My Perfect Husband

My Perfect Husband
Ke-absurd-an Naynay


__ADS_3

Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari, mata Naynay terbuka dan mendudukan tubuhnya. Matanya menatap kiri-kanan seperti kebingungan. Dia beralih menatap Afif yang tidur tengkurap dengan kepala membelakanginya.


Tiba-tiba saja bumil itu menangis hingga Afif terbangun, laki-laki itu langsung terduduk dengan mata setengah terbuka. Tangisan Naynay mengeras membuat mata Afif terbuka sempurna, dia panik melihat istrinya yang menangis kejer.


"Nay, kau kenapa?" tanya Afif panik sampai mengira kalau Naynay ingin melahirkan, padahal kandungan istrinya itu baru memasuki usia enam bulan.


"Kakak jahat!... Hiks.." Naynay memukul dada Afif yang berada di depannya.


Dahi Afif mengernyit bingung ketika dikatai jahat oleh Naynay. Apa yang dia perbuat hingga di-cap jahat?


"Aku jahat kenapa?" Afif menggenggam tangan Naynay dan mengelusnya lembut.


"Kenapa tidur nggak peluk Naynay? Kakak bosan ya sama Nay?" tanya Naynay masih menangis dan menatap Afif sendu dengan mata yang banjir.


Afif menghela napas perlahan, istrinya ini minta dimakan ya? Ada-ada saja sikap tidak masuk akal Naynay belakangan ini, Afif sendiri juga bingung melihatnya. Tapi dia tidak pernah membentak Naynay walaupun dia kesal.


"Nay, aku tidak sengaja melepas pelukanku tadi. Ayo tidur lagi, aku akan memelukmu sampai kau puas!" ujar Afif jujur. Saat tidur mana bisa dia mengontrol gerak tubuhnya. Afif tidak sadar ketika melepas pelukannya dan mengubah posisi tidurnya memebalakngi Naynay.


"Nggak bosan sama Nay, kan?" tanya Naynay sesegukan dengan air mata yang masih mengucur deras.


Afif semakin mendekatkan tubuhnya dan menangkup kedua pipi chubby Naynay. Diusapnya air mata di sana dengan lembut. "Mana mungkin aku bosan, rasa cintaku bertambah setiap jam kepadamu, Sayang."


Afif tidak sedang menggombal, dia serius dengan perkataannya.


Naynay menghentikan tangisannya, dia merentangkan tangannya minta dipeluk. Afif segera mendekap tubuh istrinya itu agar segera tenang. Dia heran, apa yang terjadi dengan istrinya belakangan ini.


"Kak, mau ke hotel..." cicit Naynay yang masih di pelukan Afif.


Afif tersenyum mesum ketika mendengar kata hotel, tapi senyumnya luntur seketika mendengar perkataan Naynay selanjutnya.


"Tapi nggak buat main, kita tidur aja."


Afif mendengus kesal dan berusaha meraih hpnya untuk menghubungi Ryan. Sekretarisnya itu langsung menjawab panggilan dan menyanggupi mengantar mereka ke hotel.


"Ganti bajumu dulu, hanya aku yang boleh melihat tubuhmu!" titah Afif sambil melepas pelukannya. Dia membawa Naynay ke ruang ganti untuk mengganti pakaian mereka.


Setelah semua siap, mereka segera turun setelah mendapat kabar jika Ryan sudah ada di bawah. Mereka segera berangkat menuju hotel milik Afif, tapi bukan di hotel tempat kejadian buruk dulu terjadi. Afif tidak mau Naynay tahu sebelum dia sendiri siap berkata jujur pada istrinya. Sebenarnya dia siap, tapi masih banyak yang dia pertimbangkan.

__ADS_1


Setelah sampai di hotel, mereka berdua menaiki lift khusus menuju lantai teratas. Hanya ada satu kamar di sana, hanya untuk Afif seorang. Ryan akan tidur di mobil karena dia tidak bisa tertidur di sembarangan tempat, walau hotel yang nyaman sekalipun.


"Kak, mau ini..." Naynay duduk di pangkuan Afif dan mengusap bibir Afif ketika mereka sudah berada di dalam kamar. Bukan kamar sih, tapi di ruang tamu.


Afif menarik tengkuk istrinya dan langsung meraup bibir manis itu. Naynay memang agak agresif beberapa hari ini, dan tentunya Afif sangat menyukainya.


"Mau apa lagi, hmm?" tanya Afif sambil mengendus-endus leher Naynay.


"Makan mie ayam," balas Naynay santai membuat Afif tersenyum paksa di sela aktivitasnya. Menyesal dia bertanya apa mau istrinya itu tadi.


"Baiklah." Mengambil hpnya dan menghubungi Ryan.


Ryan mengelus dadanya ketika mendengar permintaan Naynay, baru saja dia merebahkan tubuhnya di jok belakang. Setelah panggilan itu terputus, Ryan segera berpindah ke belakang kemudi dan melanjukan mobil keluar basement hotel.


