
Naynay memasuki kamar dengan menggendong Araa yang sedang memegang botol susunya. Sempat berada mulut dulu dengan Yasmin yang menginginkan Araa untuk tidur bersamanya. Jadi Naynay mengatakan untuk menjemput Araa ke kamarnya nanti.
Naynay duduk di sofa dengan memangku bayi lima bulan kesayangannya itu. Mengambil botol susu yang tadi dipegang Araa, bumil itu membantu Araa untuk meminum susu yang masih tersisa di dalam botol itu.
Mendengar pintu terbuka, Naynay menoleh. Afif masuk dengan jas yang tersampir di pundaknya. Kaki panjang itu melangkah menuju di mana Naynay duduk dengan Araa yang sibuk dengan susunya.
Afif menghempaskan tubuhnya di samping Naynay dan memeluk istrinya itu dari samping. Kepalanya mendusel di bahu Naynay.
"Air untuk Kakak mandi udah Nay siapin," ucap Naynay sambil meletakkan botol susu yang sudah kosong ke atas meja di depannya.
Afif mencium pipi Naynay dan Araa sebelum berdiri dan pergi ke kamar mandi.
Pintu diketuk, kemudian terbuka dan kepala Yasmin muncul. "Mama ke sini jemput Araa."
Naynay menggendong Araa dan mendekati Yasmin. "Baru juga sebentar sama aku, udah Mama minta lagi."
"Sebentar apanya, dari tadi siang kan sama kamu." Yasmin melotot sambil mengambil Araa dari gendongan Naynay dan segera pergi.
Setelah makan siang bersama Joan tadi siang, Naynay diantar pulang oleh Ryan. Afif khawatir karena sejak setelah muntah di restoran, wajah istrinya itu terlihat pucat.
Naynay menutup pintu kembali dan berjalan menuju tempat tidur. Merebahkan tubuhnya yang berisi itu dan memeluk guling yang sering dilempar Afif ke lantai. Dia memegang perut buncitnya, enam bulan lagi dan malaikat kecil di sana akan lahir.
"Akhh...." pekik Naynay ketika merasakan kakinya dipegang oleh tangan yang dingin. Saking asiknya menghayal tentang kelahiran bayinya, Naynay tidak menyadari suaminya sudah selesai mandi.
"Mana Araa?" tanya Afif sambil merebahkan tubuhnya di depan Naynay yang tidur menyamping.
"Diambil sama mama," ucap Naynay dengan bibir mengerucut. Afif mengangguk kecil.
"Bajumu, ganti!" Sambil menatap tidak suka pada piyama yang Naynay pakai.
"Kan Kakak cuma kasih satu malam tadi, masa Nay pakai lagi." Mengedipkan matanya polos.
Afif menghela napas kasar karena rencana mau jadi bayi malam ini gagal. Dia membelakangi Naynay dan memejamkan matanya.
"Kak." Jari telunjuk Naynay mencolek pinggang Afif.
"Hhmm."
"Hadap sini dulu!" Naynay menarik piyama Afif.
Dengan malas, Afif membalikkan tubuhnya dan memeluk erat istrinya. Rasa kesal yang tadi hinggap di hatinya sekarang sudah hilang. Entah pesona seperti apa yang dimiliki Naynay hingga bisa merubah mood seorang Afif sesuka hatinya.
"Nay nggak jadi dapat bonus nih?" Naynay mendonggakkan kepalanya.
Afif menurunkan pandangannya. "Kau mau berapa? Aku transfer sekarang."
"Nay nggak mau duit," ucap Naynay menghentikan tangan panjang Afif yang hendak menjangkau hpnya yang ada di atas nakas.
"Lalu?"
__ADS_1
"Ceritain gimana Kakak bisa kenal sama Joan, Nay pengin tahu!"
"Kalau aku tidak mau?
Naynay mengerucutkan bibirnya.
"Cium dulu." Memonyongkan bibirnya.
Naynay mengecup bibir Afif beberapa kali dan bonus di rahang laki-laki itu. "Nah sekarang ceritain!"
"Aku kenal dengan Joan itu dua tahun lalu, saat menghadiri pesta ulang tahun ayahnya. Ayah Joan itu teman papaku dulu, itulah mengapa aku mau datang ke sana. Kami mengobrol dan beliau mengenalkan Joan padaku. Kau tahu kami seumuran kan?"
Naynay mengangguk.
"Aku awalnya heran, seharusnya saat itu dia sudah kuliah tahun ketiga, tapi masih tahun pertama. Dan dia mengatakan kalau dia menunda masuk perguruan tinggi karena ingin belajar langsung di perusahaan ayahnya. Pembawaannya yang santai tapi berwibawa, membuat kami akrab. Sejak saat itu, kami sering pergi makan siang atau makan malam bersama, ada teman-temanku yang lain juga." Afif menyudahi ceritanya dengan mengecup jidat istrinya.
"Hhmm, tapi kenapa pas kita nikah dia nggak datang?" tanya Naynay bingung, dahinya berkerut dalam.
"Kalau dia datang, sahabatmu yang satu lagi pasti ikut."
Naynay akhirnya paham hubungan suaminya dengan Joan. "Nay mau bonus satu lagi."
"Apa?"
"Mau makan nasi goreng, tapi beli." Memasang wajah imutnya agar dituruti.
"Ini sudah malam, besok saja." Afif mencoba menawar, dia takut jika nanti istrinya masuk angin.
