
Setelah selesai acara, Arsen langsung mengajak Sheena untuk pulang karena besok Sheena harus persiapan operasi yang sudah di jadwalkan jam 9 pagi. Sesampainya dirumah, Arsen mengajak Sheena menuju kamarnya.
“Sheena, istirahatlah aku mau ke kantor sebentar.” Kata Arsen saat mereka baru tiba di kamar.
“Iya, Arsen.”
“Aku akan meminta Belinda untuk menemanimu.”
“Tidak usah. Kamu memperlakukan aku seperti orang sakit saja.”
“Baiklah kalau begitu, kamu baik-baik ya.”
“Tapi tolong buka resleting dress ku ini.” Kata Sheena. Arsen mengangguk. Ia dengan sedikit ragu-ragu menurunkan resleting dress Sheena. Arsen bia melihat jelas punggung Sheena hingga kebagian paling ujung. Skelebat adegan panas dalam dvd itu terlintas dalam benaknya.
“Sudah,” ucap Arsen tergagap.
“Terima kasih ya. Kamu hati-hati ya.”
“Iya tapi berikan aku vitamin K dulu.” Pinta Arsen sambil mengetuk bibirnya. Sheena lalu mendekat sambil memegangi dressnya lalu memberikan kecupan untuk Arsen. Setelah mendapat kecupan itu, Arsen segera berangkat ke kantornya.
Sementara itu Fandi tampak melamun di teras balkon kamarnya. Olivia yang baru saja keluar dari kamar mandi, melihat Fandi sedang melamun lalu menghampirinya. Dipeluknya Fandi dari belakang.
“Fandi, kamu sedang memikirkan apa?”
“Oliv, kamu mengagetkanku saja. Aku sedang tidak memikirkan apa-apa.”
“Fan, sampai kapan kamu siap menyentuhku. Sejak tiga bulan menikah, kita belum pernah melakukannya. Aku seorang wanita dan juga seorang istri. Jadi tentu saja aku menginginkan itu, Fan.”
Fandi menghela. Fandi lalu berbalik menghadap Olivia. “Maaf ya Liv, kalau aku belum bisa sepenuhnya mencintaimu. Entah kenapa perasaan sayangku padamu sejauh ini hanya sebagai sahabat saja. Aku begitu memaksa tapi belum bisa. Aku tidak mau melakukannya dengan terpaksa, Liv.”
“Fan, apa benar dihatimu masih ada Sheena? Sekalipun kamu amnesia, kamu masih belum bisa mencintaiku. Apa tidak cukup pengorbananku selama ini padamu?” gumam Olivia dalam hati dengan menahan sejuta perih.
“Tapi aku akan berusaha lagi untuk mencintaimu. Aku harap, kamu bersabar ya, Liv.” Fandi kemudian memeluk Olivia. Air mata Olivia pun lolos dari peluk matanya.
“Sampai kapan aku harus sabar dan menunggu?” gumam Olivia dalam hati.
__ADS_1
-
Keesokan harinya, hari yang mendebarkan untuk Sheena. Semua keluarga sudah berkumpul di rumah sakit, memberikan semangat untuk Sheena tak terkecuali Pak Damar. Pak Damar sengaja datang seorang diri karena ia tidak mau kedatangan Bu Lian dan Sinta justru membuat kekacauan. Sheena pun sudah mengenakan pakaian khusus dan ia masih di kamar rawatnya duduk bersandar dibrangkar pasien, menunggu suster dan dokter menjemputnya.
“Nak, Ayah yakin semuanya pasti baik-baik saja. Doa Ayah selalu bersama kamu, Nak. Jangan takut ya, Nak.” Kata Pak Damar seraya menggenggam kuat tangan Sheena.
“Iya Ayah. Ayah jangan tinggalkan Sheena ya. Ayah tunggu sampai Sheena selesai operasi.”
“Pasti Nak.” Pak Damar lalu memberikan pelukannya pada Sheena.
“Sayang, Mama dan Papa juga akan menunggu kamu disini. Kmu tidak sendirian sayang, Mama dan Papa juga ada disini.” Ucap Nyonya Sofi.
“Iya sayang, kami bersama kamu.” Sahut Tuan Darwin. Nyonya Sofi dan Tuan Darwin, pun bergantian memberikan pelukan untuk putrinya. Nyonya Dira dan Tuan Keena pun melakukan hal yang sama. Mereka memberikan pelukan untuk Sheena.
“Menantu Papa yang cantik dan baik hati harus kuat ya. Jangan bersedih ataupun menangis karena semuanya akan baik-baik saja.” Ucap Tuan Keenan.
“Terima kasih Papa Keenan, mertuaku yang tampan dan baik hati.” Ucap Sheena terkekeh.
“Hmmm Papap Keenan ini memang paling suka di puji, Sheena. Sudah tua narsisnya masih sama,” gurau Nyonya Dira yang disambut tawa semuanya.
“Adikku sayang, tenanglah! Ada kakakmu disini. Selama ada Kakakmu yang tampan dan super baik ini disini, semuanya akan baik-baik saja. Lihatlah, kami disini semua ada untuk kamu dan kami disini semua sangat menyanyangi. Jadi jangan menghkawatirkan apapun, oke.”
“Iya Kak, terima kasih ya.” Arthur lalu memberikan pelukan hangatnya untuk Sheena. Arthur sangat kasihan melihat Sheena dan tidak tega jika Sheena harus mengalami hal ini. Arthue kemudian melepaskan pelukannya.
“Kenapa menangis?”
“Aku bahagia saja. Karena saat aku sedih dan takut, ada kalian semua. Dulu, semua rasa sedih dan sakit aku lewati seorang diri. Bahkan aku harus menyembunyikan rasa sakit dengan wajah yang ceria.”
