My Perfect Husband

My Perfect Husband
Babymoon (1)


__ADS_3

Lima koper besar berjejer rapi di samping pintu kamar yang terbuka. Wajah imut Naynay merengut masam melihat koper-koper itu yang semuanya berisi pakaian mereka.


"Kak, kita cuma pergi seminggu, nggak perlu koper sebanyak ini." Naynay protes pada Afif yang duduk di sofa dengan laptop di atas pahanya.


"Siapa bilang seminggu?" tanya Afif menatap Naynay sekilas sebelum kembali menatap layar laptop.


Naynay mendekati Afif dan duduk di samping suaminya itu. "Kan Kakak yang bilang kalau kita cuma seminggu di sana," ucap Naynay gemas.


Afif mematikan laotopnya dan meletakkannya di atas meja. "Seminggu di sana dan lanjut seminggu lagi di tempat lainnya," jawabnya santai.


"Dua minggu? Nay nggak mau, kangen sama Araa!" ujar Naynay menolak pergi jika babymoon ini berlangsung selama dua minggu.


"Seminggu terakhir itu kita akan liburan satu keluarga besar, mereka akan menyusul ke tempat yang sudah aku persiapkan. Tenang saja, Araa juga ada." Afif mencubit pipi Naynay dan menariknya karena gemas.


"Tapi Kakak belum kasih tahu tujuan pertama kita ke mana," ujar Naynay sambil memegang tangan Afif yang masih bertengger di pipinya.


"Rahasia, kau akan mengetahuinya beberapa jam lagi." Afif mengulas senyum tampannya dan membawa istrinya itu untuk mengganti pakaian. Mereka akan segera berangkat.


Setelah mengganti pakaian, mereka segera turun di mana Silla dan Qiara menunggu di bawah tangga, ada Pak Hen juga di sana.


"Peluk aku dulu," pinta Qiara pada Naynay yang langsung merentangkan kedua tangannya. Menghambur ke dalam pelukan hangat Naynay, Qiara merasa kembali dipeluk oleh mamanya.


Bergantian dengan Silla yang juga ingin memeluk Naynay, Qiara memeluk Afif sebentar. Kakaknya itu mengusap kepalanya disertai senyum lebar yang sempat dia rindukan selama lima tahun. Tapi semenjak adanya Naynay, senyum itu sangat sering terukir di bibir Afif.


Tiga mobil sudah siap di depan teras. Dua mobil berisikan pengawal dan mobil bagian tengahlah yang diisi oleh Afif dan Naynay. Mereka segera masuk dan menuju bandara. Afif menjahili Naynay dengan mencolek-colek pinggang istrinya itu.


Kedatangan mereka membuat satu bandara heboh, untungnya Naynay sudah memakai masker yang menjadi andalannya jika pergi bersama Afif. Puluhan pengawal mengelilingi mereka berdua agar tidak ada orang-orang mendekat. Afif menggandeng Naynay menuju jalur khusus karena mereka akan menggunakan jet pribadi.


Naynay tersenyum melihat bagian dalam jet milik suaminya itu, warna monokrom mengisi segala penjuru jet. Tidak tampak kemewahan di sana, tapi kesan elegan yang begitu kental. Afif memang tidak menyukai yang terlalu mewah, yang penting baginya adalah kenyamanan.


Pilot dan pramugari yang sebelumnya menyambut mereka pun sudah bersiap untuk lepas landas. Naynay memegang lengan Afif karena dia merasa sedikit takut naik pesawat ketika hamil ini.

__ADS_1


"Tidak apa-apa," ucap Afif menenangkan sambil menggenggam lembut tangan Naynay.


"Tapi duduk Nay nggak nyaman," ucap bumil itu pelan membuat Afif tersenyum.


"Hanya sebentar, nanti kau bisa duduk dengan nyaman." Mencium kening istrinya itu ketika roda jet itu tidak lagi menapaki lintasan.


Beberapa menit kemudian, setelah aman jika ingin meninggalkan tempat duduk, Afif membawa Naynay ke kamar yang dia persiapkan di jet miliknya itu.


Ryan yang tadi duduk di samping seberang Afif hanya menatap mereka sekilas sebelum menatap ke luar jendela yang menampilkan langit biru dan awan yang putih bersih. Hatinya menghangat ketika kembali teringat dengan gadis yang dia genggam erat hatinya. Gadis itu sangat menyukai langit yang berwarna biru terang, kadang dia juga melukisnya karena rasa takjubnya melihat langit.


