My Perfect Husband

My Perfect Husband
Bebannya udah hilang


__ADS_3

Naynay berjalan hati-hati menuruni tangga, di tangannya ada hp yang dia genggam. Afif sudah berangkat beberapa jam yang lalu, setelah sedikit perdebatan karena laki-laki itu mengatakan kalau malas bekerja.


Mendengar bell berbunyi, Naynay pergi membukakan pintu. Terlihat ada kurir paket yang membawa boneka beruang warna peach sebesar manusia. "Benar dengan Nona Hanaya?" tanya kurir itu.


"Iya," jawab Naynay sambil mengangguk.


"Ini untuk Anda, dan mohon ditandatangani sebagai bukti telah diterima." Kurir itu meletakkan boneka tadi di depan Naynay dan menyodorkan kertas tanda terima. Setelah ditandatangani oleh Naynay, kurir itu mengucapkan terima kasih dan berlalu pergi.


Naynay menarik boneka besar yang dibalut plastik kado itu ke dalam rumah, tidak sanggup harus mengangkatnya karena tubuhnya sudah tidak kuat. Kehamilan yang udah masuk empat bulan ini membuat napas Naynay sesak.


"Nggak bosan apa kirim beginian terus?" dumel bumil itu sambil terus menyeret boneka beruang tersebut menuju salah satu kamar tamu. Di sana banyak sekali barang-barang mewah serta bucket bunga yang tersusun rapi di lantai.


Setelah meletakkan boneka super besar itu, Naynay keluar dan berjalan menuju dapur. Membuka kulkas, dia melihat ada red velved yang masih utuh. Mungkin mamanya yang membeli. Naynay mengambil satu potong dan memakannya sambil berjalan menuju halaman belakang. Tidak perlu pake piring dan sendok, dia memakannya menggunakan tangan langsung.


Kue tersebut habis bertepatan saat dia sampai di halaman belakang. Naynay berjalan menuju air mancur buatan di sana dan mencuci tangannya. Dari sana dia sudah melihat keberadaan anak angkatnya yang tertawa sambil memainkan kelopak bunga.


"Anaknya Bubu lagi ngapain?" tanya Naynay dengan menghadiahi ciuman di pipi gembul Araa.


Tangan bayi itu terangkat minta digendong, kakinya menendang-nendang udara. Naynay tersenyum dan mengambil Araa dari gendongan Yasmin.


"Mau, ada paket lagi. Nay udah capek banget sama dia, udah sering banget dibilang buat jauhin aku. Tapi dianya masih ngeyel." Naynay memasang wajah sedikit kesal.


Yasmin membawa Naynay duduk di kursi taman. "Lebih baik kamu bertemu sama dia, bawa Afif juga. Sudah saatnya kamu itu jujur, apalagi sama Rosi."


Naynay menghela napas berat mendengar usulan mamanya. Mungkin memang sudah saatnya dia jujur tentang kehamilan dan pernikahannya.


"Iya, Nay udah siap apa pun yang akan terjadi ke depannya."


Yasmin mengangguk dan tersenyum sambil mengelus rambut hitam putrinya itu. Entah bagaimana nasib persahabatannya bersama Rosi nantinya. Yasmin sendiri sudah cerita kepada mamanya Rosi sejak awal, dan beliau pun mengerti dan turut prihatin atas kejadian yang menimpa Naynay.


"Nay mau bawa Araa jalan-jalan bentar, Ma. Sekalian buat atur pertemuan sama Rosi sebelum kak Afif makan siang," ucap Naynay sambil merapikan rambut Araa yang berantakan.


"Ke mana?" tanya Yasmin.


"Ke taman depan aja."


Setelah mendapat anggukan dari Yasmin, Naynay membawa Araa ke kamarnya untuk mengganti baju. Setelah memakaikan bayi imut itu pakaian serba pink, Naynay mengganti bajunya dengan dress selutut berwarna baby pink yang sedikit memperlihatkan perutnya yang buncit.


