
Mulut Naynay terbuka lebar ketika melihat isi lemari khusus baju tidurnya. Afif tidak bercanda dengan apa yang tadi siang dia katakan melalui pesan singkat tentang baju tidurnya. Tidak ada lagi piyama dengan celana panjang. Seluruh ruang dalam lemari besar itu sekarang dipenuhi baju tidur sexy.
Dengan masih memakai handuknya, Naynay keluar dari ruang ganti untuk menemui Afif yang merupakan dalang di balik puluhan baju tidur itu. Dia memang baru saja selesai mandi malam-malam begini karena ketiduran sehabis pulang dari rumah Rosi tadi sore. Dan setelah makan malam di kamar, dia tentunya langsung mandi. Tapi dia hampir saja jantungan melihat isi lemarinya.
"Kenapa kau belum memakai baju tidurmu?" Yang dicari-cari langsung bertanya ketika dia baru masuk ke kamar. Afif melemparkan hp yang ada di tangannya ke tempat tidur yang jaraknya lumayan jauh dan berjalan mendekati Naynay yang memegang handuk bagian dadanya.
"Baju tidurnya, Naynay nggak suka." Bumil melayangkan protes, tapi wajahnya dibuat seimut mungkin agar Afif tidak memarahinya. Tahu sendiri, kan, kalau Afif tidak suka diprotes.
"Tapi aku suka, bagaimana dong?" Afif memegang bahu Naynay yang terbuka dan tersenyum tipis.
Naynay merengut masam, bibirnya berkerut mendengar perkataan Afif. Yang namanya laki-laki normal pasti suka melihat wanita memakai baju tidur seperti itu. Kelanjutannya sudah pasti ada peperangan di atas ranjang. Tapi bagi Naynay, memakai baju seperti itu seperti ia akan dieksekusi saja.
"Kak, Nay nggak mau pake baju tidur kayak gitu." Naynay merengek sambil menarik-narik baju kaos yang dipakai Afif.
"Yasudah, jangan pakai. Lagi pula aku lebih suka melihatmu tidak pakai baju." Mengedikkan bahunya dengan bibir mencebik sebelum melangkah menuju ruang ganti.
Mata Naynay terbelalak, kemudian dia melihat pantulan tubuhnya yang masih terlilit handuk itu di cermin riasnya. Sambil memukul-mukul pelan kepalanya, Naynay menyusul Afif masuk ke ruang ganti. Apes banget, ya, punya suami kayak gini.
'Pake baju rumahan aja deh.'
Naynay berjalan melewati Afif yang sedang mengancingkan piyamanya. Tangannya meraih gagang lemari, tapi tidak bisa dibuka. Dicobanya lagi membuka pintu lemari tersebut, tapi tetap tidak bisa. Dia berbalik dan menatap curiga pada Afif yang berdiri sambil bersandar di lemari pakaiannya.
"Kenapa?" Alis laki-laki itu terangkat sebelah, dia sedang bersikap seolah tidak tahu-menahu apapun.
"Kuncinya Kakak umpetin, ya?" Mata Naynay menyipit melihat senyum super tipis suaminya.
"Tidak, dosa lho nuduh suami, Nay." Afif mengangkat kedua tangannya di samping kepala seperti sedang diringkus polisi dengan wajah santainya.
Naynay berbalik menghadap lemari kaca kembali dan membentur-benturkan pelan kepalanya di sana. Tidak ada pilihan lain, mau tak mau dia harus memakai baju tidur itu. Dengan gerakan lesu, Naynay berpindah ke depan lemari kaca lainnya. Dibukanya pintu lemari itu dan asal comot saja baju tidur sialan itu.
"Nay mau pakai baju," ucapnya tanpa berbalik. Baju tidur itu dia peluk di depan dadanya.
"Lalu? Pakai saja." Membalas dengan santai. Ya mana mau dia rugi, tontonan gratis dong.
__ADS_1
Naynay berbalik dan merengut kesal. Kakinya dia hentak-hentakkan karena suaminya yang super tampan itu tidak paham maksud dari ucapannya.
Siapa bilang kalau Afif tidak paham? Dia sangat paham. Tapi yang namanya Afif itu jiwa usilnya muncul tidak terduga.
"Ganti saja, aku akan menutup mataku." Afif menutup matanya rapat untuk meyakinkan Naynay yang masih kesal.
