My Perfect Husband

My Perfect Husband
Murkanya sang Tuan Muda


__ADS_3

Hanya karangan semata...


_____


Brakkk


Suara pintu yang dibuka dengan kasar dan menghantam tembok di belakangnya. Afif masuk ke dalam kamar dengan langkah besar yang tergesa-gesa, Pak Hen berjalan di belakangnya. Afif sempat melirik Nathan dan Naomi yang juga ada di dalam kamarnya itu.


Afif membuka jasnya dan melemparkannya kasar ke lantai. Kemudian duduk di samping Naynay yang tak sadarkan diri. Tangan besarnya mengusap lembut pipi istrinya yang pucat itu.


"Ini sudah kedua kalinya dia pingsan, apa kalian tidak bisa menjaganya dengan baik?!" bentak Afif yang ditujukan kepada beberapa orang wanita yang hanya bisa menunduk di pojok ruangan. Seperti apapun mereka membela diri, jika menyangkut keselamatan Naynay, maka Afif tidak akan menerima alasan apapun.


Nathan berjalan menghampiri Afif dan menepuk pundak laki-laki itu. "Kami perlu bicara padamu, aku tunggu di ruang kerjamu."


Setelah itu, Nathan berjalan keluar dari kamar dengan Naomi yang mengikuti di belakangnya. Mereka akan menunggu di ruang kerja Afif.


Afif menggerakkan tangannya dan Pak Hen beserta beberapa wanita yang merupakan pengawal itu keluar dari kamar. Itu adalah kode mutlak yang sangat dipahami oleh semua penghuni rumah mewah ini.


Mata Afif tak berpaling dari wajah pucat Naynay. Dia kesal bukan main karena usaha yang dia lakukan agar Naynay merasa nyaman di sini seolah sia-sia semua. Dia sudah menempatkan beberapa pengawal wanita khusus untuk mengawasi kegiatan Naynay agar bumil itu tetap aman. Tapi tetap saja hal ini kembali terjadi.


Afif membungkukkan badannya hingga keningnya menempel di kening Naynay. Dikecupnya bibir yang menjadi candunya itu beberapa kali sebelum berjalan keluar dari kamar itu. Afif juga meminta Pak Hen untuk berjaga di depan pintu jika sewaktu-waktu istrinya sadar.


Kaki panjang Afif melangkah menuju ruang kerjanya, di mana kakak beradik sedang menunggunya di sana. Tanpa menatap kedua orang di sana, dia langsung duduk di sofa single.


"Apa yang ingin kalian bicarakan?" tanya Afif dengan nada dingin. Kakinya dilipat dan tubuhnya bersandar pada sofa yang diduduki ya.


Nathan berdehem sebentar sebelum bicara. "Naynay belum sembuh sepenuhnya, kau sudah tahu itu. Perkembangannya sangat baik selama satu bulan ini, tapi kembali down hari ini."


Tangan Nathan bergerak menyodorkan kertas yang merupakan catatan perkembangan kesehatan mental Naynay selama satu bulan terakhir.


Afif hanya melirik sekilas kertas yang disodorkan oleh Nathan,tidak berniat mengambil atau membaca setiap kata yang terurai di sana. Baginya, walau sebagus apapun perkembangan mental Naynay yang tertera di sana, tidak ada gunanya sekarang.

__ADS_1


"Tadi nona Naynay menangis setelah sempat sadar dari pingsannya. Ada yang membuat dia merasa tertekan dan memicu otaknya untuk selalu mengingat kejadian kelamnya." Giliran Naomi yang bersuara.


"Dan juga, nona Naynay berfikir seolah dia sadar saat kejadian itu," imbuh Naomi membuat Afif sedikit terkejut. Naynay memang mengatakan semuanya kepada Naomi karena dia percaya pada dokter sinting itu.


Afif berdiri dan melangkah menuju meja kerjanya. Diraihnya iPad khusus di dalam lacinya dan jarinya sibuk mengusap-usap layar pipih itu.


"Siall!!" Bibir laki-laki tampan itu mengumpat setelah melihat apa yang ditampilkan benda pipih khusus cctv itu dan meletakkan iPadnya dengan kasar di atas meja.