Setelah mengganti baju, Naynay duduk di samping Araa yang sedang tengkurap di atas tempat tidur. Meraih hpnya, Naynay menghela napas sebelum mendekatkan benda pilih itu ke telinganya.


"Ada apa? Kau butuh sesuatu?" Langsung terdengar suara Afif dari seberang sana.


"Kak, sibuk nggak?" tanya Naynay dengan suara pelan.


"Ada apa?" Kening Afif berkerut di sana.


"Jemput Nay sebelum jam makan siang, ya."


"Hanya itu? Aku kira apa. Baiklah, nanti aku jemput." Terdengar Afif tertawa kecil. Tidak menanyakan juga ada perlu apa sampai harus dijemput.

__ADS_1


"Iya. Nay mau jalan-jalan dulu sama Araa, ke taman depan." Sekalian bilang mau jalan-jalan, takut nanti dimarahi kalau nggak bilang.


"Satu jam, habis itu langsung pulang!" ucap Afif dengan suara yang dibuat seram.


"Iya, Nay pergi dulu." Setelah mendapat balasan singkat, Naynay mematikan sambungan dan mengambil tasnya.


"Ayo kita pergi, Sayang." Naynay menggendong Araa dan berjalan keluar dari kamar.


Di dalam mobil, Naynay mengirim pesan kepada dua orang. Memberitahukan kapan dan di mana mereka akan bertemu. Setelah itu dia kembali fokus dengan Araa yang ada di pangkuannya. Satu jam ini akan dia gunakan untuk puas bermain bersama anak angkatnya yang sibuk mengemut jari-jemarinya yang kecil.


*****


Afif berjalan hendak menaiki tangga menuju kamar istrinya, tapi langkahnya berhenti karena mendengar suara bersin dan tawa bayi dari arah belakangnya. Langsung saja Afif memutar tubuhnya.


"Dari mana?" tanya Afif sambil mengambil alih menggendong Araa.


"Dari dapur, abis makan ice cream."


Afif mengangguk mengerti dan memborbardil pipi Araa dengan ciuman gemas. Bayi itu tertawa sambil berusaha mendorong kepala Afif menjauh.


"Kau mau pergi ke mana? Tumben sekali minta dijemput." Afif mengutarakan apa yang tadi mengganjal di hatinya ketika mendengar Naynay minta dijemput.


"Temenin Nay ketemu sama temen, ya, Kak!" ucap Naynay pelan.


"Ayo," balas Afif singkat dan menggandeng tangan Naynay.


Naynay hanya membawa hpnya saja. Setelah masuk ke mobil, dia langsung menanyakan keberadaan dua orang yang akan ditemuinya.


"Nanti Kakak bakalan tahu," balas Naynay sambil mengulas senyumnya.


Naynay memberitahu Ryan tempat tujuan mereka. Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit, mereka sampai di sebuah taman yang terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang yang sedang duduk di tepi danau kecil yang ada di sana.


Mata Afif menajam melihat seorang laki-laki yang duduk di kursi taman, ada wanita juga di sampingnya.


"Nay keluar dulu, nanti Kakak keluar juga, ya. Kakak tunggu aja momen yang sekiranya pas untuk keluar." Naynay tersenyum dan keluar dari mobil tanpa mendengar balasan suaminya yang sudah nethink.


Naynay berjalan menuju dua orang yang sekarang sudah berdiri dengan wajah terkejut mereka. Ezriel dan Rosi, mata mereka terbelalak ketika melihat ke arah perut Naynay yang menonjol di balik dressnya. Tujuannya memakai dress yang memperlihatkan perutnya adalah untuk ini.


"Gimana? Sekarang udah paham, kan, kenapa Nay minta Kakak berhenti?" tanya Naynay menatap Ezriel yang terpaku di depannya.