Arsen menatap nanar gadis yang ada dihadapannya itu. Arsen tentu tidak lupa bagaimana kehidupan yang dilewati oleh Sheena. Entah kenapa hati Arsen terasa sakit sekali mendengar dan mengingat kehidupan Sheena dulu. Itu karena kini ia mencintai gadis dihadapannya itu. Arsen kemudian memeluk Sheena dengan sangat erat.
“Apapun yang terjadi kita hadapi bersama. Jangan pernah takut pada apapun. Jadilah Sheena yang pemberani seperti dulu.”
“Tapi kali ini aku takut. Jangan tinggalkan aku, Arsen.” Kali ini ucapan Sheena benar-benar membuat hati Arsen terenyuh.
“Iya, aku tidak akan meninggalkanmu.” Ucap Arsen. Pelukan Sheena pun semakin erat pada Arsen, seolah Sheena berusaha menahan rasa takut. Namun perlahan Arsen melepaskan pelukannya. Arsen mengapus air mata Sheena, lalu mengecup dalam-dalam kening Sheena. Arsen kemudian mendekatkan bibirnya pada Sheena, Arsen mencium dan me…lu…matnya dengan lembut. Kali ini pun Sheena tidak ragu lagi untuk membalas ciuman Arsen. Setelah cukup lama berpagut, keduanya saling melepaskan dan disaat bersamaan datanglah dokter bersama dengan perawat. Dokter lalu memerika tekanan darah Sheena, kemudian memasang infus dan terakhir memasang kateter. Tangan keduanya saling menggenggam dan seolah tak terpisahkan.
“Kakinya di tekuk ya Nona, lalu di buka. Saya akan memasangkan selang kateter urin pada daerah ke..wa...nitaan anda."
“Dok, mau di apakan istri saya? Ken-kenapa di buka?” tanya Arsen tergagap sambil menahan marah. Karena kebetulan, dokter yang memeriksa Sheena adalah dokter laki-laki.
__ADS_1
“Memang tempatnya disini, Tuan. Jadi kateter ini harus dimasukkan ke dalam sini.”
“Memangnya harus ya, Dok?” Wajah Arsen mulai panik. Ia tidak rela jika dokter itu melihat daerah keramat Sheena. Karena sebagai suami, Arsen bahkan belum melihatnya sama sekali.
“Iya Tuan. Karena Nona Sheena akan dalam pengaruh bius jadi harus dipasang kateter untuk memudahkannya buang air kecil. Hal seperti sudah biasa dilakukan dalam hal medis.” Jelas Dokter.
“Tunggu Dokter, apa itu sakit? Apa dokter harus melihatnya secara langsung? Dan dokter harus menyentuhnya langsung?” ekspresi cemburu dan khawatir Arsen pun terlihat jelas sekali.
Dokter tersenyum mendengar ucapan Arthur. “Rasanya hanya seperti dicubit saja. Iya saya harus melihatnya untuk memasangkan alatnya ini. Apa saya bisa melanjutkannya?”
Arsen terdiam dan ia tidak rela jika Dokter melihan bagian sensitive Sheena. “Mmmm kenapa dokternya ganti anda? Padahal saya sudah minta dokter Indri untuk menjalankan operasi ini.”
“Maaf Tuan, Dokter Indri cuti mendadak karena mertuanya meninggal dunia dan meminta saya untuk menggantikannya.”
“Arsen, kamu ini kemapa sih?” kata Sheena yang merasa bingung dengan sikap Arsen.
“Mmmmm ya masa itunya kamu di lihat dokter cowok. Aku saja belum melihatnya. Aku tidak rela lah,” bisik Arsen tepat ditelinga Sheena. Sheena lalu tertawa mendengar ucapan suaminya itu.
“Ya ampun Dokter juga sudah biasa juga seperti itu.”
“Aku tidak akan ijinkan, Sheena. Aku saja belum melihatnya, masa iya dokternya duluan.” Arsen masih tetap dokter.
Sheena menghela. “Dokter, bisakah suster saja yang memasangkannya? Karena ini pengalaman pertama saya jadi saya malu. Maaf sekali Dokter.”
“Tentu saja Nona, memang tugas ini suster yang akan melakukannya. Sebagai dokter, saya memantau, memastikan bahwa semuanya sudah benar sesuai prosedur.”
“Terima kasih Dokter.” Kata Sheena. Arsen kemudian melepaskan genggaman tangan Sheena.
“Dokter, bisa kita bicara sebentar.” Kata Arsen yang berusaha mengalihkan Dokter. Ia benar-benar tidak ingin peria lihat melihat milik Sheena sebelum dirinya.
“Tentu saja Tuan.” Jawab Dokter. Tak di pungkiri Dokter itu masih tergolong muda dan tampan. Wajahnya mirip dengan pria Turki.
“Apa Dokter sudah menikah?” Arsen menanyakan hal yang tidak penting pada dokter tersebut.
“Sudah Tuan. Anaka saya sudah dua.”
“Oh begitu. Apa istri anda tidak cemburu dengan profesi anda ini?”
“Tentu saja tidak. Menjadi dokter itu panggilan jiwa, Tuan. Jadi sama sekali tidak ada pikiran negatif. Saya juga banyak menemukan suami posesif seperti anda, Tuan. Maaf ya kalau harus saya yang menangani istri anda,” kata dokter sambil menepuk bahu Arsen dengan senyum penuh arti. Arsen hanya bisa meringis mendengar ucapan dokter. Setelah semuanya terpasang sesuai prosedur, Sheena pun segera dibawa keruang operasi.
__ADS_1
Bersambung.... Maaf ya baru up, hehehe