif untuk menginap di rumahnya tadi saat dia mendapat kabar Naynay pingsan. Laki-laki itu sudah mempunyai kamarnya sendiri di rumah mewah milik Tuan Mudanya ini.


Mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang masih dipenuhi oleh mobil. Naynay tersenyum menatap hiruk-pikuk jalanan dari kaca mobil, sudah lama dia tidak keluar malam-malam seperti ini, sejak mengetahui dia hamil.


Sudah hampir satu jam mereka mencari penjual martabak telor, tapi tidak ada sama sekali. Maklumlah, ini sudah lewat tengah malam. Para pedagang kaki lima susah banyak yang menutup kedai mereka.


"Tampaknya martabak telor harus ditunda dulu." Afif menoleh menatap Naynay yang mengusap-usap matanya.


"Nggak apa-apa, tapi Nay mau ke panti sekarang. Kangen banget sama Araa!"


Araa adalah bayi perempuan yang ditemukan ibu panti di depan pintu dulu. Naynay sendiri yang memberikan nama untuk bayi yang sekarang berusia lima bulan itu. Bumil itu mengatakan kalau Araa terdengar manis dan cocok untuk bayi itu.


"Besok saja, ya. Ini sudah lewat tengah malam, bagaimana kalau kedatangan kita mengganggu istirahat anak-anak. Dan juga, besok kau ujian kan?" rayu Afif sambil merapikan rambut Naynay yang sedikit kusut karena sempat dia acak-acak tadi.


Naynay akhirnya mengangguk dan merentangkan tangannya minta dipeluk. Kantuk sudah menguasainya hingga langsung tertidur ketika kepalanya mendarat di dada bidang Afif.


"Sabar, demi istri dan anak..." gumam Afif lirih sambil mengusap-usap lembut kepala Naynay agar istrinya itu nyaman dalam tidurnya. Tadi istrinya itu kesal sekali karena ingin makan martabak telor, tapi lihatlah sekarang, bumil itu tidur tanpa beban.


Ryan tersenyum melihat bagaimana sayangnya Afif pada Naynay, wanita yang dulu tuannya itu tiduri karena pengaruh obat. Rasanya sudah lama sekali Ryan tidak melihat senyum dan mendengar Afif tertawa. Di dalam hatinya, dia bersyukur karena Tuhan mengirimkan Naynay untuk menjadi istri Tuan Mudanya itu. Terlepas dari hoby Naynay yang suka menyusahkannya jika mendadak ngindam yang aneh-aneh di tengah malam.


'Aku merindukanmu, Sayang....' batin Ryan sebelum dia menaikkan sedikit kecepatan mobil. Dia merindukan gadis kecilnya, gadis yang senyumnya dia renggut dan hatinya dia babat habis.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Siapa yang Ryan rindukan, ya?


__ADS_2