
Keesokan harinya Arsen menggelar pesta kecil yang di hadiri oleh kedua keluarga. Rasa bahagia tak terbendung, ketika mendengar Sheena tengah mengandung bayi kembar.
''Selamat ya adikku sayang. Ternyata suami mu jago juga ya membuat anak.'' Goda Arthur seraya memberikan pelukan untuk Sheena.
''Kakak ini bikin malu saja.'' Ucap Sheena. Arthur kemudian memberika pelukan untuk Arsen.
''Akhirnya aku bisa melihat kejantananmu juga Arsen. Kamu berhasil membuat Sheena hamil kembar sekaligus. Wah, sungguh hebat!"
''Kamu memujiku atau mempermalukanku?''
''Dua-duanya sih,'' ucap Arthur terkekeh. Arthur begitu puas menggoda Arsen dan juga Sheena.
''Selamat ya Sheena sayang, akhirnya kamu hamil, mana kembar lagi.'' Sahut Nyonya Dira.
''Papa bahagia sekali Sheena. Akhirnya cucu Papa menjadi empat sekaligus,'' sambung Tuan Keenan.
''Eonni harus rajin-rajin memuji dan dekat denganku suapaya anak eonni jadi sangat cantik sepertiku.''
''Nah begitu juga denganku Noona. Noona juga harus rajin memuji dan dekat denganku, suapaya anak noona tampan seperti iku. Kembar cowok dan cewek kan seru apalagi ketampanan dan kecantikannya membahana,'' cecoros Brian.
''Mana bisa seperti kalian, harus seperti Papanya dong. Kalau seperti Belinda dia akan menjadi gadis manja jadi dia harus seperti Ibunya, seorang wanita cantik, mandiri dan tangguh. Kalau seperti Brian, sudah pasti dia cerewet dan bisa dipastikan playboy sih. Jadi harus seperti Papanya yang sudah sempurna dari ujung kaki sampai ujung kepala. Bahkan luar dalam sangat sempurna.'' Sambung Arsen yang begitu membanggakan dirinya.
''Asalkan narsisnya tidak melebih kamu, sayang.'' Ucap Sheena yang membuat semuanya terkekeh.
''Baiklah, sebaiknya kita nikmati kudapan sore ini dengan mengobrol.'' Ucap Arsen.
''Oh ya Brian, bagaimana rasanya tinggal sendiri di sebuah kontrakan kecil? Apalagi dengan melepas status sebagai putra Dirgantara.'' Tanya Sheena.
''Rasanya nano-nano Noona. Awalnya memang rasanya berat, bisa tidak ya? Bisa tidak ya? Apa aku bisa hidup dengan uang saku dari Papa? Apa aku bisa mengelola gajiku yang cuka segitu? Banyak sekali pertanyaanya di dalam otakku, Noona. Tapi ya akhirnya aku berusaha menerima keadaan dan bisa menyesuaikan diri. Dari sana juga aku bisa melihat siapa yang tulus, terutama seorang wanita. Ya, meskipun ada juga yang menghinaku modal tampang tapi kere.''
Seketika Belinda lah yang tertawa paling keras diantar semuanya, saat mendengar kalimat terakhir Brian.
''Belinda....,'' sahut Nyonya Dira.
''Maaf Mah, habisnya mendengar kalimat terakhir Brian aku ingin tertawa saja.''
''Ah sudahlah jangan mentertawakan aku, Noona. Semua itu kan untuk menguji siapa wanita yang tulus padaku. Jangan sampai aku sepertimu. Di bodohi pria dengan mudahnya.''
__ADS_1
''Eh kenapa malah menyinggung itu? Bukan aku yang bodoh tapi pria itu yang bodoh karena sudah menyia-nyiakan aku.''
''Kamu saja yang bodoh!" sahut Brian.
''Dia yang bodoh!" sahut Belinda.
''Kamu!"
"Dia!"
"Kamu!"
"Dia!" suasana semakin runyam melihat kakak beradik itu adu mulut.
''Brian! Belinda! Ini rumahku. Kalau kalian mau ribut silahkan keluar.'' Sahut Arsen dengan tegas. Mereka berdua seketika pun terdiam.
''Brian, Belinda, kalian ini seperti anak-anak saja. Kalian ini sudah dewasa lho. Untung saja disini tidak ada besan Papa. Bisa malu Papa dan Mama dengan kelakuan kalian berdua.'' Sahut Tuan Keenan.
''Benar kata Papa. Untung saja Om Darwin dan Tante Sofi sedang keluar kota, coba kalau disini, bisa ilfill lihat menantunya yang manja itu,'' sahut Brian yang masih merasa kesal dengan Kakaknya itu.
''Brian, kamu juga diam! Habiskan makananmu dan setelah itu pulang.'' Sahut Nyonya Dira.
