
Kini Fandi sedang menunggu dokter memeriksa Olivia. Sementara kedua orang tua Fandi membantu mengurus administrasi dan pemulangan jenazah kedua orang tua Olivia.
''Bagaimana dokter keadaan istri saya?'' tanya Fandi dengan mata yang basah dan sembab.
''Yang jelas Nona Olivia syok berat karena musibah yang di alaminya ini. Dan itu membuat tekanan darahnya juga sangat rendah namun beruntung itu tidak berdampak pada janin yang dikandung Nona Olivia.''
''Janin?'' Fandi terkejut dengan ucapan dokter.
''Iya Tuan. Kandungan Nona Olivia sepertinya sudah berjalan empat minggu. Lebih jelasnya nanti dokter obgyn yang akan memeriksanya. Sebaiknga hibur Nona Olivia agar tidak stress apalagi disaat usia kandungan masih muda masih sangat rentan. Kalau begitu saya permisi.''
''Terima kasih dokter.''
''Sama-sama Tuan.''
Fandi mendadak merasa lemas, ia teringat hari itu. Dimana saat itu Fandi sedang mabuk, Fandi merenggut mahkota kesucian Olivia yang saat itu anggap sebagai Sheena. Ditatapnya wajah Olivia yang pucat itu, air mata pun mengalir dari pelupuk mata Fandi. Fandi bahkan hampir melupakan peristiwa itu. Namun kini Fandi mengingat kejadian itu. Dimana saat itu ia begitu frustasi pada Sheena, sampai akhirnya ia mabuk-mabukan dan Olivia membawanya ke apartemen. Lalu mereka berdua melakukan hubungan itu. Fandi menarik nafas dalam-dalam.
''Olivia, kenapa kamu tidak menolaknya? Kenapa kamu membiarkan aku melakukan itu? Bahkan saat itu dalam alam bawah sadarku yang aku lihat adalah Sheena. Olivia, kenapa kamu juga tidak bilang kalau kamu hamil? Aku pasti akan bertanggung jawab dan tidak akan meninggalkan kamu.'' Fandi menangis sambil menggenggam tangan Olivia. Fandi kembali teringat semua pengorbanan yang di lakukan Olivia. Fandi juga mengingat semua ucapan Arsen dan Sheena yang baru saja tadi pagi ia dapatkan. Dan tak lama kemudian, Olivia pun tersadar.
''Mama-Papa!" ucap Olivia yang tercekat dan ia pun bangkit dari tidurnya.
''Olivia, tenang. Papa dan Mamaku sudah mengurus semuanya.''
''Fan, aku bagaimana? Bagaimana nasibku setelah ini? Aku sudah tidak punya Papa dan Mama lagi, Fan.'' Olivia pun kembali menangis.
''Liv, masih ada aku, Mama dan Papaku juga. Kamu tidak sendiri. Kami ada untuk kamu. Kamu jangan pernah merasa sendiri. Aku akan menjaga kamu.'' Ucap Fandi sambil menangkup wajah Olivia.
''Liv, kenapa kamu tidak bilang kalau kamu hamil? Sejak kapan kamu postif hamil?''
''Kamu tahu?'' lirih Olivia.
''Iya. Kata dokter yang baru saja selesai memeriksamu.''
''Aku baru tahu pagi tadi, Fan. Aku sekarang tidak tahu harus senang ataupun sedih. Kalau kamu mau meninggalkan aku, aku juga ikhlas, Fan. Bagiku yang penting kamu bahagia dan anak ini, akan tetap aku rawat. Anak ini juga tetap anak kamu.''
__ADS_1
Mendengar ucapan Olivia, Fandi benar-benar tertampar. Ia kemudian memeluk Olivia dan mengecup pucuk kepalanya.
''Aku tidak akan meninggalkanmu, Oliv. Kita akan membesarkan anak kita sama-sama. Aku akan bertanggung jawab karena akulah Ayahnya. Maafkan aku Olivia. Mulai sekarang, aku akan belajar mencintai kamu.''
Mendengar ucapan Fandi, Olivia sangat bahagia. Sebuah kalimat yang selama ini ingin sekali Olivia dengar.
''Fan, aku tidak salah dengar kan? Aku tidak sedang bermimpi kan?''
''Tidak Olivia, kamu tidak salah dengar. Sebaiknya kamu pulihkan kondisi kamu.''
''Terima kasih, Fan. Aku akan berusaha menjadi istri dan Ibu yang baik untuk anak-anak kita nanti.''
