My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 150 Rencana Baru


__ADS_3

''Sheena, bersiaplah! Aku akan menjemputmu. Jangan lupa pakai coat dan syal ya, disini dingin.'' Ucap Arsen saat ia sedang perjalanan.


''Iya.''


Sheena pun segera bersiap untuk menunggu suami tercintanya itu. Ia segera turun ke lantai dasar dan ternyata di luar sedang turun salju.


''Wah, turun salju. Aku baru kali ini melihat salju dan bisa menyentuhnya.'' Gumam Sheena sambil menengadahkan kedua tangannya, merasakan dinginnya salju yang baru pertama ia lihat. Tak lama kemudian, Arsen pun datang. Arsen segera keluar dari mobilnya untuk menjemput Sheena.


''Ayo!" ajak Arsen sambil menggandeng tangan Arsen.


''Kita mau kemana?''


''Sudah, ayo ikut saja!"


''Iya-iya.''


Arsen kemudian mengajak Sheena menuju Nam Van Lake Cybernetic Fountain, sebuah pertunjukan air mancur di dekat danau. Sesampainya disana, Sheena benar-benar merasa takjub.


''Wah, ini keren!''


''Apa kamu suka?''


''Iya aku sangat suka. Tapi aku lapar Arsen. Aku belum makan hanya demi menunggumu.''


''Kamu merusak suasana romantis. Aku juga sudah menyiapkan makan malam romantis untuk kita. Tapi ada sesuatu yang ingin aku berikan untukmu.''


''Apa itu?''


Arsen kemudian berlutut di hadapan Sheena, sedangkan Sheena merasa bingung dengan apa yang di lakukan oleh Arsen.


''Arsen, apa yang kamu lakukan? Ada banyak orang.'' Ucap Sheena. Arsen kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku coatnya.


''Will you marry me?'' tanya Arsen sambil membuka kotak cincin itu.


Sheena tersenyum. ''Arsen, bukankah kita sudah menikah? Kenapa kamu melamarku?''


''Sheena, kita menikah karena terpaksa dan karena keadaan di luar keinginan kita. Jadi sekarang secara resmi aku ingin melamarmu dan mengajakmu menikah. Sebuah keinginan yang datang dari hatiku yang paling dalam. Aku ingin kita memulianya dari sini. Aku bahkan belum pernah memberikanmu sebuah cincin. Jadi bagaimana jawabanmu?''


''Tentu saja aku menerimanya, Arsen.'' Jawab Sheena dengan senyum bahagianya. Arsen kemudian memasangkan cincin ke jari manis Sheena. Keduanya lalu saling berpelukan ditengah dinginnya salju.


''I love you, Sheena.''


''I love you too, Arsen.'' Dan mereka pun kemudian saling berciuman. Setelah saling berpegut beberapa saat, Arsen lalu mengajak Sheena menuju sebuah restoran yang sudah Arsen siapkan.


-

__ADS_1


''Pah, Mah, sebaiknya Papa dan Mama berhenti menjodohkan Arthur dengan Belinda.'' Ucap Arthur sesampainya di rumah.


''Tapi Om Keenan tetap ingin kalian bersatu. Karena mereka tahu kamu yang pantas untuk putrinya.''


''Lihat saja Belinda masih kekanak-kanakan, mana bisa dia menjadi seorang istri.''


''Semua itu butuh proses, Arthur. Kamu bantu dia dong. Namanya suami ya harus membimbing istri dan itu tugas kamu.'' Jelas Tuan Darwin.


''Baiklah Arthur pulang dulu. Kalau Arthur disini yang ada Papa dan Mama selalu membahas perjodohan ini.'' Ucapnya seraya berlalu meninggalkan rumah.


''Pah, jangan keras-keras padanya. Biarkan Arthur dan Belinda menyatu dengan sendirinya seperti Arsen dan Sheena. Mama khawatir kalau kita semakin menekan dia, dia akan memberontak. Kita dan Keenan harus mengatur strategi saja untuk mendekatkan mereka.''


''Maksud Mama strategi bagaimana?''


''Kalau urusan seperti itu biar Mama dan Dira yang mengaturnya. Papa pokoknya tenang, jangan tekan Arthur.'' Mendengar ucapan istrinya Tuan Darwin hanya mengangguk dalam diamnya.


Sementara Arthur tidak langsung pulang. Dia memilih pergi ke bar untuk menenangkan diri. Segelas cocktail menemani kesendirian Arthur malam itu. Namun tiba-tiba pandangannya teralihkan saat melihat Dave bersama seorang wanita masuk ke dalam bar itu. Mata Arthur terus mengekor kearah Dave berjalan. Dave dan wanita itu duduk di sudut ruangan. Dan yang paling mengejutkan, Dave dan wanita itu berciuman dengan sangat panas.


