
“Jadi, sebenarnya kamu dan Sheena adalah sepasang kekasih yang saling mencintai.”
“Jadi benar kalau aku dan Sheena punya hubungan dimasa lalu?”
“Iya, Fandi. Tapi Mama tidak merestui hubungan kalian.”
“Kenapa Mama tidak memberi restu?”
“Mama menganggap kamu dan Shena tidak satu level.”
“Tidak satu level bagaimana? Itu Sheena putri dari Tuan Darwin, putri dari seorang konglomerat.”
“Itu sekarang, Fandi. Dulu Sheena bukanlah siapa-siapa. Dulu Sheena hanya anak seorang tukang ojek saja. Tapi ternyata dia sebenarnya anak seorang konglomerat yang selama ini di anggap meninggal tapi ternyata masih hidup.”
“Astaga Mama, hanya karena status sosial Sheena yang dulu seperti itu, Mama menentang hubunganku. Katakan lagi Olivia! Katakan semua yang kamu tahu.” Paksa Fandi.
“Kecelakaan yang menimpamu itu terjadi sesaat setelah kamu dari rumah kontrakan Sheena. Disana kamu melamar Sheena tapi disaat itu pula Sheena menolak dan memutuskan hubungan kalian. Sheena tidak ingin melawan restu dan membuatmu durhaka pada Mama. Kemungkinan kamu saat itu benar-benar terpukul dengan keputusan Sheena, sampai kecelakaan itu terjadi, Fan. Bahkan sebelum kerumah Sheena, saat itu kamu dan aku sedang pergi bersama untuk mengambil cincin pernikahan tapi kamu justru menurunkan aku di jalan dan kamu memilih pergi menemui Sheena. Dan kecelakaan itu, membuat Mama semakin marah dan membenci Sheena. Jadi Mama menganggap penyebab semua ini adalah Sheena. Padahal Sheena lah yang menemanimu dan membawamu ke rumah sakit.” Saat Olivia bercerita, Fandi melihat sekilas bayangan kenangan masa lalunya namun tiba-tiba rasa sakit dikepalanya menyerangnya begitu saja. Fandi menambak sendiri rambutnya, berharap rasa sakitnya reda.
“Fan, sudah Fan. Kamu sebaiknya istirahat. Jangan paksa ingatan kamu! Aku akan melanjutkannya besok.” Olivia merasa khawatir dengan kondisi Fandi yang mengerang kesakitan.
“Lanjutkan saja, Liv.” Ucap Fandi sambil menahan sakit.
“Aku tidak mau. Aku tidak mau kenapa-kenapa. Aku telepon dokter ya?”
__ADS_1
“Tidak usah, Liv. Bantu aku berbaring saja.” Kata Fandi sambil menahan rasa sakitnya. Olivia lalu membantu Fandi berbaring. Olivia mengambilkan Fandi obat setelah itu membantu Fandi untuk meminum obat. Setelah Fandi tampak tenang, Olivia menuju ruang ganti dan memilih memakai piyama yang tertutup. Ia sudah merasa malu dan apa yang ia kenakan pun bagi Fandi bukanlah sebuah hal yang istimewa, bahkan Fandi sama sekali tidak tertarik. Beberapa saat kemudian, Olivia pun kembali melihat Fandi. Dan ternyata Fandi sudah tertidur pulas.
“Syukurlah Fandi sudah tertidur. Kalaupun dia bertanya, aku akan siap menjawabnya. Sekali lagi maafkan aku, Fan.” Batin Olivia.
Keesokan harinya, Fandi terbangun dan melihat Olivia justru tertidur diatas sofa.
“Kenapa dia tidur disana?” gumam Fandi sambil mengucek matanya. Fandi mengingat lagi apa yang terjadi semalam. Fandi kemudian beranjak dari tempat tidur dan buru-buru membangunkan Olivia. Ia tidak bisa terus penasaran seperti ini.
"Olivia, bangunlah! Lanjutkan ceritamu semalam.” Ucap Fandi sambil mengguncang tubuh Olivia. Oliva akhirnya pun terbangun. Ia mengerjapkan matanya, berusaha mengumpulkan kembali nyawanya yang belum penuh.
“Sebentar Fan,” jawab Olivia dengan suara malas. Fandi kemudian menuangkan minum kedalam gelas untuk Olivia.
“Ini minumlah. Bangun tidur meminum air putih sangat bagus untuk kesehatanmu.” Kata Fandi. Pagi itu Olivia melihat keceriaan dalam wajah Fandi. Sikap Fandi tidak dingin lagi padanya. Begitulah sikap Fandi padanya, selalu merayu jika menginginkan sesuatu darinya.
“Kalau memang ini membuatmu tetap hangat padaku, aku akan menceritakan semuanya.” Kata Olivia dalam hati. Olivia kemudian menerima air itu dan ia lalu menenggaknya sampai habis.
Olivia menghela. “Saat kamu kecelakaan Sheena selalu ada bersamamu, disaat itu aku ingin mundur. Aku tahu betapa cinta kalian sangat kuat. Aku ingin membiarkan kamu dan Sheena bersatu. Bahkan aku berusaha membujuk Mama Citra untuk mengijinkan Sheena menemuimu. Aku selalu membantu Sheena untuk menjengukmu. Disaat Mama pergi, aku meminta Sheena untuk datang. Karena sikap Mama pada Sheena sangat buruk. Aku tidak tega melihat Sheena mendapat kekerasan fisik dari Mama, Fan. Bukan hanya menyakiti secara batin tapi juga fisik.”