"Nay...." Rosi tidak bisa lagi berkata apa-apa, ada banyak pemikiran hinggap di otaknya.


"Kamu pasti peka banget sama perubahan aku beberapa bulan belakangan, kan. Itu karena aku hamil, di luar nikah." Naynay berusaha keras untuk menahan air mata yang sudah bersiap mengucur dari matanya.


Rosi menggeleng pelan sambil melangkah mundur. Otaknya berusaha untuk membuang dan menolak segala pikiran buruk yang bertambah kuat. Sedangkan Ezriel, dia hanya diam dengan masih menatap Naynay dengan pandangan kecewa.


Naynay melangkah dan duduk di kursi yang tadi ditempati dua orang tersebut. "Duduk dulu, aku bakalan cerita." Dia menepuk sisi kosong di sebelahnya.


Rosi berjalan mendekat dan duduk tepat di samping Naynay. Ezriel menyusul duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Kamu ingat nggak, sekitar tiga bulan lalu aku sempat absen setelah sebelumnya kita abis kerja kelompok?" tanya Naynay dan mendapat anggukan kecil dari Rosi yang tidak menatapnya sama sekali.


"Pas pulang sekolah hari itu, aku apes banget. Diculik trus nggak tahu dibawa ke mana karena dikasih obat." Naynay tertawa miris, Rosi dan Ezriel langsung menoleh menatapnya.


"Aku baru sadar keesokan harinya, dan ternyata udah ada di hotel. Tubuh tuh rasanya sakit semua, dan yang bikin aku terkejut, aku nggak pake baju sama sekali. Lebih terkejut lagi pas lihat bercak darah di sprei." Pertahanan Naynay runtuh, air matanya udah netes membasahi pipi chubbynya.


Dua orang di sampingnya bertambah terkejut mendengar cerita Naynay, tapi mereka tidak berkomentar karena masih dalam keadaan shock.


"Di hari aku bertanya sama kamu tentang wanita hamil tanpa suami itu, aku udah hamil empat minggu. Dan aku juga nggak tahu siapa ayah dari anak yang sekarang tumbuh di dalam perutku." Naynay berdiri dan membelakangi kedua orang itu, matanya menatap Afif yang sudah keluar dari mobil, tapi masih berdiri di sana.


"Sekarang mau kalian anggap aku itu wanita kotor atau apa pun, aku nggak masalah. Aku baru bisa jujur sekarang itu karena Kak Ezriel nggak juga nyerah." Menghapus air matanya yang masih mengucur.


Ezriel berdiri dari duduknya dan berjalan ke depan Naynay. "Nay, nggak masalah kalau kamu hamil, aku mau nerima dia. Aku tulus sayang sama kamu."


Itu pilihan Ezriel, dia benar-benar tulus dengan perasaannya. Dia mau menerima anak yang dikandung Naynay.


"Tapi dia sudah menjadi istri saya."


Suara dengan nada dingin itu membuat Ezriel menoleh dan memutar badannya. Terkejut mendapati bahwa orang yang mengklaim Naynay itu istrinya adalah Afif.


Afif menarik lembut tangan Naynay dan membawanya ke dalam pekukannya. Mengusap punggung istrinya yang bergetar menahan isakan.


"Sekarang sudah jelas, istri saya sudah mengatakan semuanya. Untuk semua barang yang kamu kirim ke rumahnya, secepatnya akan saya kembalikan." Afif menatap Ezriel yang bertambah kecewa mendengar semua ini. Apalagi Afif menyebut kata "Istri" dengan penuh penekanan.


Setelah mengatakan itu, Afif menggandeng Naynay kembali ke mobil. Araa yang sedang bermain dengan stir mobil di depan sana tidak menoleh sama sekali saat mereka masuk. Bayi itu duduk di pangkuan Ryan yang sekiranya sudah cocok jadi ayah juga.


.


.


.


.


.


Lega, ya, Nay.....




Afif versi akuuu


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2