Ada sedikit persamaan antara Naynay dengan gadisnya, mereka sama-sama kuat dan selalu menerima dengan ikhlas semua yang menjadi takdirnya. Senyum tipis yang dipenuhi kesedihan terukir di bibir laki-laki tampan itu, apakah sudah waktunya dia untuk mengikhlaskan gadisnya?


Setelah dua jam terbang, akhirnya jet mendarat. Naynay yang sudah puas tidur tadi pun, sekarang sedang membuka belt-nya dibantu oleh seorang pramugari.


Afif yang sudah berdiri kemudian menarik tangan Naynay dan membawanya ke luar. Mata Naynay menyipit karena cahaya matahari yang terasa begitu terang dan panas dari biasanya. Afif menggerakkan tangannya dan salah satu dari pengawal yang berjejer menyambut mereka memayungi mereka berdua.


Afif membawa Naynay menuju bangunan besar dengan lima lantai yang terlihat mewah. Mereka masuk dan Afif menyuruh Naynay menunggu di sofa yang di depannya ada meja yang penuh dengan cemilan kesukaan sang istri. Di samping kanan-kiri Naynay, banyak pengawal wanita yang berjejer dengan memakai stelan jas hitam dan kacamata senada.


"Mari, Nona." Seorang dari mereka memberi isyarat dengan tangannya agar Naynay mengikutinya. Bumil itu mengikuti langkah wanita itu hingga sampai di toilet, Naynay segera masuk karena sudah tidak tahan mau buang air kecil.


"Leganya," gumam Naynay sambil membuka pintu.


"Akh...." pekiknya terkejut karena Afif berdiri tepat di depannya. Naynay mengelus dadanya yang terasa digedor-gedor karena kaget tadi.


"Nay kaget!" ujar Naynay dan menepuk gemas sebelah lengan suaminya yang malah tertawa keras.


"Ayo, kita akan segera berangkat ke villa!" Afif menyematkan jemari besarnya di antara jari-jari Naynay yang mungil. Dia menggiring istrinya itu keluar menuju lapangan khusus helikopter.


"Kita naik ini?" tanya Naynay tak percaya. Ke mana lagi mereka pergi sampai harus memakai helikoper?


"Iya, kita akan menuju pulau itu." Afif menunjuk pulau yang terlihat kecil karena jaraknya yang lumayan jauh, mungkin berjarak dua kilometer dari tempat mereka sekarang.

__ADS_1


Afif naik terlebih dahulu dan membantu istrinya untuk naik setelahnya. Kemudian memakaikan segala printilan keamanan pada Naynay, setelah itu baru giliran dia.


"Kak, pegangin" ujar Naynay menggerakkan tangannya di depan Afif.


Naynay sedikit takut, dia hanya sekali menaiki yang namanya helikoper. Walaupun Hendrayan punya, tapi Naynay selalu menolak jika diajak naik. Naynay merasa pusing jika melihat pemandangan dari ketinggian, itulah mengapa dia menolak.


Afif yang melihat istrinya menutup mata pun menyuruh Ryan yang mengemudikan helikopter tersebut untuk menambah kecepatan agar cepat sampai. Hanya membutuhkan waktu tujuh menit dan helikopter mendarat di lapangan yang ada di pulau besar yang tadi ditunjuk Afif.


"Ayo!" Afif menyambut tubuh Naynay yang sedikit bergetar.


"Nay pusing," ucap Naynay setelah mereka berjalan menjauh dari helikopter yang membuat debu berterbangan.


Afif langsung saja menggendong Naynay menuju villa yang memang tidak terlalu jauh dari sana. Dia langsung masuk dan membawa Naynay ke kamar di lantai dua agar istrinya itu bisa langsung istirahat.


"Istirahatlah," ucap Afif setelah membaringkan tubuh Naynay di atas tempat tidur.


Karena mereka tiba pada sore hari, jadi langit sudah berwarna Orange dengan matahari yang mulai bergerak ke bawah seolah tenggelam di lautan. Naynay bisa melihat view itu karena dua dari empat sisi kamar itu terbuat dari kaca. Yang mana view sunrise dan sunset dapat mereka nikmati dari kamar tersebut. Setelah itu dia tertidur dengan Afif yang menepuk-nepuk punggungnya.


Cerita babymoon pun dimulai...


.


.


.


.


.


Vote dong....

__ADS_1


__ADS_2