“Mama sungguh sejahat itu pada Sheena?”
“Iya Fan. Tapi aku harap kamu jangan membenci Mama walaupun kamu tahu sikap Mama itu sangat keterlaluan. Bahkan yang mampu menyadarkan kamu dari koma adalah Sheena. Setiap hari Sheena mengunjungimu dan dia memohon kepadaku. Sheena ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja. Sheena juga melarangku untuk mundur saat itu. Sheena berjanji akan pergi setelah kamu sadar. Dan saat kamu sadar, kamu justru sama sekali tidak mengenalinya. Hatinya sangat hancur, Fan. Aku bisa merasakan betapa sakit hati Sheena saat itu. Saat aku ingin membantumu mengingat Sheena tapi Sheena bersikeras melarangku, begitu juga dengan Mama. Karena Sheena menganggap itu adalah hal yang terbaik. Dengan kamu amnesia, kamu tidak perlu merasakan sakit hati melewati hubungan tanpa restu. Dia juga yang memaksa dan menekanku untuk selalu bersamamu. Saat kita pergi ke LA, aku juga meminta Sheena untuk datang sebagai perpisahan terakhir.”
“Apa Sheena saat itu datang?”
__ADS_1
“Iya Sheena datang namun Sheena hanya bisa melihatmu dari kejauhan. Dan sejak saat itu aku tidak berhubungan lagi dengannya. Tekanan itu bukan hanya dari Mama tapi juga dari Sheena. Sheena ingin aku menghapus kenanganmu tentangnya tapi rasanya itu mustahil. Karena sekalipun kamu hilang ingatan, kamu tetap tidak bisa mencintaiku. Sheena juga pernah berpesan kalau suatu saat ingatanmu pulih dan itu tentang Sheena, Sheena ingin aku berbicara buruk tentangnya. Maafkan aku kalau kemarin aku harus mengarang cerita kalau Sheena bukan gadis baik-baik, maafkan aku, Fan. Semua itu Sheena yang meminta. Dia tidak ingin kamu terluka dengan perpisahan ini karena Sheena tidak ingin melawan restu dari kedua orang tua kamu.”
Fandi hanya bisa tertegun mendengar semua cerita tentang masa lalunya. Fandi melihat Olivia menyeka air matanya. Fandi kemudian memeluk Olivia.
“Maafkan aku Olivia, maafkan aku. Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu kemarin. Sedangkan kamu sudah banyak membantu hubunganku dengan Sheena. Tapi apa yang membuatku akhirnya menerima perjodohan ini?”
“Sebelum kamu kecelakaan, Mama saat itu mendadak serangan jantung, begitu kamu membuka hubunganmu dengan Sheena di kantor dan di depan banyak orang. Dulu Sheena pernah bekerja denganmu di kantor. Akhirnya Mama mengancam mu dan akhirnya kamu setuju. Sejujurnya aku sangat bahagia bisa menikah denganmu karena kamu adalah cinta pertama untukku, Fan. Tapi aku juga tidak sanggup melihatmu menderita. Bahkan saat itu aku pernah bilang padamu, setelah kita menikah, aku akan tetap mengijinkanmu berhubungan dengan Sheena. Jadi pernikahan itu adalah sebuah kompromi semata karena aku tidak bisa memkasakan perasaanmu yang terlalu dalam pada Sheena. Apapun akan aku lakukan asalkan kamu bahagia.” Tangisan Olivia pecah, begitu ia mengungkapkan semuanya pada Fandi. Sungguh sangat sakit mencintai seseorang tapi tak terbalaskan.
“Maafkan aku Olivia, tidak seharusnya aku berkata kasar padamu. Terima kasih kamu sudah menceritakan semuanya padaku. Sekalipun aku belum bisa mengingat tapi aku percaya dengan semua yang kamu katakan. Kamu memang sahabat terbaikku, Olivia. Tapi bagaimana bisa Sheena akhirnya menikah dengan pria itu, dengan Tuan muda Arsen?"
“Untuk itu aku tidak tahu. Yang jelas aku melihat Tuan Arsen menyelamatkan Sheena dari amukan Mama saat itu, disaat kamu masih terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Setelah itu aku tidak tahu lagi bagaimana mereka akhirnya bisa bersatu,” jelas Olivia. Fandi lalu melepaskan pelukannya.
“Olivia, apa kamu mau menolongku?” ucap Fandi seraya menggenggam kedua bahu Sheena dengan erat.
“Apa itu Fan?”
“Tolong ajak Sheena bertemu dan gali cerita dari Sheena, apakah dia masih mencintaiku? Dan juga tentang hubungannya dengan Tuan Arsen. Siapa tahu itu hanya kompromi saja kan untuk melupakan aku?”
“Fan, saat membicarakan Sheena matamu berbinar bahagia. Sekalipun memori tentangnya hilang tapi nama Sheena begitu melekat dihatimu.” Gumam Olivia dalam hati dengan menahan segala perih dihatinya.
“Iya, aku akan menolongmu. Aku akan mengajak Sheena bertemu.”
“Thanks ya Liv, kamu memang terbaik.” Kata Fandi seraya kembali memeluk Olivia.
__ADS_1
“Apapun akan aku lakukan untukmu, Fan. Karena kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku meskipun hati ini sangat perih,” ucap Olivia dalam hati.
Bersambung.....