Melihat arlojinya, Ryan menangis dalam hati. Di mana dia akan mencari mie ayam dini hari seperti ini. Dengan bermodalkan sabar, dia terus melajukan mobil mencari penjual mie ayam yang akan menjadi malaikat penolongnya.


Sedangkan di kamar hotel, Naynay malah asik-asik memotret pemandangan kota yang begitu menakjubkan dari balkon hotel. Mengabaikan Afif yang sejak tadi uring-uringan setelah dipancing hasratnya oleh tangan nakal istrinya itu.


"Nay," panggilnya sambil memeluk Naynay dari belakang.


Naynay meletakkan hpnya di meja kecil di sana dan memutar tubuhnya menghadap Afif. Dia tersenyum melihat wajah aneh Afif karena dia kerjai.


Bel berbunyi dan Naynay segera menuju pintu, dibukanya dan Ryan menyodorkan bungkusan berisi mie ayam pesanan Naynay.


"Makasih, Kak Iyan." Naynay tersenyum lebar membuat Ryan ikut tersenyum dan pamit turun kembali. Entah bagaimana perjuangannya mencari satu porsi mie ayam tersebut, hanya dia, aku, dan Tuhan yang tahu.


Naynay berjalan menuju dapur, satu lantai ini memang sudah seperti apartemen yang segalanya ada. Bumil itu segera memindahkan mie ke dalam mangkuk dan mengajak Afif untuk makan.


"Nay, kau sudah berjanji habis ini," ujar Afif setelah menelan mie ayam yang disuapkan Naynay.


"Nay janji apa memangnya?" tanya Naynay pura-pura tidak paham.


Afif diam dan kembali menerima suapan dari Naynay. Sebenarnya yang makan kebanyakan Afif, Naynay cuma sedikit. Kenyang katanya. Ya Afif sebagai suami yang baik dan selalu mengikuti kata sang istri, tentu pasrah saja disuapi sampai mie ayam itu habis. Pasrah, ingat! Pasrah...


Setelah itu Naynay menuju sofa dan duduk di sana, meninggalkan Afif yang berkali-kali mengumpat kesal karena belum juga mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia menyusul Naynay dan memeluk istrinya itu begitu erat dari samping.


"Nay, ayo." Afif menatap sayu Naynay dengan tangan yang sudah bertengger cantik di dada Naynay.

__ADS_1


"Ngapain?" tanya Naynay dengan usilnya menurunkan tangan Afif yang berada di dadanya.


Afif sudah tidak tahan lagi, tanpa berbicara dia merebahkan tubuh Naynay di sofa. Untungnya sofa itu lebar hingga dia tidak perlu khawatir istrinya merasa tidak nyaman. Afif mulai mencium bibir Naynay dengan gemas dengan tangan yang kembali bermain di dada Naynay.


Naynay mendorong pelan kepala Afif hingga ciuman itu terlepas. "Bawa ke kamar!" titahnya manja.


Afif tersenyum dan mengecup bibir Naynay bertubi-tubi sebelum menggendong istrinya itu menuju kamarnya. Setelah mendudukan Naynay di tepi ranjang, Afif segera membuka bajunya.


"Tunggu dulu, Kak." Menahan Afif yang hendak merebahkan tubuhnya.


"Apa lagi, Nay? Kau mau mengerjaiku lagi?" tanya Afif mengacak rambutnya frustrasi. Dia sudah disiksa oleh hasratnya tapi istrinya masih menunda.


Naynay mengelus rahang tegas Afif dengan lembut. Dia bisa melihat mata suaminya dipenuhi kabut gairah yang harus segera dituntaskan." Nay mau minta maaf karena udah nyusahin Kakak beberapa hari ini. Nggak tahu kenapa, tapi Nay tiba-tiba kepingin aja minta ini-itu sampe bertingkah nggak wajar. Maaf udah bikin Kakak kesal juga."


Afif mengelus kepala Naynay sambil tertawa kecil. Dia tidak menyangka istrinya meminta maaf karena sikap absurdnya beberapa hari ini. Padahal Afif suka dengan semua sikap Naynay, dia merasa kalau istrinya itu bertambah menggemaskan.


"Kenapa kau harus meminta maaf? Aku tidak masalah dengan semua permintaanmu, apapun akan aku lakukan untukmu." Afif mencium kening Naynay, dibalas pelukan oleh istrinya itu.


"Udah bisa, kan, Nay?" tanya Afif memelas sambil menggesekkan dagunya di atas kepala Naynay.


"Tapi jangan suruh Nay di atas lagi, susah!" balas Naynay membuat Afif tertawa keras.


"Ayo!" Sambil menciumi seluruh bagian wajah Naynay.


.


.


.


.


.


Besok bab kejutan...


Dan aku ganti judul karena udah direncakan dari awal, tapi sebenarnya aku lupa hingga baru ganti judul di bab ini. Seharusnya sejak Afif mengungkapkan perasaannya itu harus segera diganti judulnya.

__ADS_1


Judul awal aku kasih My Husband Is Arrogant CEO" karena ingin menegaskan kalau Afif itu sombong di awal. Dan diganti dengan My Perfect Husband" karena dia sudah menjadi sosok suami sempurna bagi Naynay


__ADS_2