
Sheena lalu membuka selimutnya. Sheena beranjak dari tempat tidur dan pergi mencari Arsen.
''Sheena, mulutmu pedas sekali. Seharusnya kamu membantunya bukan malah menyudutkannya. Kamu sendiri yang bilang kalau kamu akan membantunya.'' Gumam Sheena dalam hati. Sheena mencari di lantai atas dan menuju balkon tapi tidak menemukannya. Sheena kemudian turun ke lantai bawah. Sheena mendapati Arsen berdiri bersedekap melamun di teras samping rumah.
''Sheena, kamu sudah melukai perasaan Arsen.Dia selama ini banyak membantumu. Dia juga yang membantumu menemukan kedua orang tuamu. Dia beberapa kali menyelamatkan nyawamu. Dia sudah disakiti dan dihiantai oleh mantan kekasihnya sampai diliput oleh media. Semua orang bahkan menuduhnya menyimpang. Lalu sekarang, apa yang kamu lakukan padanya? Dia menyebalkan tapi dia juga selalu baik padamu.'' Batin Sheena bergejolak, merasa bersalah pada Arsen.
Sheena lalu mendekat kearah Arsen dan memeluk Arsen dari belakang. Arsen sangat terkejut mendapat pelukan itu.
''Maafkan ucapanku, Arsen. Aku keterlaluan. Aku tidak ada maksud seperti itu.''
''Aku tidak masalah di hujat netizen di luar sana tapi pemikiranmu dan ucapanmu membuatku kecewa.''
''Maafkan aku ya. Aku mohon jangan marah. Aku kesal saja dengan dirimu. Jangan marah lagi ya, ayo kita tidur.'' Kata Sheena merengek.
''Tidurlah dulu. Aku mau disini.'' Kata Arsen dengan sikap dinginnya.
''Aku juga akan tetap disini sampai marahmu reda.'' Ucap Sheena yang masih melingkarkan tangannya pada tubuh Arsen. Arsen tetap diam tak bergeming. Sementara Sheena justru menikmati hangatnya memeluk Arsen seperti itu. Hampir sepuluh menit Arsen berdiri disana, begitupula dengan Sheena yang tidak melepaskan pelukannya pada Arsen.
''Sheena, masuklah!" ucap Arsen.
''Tidak mau! Aku akan menunggu disini.'' Kata Sheena. Arsen menghela, akhirnya ia luluh dengan pelukan Sheena. Arsen lalu melepaskan tangan Sheena yang sedari tadi melingkar di pinggangnya itu. Arsen lalu berbalik menghadap Sheena. Sheena kemudian meraih kedua tangan Arsen.
''Maafkan aku ya. Aku akan membantumu dan aku tidak akan memaksamu melakukan apa yang tidak ingin kamu lakukan. Aku akan membantumu melakukannya pelan-pelan.'' Sheena lalu berjijit dan mengecup bibir Arsen. Senyum pun mengembang dari bibir Arsen. Arsen kemudian memeluk Sheena dan mengecup pucuk kepala Sheena.
''Bagaimana kalau kita tidur? Acara besok kan jam 10 pagi. Setidaknya besok kita harus fresh dan jangan sampai ada mata panda.''
__ADS_1
''Iya, baiklah.'' Ucap Arsen seraya melepaskan pelukannya. Sheena dengan manja memeluk Arsen sambil berjalan menuju kamar.
''Sepertinya aku memang harus lebih agresif menghadapi Arsen.'' Gumam Sheena dalam hati.
-
Acara syukuran yang di gelar Tuan Darwin begitu mewah, acara yang di adakan di hotel miliknya sendiri itu mengundang sekali banyak tamu dan juga beberapa awak media. Semua keluarga sudah berkumpul disana, termasuk Arthur dan Belinda. Semua sedang menanti kedatangan Sheena. Tak lama kemudian Sheena pun datang bersama Arsen. Sheena yang memakai dress warna putih itu tampak sangat anggun, dengan rambut lurus klimisnya. Lipstrik warna merah menyala dan anting berlian yang berkilau, membuat Sheena paling menyala pada hari itu. Arsen lah yang memanggil stylish untuk datang kerumahnya. Mempersiapkan penampilan Sheena secantik mungkin. Sementara Arsen tampak gagah dengan setelan jas warna biru tua. Arthur, terpesona melihat penampilan Sheena hari itu. Belinda juga terpesona melihat penampilan Sheena. Belinda melihat ekspresi Arthur saat melihat Sheena hari itu. Belinda selalu penasaran dengan ekspresi Arthur saat melihat Sheena.
''Eonni! Eonni cantik sekali.'' Puji Belinda sambil memeluk Kakak iparnya itu.
