
Selesai makan malam, Gea memilih menyendiri di dalam kamarnya. Sementara Brian dan kedua orang tuanya sedang asyik menonton televisi baru bersama. Gea mengintip sebentar kedekatan Brian dan kedua orang tuanya. Lalu ia kembali duduk diatas tempat tidur memeluk lututnya. Mencoba mengingat kembali pertemuannya dengan Brian untuk pertama kali.
Gea mendecih. ''Bisa-bisanya aku terkecoh. Seharusnya aku sadar kalau dia orang kaya.''
Namun Gea kembali teringat semua pengorbanan Brian kepadanya. Dimana saat Gea mengalami kecelakaan dan saat dimana geng Nino menyekapnya bahkan hampir saja dirinya di perkosa. Semua kebaikan dan kebersamannya dengan Brian terlintas dalam benaknya dengan indah. Dan di detik ini juga, Brian dengan dirinya yang sebenarnya tetap mencintainya dan juga mencintai keluarganya. Tak bisa dibohongi Gea juga merasakan hal yang sama pada Brian tapi Gea takut untuk melangkah lebih jauh.
''Ah, sudahlah. Aku bingung.'' Gumamnya. Dan malam itu Gea memilih untuk tidur saja. Ada rasa kesal juga karena kedua orang tuanya malah semakin dekat dengan Brian.
Keesokan harinya seperti biasa, Gea sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan. Ayah dan Ibunya entah pergi kemana. Sementara Brian baru saja bangun tidur. Mencium aroma masakan, Brian bergegas menuju dapur. Brian menyeringai, melihat Gea sendiri di dapur.
''Selamat pagi calon istri.'' Sapa Brian dengan ceria seperti biasa. Gea hanya diam sambil meneruskan masaknya. Brian mendekat dan memberikan kecupan di pipi Gea.
''BRIAN!" Marah Gea.
''Kenapa? Kamu kan calon istriku. Sebaiknya kamu masak yang banyak ya karena Papa dan Mama akan ke rumah untuk melamar mu secara resmi.'' Ucap Brian sambil mengedipkan mata genitnya. Brian kemudian berlalu untuk segera mandi.
''Jadi orang tuanya akan datang? Aduh bagaimana ini?'' gumam Gea sambil terus melanjutkan memasak. Tak lama kemudian Bu Hana dan Pak Hendi datang dengan belanjaan yang banyak.
''Brian sudah bangun Ge?'' tanya Bu Hana.
''Datang-datang malah Brian yang ditanyain, bukannya anak sendiri.'' Kesal Gea.
''Iya dong. Kan Brian menantu kesayangan Ibu.''
''Gea, hari ini orang tua Brian akan datang. Ayah harap kamu bisa bersikap sopan pada mereka. Jangan buat Ayah dan Ibu malu.''
''Iya-iya Yah.''
''Sekarang kita selesaikan masak ya karena satu jam lagi mereka akan segera sampai.'' Ucap Bu Hana.
''Ap-apa Bu? Satu jam lagi?'' Gea mendadak gugup.
''Iya Gea. Mereka datang kesini khusus untuk kamu. Awas ya kalau kamu kecewakan mereka. Ibu akan marah sama kamu.'' Ancam Bu Hana.
''Ih Ibu, sama anak sendiri main ancam-ancaman.'' Kesal Gea.
Akhirnya semua masakan sudah tersaji diatas meja dengan komplit. Tak lupa jajanan kue tradisional yang sudah orang tua Gea siapkan untuk menyambut kedatangan calon besannya.
__ADS_1
...****************...
''Papa-Mama!" seru Brian seraya memeluk kedua orang tuanya yang baru datang.
''Oh bontotnya Mama yang paling tampan.'' Nyonya Dira mengecup kedua pipi putranya.
''Ini rumah wanita yang kamu cintai?'' sahut Tuan Keenan.
''Iya Pah. Masuk Pah!"
''Rupanya kamu sudah dewasa ya sekarang.'' Ucap Tuan Keenan sambil mengusap kepala putra bungsunya. Brian lalu mengajak kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah. Disana Gea dan kedua orang tuanya sudah siap untuk menyambut kedua orang tua Brian.
''Assalamualaikum,'' sapa Nyonya Dira dengan ramahnya.
