My Perfect Husband

My Perfect Husband
Hukuman Qiara


__ADS_3

Afif memasuki rumah yang terasa sepi, dia sampai ketika langit sudah berubah gelap. Terjadi kecelakaan tadi hingga dia terjebak macet yang begitu panjang. Langsung saja Afif melangkah menuju kamar Qiara dan membuka pintunya agak kasar.


Qiara yang melihat Afif masuk mulai ketakutan. Dia yakin kalau Afif sudah tahu semua yang dia katakan kepada Naynay.


"Kau semakin kurang ajar saja, ya, Qiara!" ucap Afif dingin sambil menghampiri adiknya yang sedang duduk di meja belajarnya.


Qiara tidak bisa menjawab, dia tidak berani jika kembali berdebat dengan Afif. Qiara juga tidak mau hubungan mereka semakin tidak baik karena masalah ini. Dia lebih memilih diam dengan menundukkan kepalanya.


"Apa perlu aku mengirimmu ke sekolah kerajaan agar lebih ber-etika?" tanya Afif sambil mengambil pensil yang dipegang Qiara. Sedetik kemudian pensil itu sudah patah terbagi dua dan jatuh ke lantai.


"Nggak, maafin Qiara, Kak. Aku nggak mau sekolah di sana!" ujar Qiara panik dan takut jika Afif benar-benar memasukkannya ke sekolah kerajaan.


Jika itu benar, maka dia akan tinggal jauh dari Afif. Bersekolah di sana juga sangat berat, apalagi belajar tata krama kerajaan. Mudah saja bagi Afif melakukan itu karena kekuasaannya.


"Jangan meminta maaf kalau kau bahkan tidak sadar dengan kesalahanmu!" Nada bicara Afif sudah naik satu oktaf hingga membuat Qiara semakin takut.


"Semua fasilitasmu aku sita selama sebulan, kau hanya boleh memegang hpmu. Berikan semuanya sebelum aku menghancurkan kamar ini!" imbuh Afif yang wajahnya sudah sangat menyeramkan.


Qiara bergerak dengan cepat mengambil dompet yang berisi kartu-kartu dan kunci mobilnya dari dalam laci. Dia meletakkannya di samping laptop dan komputer yang sedang dia pakai. Ini lebih baik daripada dikirim ke luar negeri.


"Minta maaf kepada kakak iparmu, aku akan memaafkanmu jika dia sudah memaafkanmu." Afif keluar dari kamar Qiara setelah mengatakan itu.


Ryan yang sejak tadi diam mulai bergerak mendekat, di belakangnya juga sudah ada beberapa pelayan laki-laki yang akan membawa semua barang Qiara ke ruang kerja Afif untuk disimpan selama satu bulan di sana.


"Anda membuat hubungan kalian semakin jauh, Nona. Tuan muda tidak akan menoleransi lagi jika sikap Anda kepada nona muda masih kurang ajar seperti ini."


Qiara mendongak menatap wajah Ryan yang sama datarnya dan menyeramkannya dengan wajah Afif.


"Minta maaflah kepada nona muda secepat mungkin!" ucap Ryan mengusap kepala Qiara sebentar sebelum berjalan keluar untuk pulang. Sudah cukup pekerjaannya hari ini, meladeni Afif yang bucinnya terlalu parah memang perlu energi ekstra.


"Mama, kakak nggak sayang sama Qia." mata Qiara berkaca-kaca sambil memandang foto besar yang terpasang di atas tv kamarnya.


*****


Afif membuka pintu kamar setelah merubah ekspresi wajahnya yang tadinya menyeramkan menjadi cool kembali. Di dalam sana Naynay sedang menyantap makan malam di sofa.

__ADS_1


Dia melangkah mendekat dan mencium pipi Naynay bertubi-tubi hingga makan malam bumil itu terganggu. Kemudian Afif merebahkan tubuhnya dengan menjadikan paha Naynay sebagai bantalnya.


"Nay lagi makan, nanti mata Kakak kemasukan makanan yang jatuh." Naynay meletakkan sendok yang dia pegang ke atas piring yang ada di meja.


"Kenapa tidak makan di bawah?" tanya Afif sambil memutar kepalanya menghadap ke perut buncit Naynay.


"Nay lagi pengen di kamar aja," balas Naynay sambil menyendokkan kembali nasi ke dalam mulutnya. Dia sedikit membungkukkan tubuhnya agar tidak ada makanan yang jatuh ke kepala Afif.


Afif memperhatikan wajah Naynay dari posisinya saat ini, istrinya itu terlihat seperti tupai yang sedang makan saat mengunyah makanannya. Terlihat sangat menggemaskan.


