My Perfect Husband

My Perfect Husband
Ibu


__ADS_3

Naynay memasuki kamar dan mendapati Afif sedang berbaring di sofa dengan tangan kanan yang menutupi matanya. Naynay mendekat dan duduk di samping suaminya itu. Mau pencet hidung mancung Afif, tapi takut jika suaminya itu marah.


"Udah puas jalan-jalannya?" tanya Afif menyingkirkan tangannya membuat Naynay sedikit terkejut. Sekarang mata tajam itu sudah menatap padanya.


Naynay menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Afif. Pergi bersama Rosi dan Ezriel terlalu membosankan baginya karena tidak leluasa membeli apa yang dia mau. Apa lagi semua yang menarik perhatiannya adalah baju-baju bayi yang imut-imut.


"Kenapa? Ada laki-laki tampan juga kan?" Nada sedikit ketus dan kembali menutupi matanya dengan lengannya.


'Apa dia cemburu?'


Faktanya, Afif memang sedang cemburu. Dia selalu memantau semua yang dilakukan Naynay di luar rumah. Dia juga tahu hari, tanggal, bahkan jam ketika Naynay bertemu dengan Ezriel.


"Perut Nay ngilu," ucap Naynay pelan sambil merebahkan kepalanya di dada Afif, mencari kenyamanan di sana.


Afif langsung membuka matanya khawatir. "Aku panggilkan dokter. Cepat duduk!"


Naynay terkekeh dan menggesek-gesekkan pipinya di dada Afif yang ditutupi baju kaos berwarna navy itu. "Mau kayak gini aja, ngilunya udah mulai hilang."


Afif tersenyum menyadari kalau Naynay berbohong agar dia tidak marah. Walau seperti apapun, dia tidak bisa marah sedikit pun pada istrinya itu. Tangannya sekarang mengusap-usap pipi Naynay dengan ibu jarinya.


"Udah masuk empat bulan, perut Nay udah gede. Nanti pas acara kelulusan pasti buncitnya kelihatan banget."


"Nggak usah dipikirin, kan bisa diakalin nanti."


"Hhmm..." Naynay hanya membalas dengan deheman pelan.


Afif menyisir rambut Naynay dengan jarinya hingga jidat jenong Naynay yang biasanya tertutupi poni tipis terlihat.


"Kak, jadi anterin Nay ke panti kan? Udah kangen banget sama Araa." Naynay menagih janji Afif tadi malam. Rindunya sudah tidak tertahankan, ingin peluk dan cium-cium si gembul Araa.


"Nginap?" tanya Afif dengan masih memainkan rambut Naynay.


"Boleh?" Kepala Naynay terangkat dengan mata yang berbinar senang.


"Boleh, tapi cium dulu." Bibir Afif sudah maju beberapa senti.


"Sini!" Naynay juga memajukan bibirnya dengan posisi yang tadi, tidak mendekat sama sekali.

__ADS_1


"Kau menjahiliku, ya?" Pipi Naynay mendapat cubitan gemas hingga bumil itu tertawa. Bagaimana Afif bisa menciumnya jika bumil itu tidak mendekat sama sekali, apalagi tubuh Naynay yang berada di atas tubuhnya membuat dia susah bergerak.


"Nay mau cium, tapi Kakak nggak boleh gerak sedikit pun!" Naynay memberi penawaran untuk antisipasi, karena Afif akan ngelunjak jika dicium.


Afif mengangguk dan kembali memajukan bibirnya. Naynay mulai mendekatkan wajahnya hingga napas mereka beradu dalam pertemuan dua bibir. Ciuman itu tak berlangsung lama karena Naynay sudah didera rasa malu hingga berjalan cepat menuju kamar mandi sambil memegang kedua pipinya yang memanas.


"Nay, itu bukan ciuman namanya!" teriak Afif diselingi tawa. Naynay hanya menempelkan bibirnya tanpa digerakkan sedikit pun, hanya kecupan sekitar sepuluh detik yang dia berikan.


Naynay yang sedang berkaca di cermin pun tidak membalas. Dia membuka bajunya dan mulai membasahi seluruh tubuhnya dengan air yang mengucur dari shower.


Menghabiskan waktu sekitar lima belas menit untuk mandi dan berpakaian, Naynay keluar dan segera menuju tempat tidur. Dia berbaring menyamping karena sudah tidak bisa lagi tidur tengkurap, takut kalau si dedek bayi kegencet katanya.


