
“Keenan, sepertinya kita harus segera menikahkan Arthur dan Belinda?”
“Ada apa Darwin? Kamu ini baru saja datang sudah membuat kaget. Apa anak-anak melampaui batasannya?” ucap Tuan Keenan dengan setumpuk rasa khawatir. Sungguh ia tidak ingin anak-anaknya mempunyai masa lalu seperti dirinya yang hamil di luar nikah. Itupun terpaksa Keenan lakukan demi mendapat restu. (Buat yang udah baca cerita Jatuh Cinta Sama Duda, pasti tahu masa lalu Keenan seperti apa).
“Tidak-tidak. Tapi ini.” Tuan Darwin menunjukkan berita panas pagi ini pada Tuan Keenan.
“Ini berita apa Darwin? Arthur menghianati putriku? Makanya kamu ingin pernikahan dilaksanakan secepatnya.” Tuan Keena terpengaruh dengan judul serta isi artikel itu.
“Bukan Keenan. Itu adalah Belinda dan Arthur. Aku sudah mengkonfirmasi langsung pada Arthur. Arthur mengakui kalau mereka berciuman didalam mobil. Aku datang menemuimu untuk memberitahukan ini, sebelum kamu tahu dari orang lain dan menimbulkan salah paham.”
“Astaga, anak-anak ini. Masa iya ciuman di depan umum begini. Kalau sudah seperti ini, aku setuju dengan idemu. Aku khawatir mereka malah melampaui batasannya.”
“Aku saja hampir percaya dengan artikel ini, aku bahkan memarahi Arthur tadi. Arthur sendiri juga tidak tahu siapa yang memotret keduanya. Mereka memang sudah dewasa dan mereka sedang jatuh cinta tapi setidaknya mereka harus hati-hati. Karena rumor ini, saham perusahaanku turun dan menganggap Arthur ini pria brengsek. Melihat kolom komentar dan hujatan yang membabi-buta pada Arthur membuatku geram.”
“Kamu tenang saja, aku akan menghapus berita itu dari media sampai tak berbekas.”
“Tapi pasti sudah banyak yang menyalin link situs ini, Keenan. Untuk itu aku ingin hari pertunangan itu kita jadikan hari pernikahan untuk Belinda dan Arthur. Kita sah kan saja dulu pernikahan mereka, setelah itu kita buat konferensi pers.”
“Tenang Darwin, nanti berita itu akan menguap sendiri. Kabar pernikahan anak-anak kita akan menjawab berita miring itu. Sebaiknya kita fokus saja pada acara pernikahan anak-anak kita. Kita gelar tertutup tidak masalah. Apa kamu sudah membicarakan ini pada Arthur?”
“Iya, aku sudah membicarakannya dan Arthur setuju saja. Arthur juga sudah mengaku kalau dia dan putrimu sudah resmi pacaran.”
“Iya Darwin. Mereka juga sudah mengaku padaku. Sudahlah ini kabar baik, kamu tidak usah memusingkan artikel itu. Lagi pula yang berciuman juga anak-anak kita.”
...****************...
“Bel, tinggal menghitung hari saja. Aku juga mencintaimu tapi aku sudah berjanji untuk menjagamu.” Ucap Arthur. Belinda merasa kecewa karena Arthur tidak mau melakukannya.
“Ya sudah pergi sana!” Belinda lalu mendorong Arthur sampai Arthur terjatuh. Belinda beranjak dari tempat tidur dan kembali merapikan pakaiannya.
__ADS_1
“Apa dihatimu masih ada orang lain?” sindir Belindda.
“Tidak ada Bel. Aku hanya ingin menjagamu saja. Apa kamu selalu seperti ini setiap berkencan dengan pria?”
“Tega sekali kamu menuduhku, Kak. Aku seperti ini hanya denganmu saja. Kamu pikir, aku wanita murahan. Sekalipun bersama Dave, aku tidak pernah melakukan lebih dari sekedar ciuman. Itupun tidak seintens yang kamu bayangkan.”
“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu.”
“Ah sudahlah, kamu sudah merusak moodku.” Belinda dengan kesal meninggalkan rumah Arthur.
Arthur mendengus. “Ini kenapa malah menjadi terbalik begini? Biasanya pria yang marah karena hasratnya tidak tersalurkan tapi ini malah sebaliknya. Aku hanya berusaha menahan diri saja, Bel. Sebagai pria normal, tentu saja aku bisa hilang kendali.Aku tidak mau mengecewakan Om Keenan yang sudah memintaku untuk menjagamu.” Gumam Arthur.
Kini Belinda sudah berada di dalam taksi menuju perjalanan pulang ke rumah.
“Penolakan Arthur, sungguh membuatku malu. Aku pikir dia mau melakukannya. Seharusnya dia harus mau dan tidak boleh menolak. Bodoh banget sih, Bel. Seketika harga dirimu jatuh. Rasanya seperti cinta bertepuk sebelah tangan. Lebih baik aku menghindarinya dulu. Aku sudah dibuat malu olehnya. Baru kali ini ada pria diberi malah ditolak.” Gerutu Belinda dalam hati. Tiba-tiba ponsel Belinda berdering. Ada nama Erick di layar ponselnya.
“Halo Erick, ada apa?”