''Waalaikumsalam. Nyonya-Tuan selamat datang di gubuk kami.'' Ucap Pak Hendi yang menyambut calon besannya.
''Pah-Mah, ini Pak Hendi dan Bu Hana, kedua orang tua Gea.'' Brian memperkenalkan calon mertuanya pada kedua orang tuanya. Mereka kemudian saling berjabat tangan.
''Saya Dira, Mamanya Brian.''
''Kami juga senang sekali bertemu dengan anda Tuan-Nyonya.'' Sambung Pak Hendi. Gea kemudian bersalaman, mengecup punggung tangan kedua orang tua Brian.
''Om-Tante, apa kabar?''
''Kami baik Gea.'' Jawab Nyonya Dira sambil mengelus kepala Gea.
''Mari silahkan duduk Tuan-Nyonya. Dan hanya ini yang bisa kami suguhkan.'' Kata Pak Hendi.
''Ah tidak apa-apa, Tuan.'' Jawab Tuan Keenan.
''Tuan-Nyonya, sebelum kita mengobrol, bagaimana kalau kita sarapan dulu? Anda pasti belum sempat sarapan setelah perjalanan jauh.'' Tawar Bu Hana. Tuan Keenan dan Nyonya Dira melirik kearah putranya. Brian memberi kode anggukan. Karena Brian lah yang merengek meminta kedua orang tuanya untuk segera datang melamar Gea.
''Baiklah, tentu saja Nyonya Hana.'' Jawab Nyonya Dira.
''Baiklah kalau begitu kita langsung menuju ruang makan dulu.'' Lanjut Bu Hana.
''Ngobrol sambil makan sepertinya lebih santai juga,'' timpal Tuan Keenan.
__ADS_1
''Iya Tuan.'' Sahut Pak Hendi. Kini mereka semua telah duduk berempat di ruang makan yang sederhana. Sudah tersedia berbagai menu makanan disana. Ada ikan gurami bakar, sup ayam, gulai ikan kakap dan lalapan.
''Beginilah masakan di kampung, Tuan-Nyonya. Seadanya saja.'' Ucap Bu Hana yang merasa sungkan dengan kedua orang tua Brian. Penampilan keduanya sudah cukup menunjukkan bahwa mereka adalah keluarga kaya raya dan terpandang.
''Justru saya suka masakan yang begini,Nyonya .'' Kata Nyonya Dira dengan antusias.
''Ikan guraminya menggugah selera sekali ya.'' Sahut Tuan Keenan.
''Iya Tuan. Karena kami mengambilnya dari kolam ikannya langsung. Kebetulan saya nyambi jaga-jaga peternakannya." Sahut Pak Hendi.
"Wah, anda hebat sekali ya Tuan
Pasti ikannya enak nih karena pasti masih fresh."
"Pasti Tuan. Silahkan Tuan, tidak perlu sungkan-sungkan." Ucap Pak Hendi.
"Mah, tolong ambilkan ikannya. Sekalian sisihkan daging dan tulangnya." Pinta Tuan Keenan yang selalu manja sedari dulu.
"Iya Pah, kamu ini tidak berubah ya dari dulu. Selalu saja kalau makan ikan begitu." Kemesraan Tuan Keenan dan Nyonya Dira mengundang perhatian Gea dan orang tuanya. Mereka ikut merasakan betapa bahagia dan sederhananya Tuan Keenan dan Nyonya Dira.
"Maaf ya Tuan Hendi-Nyonya Hana. Beginilah kelakuan Papanya Brian."
"Tidak apa-apa Nyonya. Namanya juga melayani suami." Timpal Bu Hana dengan tawa kecilnya. Brian kemudian menantap Gea yang duduk diseberangnya. Membayangkan hari tuanya bersama Gea yang selalu kompak dan romantis seperti kedua orang tuanya. Setelah selesai makan sembari mengobrol ringan, kini mereka semua beralih menuju ruang tengah. Membicarakan maksud dan tujuan kedatangan mereka sebagai orang tua Brian. Bersiap menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
''Tuan-Nyonya, jadi kedatangan kami kemari adalah untuk melamar putri anda, Nona Gea untuk putra kami. Sebelumnya kami juga minta maaf atas apa yang terjadi sebelumnya. Apalagi hal itu sudah membuat Nona Gea sangat kecewa dan terluka karena sudah merasa di bohongi.'' Tuan Keenan memulai obrolannya dengan sangat formal.