''Dasar bodoh!" gumam Arthur saat melihat hal yang mengejutkan itu.


-


Keesokan harinya, Nyonya Dira sedang berjalan menuju kamar Belinda. Disana ia mendapati Belinda sedang sibuk merias wajahnya di hadapan cermin.


''Bel, temani Mama ke mall ya?''


''Hei, kamu jangan keterlaluan jadi anak. Durhaka lho kamu nanti.''


''Mah, Belinda mau pergi sama Dave.''


''Pria bule tidak jelas itu? Sudah temani Mama atau kamu akan menyesal.''


''Mama selalu saja mengancamku.''


''Mama tidak mengancam. Cepat bersiap ya.''


''Kan ada Eonni Queen terus si Brian juga ada.''


''Kamu tahu kan Oppa mu sedang ke Macau, otomatis Brian menemani Papa ke kantor untuk mengurus perusahaan. Eonni Queen dan Oppa Raja, mereka kan sedang liburan ke Bali. Jadi tidak ada alasan untuk menolak.''


''Hmmm tau gitu aku ikut ke Bali saja,'' keluhanya.


''Sudah cepat siap-siap!''


''Iya-iya Mah.'' Jawab Belinda pasrah. Nyonya Dira dan Nyonya Sofi sudah mengatur pertemuan kembali antara Arthur dan Belinda.

__ADS_1


Sedangkan Arthur, dikejutkan dengan kedatangan Mamanya. Sementara dirinya telah bersiap untuk berangkat ke kantor.


''Mama, ada apa? Kok pagi-pagi sekali. Arthur mau ke kantor.''


''Temani Mama belanja ya.'' Bujuk Nyonya Sofi.


''Mah, Arthur harus ke kantor.''


''Tidak usah ke kantor hari ini. Mama tadi sudah ijin sama Papa supaya kamu menemani Mama saja. Mama ini lagi kangen sama Sheena, jadi ayolah temani Mama supaya Mama tidak sedih karena di tinggal Sheena.'' Ucap Nyonya Sofi dengan memelas.


Arsen kemudian menghela. ''Oke baiklah, Mah.''


''Sekalian nanti kita cari hadiah pernikahan untuk adikmu. Kamu juga belum menyiapkan hadiah untuknya kan?''


''Iya juga sih, Mah. Ya sudah kalau begitu Arthur ganti pakaian dulu, ini sudah terlanjur pakai kemeja.''


''Iya, Mama tunggu nak.'' Kata Nyonya Sofi.


''Rencana kali ini harus sukses juga,'' gumam Nyonya Sofi dalam hati.


-


Sesampainya di mall, Nyonya Sofi mengajak Arthur menuju toko tas dengan brand ternama. Arthur mempunyai ide untuk membelikan Sheena tas.


''Aku akan membeli tas untuk Sheena. Supaya dia selalu memakainya setiap hari.'' Gumam Arthur seraya memilih.


''Arthur, kamu beliin Belinda juga.'' Kata Nyonya Sofi.


''Untuk apa Mah? Dia bisa membelinya sendiri.''


''Kamu ini memang keterlaluan. Bagaimana bisa dekat kalau kamu tidak berusaha mendekatinya.'' Ucap Nyonya Sofi sambil memukul lengan putranya itu.


''Sakit Mah! Arthur mau membelikan Sheena saja.''


''Jangan bilang kalau kamu masih menyukai adikmu?''


''Siapa sih Mah yang suka? Arthur selama ini belum pernah membelikan Sheena apapun sebagai seorang Kakak. Apa salah membelikan sesuatu untuk adik?''


''Syukurlah kamu kamu sudah sadar. Tapi belikan juga untuk Belinda, supaya Mama tidak curiga lagi padamu.''


''Astaga Mama ini, untuk membuktikan hal itu masa ita aku harus keluar uang dobel.''


''Jangan pelit jadi cowok. Sudah belikan sana. Ingat ya saat kamu kuliah, keluarga mereka sudah membantu mengurus kamu. Setidaknya lakukan demi Om Keenan dan Tante Dira.''


''Iya-iya Mah, ya ampun Mama ini. Mama saja yang memilihkan untuk Belinda. Arthur tidak tahu seleranya.''

__ADS_1


''Kamu saja lah yang pilih kan kamu yang mau ngasih.'' Kata Nyonya Sofi. Arthur pun pasrah dan tanpa pikir panjang, ia mengambil tas untuk Belinda begitu saja. Setelah selesai membeli tas, Nyonya Sofi mengajak Arthur ke toko sepatu.


Bersambung....


__ADS_2