“Baiklah, aku akan kesana. Karena ada hal yang ingin aku bicarakan juga denganmu.”
“Iya Bel, aku menunggumu.” Panggilan berakhir.
Sepuluh menit kemudian Belinda sampai direstoran. Erick dibuat terkejut dengan penampilan Belinda, bahkan Erick pun pangling.
“Erick, bagaimana kabarmu?”
“Kamu benar Belinda?”
“Iya Erick. Ini aku.”
“Kamu berbeda dari biasanya, Bel. Kamu semakin cantik. Oh ya aku dengar kamu resign? Apa semua itu karena tindakan pelecehan yang dilakukan oleh Arthur?”
__ADS_1
“Kamu tahu berita itu juga Erick?”
“Iya Bel. Dan sebenarnya akulah yang menulis artikel itu.”
“Apa? Kamu? Apa kamu juga memotret kejadian itu?”
“Iya Bel. Maafkan aku. Tapi aku sudah mengeblur wajahmu. Aku berniat baik. Saat itu aku melihat Tuan Arthur menciumu sedangkan aku melihat ekspresi wajahmu seperti marah. Jadi aku berpikir dia merayumu, Bel. Aku berusaha menyelamatkanmu supaya kebusukan Tuan Arthur terkuak.”
“Erick, aku terima kasih kamu peduli padaku. Tapi apa yang kamu lakukan itu salah. Itu jatuhnya fitnah dan mencemarkan nama baik Tuan Arthur.”
“Kenapa kamu membelanya, Bel? Apa kalian berdua memang punya hubungan?”
“Erick, sebenarnya aku dan Tuan Arthur, maksudku Kak Arthur, kami sudah di jodohkan. Aku berkerja diperusahannya atas perintah Papa. Papa ingin aku belajar mandiri, bahkan Papa sampai menyuruhku untuk tinggal dirumah kontrakan itu. Jadi aku terpaksa menyamar. Awalnya kami menentang perjodohan ini karena kami tidak saling cinta. Namun seiring berjalannya waktu, akhirnya kami sadar kalau ternyata kami saling mencintai. Sampai akhirnya kami sepakat untuk melanjutkan perjodohan ini. Maafkan aku Erick, kalau kamu merasa dipermainkan. Aku hanya menjalankan perintah Papa. Karena jika aku menolak, aku akan dicoret dari daftar warisan. Aku adalah Belinda Aurora Dirgantara, aku ini manja, bawel, sok bersih dan sok segalanya. Aku tidak bisa memasak, tidak mengerti bumbu dapur, bahkan peralatan masak aku tidak tahu. Yanng aku tahu semuanya sudah tersedia dihadapanku. Hobiku hanya jalan-jalan, belanja dan ke salon. Aku bahkan takut untuk hidup miskin dan kekurangan. Dengan semua kekuranganku, Kak Arthur bisa menerimaku dan merubah cara hidup juga pola pikirku dengan caranya sendiri. Sekali lagi maafkan aku Erick. Aku senang bertemu denganmu dan juga mengenalmu. Kamu adalah pria yang baik dan teman yang sangat baik dan tulus. Aku harap, kita masih bisa menjadi teman.”
Erick sangat syok mendengar semua yang Belinda katakan. Disaat ia mencintai seorang wanita, disaat itu pula ia dibuat patah hati. Mata Erick berkaca-kaca. Hatinya sangat hancur karena meraasa dibohongi oleh kenyataan.
“Jujur saja aku kecewa mendengar pengakuanmu, Bel. Karena perasaanku sangat tulus padamu. Aku tidak peduli siapa kamu karena yang aku tahu, aku mencintaimu. Aku bisa menerima jika hanya pengakuan dirimu menyamar. Tapi setelah tahu kamu dan Tuan Arthur memiliki hubungan, aku merasa seperti orang bodoh. Berharap sesuatu yang hampa.”
“Maafkan aku, Erick. Maaf sekali. Ini diluar dugaanku. Saat kamu mengajak berteman, aku juga tidak mungkin menolak. AKu juga ingin bergaul seperti orang biasa dan pada umumnya.”
“Iya, aku tahu. Mungkin aku yang terlalu cepat jatuh cinta padamu. Tapi setidaknya aku lega karena kamu bersama dengan seseorang yang tepat. Aku juga minta maaf karena sudah memuat artikel yang merusak nama Tuan Arthur. Aku akan memuat artikel baru dan mengklarifikasi semuanya. Aku akan membersihkan nama Tuan Arthur.”
“Terima kasih ya Erick. Aku yakin kamu bisa mendapatkan seseorang yang lebih segalanya dari aku.”
“Bel, apa aku boleh meminta sesuatu?”
“Apa Erick?”
“Bolehkah aku memelukmu. Anggap saja sebagai akhir dari segala rasa ini.”
“Iya.” Belinda lalu beranjak dari duduknya, begitu pula dengan Erick. Dan mereka berdua lalu saling berpelukan. Bulir air mata ketulusan dan kekecewaan akhirnya lolos juga dari pelupuk mata Erick. Dengan secepat mungkin, Erick segera menyekanya.
“Terima kasih ya Erick. Kamu adalah teman terbaikku.”
__ADS_1
“Terima kasih juga ya Bel, kamu sudah singgah dihatiku meski hanya sesaat.”