''Kamu yang terbaik, Olivia. Seharusnya aku yang mengatakan itu. Aku akan berusaha dan belajar menjadi suami juga Ayah yang baik untuk anak-anak kita nanti. Maafkan aku ya.''
''Tanpa kamu meminta maaf, aku sudah memaafkannya, Fan.''
''Terima kasih Olivia, karena kamu sudah memberikan aku kesempatan.''
''Fan, aku ingin mengantar Papa dan Mama ke tempat peristirahat terakhirnya.''
''Aku mohon, jangan cegah aku. Aku ingin melihat mereka.'' Ucap Olivia dengan tatapan memohon.
''Baiklah kalau begitu.''
...****************...
Kini Olivia sudah berada di tempat peristirahatan terakhir orang tuanya.
''Mah-Pah, Olivia sedang mengandung anak Fandi. Ini adalah cucu pertama Papa dan Mama. Tapi
kenapa Papa dan Mama buru-buru pergi meninggalkan Olivia? Olivia masih sangat membutuhkan Papa dan Mama.'' Gumam Olivia dalam hati sambil mengelus dua nisan kedua orang tuanya secara bergantian. Olivia lalu menengadahkan tangannya, memanjatkan doa untuk kedua orang tuanya. Fandi kasihan melihat Olivia.
''Pah-Mah, Fandi janji akan menjaga Olivia sampai nafas terakhir Fandi. Papa dan Mama tenang disana ya karena sudah ada Fandi yang akan menjaga dan menemani Olivia dalam suka maupun duka.'' Ucap Fandi dalam hati. Namun tiba-tiba Olivia pingsan kembali.
__ADS_1
''Olivia!" seru Fandi. Fandi pun panik, ia segera menggendong Olivia menuju mobil dan diikuti oleh Tuan Ifan dan Nyonya Citra dari belakang.
''Olivia, kamu kenapa nak? Kenapa pingsan lagi?'' kata Nyonya Citra yang juga kasihan melihat kondisi Olivia.
''Kita bawa Olivia ke rumah sakit, Mah-Pah.''
''Iya Fan, ayo!" sahut Tuan Ifan.
Fandi kemudian segera menuju mobil dan segera membawa Olivia menuju rumah sakit.
''Sebenarnya apa kata dokter Fan? Kamu belum cerita sama Mama dan Papa?''
''Pah, Mah, kabar bahagia ada disela-sela kedukaan kita.''
''Maksud kamu apa Fan?'' tanya Tuan Ifan.
''Olivia hamil.''
''Apa? Hamil? Hamil sama siapa Fan?'' Nyonya Citra pun terkejut mendengar ucapan Fandi.
''Hamil sama Fandi lah, Mah. Kan Fandi suaminya.''
''Bukankah kalian tidak saling bersentuhan? Bahkan kamu juga membenci Olivia?''
''Fandi melakukan sebuah kesalahan Mah. Fandi saat itu frustasi karena sikap Mama yang menyembunyikan semuanya tentang Sheena. Lalu Fandi minum-minum dan mabuk di temani Olivia. Dan Fandi melakukan itu pada Olivia. Tapi maafkan Fandi karena Fandi saat itu menganggap Olivia adalah Sheena.''
''Apa? Kamu keterlaluan sekali, Fan. Kamu harus benar-benar melupakan Sheena. Ingat, orang tua Olivia sudah memberikan amanah untuk kamu supaya menjaga Olivia. Jadi sebaiknya lupakan Sheena. Bisa-bisanya kamu melakukan itu tapi yang kamu ingat adalah Sheena. Betapa sakit hati Olivia.'' Marah Nyonya Citra.
''Iya dan penyebab semua ini kan Mama. Mama yang terlalu egois sampai mengorbankan Olivia, aku dan juga Sheena. Aku tidak akan meninggalkan Olivia dan tetap melanjutkan pernikahan ini, asalkan Mama dan Papa meminta maaf pada Sheena.''
''Fan, kalau Papa pasti akan meminta maaf apalagi perusahaan Papa bekerja sama dengan perusahaan Tuan Darwin. Tentu saja Papa tidak mau masalah ini menghalangi bisnis Papa.''
''Mama akan memikirkannya nanti. Sebaiknya fokus menyetir dan segera ke rumah sakit. Aku tidak mau menantuku dan cucuku kenapa-kenapa.'' Ketus Nyonya Citra. Fandi hanya bisa mendengus karena Mamanya begitu keras kepala.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Olivia pun segera ditangani dan akhirnya Olivia harus menjalani opname beberapa hari untuk memulihkan kondisinya.
Bersambung....