"Nay siapin air mandi Kakak dulu," ucap Naynay setelah meminum air putih. Dia menepuk-nepuk lembut wajah Afif agar menyingkirkan dari pangkuannya.


"Bantu aku mandi!" Afif mendudukkan tubuhnya.


"Iya," balas Naynay sambil berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.


Setelah air siap, bayi besar pun juga sudah siap untuk dimandikan. Naynay hanya bisa menatap bagian atas tubuh Afif saja, jika Afif berdiri hendak membilas tubuhnya, maka Naynay akan segera menutup mata.


Setelah Afif selesai mandi, Naynay pergi menyiapkan pakaiannya. "Kakak udah makan malam?" tanya Naynay setelah Afif memakai pakaiannya.


Naynay menghubungi Pak Hen melalui intercom yang ada di nakas, meminta untuk mengantarkan makan malam ke kamar. Tak lama setelah itu, pria tua itu mengetuk pintu.


"Makasih, Pak Hen." Naynay tersenyum sebelum menutup pintu.


"Kak," panggil Naynay membuat Afif yang tadi berbaring di tempat itu itu berjalan menuju tempatnya duduk.


"Suapi aku!" Bayi besar lagi manja-manjanya, apa-apa harus dibantu oleh Naynay. Makan yang seharusnya hanya butuh sekitar sepuluh menit, menjadi tiga puluh menit karena Afif selalu saja menggoda Naynay.


"Kakak habis marahin Qiara, ya?" tanya Naynay setelah dia memberikan piring kotor bekas makan malam mereka ke pelayan. Dia duduk di samping Afif yang tampak sedikit murung.


"Bagaimana kau tahu?" tanya Afif menarik tubuh Naynay untuk dia peluk.


"Feeling aja," balas Naynay pelan. "Kakak jangan terlalu keras sama Qiara, dia itu cuma mau lebih dekat aja sama Kakak, saudaranya sendiri."


Afif mempererat pelukannya, tak lupa pucuk kepala Naynay dia cium bertubi-tubi.

__ADS_1


"Aku hanya menarik fasilitasnya selama satu bulan," ujar Afif.


"Abis ini jangan marah-marah lagi, ya. Kan udah jadi ayah, jadi harus selalu sabar." Kepala Naynay mendusel di dada hangat Afif.


"Hmm. Acara kelulusanmu tinggal beberapa hari lagi, mau aku datang?"


Naynay mendongakkan kepalanya menatap Afif yang juga menatapnya. "Kalau Kakak sibuk, Nay nggak masalah kok."


"Hhmm." Afif membalas hanya dengan deheman saja.


Naynay sebenarnya berharap agar Afif bisa datang saat acara kelulusannya. Dia ingin berfoto bersama suaminya itu sebagai kenang-kenangan jika sudah berpisah nanti. Naynay sedikit kesal karena hatinya sudah mengkhianati dirinya, benteng tinggi dan tebal yang dia bangun tidak mampu menahan rasa yang mendobrak masuk.


Nyaman dan tenang, itulah yang Naynay rasakan saat ini. Afif bagaikan rumah yang membuatnya nyaman.


'Mama kasihan banget sama nasib kita berdua, Sayang. Kamu hanya bisa merasakan mempunyai Papa cuma saat di dalam perut Mama aja. Mama akui, Mama udah jatuh cinta sama laki-laki yang sekarang memeluk Mama. Tapi buat apa kita bertahan jika mereka saja tidak mengharapkan kita ada?'


Naynay masih belum sadar kalau Afif itu juga mencintai dia. Seharusnya dia lebih peka terhadap perhatian yang Afif berikan padanya. Afif, lelaki kaku dan dingin itu tidak mengungkapkan cintanya melalui kata-kata, tapi melalui perbuatan. Bagaimana dia memperlakukan Naynay adalah bukti cinta dan sayangnya pada Naynay dan anaknya yang ada di perut istrinya itu.


Afif hanya perlu mencari waktu yang tepat untuk mengakui bahwa anak itu adalah darah dagingnya. Kondisi Naynay yang masih belum bisa disebut baik itu tidak memungkinkan untuk mendengar berita mengejutkan.


'Sekarang dan seterusnya, kau akan selalu menjadi istriku, Hanaya.'


Ciuman penuh cinta Afif berikan di pucuk kepala Naynay.


.


.


.


.


.


Kenapa like-nya gak sama rata kalau aku UP lebih? Kalo gini aku lebih baik UP satu aja setiap harinya. Aku butuh alasan untuk selalu UP, salah satunya adalah like dan komen sebagai bentuk dukungan kalian.

__ADS_1


__ADS_2