''Aku juga boleh kan, Mah. Besok kan hari minggu. Mama tahu kan perjuanganku bertahan di rumah itu. Aku pulang ke rumah itu seperti pulang ke neraka saja.'' Belinda pun tak mau kalah.
''Kalian ini sudah dewasa, masih saja merengek seperti itu.'' Timpal Tuan Keenan.
''Pah, Mah, kita kan sudah berpisah bertahun-tahun masa iya mau nginap semalam tidak boleh.'' Belinda masih berusaha membujuk Papa dan Mamanya.
''Benar kata Papa dan Mama, kalian sudah dewasa bukan anak-anak lagi.'' Sahut Arsen.
''Eh tapi tidak apa-apa juga kalian menginap disini. Besok juga hari minggu kan? Aku juga butuh teman supaya tidak kesepian. Tidak apa-apalah Pah-Mah, mereka menginap disini sehari. Sheena kadang butuh teman juga.''
''Nah, eonni mengijinkan! Yes, terima kasih eonni.'' Kata Belinda seraya memberikan pelukan untuk Sheena yang duduk di sampingnya.
''Yes, terima kasih ya Noona. Lagi pula cuma sehari dan aku janji tidak akan rusuh deh.'' Kata Brian sambil mengcungkan jari telunjuk dan tengahnya bersamaan.
''Baiklah, karena semua adik ipar berkumpul, aku juga sebagai Kakak ipar akan ikut juga.'' Sahut Arthur yang tidak mau kalah.
__ADS_1
''Kakak, ikutan juga?'' sahut Sheena.
''Iya dong, boleh kan? Papa dan Mama keluar kota, jadi sebaiknya aku disini ikut menjaga kamu.''
''Senang sekali karena rumah jadi ramai. Boleh kan sayang?'' tanya Sheena sambil menatap manja suaminya. Arsen hanya bisa menghela nafas kasar sambil mengangguk dengan penuh keterpaksaan.
''Ya sudah kalau tuan rumah mengijinkan, Mama tidak bisa mencegah. Kebetulan juga Papa dan Mama besok mau menyusul besan ke luar kota untuk liburan bersama.'' Sambung Nyonya Dira.
''Tuh kan Papa dan Mama tidak mau kalah juga?'' sindir Belinda.
''Iya dong. Kita juga bituh hiburan dan liburan supaya awet muda. Tadinya Mama dan Papa mau ikut berangkat tadi pagi tapi mereka memaksa mama dan papa untuk menghadiri acara kalian ini.''
''Papa dan Mama nikmati saja liburannya. Kita semua kan sudah dewasa. Kenanglah masa muda kalian Pah-Mah.'' Sambung Brian.
''Arthur, tolong awasi gadis Om yang manja satu itu ya. Jangan sampai dia membuat ulah.'' Sahut Tuan Keenan.
''Tenang saja, Om. Dia sepertinya perlahan sudah jinak.'' Jawab Arthur terkekeh.
''Memangnya aku hewan apa? Jinak-jinak.'' Ketus Belinda.
''Arsen, kamu juga jaga Sheena yam Apalagi dia sedang mengandung. Moodnya naik turun jadi kamu harus sabar.'' Pesan Tuan Keenan.
''Iya Pah. Arsen pasti selalu menjaga Sheena dengan baik. Papa dan Mama tidak usah khawatir.'' Ucap Arsen.
''Eonni Belinda dan Sheena di jaga oleh hyung, lalu siapa yang menjagaku? Wah, aku benar-benar sendiri disini. Semuanya punya pasangan, sedangkan aku?'' Brian merasa paling merana karena tidak punya pasangan.
''Kamu kan sudah ada dewasa Brian? Masa iya minta di jagain terus. Kamu dong yang seharusnya mencari seseorang yang bisa kamu jaga.'' Celetuk Arthur.
''Hehehehe iya juga ya Kak. Tapi belum ada yang mau menerima aku tanpa embel-embel Dirgantara.''
''Pasti suatu saat akan ada wanita yang tulus sama kamu. Lagi pula kamu masih muda jadi fokus kerja saja dulu. Nanti jodoh juga mendekat.'' Kata Arthur.
''Nah, benar kata Arthur, Brian. Kamu fokus dulu kerja, nantinya kamu harus bantu hyung kamu. Papa percaya nanti akan ada seseorang yang tulus sama kamu.''
''Iya Pah, Brian mengerti.''
Dan pesta kecil itu berlangsung dengan sangat hangat. Mereka semua sangat bahagia mendengar kabar kehamilan Sheena. Segala doa dan kasih sayang tercurahkan untuk Sheena dan si jabang bayi. Keluarga yang saling mendukung dan penuh kasih sayang, yang sangat Sheena rindukan sejak dulu, kini ia telah mendapatkan semuanya.
__ADS_1
Bersambung......