Dengan wajah memerah marah, Afif keluar dari ruang kerjanya dan melangkah dengan cepat menurun tangga. Nathan dan Naomi tidak bisa ikut campur dalam urusan Tuan Muda itu, jadi mereka tetap di dalam ruangan tersebut.


"Kakak!" Qiara tersenyum ketika mendapati Afif masuk ke kamarnya. Ini adalah kali pertama Afif memasuki kamarnya setelah orang tua mereka meninggal, wajar kalau dia merasa senang. Tapi senyumnya perlahan memudar setelah melihat raut wajah mengerikan yang Afif tampilkan.


Qiara turun dari atas tempat tidurnya dan melangkah mendekati Afif yang masih berdiri di depan pintu.


"Apa ada masalah? Kenapa Kakak terlihat sangat marah?" Qiara berniat meraih tangan Afif, tapi ditepis kasar hingga kulitnya sedikit memerah.


"Kau bertanya ada masalah? Kenapa aku marah?!" bentak Afif hingga suaranya memenuhi kamar bernuansa merah muda itu.


Qiara tampak ketakutan karena bentakan Afif, tubuhnya sedikit bergetar. Dia menundukkan kepalanya menatap lantai.


Qiara bergerak mundur karena takut, dia tidak menyangka kalau Naynay sampai pingsan karena ucapannya tadi. Dan juga, ternyata Afif juga tahu tentang apa yang dia katakan kepada Naynay. Bodoh... Dia lupa kalau ada puluhan cctv di rumah ini.


"Aku hanya tidak ingin Kakak terjebak oleh wanita liar itu, dia hamil di luar nikah." Qiara mengangkat wajahnya menatap Afif. Dengan percaya dirinya, dia mengatakan hal sensitif itu pada Afif.


"Kau bilang istriku adalah wanita liar?" Alis Afif naik sebelah seolah dia belum tahu kalau Naynay hamil.


"Iya, dia sudah hamil sejak tiga bulan yang lalu." Gadis itu tersenyum karena merasa dia akan bisa membuat Naynay diceraikan oleh Afif. Dia benar-benar tidak suka dengan bumil itu.


"Hahaha..." Afif tertawa kecil sebelum dia memasang wajah datar menyeramkan kembali.


"Aku!! Aku adalah ayah dari anak itu!!!" ucap Afif dengan suara keras, jari telunjuknya menunjuk dadanya.

__ADS_1


Tubuh Qiara menegang sebelum lunglai dan terduduk di lantai. Dia tidak percaya kalau anak yang dikandung Naynay adalah keponakannya.


"Jika kau berani membuat dia kembali tertekan tinggal di sini, aku yang akan mengajarimu cara bicara yang baik nantinya!" ucap Afif penuh penekanan di setiap katanya dan keluar dari kamar itu dengan tangan terkepal.


"Tidak, aku tidak mau dia yang menjadi istri kakak!" Qiara meninju lantai hingga tangannya lecet dan sedikit berdarah.


Tak hanya itu, dia juga melemparkan semua barang-barang yang masih bisa dijangkaunya hingga kamar itu sudah seperti kapal pecah.


"Dia pasti menjebak kakak hingga menidurinya. Iya, pasti begitu." Gadis itu tertawa keras sebelum menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur yang spreinya sempat dia tarik.


*****


Afif kembali ke kamar dan mendapati Naynay masih belum sadar. Dia melangkah ke kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya yang panas karena amarah. Ketika air dari shower mengguyur seluruh tubuhnya, amarah dalam tubuhnya seakan jatuh dibawa oleh guyuran air tersebut.


Karena tidak mau meninggalkan terlalu lama istrinya yang masih pingsan, Afif menyudahi acara mandinya dan menuju ruang ganti untuk mengenakan pakaiannya.


Setelah memakai piyamanya, Afif menuju tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya di samping Naynay.


"Aku pastikan ini tidak akan terjadi lagi." Laki-laki tampan itu menciumi seluruh bagian wajah Naynay yang menggemaskan itu.


Sekarang Afif beralih ke perut Naynay yang buncitnya sudah terlihat jelas itu. Diciuminya perut itu bertubi-tubi.


"Sehat-sehat di sana, Anak Papa!" bisiknya di depan perut Naynay sebelum memeluk istrinya itu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Hehe, maaf kalau up nya lama. Aku lagi seneng-senengnya liatin video house tour anak orang kaya😂😅


__ADS_2