"Nanti Kakak ngintip, putar balik badannya!" ucap Naynay yang sama sekali tidak percaya dengan ucapan Afif.
"Aku hanya memberimu waktu dua menit, dua puluh detik sudah berjalan."
"Apa!" pekik Naynay tenganga mendengarnya.
"Jalan tiga puluh detik." Matanya sudah sedikit terbuka untuk mengintip.
Naynay langsung berbalik dan membuka handuknya. Dengan gerakan cepat, dia memakai baju tidur berwarna hitam tadi. Sangat kontras dengan kulit putihnya.
Naynay kemudian berjalan cepat dan menubruk tubuh Afif, dipeluknya tubuh kekar tinggi itu dengan erat. Dia tidak mau kalau sampai Afif melihatnya lagi dengan pakaian seperti ini. Cukup kemaren malam saja.
"Eh, kenapa peluk-peluk gini?" tanya Afif seraya melingkarkan tangannya di pinggang Naynay. Matanya juga sudah dia buka dengan sempurna, setelah sebelumnya sedikit intip-intip Naynay lagi ganti baju.
Afif tertawa kecil sembari mengangkat sebelah tangannya dan mengusap rambut Naynay yang tergerai. "Lalu, bagaimana kita keluar kalau kau memelukku terus?"
"Jalan aja, tapi tetap peluk Naynay kayak gini!" Mendongakkan kepalanya dan mendapat satu kecupan hangat di pipinya yang chubby.
Akhirnya mereka keluar dari ruang ganti dengan masih berpelukan. Afif yang menuntun karena dia lebih tinggi. Dia agak kesulitan berjalan dalam posisi seperti ini, namun terasa menyenangkan karena dia lakukan dengan istri tersayang.
Cieeeee... Istri tersayang ♡
"Sudah di pinggir ranjang, masih mau peluk?" goda Afif dan memainkan rambut Naynay dengan jemarinya.
Naynay melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Afif dan segera naik ke tempat tidur. Dia sudah menutup kaki sampai lehernya dengan selimut, masih malu dengan tampilan sexy seperti itu.
"Nay," panggil Afif sambil menarik-narik selimut yang Naynay pakai.
__ADS_1
"Ihhh.. Jangan ditarik." Bumil itu merengek kesal sambil mempertahankan selimut untuk menutupi tubuhnya.
Afif tertawa keras dan naik ke tempat tidur, disibaknya selimut itu dan ikut berbaring di samping Naynay yang menyamping. Dia memposisikan kepalanya di depan dada Naynay, sifat mesumnya mulai muncul.
"Geli, Kak!" keluh Naynay ketika kepala Afif terbenam di dadanya. Pinggangnya juga sudah dipeluk dan dielus lembut.
"Nay, kau lupa apa yang aku katakan tadi siang?" tanya Afif dengan posisi kepala yang sama, tapi sekarang sudah mulai cium-cium hingga Naynay kegelian.
"Kakak bilang apa memangnya?" Naynay balik bertanya sambil menahan geli karena aktivitas bibir suaminya.
Afif mendongak dengan wajah datar plus kesalnya. "Cium!"
Naynay menghela napas sebelum menyunggingkan senyum imutnya yang membuat matanya menyipit. Dia bahkan sudah tidak ingat kalau Afif mengirim pesan minta cium siang tadi.
Cup
Bibir merah muda Naynay mendarat lembut di bibir sexy milik Afif. Selanjutnya yang memegang kendali adalah si Tuan Muda yang hatinya sedang berbunga-bunga. Disesapnya bibir Naynay dengan lembut agar kejadian beberapa hari yang lalu tidak terjadi lagi.
"Ayo tidur!" Afif tersenyum setelah melepaskan pagutan bibirnya dari bibir Naynay. Dia kembali membenamkan wajahnya di tempat empuk dan lembut tadi.
"Tangan Kakak, geli!!" Naynay memindahkan tangan Afif yang tadi berada di pahanya. Sudah mati-matian nahan geli dan juga rasa takut yang masih tersisa.
Ini sudah terhitung satu minggu Naynay ditangani oleh si Dokter yang anti dengan kata "tua", Naomi.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Nanti malam aku up banyak, Insyaallah...
Likee dulu tapiiii, aku nangis lihat likenya turunn 😣😣