''Kamu juga cantik sekali, Belinda. Kamu sangat imut dan lucu juga.'' Kata Sheena dengan senyum hangatnya.
''Princessnya Mama, kamu cantik sekali sayang.'' Kata Nyonya Sofi yang bergantian memeluk Sheena.
''Terima kasih ya menantuku, kamu sudah membuat dia seperti princess.'' Kata Nyonya Sofi sambil membelai wajah tampan memantunya itu.
''Sama-sama, Mah. Sudah menjadi tugas suami untuk merawat istri.'' Jawab Arsen.
''Sheena, pilihan Papa dan Mama sempurna bukan?'' sahut Tuan Darwin.
''Iya Pah. He is my perfect husband.'' Ucap Sheena.
Tiba Arthur menyerobot dan memeluk Sheena. ''Oh adikku sayang, kamu cantik sekali. Semua orang memujimu malam ini. Bahagia selalu ya dan jangan sedih dengan hal itu. Besok aku juga akan menemanimu.'' Ucap Arthur.
''Terima kasih ya, Kak. Kakak malam ini juga sangat tampan. You are my perfect brother.''
__ADS_1
''And you are my perfect sister.'' Balas Arthur seraya melepaskan pelukannya pada Sheena. Arthur melihat Arsen yang tampak kesal karena ia memeluk Sheena. Arthur kemudian bergantian memeluk Arsen sambil menepuk-nepuk punggung dengan Arsen. Arsen berusaha menahan jengkel dan sakit dengan sikap Arthur yang sengaja melakukan itu padanya.
''Adik iparku yang tampan, tidak menyangka kita akan menjadi suadara ya. Terima kasih sudah menjaga dan membuat adik kesayanganku menjadi cantik. Jaga dia dan jangan sakiti dia. Awas saja kalau sampai kamu macam-macam dengannya.'' Arthur memberikan peringatan pada Arsen. Arsen yang kesal membalas pelukan Arthur dengan membalas tepukan yang keras di punggung Arthur.
''Tentu saja Kakak iparku yang baik hati. Aku akan mengingat semua ucapanmu.'' Ucap Arsen sambil mengeratkan giginya. Keduanya lalu kompak melepaskan pelukannya dan berpura-pura tersenyum bahagia.
Di luar keluarga Pak Damar baru saja tiba dengan mobil mewah pemberian Arthur. Penampilan Pak Damar hari itupun sudah di atur oleh keluarga Sheena.
''Ingat ya Sinta, panggil ibu dengan sebutan Mama.'' Kata Bu Lian vegitu mobil sampai di pelataran hotel.
''Sinta, bersikap apa adanya saja. Tidak usah menghiraukan ucapan Ibumu.''
''Ayah ini apa sih? Tidak rela sekali melihat kita bahagia. Lihatlah mereka ini kaya raya, konglomerat. Sinta, setidaknya kamu harus bis menggaet saudaranya Sheena itu.''
''Lian! Kalau pikiranmu seperti itu, lebih baik kita pulang saja. Dan aku akan menghibahkan semua harta ini pada panti asuhan.'' Ucap Pak Damar dengan suara meninggi. Bu Lian dan Sinta pun terdiam mendengar apa yang diucapkan oleh Pak Damar. Pak Damar bersama Bu Lian dan Sinta diantar oleh pelayan menuju ballroom hotel. Bu Lian dan Sinta takjub sekali. Pertama kalinya bagi mereka masuk ke hotel mewah seperti itu.
''Ya ampun, Bu. Ini hotelnya mewah sekali. Wah, keluarga Kak Sheena memang benar-benar kaya raya. Aku berharap kalau aku bukan anak kandung Ibu dan ternyata aku anak orang kaya juga.''
''Sinta, jaga ucapanmu. Sudah jelas kamu anak Ayah dan Ibu.'' Ketus Bu Lian.
''Seandainya aku berada di posisi Kak Sheena.'' Sinta berandai-andai.
''Sinta, jangan menghayal sesuatu yang tidak-tidak. Bersyukur keluarga Sheena, masih memberikan kita ini semua. Padahal mereka bisa aja melaporkan kita ke polisi. Jadi kita harus banyak bersyukur. Mereka juga pasti kerja keras untuk meraih semua ini. Kalian diberi segini saja, sombongnya minta ampun. Makanya Tuhan tidak menitipkan hartanya pada kita.'' Sahut Pak Damar dengan kesal. Bu Lian dan Sinta tidak bisa berkutik lagi. Kini mereka berdua harus bersikap baik pada Ayahnya karena semua harta yang diberikan keluarga Sheena atas nama Pak Damar.
Bersambung...
__ADS_1