''Brian ini adalah putra bungsu kami. Dan satu-satunya putra kami yang belum menikah juga. Kami sendiri memiliki dua orang putri dan dua orang putra. Putri pertama kami bernama Queen, dia tinggal di London bersama suami dan anak-anaknya. Sedangkan yang kedua adalah putra kami, Arsen, atasan Nona Gea di kantor. Yang ketiga adalah Belinda, dia baru saja menikah beberapa bulan lalu dan sekarang sedang bulan madu. Sementara Brian adalah si bungsu yang cukup sulit diatur juga. Dia tumbuh dan besar di Korea, setelah SMA sampai kuliah dia di London. Jadi setelah dia lulus kuliah, kami memintanya untuk hidup sederhana, mandiri dan meninggalkan semua fasilitas yang kami berikan. Rumah kontrakan itupun kami yang menyediakannya. Jadi kami juga tidak tahu kalau di rumah sebelah ada Nona Gea. Apalagi Brian adalah seorang laki-laki tidak pantas kalau dia bersikap manja jadi tujuan kami adalah ingin menjadikannya pria yang mandiri, tangguh dan bertanggung jawab. Meskipun pada awalnya dia tidak betah karena terbiasa hidup dengan semua kemewahan. Dan ternyata pertemuannya dengan Nona Gea membuatnya mengerti apa arti hidup yang sebenarnya. Apalagi Brian ini putra terakhi r kami, sudah pasti ada sisi manja dalam dirinya.'' Jelas Tuan Keenan panjang lebar. Mendengar cerita dan seluk beluk keluarga Tuan Keenan, sudah pasti membuat orang tua Gea tahu bahwa calon besannya memang seorang konglomerat. Tentu saja ada rasa insecure di dalam hati Gea dan keduanya orang tuanya.
''Tapi Tuan-Nyonya, lupakan semua itu. Kami sebagai orang tua Brian, sangat menerima Gea sebagai menantu kami. Bagi kami kebahagiaan Brian adalah segalanya. Toh semua yang kita miliki hanyalah titipan semata, Tuan-Nyonya. Melihat Gea, membuat saya teringat dengan masa muda saya. Saya juga dulu bekerja apa saja demi mendapatkan uang, yang penting halal. Saya juga sekolah sambil bekerja apalagi saya hanya hidup bersama Ayah saya karena Ibu saya sudah meninggal. Jadi saya juga pernah merasakan pahit dan jatuh bangun untuk berjuang hidup. Gea, Tuan Hendi-Nyonya Hana, kita semua ini sama. Apalagi dihadapan Tuhan, kita tidak ada bedanya. Jadi kami harap, kalian juga mau menerima segala kekurangan Brian. Dan jujur saja baru pertama kali seumur hidupnya, Brian membawa seorang wanita ke rumah dan memperkenalkannya pada kami. Dan itu kamu Gea.'' Sambung Nyonya Dira yang berusaha keras meyakinkan hati Gea dan kedua orang tuanya. Kedua orang tua saling bertukar pandang.
''Kami sebagai orang tua Gea, sudah sejak awal sebelum tahu siapa Brian sebenarnya,kami sudah sangat menerima Brian apa adanya Tuan-Nyonya. Kami rasa Brian adalah pria yang baik dan pekerja keras. Apalagi Brian juga laki-laki pertama yang dibawa Gea kerumah.'' Sambung Pak Hendi.
''Dan setelah tahu siapa sebenarnya nak Brian justru kami merasa khawatir Tuan-Nyonya. Kami takut dianggap memanfaatkan keadaan. Mengingat kami ini hanya orang biasa dan anda orang yang sangat terpandang.'' Sahut Bu Hana.
''Jangan punya pikiran seperti itu Nyonya Hana. Tidak ada yang namanya memanfaatkan keadaan atau apapun. Jadi kami mohon, jangan pernah punya pikiran seperti itu.'' Ucap Nyonya Dira.
''Iya Nyonya. Kami pun sangat tulus untuk menjadikan Gea sebagai menantu kami.'' Timpal Tuan Keenan.
__ADS_1