Afif yang masih berbaring di sofa sambil memainkan hpnya pun segera menyusul naik ke tempat tidur. Tubuh Naynay sudah dia jadikan guling sekarang.


"Aku sudah mengabari ibu panti, nanti malam kita akan ke sana."


Naynay mengangguk senang dalam pelukan Afif sebelum akhirnya tertidur karena lelah sehabis keliling mall tadi.


*****


Araa, bayi yang sekarang berusia sekitar lima bulan itu menggerakkan kereta bulat yang dia duduki dengan kakinya mendekat ke arah Naynay. Bibir mungilnya mulai berceloteh khas bayi.


"Uughhhhh, Sayangnya Bubuuu..." Naynay menggendong Araa dan mencium gemas pipi gembul bayi itu hingga suara tawanya terdengar.


Afif tersenyum melihat bahagianya Naynay ketika bertemu dengan bayi perempuan yang dibuang orang tuanya itu. Tangan kekarnya terangkat mengusap kepala Araa.


"Duduk dulu, Nona dan Tuan." Ibu panti mempersilakan mereka berdua duduk di sofa dengan Naynay yang memangku Araa.


"Buuu..." Celotehan bayi itu hanya itu-itu saja. Dia memanggil Naynay dengan sebutan Bubu yang berarti Ibu. Kedua tangan mungilnya menepuk-nepuk pipi Naynay.


"Nay udah pesen makanan, nanti kita makan sama-sama, ya!" ujar Naynay kepada ibu panti. Wanita paruh baya itu mengangguk dengan senyum yang terukir di bibirnya.


Naynay berdiri dan membawa Araa ke kamarnya yang ada di sana. Dia memang membangun ulang panti asuhan ini sesuai kemauan ibu panti dan anak-anak di sana. Tapi bukannya meminta dibuatkan bangunan besar nan mewah, mereka semua meminta bangunan sederhana.


"Bahagia tidak melulu bisa kita dapatkan dari kemewahan. Kesederhanaan memberikan kehangatan yang membuat kita tetap ingat kepada Tuhan, sang pencipta yang meniupkan roh pada seonggok tanah, bukan berlian ataupun emas." Yang didengar Naynay dua tahun lalu,saat pertama kali berkunjung ke panti.


Saat itu Naynay benar-benar terharu, ucapan dari anak laki-laki yang sekarang duduk di bangku SMP kelas tiga itu membuat dia menangis di panti yang saat itu sangat tidak layak dihuni.

__ADS_1


Naynay memasuki kamarnya yang ada di paling pojok lantai dua rumah ini. Ketika menaiki tangga, Afif memegangi bahunya karena khawatir istrinya itu terjatuh. Laki-laki itu menjadi suami siaga sekarang.


"Nay nggak perlu ke sekolah lagi, Kak?" tanya Naynay setelah duduk di atas tempat tidur dengan memangku Araa yang berceloteh terus hingga air liurnya membasahi tangan Naynay yang memegangi dadanya.


"Tidak perlu, tidak ada yang perlu kau lakukan lagi di sekolah." Afif tengkurap di atas tempat tidur dan mencolek-colek pipi gembul Araa.


"Yahhh...." pekik bayi itu dan melayangkan tamparan kecil di wajah Afif.


Afif tergelak dan semakin semangat menggoda bayi itu. Diapitnya kedua pipi Araa dan ditekan-tekannya hingga bibir pink bayi itu mengerucut.


"Mau angkat dia jadi anak?" tanya Afif tanpa menatap Naynay. Dia masih sibuk menggoda Araa hingga bayi itu mulai kesal dan memukul tangan Afif.


Bumil itu terkejut. Dia mau, tapi....


"Kau bisa meminta mama mertua untuk merawatnya sampai kau siap, dia pasti setuju."


Naynay menggangguk senang. "Kasih pelukan dulu."


"Dasar, Koala." Afif memeluk Naynay dan memberikan ruang agar Araa tidak terjepit.


"Aku punya dua anak....'


Naynay bersorak riang di dalam hatinya dan memberikan kecupan di pipi Afif setelah suaminya itu melepas pelaukannya.


' Tunggu! Dia bilang aku apa? Koala?'


.


.


.


.


.


Pengen punya anak jugaaaaaaa.....

__ADS_1


__ADS_2