"Baiklah, Ayo." Afif duduk dan meraih hpnya, menghubungi seseorang yang sedang duduk di sofa kamar tamu di lantai bawah sana.
Naynay pergi mengambil jaket, sekalian membawakan untuk suaminya. Untungnya Naynay suka mengoleksi jaket pria, sesekali bumil itu juga tampil tomboy lhoo.
Afif menggandeng tangan Naynay sampai di depan mobil, di mana Ryan sudah berdiri dengan celana bahan dan baju kaos hitam.
"Maaf, ya. Nay nyusahin lagi, udah kepengen banget soalnya." Naynay menggaruk kepalanya, merasa tidak enak terus-terusan menyusahkan sekretaris suaminya.
"24 jam saya siap sedia, Nona." Ryan menutup pintu dan masuk ke bagian pengemudi. Ucapannya membuat Afif dan Naynay tertawa di belakang sana.
Mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang. Afif sudah berbaring dengan kepala di paha Naynay, kebiasaan barunya jika berdua dengan Naynay di dalam mobil.
"Nay nggak mau nasi goreng yang di restoran, di pinggir jalan aja." Naynay melirik Ryan melalui spion tengah mobil.
"Turuti saja," ucap Afif kepada Ryan. Suaranya sedikit teredam karena wajahnya menempel di perut Naynay, tapi Ryan bisa mendengarnya dengan jelas.
Maka dari itu, Ryan mulai mengamati di mana kemungkinan ada penjual nasi goreng di pinggir jalan. Sekitar lima belas menit mengemudi, tampak banyak pedagang kaki lima di pinggir jalan. Ryan mencari tempat parkir.
"Kak, ayo!" Naynay menepuk pipi Afif yang sibuk menciumi perut buncitnya.
Mereka keluar dan Naynay dengan semangatnya menggandeng tangan Afif yang kepalanya sudah ditutupi topi. Dia berjalan melewati satu per satu gerobak penjual yang ramai pembeli. Setelah menemukan gerobak yang tadi mencuri perhatiannya, Naynay tersenyum.
__ADS_1
"Pak," panggil Naynay membuat penjual nasi goreng yang sedang duduk termenung sedikit terkejut dan menoleh.
"Eh, Nona Nay." Bapak penjual itu tersenyum lebar dengan mata berbinar melihat kedatangan Naynay.
"Kenapa Bapak jualan di sini, kenapa nggak di kompleks lagi?" tanya Naynay sambil menyalami bapak berusia 60 tahun itu.
"Mau cari suasana baru aja, Nona." Ada senyum paksa yang terulas di bibir bapak tua itu.
"Silakan duduk, Nona, Tuan." Tangan keriput bapak itu mempersilakan mereka duduk di kursi plastik di samping dia berdiri. Belum mengetahui siapa dua laki-laki yang bersama Naynay.
"Bapak ada masalah, ya? Ada yang berbuat kasar di sana?" tanya Naynay yang curiga melihat senyum bapak itu.
Afif dan Ryan hanya diam mendengarkan. Mereka berdua takjub melihat Naynay yang begitu peduli pada rakyat kecil seperti bapak tua itu.
"Bapak cerita aja," ujar Naynay sambil menyunggingkan senyumnya.
Bapak itu kembali duduk di tempatnya duduk tadi. "Dua minggu lalu, saya dibantu jualan sama Nana. Hari itu perasaan saya nggak enak, jadi saya menolak bantuan Nana. Tapi anak itu ngeyel mau ikut. Pas lagi rame pembeli, ada yang telepon minta diantar pesanannya ke rumah." Bapak itu menunduk menyembunyikan wajah sedihnya.
"Nana bilang dia saja yang mengantarkannya. Dua jam berlalu dan dia belum juga kembali, saya khawatir. Tak lama setelah itu, ada mobil berhenti di depan tempat saya jualan. Seorang wanita keluar sambil menyeret Nana yang bajunya udah sobek, wajahnya sembab dan tatapannya kosong. Wanita itu marah-marah dan mengatakan kalau Nana menggoda anaknya." Ada setitik air yang jatuh membasahi tangan keriput bapak yang masih menunduk itu.
Naynay menutup mulutnya tidak percaya, dia langsung bisa mengerti maksud dari cerita itu. Nana, gadis seusianya itu menjadi korban pemerkosaan?
"Kenapa Bapak nggak bilang sama papa? Pasti dibantuin," tanya Naynay dengan mata berkaca-kaca.
"Saya tidak bisa, Nona. Mereka mengancam saya jika mengatakannya pada keluarga Nona."
Naynay mengusap air matanya yang sudah meleleh membasahi pipinya. "Nana gimana sekarang?"
"Dirawat di rumah sakit jiwa, Nona."
Afif memegang tangan Naynay. "Nay, jangan dipikirkan. Aku akan mengurusnya untuk bapak ini."
Naynay mengatur napasnya dengan susah payah. Dia tidak boleh banyak pikiran, nanti berpengaruh pada dedek bayi di dalam perutnya.
"Sepi, belum ada pembeli?" tanya Ryan kaku kepada bapak itu.
"Belum, Tuan." Bapak itu menatap Ryan dan Afif berganti dengan matanya yang memerah. Terbelalak setelah mengetahui siapa dua laki-laki yang memakai topi tersebut.
"Tuan Afif dan Tuan Ryan?" gumam bapak itu tidak percaya. Tubuhnya menggigil bertemu langsung dengan kedua orang berpengaruh dunia ini.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Like, yaa.....